Sampingan

wisata Lombok makanan dan pantai

menjelajahi wisata lombok mulai dari pantainya dn khas makanannya

Pantai Elak-Elak dan Gili Penyu, Sekotong - Lombok Barat

Pantai Elak-Elak dan Gili Penyu, Sekotong – Lombok Barat

Pantai Elak-Elak dan Gili Penyu, Sekotong – Lombok Barat bisa di tempuh melalui pelabuhan lembar+bandara Internasional Lombok yang mmebuat pantai ini lebih kelihat asri karna dia are tersebut selalu di jaga kebersihannya dan kenyamanannya. beda dengan pantai senggi pantai ini berada di sebelah selatan wilayah Lombok barat dekat dengan pelabuhan Lembar Lombok barat . kl pantai senggi areanya ada di sebelah Utara Lombok barat dekat dengan kota mataram.

Splash Kerandangan Lombok barat

Splash Kerandangan Lombok barat

Splash Kerandangan Lombok barat

Kerandangan Lombok barat pantai ini berada di sebelah utara dekat dengan pantai senggi lombok barat 1 jalur dan area 1 arah bisa juga langsung ke gili terawangan dan gili-gili lainya di Lombok melalui jalur senggigi.  jarak tempuh antara pelabuhan Lembar Lombok sam Bandaa Internasional Lombok tdk begitu lama dan mancet seperti yang ada kt lihat di Pulau-pulau lain karna jalur yang di pake bebas hambatan mancet dll dn jalur menuju wisata di Lombok di jamni aman dan cepat nayampai tampa harus menunggu lama.

Sunset from puri malimbu pantai senggi Lombok barat

from puri malimbu Lombok barat di sore hari dan pagi hari

from puri malimbu Lombok barat di sore hari dan pagi hari

pantai sekotong di Lombok barat

pantai sekotong di Lombok barat

pantai sekotong di Lombok barat

Pantai Elak-Elak dan Gili Penyu,sama jalurnya sama dengan pantai di samping gambar ini  Sekotong – Lombok Barat bisa di tempuh melalui pelabuhan lembar+bandara Internasional Lombok yang mmebuat pantai ini lebih kelihat asri karna dia are tersebut selalu di jaga kebersihannya dan kenyamanannya. beda dengan pantai senggi pantai ini berada di sebelah selatan wilayah Lombok barat dekat dengan pelabuhan Lembar Lombok barat . kl pantai senggi areanya ada di sebelah Utara Lombok barat dekat dengan kota mataram.

sate bulayak di surenadi Lombok barat dan khas makanan Lombok yakni Ayam Taliwang

sate bulayak khas lOmbok di surenadi Lombok barat_

sate bulayak khas lOmbok di surenadi Lombok barat_

khas makanan Lombok yakni Ayam Taliwang

khas makanan Lombok yakni Ayam Taliwang

LOMBOK BARAT BANGKIT G USAH KE LUAR NEGERI MAU LIHAT SUASANA GEDUNG PUTIH CUKUP J KE CAMaTAN GERUNG LOBAR GIRI MENANG KM BS PHOTO2 DIDEPAN KANTOR PEMERINTAHAN BUPATI LOBAR

dengan semngat dalam pembanggunan dengan kalimat Lombok Barat Bangkit

dengan semngat dalam pembanggunan dengan kalimat Lombok Barat Bangkit

178903_178133222326689_380893125_n

SEKRIPSI KORELASI ANTARA KEPEMIMPINAN ORANG TUA DENGAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA DI RUMAH

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Manusia merupakan karya Allah yang terbesar dan satu-satunya makhluq yang paling sempurna dibadingkan dnegan makhluq yang lainnya. Disamping itu pula dia sebagai kholifah Allah yang bertugas mengatur bumi dengan segala isinya, dengan demikian nyatalah bahwa manusia memiliki peran utama bila dibandingkan dengan makhluq lain.

Dengan demikian manusia diberi beban untuk memikul tanggung jawab dihadapan Allah, terutama tanggung jawab orang tua dalam memimpin keluarga yang nantinya akan diminta pertanggung jawaban dihadapan Allah.

Firman Allah dalam Q.S. Al Tahrim ayat 6 :

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Depag RI., 1998:951).

Dari ayat tersebut menunjukkaan bahwa tanggung jawab orang tua itu tidak ringan dihadapan Allah SWT. Karena tanggung jawab seperti itu tidak hanya terbatas pada masalah akhirat saja, namun orang tua juga harus mengantarkan seluruh keluarganya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat (dari siksa api neraka).

Sebab keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan paling utama yang menjadi pangkal atau dasar hidup dikemudian hari. Disamping itu juga keluarga merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bersifat informal. Dimana dalam keluarga tersebut sebagai dasar pembentukan sikap atau kebiasaan siswa pada hari berikutnya. Hal ini juga dibenarkan oleh ajaran Islam bahwa hitam putihnya seorang anak banyak ditentukan oleh tangan kedua orang tuanya.

Hal ini disebutkan dalam hadits Bukhari yang berbunyi :

Artinya :

Abu Hurairah r.a. menceritakan, bahwa Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda “Tidak ada seorang anakpun yang dilahirkan, malainkan ia dilahirkan dalam keadaan suci bersih, maka ibu bapaknya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan atau Majusi. Sama halnya sebagai seekor hewan ternak, maka ia dilahirkan ternak pula dengan sempurna, tiada kamu dapati kekurangannya.

(HR. Bukhari)

Berdasarkan hadits tersebut, maka dapat diambil suatu pengertian bahwa keluarga itu merupakan lembaga informal, yang mempunyai peranan sangat penting dan merupakan wahana yang paling dasar dalam rangka pembentukan sikap, watak atau kebiasaan aktivitas belajar siswa di rumah.

Menurut Zakiyah Darajat (1993:90) “Pembinaan terhadap pendidikan di lingkungan keluarga sebagai tempat pendidikan pertama dan pendidikan prasekolah, disamping sebagai wahana sosialisasi awal sebelum pendidikan dasar, dikembangkan agar lebih mampu meletakkan landasan pembentukan watak dan kepribadian, penanaman dan pengenalan agama, dan budi pekerti serta dasar pergaulan, dalam hal ini perlu keteladanan dan pengembangan sikap, pengetahuan, keterampilan juga daya cipta”.

Maka jelaslah bahwa di dalam keluarga harus ada yang memimpin yaitu ayah, walaupun ayah sibuk dengan pekerjaannya tapi harus disediakan waktu yang cukup untuk bertemu dengan anak-anaknya untuk menciptakan suasana ramah tamah, kekeluargaan yang penuh rasa kasih sayang, sehingga akan lebih mudah di dalam berkomunikasi tanpa ada rasa takut. (Suwarno, 1992:91).

Sebab masih banyuak seorang ayah yang masih kurang memperhatikan terhadap anak dalam aktifitas belajarnya di rumah disebabkan kesibukan dengan pekerjaannya sendiri, oleh karena itu ayah di dalam memimpin harus mempunyai cara-cara atau model kepemimpinan yang tepat sebab itu sendiri yang menyebabkan sukses atau gagalnya dalam memimpin.

Walaupun dalam setiap orang mempunyai cara yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, namun sebagai seorang pemimpin harus mempunyai cara-cara tertentu yang dapat mempengaruhi siswa dalam aktifitas belajar sesuai dengan jiwa siswa itu sendiri agar tidak terjadi kesalahan dalam memimpin.

Walaupun tidak ada pemimpin yang sempurna, setiap orang mempunyai kesalahan, demikian pula tidak ada pemimpin yang memiliki kepribadian yang baik saja, namun banyak pemimpin yang berhasil mencapai tujuan dengan sukses. Dan juga sebaliknya ada pula yang memiliki model yang baik tidak menjadi pemimpin, jadi pola kepemimpinan sukar untuk diperinci, namun pola-pola tersebut hanya sekedar pedoman dan sedapat mungkin untuk dimiliki oleh seorang pemimpin. (Bayu Suryaningrat, 1982:62).

Kiranya berpijak dari permasalahan, pengalaman serta kesan itulah yang menyadari sekaligus melatar belakangi untuk mengkaji dan meneliti tentang korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah (studi kasus di MI. Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo).

B.     Perumusan Masalah

Masalah merupakan obyek penelitian yang menuntut seseorang untuk memecahkannya. Menurut pendapat Suharsimi Arikunto, “Masalah mesti merupakan bagian dari “kebutuhan” seseorang untuk dipecahkan. Orang ingin mengadakan penelitian, karena ia ingin mendapatkan pemecahan dari masalah yang dihadapi.” (1993:22)

Sedangkan menurut Sutrisno Hadi dalam buku Statistik II, menyatakan bahwa, “Suatu penelitian khususnya dalam ilmu pengetahuan pada umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan” (1983:51).

Jadi jelaslah bahwa tujuan penelitian adalah untuk menemukan suatu bukti kebenaran ilmu pengetahuan sesuai dengan problematika penelitiannya.

Berpijak dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka permasalahan yang diajukan dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apakah ada korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di MI. Bustanul Abidin Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
  2. Sejauhmana korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di MI. Bustanul Abidin Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.

C.    Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian itu akan sangat menentukan terhadap pencapaian hasil yang optimal dan dapat memberikan arah terhadap kegiatan yang dijalankan. Dalam hal ini tujuan disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan kebenaran teori yang telah dikemukakan dalam hal ini Sutrisno Hadi menerangkan bahwa: “Suatu research khususnya dalam ilmu-ilmu pengetahuan empirik pada umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan.

Maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :

  1. Ada dan tidaknya korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di MI. Bustanul Abidin Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
  2. Tingkat korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di MI. Bustanul Abidin Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.

D.    Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai sumbangan informasi tentang salah satu problematika ayah sebagai pemimpin dalam keluarga, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi segenap ayah dalam rangka meningkatkan kualitas kepemimpinannya.
  2. Diharapkan dapat memberi manfaat bagi segenap mahasiswa, yang pada gilirannya mereka akan menjadi calon pemimpin dalam keluarga, sehingga akan meningkatkan kepemimpinannya untuk mempengaruhi siswa dalam aktivitas belajar di rumah.
  3. Sebagai acuan bagi pembaca yang ingin memperoleh gambaran bagaimana mengembangkan bentuk kepemimpinan yang baik dalam keluarga.

E.     Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah dugaan sementara yang mungkin benar dan mungkin salah, dia akan ditolak jika salah atau palsu dan akan diterima jika fakta-faktanya membenarkan. Berdasarkan kajian tersebut di atas, maka hipotesis yang akan diajukan adalah sebagai berikut :

  1. Hipotesis Kerja (H1)
    1. Ada korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah pada siswa MI. Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
    2. Korelasi yang tinggi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah pada siswa MI. Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
      1. Hipotesis Nihil (Ho)
      2. Tidak ada korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah pada siswa MI. Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
      3. Korelasi yang rendah antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah pada siswa MI. Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
  1. F.     Keterbatasan Penelitian

Berhubungan dengan penelitian ini penulis memberikan keterbatasan sebagai berikut :

  1. Internal

Keterbatasan internal merupakan beberapa kelemahan dan ketidakmampuan penelitian dalam melaksanakan penelitian, antara lain mencakup minimnya dana, waktu dan tenaga.

  1. Ekternal

Merupakan keterbatasan penelitian yang dikarenakan adanya beberapa hal yang ada pada obyek penelitian, yakni letak obyek yang agak jauh dari tempat peneliti dan heterogenitas obyek.

G.    Definisi Operasional Variabel

Untuk menghindari adanya penafasiran yang berbeda-beda di antara pembaca, maka perlu diberikan batasan-batasan pengertian pada beberapa istilah yang digunakan dalam judul penelitian ini. Adapun beberapa istilah yang perlu dijelaskan pengertiannya, antara lain : 1) korelasi, 2) kepemimpinan, 3) aktifitas belajar

1)      Hubungan

Menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa : “Hubungan adalah 1) keadaan berhubungan; 2) kontak; 3) paut; 4) ikatan, penelitian (keluarga, persahabatan, dsb) jaringan yang terwujud karena interaksi antara satuan-satuan yang aktif (1989:313).

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan merupakan suatu rangkaian antara satu dengan yang lain yang saling pengaruh mempengaruhi dan saling isi mengisi sebagai satu kesatuan yangtidak dapat dipisahkan atau satu sama lain. Adapun hubungan dalam penelitian ini adalah hubungan atau ikatan antara dua variabel, yaitu variabel kepemimpinan orang tua dan variabel prestasi belajar siswa.

2)      Kepemimpinan

Menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyatakan bahwa “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain, melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak pemimpin itu.” (1989:433).

3)      Aktivitas belajar

Menurut W.J.S. Poerwadarminta bahwa yang dimaksud aktivitas adalah “kegiatan ; kesibukan”. (1984:26). Sedangkan  menurut kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan aktivitas adalah : 1. Keaktivan ; kegiatan ; 2. Kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap bagian didalam perusahaan. (Dep. Dik.Bud., 1990:20)

Berdasarkan kedua pendapat tersebut diatas maka yang disebut dengan aktivitas secara etimologi (lughot) adalah suatu kegiatan atau kesibukan.

Adapun pengertian belajar menurut Slameto adalah : suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya:. (1991:2)

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara rutin oleh siswa yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku akibat dari pengalaman dan latihan yang sungguh-sungguh dan mengacu pada tujuan belajar.

H.    Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan merupakan rangkuman sementara dari isi skripsi, yakni suatu gambaran tentang isi skripsi secara keseluruhan dan dari sistematika itulah dapat dijadikan satu arahan bagi pembaca untuk menelaahnya. Secara berurutan dalam sistematika ini adalah sebagai berikut :

BAB I       PENDAHULUAN

Dalam bab pendahuluan ini dikemukakan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis penelitian, ruang lingkup dan keterbatasan penelitian, definisi operasional dan sistematika pembahasan.

BAB II      KAJIAN PUSTAKA

Dalam bab kajian pustaka ini dikemukakan kajian kepemimpinan orang tua, serta kajian tentang aktivitas belajar siswa.

BAB III    METODE PENELITIAN

Dalam bab ini akan dikemukakan tentang rancangan penelitian, populasi dan sampel penelitian, instrumen penelitian, dan teknik pengumpulan data.

BAB IV    HASIL PENELITIAN

Dalam bab hasil penelitian akan dipaparkan tentang penyajian data yang berkaitan dengan hasil yang didapat di lapangan penelitian, serta analisa data.

BAB V      KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab terakhir ini akan disajikan tentang kesimpulan sebagai hasil dari penelitian dan dilanjutkan dengan saran-saran yang sekiranya dapat dijadikan bahan pemikiran bagi yang berkepentingan.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian tentang Kepemimpinan Orang Tua

Kepemimpinan itu sendiri adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain, melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak-kehendak pimpinan itu.

Memahami tentang kepemimpinan orang tua ini adalah : bahwa setiap manusia itu mempunyai potensi untuk menjadi kholifah atau menjadi pimpinan dalam keluarga lebih-lebih sebagai pimpinan bagi putra-putrinya di rumah. Sebab keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan yang paling utama bagi anak-anak. Dan keluarga ini mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan anak.

Peran-peran dalam keluarga dalam keluarga jika diperhatikan di sana ada yang disebut bapak, ibu dan anak, sehingga dalam kehidupan sehari-hari dapat diistilahkan sebagai kehidupan yang familier, dalam kehidupan keluarga akan nampak sebagai kesatuan hidup dan oleh karena itu dalam keluarga terjadi struktuarlisasi serta deferensiasi kerja.

Pembagian tugas dan peran dalam keluarga membawa konsekwensi dan tanggung jawab pada masing-masing peran itu dalam keluarga tersebut pengertian bapak dan ibu sebagai pimpinan.

Pengertian ibu dan bapak dalam keluarga akan nampak, peran ibu dan bapak sebagai orang yang memiliki ketrampilan untuk mendidik, mengajar dan melatih anak, ketrampilan bapak dan ibu dalam menyampaikan nilai-nilai kepada anak berpusat pada dua kutub yang dipengaruhi oleh gaya orang tua itu sendiri.

Sebagi pemimpin keluarga orang tua wajib mempunyai pedoman hidup yang mantap agar jalannya rumah tangga dapat berjalan dengan lancar menuju tujuan yang dicita-citakan. Demikian juga orang tua harus mempunyai dasar-dasar atau pola dalam mengasuh keluarga, terutama mengasuh anak-anaknya, sehingga orang tua harus memahami macam-macam pola asuh dalam keluarga.

  1. 1.      Pola Asuh Otoriter

Pola asuh yang otoriter akan terjadi komunikasi satu demensi atau satu arah. Orang tua menentukan aturan-aturan dan mengadakan pembatasan-pembatasan terhadap perilaku anak yang boleh dan tidak boleh dilaksanakannya. (Suryaningrat, 1982:23)

Anak harus tunduk dan patuh terhadap orang tuanya, anak tidak mempunyai pilihan lain. Orang tua memerintah dan memaksa tanpa kompromi. Anak melakukan perintah orang tua karena takut, bukan karena suatu kesadaran bahwa apa yang dikerjakan itu akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak.

Orang tua memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan anak, keinginan anak, keadaan khusus yang melekat paad individu anak yang berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain. Perintah yang diberikan berorientasi pada sikap keras orang tua. Sebab tanpa sikap keras ini anak tidak akan melaksanakan tugas dan kewajibannya.

  1. 2.      Pola Asuh Bebas

Pola asuh bebas berorientasi bahwa anak itu makhluk hidup yang berpribadi bebas, anak adalah subyek yang dapat bertindak dan berbuat menurut hati nuraninya. Pada pola ini anak dipandang sebagai subyek yang diperbolehkan berbuat menurut pilihannya sendiri. Segala tugas diserahkan sepenuhnya pada anak.

Pola asuh bebas memang memandang anak sebagi subyek, anak bebas menentukan pilihannya sendiri. Akan tetapi anak justru menjadi berbuat semau-maunya, ia berbuat dengan menggunakan ukuran diri sendiri. Padahal anak berada dalam dunia anak dan ia harus masuk pada dunia lain dari dunia anak. Oleh karena itu anak akan kebingungan ibarat anak ayam yang ditinggalkan induknya. Akhirnya anak akan lari kesana kemari tanpa arah. (Suryaningrat, 1982:25)

  1. 3.      Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis berpijak pada dua kenyataan bahwa anak adalah subyek yang bebas dan anak sebagai makhluk yang masih lemah dan butuh bantuan untuk mengembangkan diri. Manusia sebagai subyek harus dipandang sebagai pribadi.

Anak sebagai pribadi yang masih perlu mempribadikan dirinya, dan terbuka untuk dipribadikan. Proses pembribadian anak akan berjalan dengan lancar jika cinta kasih selalu tersirat dan tersurat dalam proses itu. Dalam suasana yang diliputi oleh rasa cinta kasih ini akan menimbulkan pertemuan sahabat karib, dan pertemuan dua saudara. (Suryaningrat, 1982:27)

Dalam pertemuan ini dua pribadi bersatu padu. Dalam pertemuan yang bersatu padu akan timbul suasana keterbukaan. Dalam suasana yang demikian ini maka akan terjadi pertumbuhan dan perkembangan bakat-bakat anak yang dimiliki oleh anak dengan subur.

B.     Kajian tentang Aktivitas Belajar Siswa

  1. Pengertian Aktivitas Belajar

Menurut W.J.S. Poerwadarminta bahwa yang dimaksud aktivitas adalah “kegiatan ; kesibukan”. (1984:26). Sedangkan  menurut kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan aktivitas adalah : 1. Keaktivan ; kegiatan ; 2. Kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap bagian didalam perusahaan. (Dep. Dik.Bud., 1990:20)

Berdasarkan kedua pendapat tersebut diatas maka yang disebut dengan aktivitas secara etimologi (lughot) adalah suatu kegiatan atau kesibukan.

Adapun pengertian belajar menurut Slameto adalah : suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya:. (1991:2)

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara rutin oleh siswa yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku akibat dari pengalaman dan latihan yang sungguh-sungguh dan mengacu pada tujuan belajar.

  1. Macam-macam Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah (di rumah). Adapun macam-macam aktivitas belajar menurut Sardiman dalam buku Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar menjelaskan Paul B. Diendrich membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan murid di sekolah antara lain :

  1. Visual activities (13), seperti membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya.
  2. Oral activities (43), seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, diskusi, mengadakan interview, instruksi dan lain sebagainya.
  3. Listening activities (11), seperti mendengarkan uraian, percakapan, diskusi , musik, pidato dan sebagainya.
  4. Writing activities (22), seperti menulis cerita, karangan, laporan, tes angket, menyalin dan sebagainya.
  5. Dawing activities (8), seperti melakukan percobaan, membuat grafik, peta diagram, pola dan sebagainya.
  6. Motor activities (4), seperti menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan dan sebagainya.
  7. Emotional activities (23), seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, tenang, gugup dan sebagainya.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa macam-macam aktivitas tersebut merupakan aktivitas global atau menyeluruh maksudnya baik mengenai aktivitas disekolah maupun di rumah.

Adapun bentuk-bentuk aktivitas dirumah antara lain :

  1. Membaca buku pelajaran

Dengan membaca buku pelajaran merupakan jembatan dalam mencapai dan memperoleh ilmu yang diharapkan dari apa yang dibacanya dan menambah pengetahuan dan wawasan ilmu yang dimiliki. Karena bagimana mungkin akan memperoleh ilmu yang ada dalam buku pelajaran bila tanpa dibacanya.

Secara sederhana membaca buku bukanlah yang sulit dilakukan oleh seseorang bila ia telah menguasai huruf demi huruf yang ada, namun membaca dengan hasil yang baik dan efisien tentunya tidaklah mudah dilakukan, tetapi harus melalui prosedur dan tata cara yang baik pula. Ciri-ciri khusus membaca yang efisien antara lain adalah :

1)      Mempunyai kebiasaan yang baik dalam membaca

2)      Mengerti betul isi buku yang dibacanya

3)      Sehabis membaca dapat mengingat sebagian besar atau pokok-pokok dari apa yang dibacanya.

4)      Dapat membaca dengan cepat. (The Liang Gie, 1985 : 93)

Dengan demikian, dengan kebiasaan-kebiasaan membaca yang tidak baik inilah, siswa akan menganggap membaca itu merupakan kesenangan atau hobby, karena yang demikian itu akan menjamin keberhasilannya didalam studi-studi yang selanjutnya.

  1. Menghafal Pelajaran

Kadang-kadang dalam proses belajar mengajar, ada hal yang tertentu yang tidak bisa dimengerti begitu saja kecuali harus dihafal sampai bisa, sehingga dengan begitu pengetahuan yang diperoleh dapat diungkap kembali dengan lancar saat menghadapi pertanyaan atau menjawab soal-soal ujian.

Selanjutnya, akan dikemukakan terlebih dahulu tentang definisi mengenai menghafal sebagai berikut :

Menurut Oemar Hamalik dalam bukunya mengungkapkan bahwa menghafal adalah pada garis besarnya proses menghafal itu dimulai dengan penerimaan atas sejumlah perangsang dari luar oleh alat-alat indera kita. Kemudian disimpan dalam ingatan dalam bentuk tanggapan-tanggapan (1990:66)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menghafal adalah sebuah kegiatan yang sengaja dilakukan oleh siswa untuk menyimpan pelajaran diotak dengan memahami secara sempurna, sehingga sewaktu-waktu bisa dikeluarkan atau diungkapkan kembali dengan baik. Sebab dengan menghafal juga kita dapat mengingat banyak hal.

Dengan demikian, maka menghafal tersebut juga diperlukan adanya syarat-syarat dan metode-metode menghafal. Sebagaimana yang diungkapkan oleh The Liang Gie adalah sebagai berikut :

  1. Syarat-syarat menghafal

Sebelum siswa mulai menghafal, ia harus mempunyai tujuan tertentu yang jelas. Ia harus mengerti betul-betul pelajaran itu sebelum ia mulai menghafalkannya. Bertanya itu tidak menunjukkan bahwa mahasiswa atau siswa itu bodoh, melainkan menandakan bahwa menaruh perhatian pada pelajarannya dan mempunyai hasrat untuk maju. Usaha menghafal sebaiknya jangan dipadatkan setelah dekat dengan ujian, melainkan jauh di muka, siswa sudah membagi-bagi dan mengatur waktunya untuk keperluan menghafal bahan pelajaran secara teratur. Kemudian diantara bahan-bahan itu sedapat-dapatnya dipertalikan satu sama lain menurut kerangka yang sistematis atau urutan yang logis (The Liang Gie, 1985: 131-135)

  1. Metode Menghafal

Untuk lebih memudahkan siswa dalam menghafal pelajaran, tentunya diperlukan metode-metode menghafal yang baik dan sesuai dengan selera dan juga kemauannya sendiri. Pada prinsipnya dibedakan menjadi tiga kelompok menghafal yaitu :

  1. Menghafal dengan melalui pandangan mata saja. Bahan pelajaran itu dipandang atau dibaca dalam batin dengan penuh perhatian sambil otak bekerja dengan mengingat-ingat.
  2. Menghafal dengan terutama melalui pendengaran telinga. Dalam hal ini bahwa pelajaran itu dibaca dengan suara yang cukup keras untuk dimasukkan kedalam kepala melalui telinga.
  3. Menghafal dengan melalui gerak-gerik tangan, yaitu dengan jalan menulis-nulis diatas kertas dengan pensil atau menggerak-gerakkan ujung jari atas meja sambil pikiran berusaha menanamkan bahan pelajaran itu. (The Liang Gie, 1985 : 15-136)

Jika metode menghafal seperti ini diterapkan sesuai dengan bahan pelajaran, yang sesuai dengan kemampuan dan selera yang dianggap sesuai dengan siswa. Sehingga apabila siswa dapat menggunakan metode tersebut dengan tepat atau dengan mengkombinasikan bila perlu, maka ia akan dapat menghafal bahan pelajaran dengan baik.

  1. Membuat ringkasan

Yaitu “suatu proses resitasi dan refleksi secara tertulis” (Hasbullah Tabrany, 1994:92). Maka yang dimaksud membuat ringkasan adalah merupakan cara untuk membedakan atau memadatkan suatu pelajaran melalui catatan yang telah disediakan dengan maksud bahwa ia telah mengerti dan memahami persoalan atau masalah yang dibaca serta akan lebih meresapi apa yang telah dipelajari.

Dalam membuat suatu ringkasan itu seorang siswa berusaha untuk mengambil intisari suatu uraian atau pokok pikiran, kemudian intisari itu dituliskan dengan singkat dalam kata-katanya sendiri, yang telah dihubung-hubungkan dengan poko-pokok pikiran yang lainnya yang telah  diringkas juga. (The Liang Gie, 1985:114)

Maka dengan demikian dengan membuat suatu ringkasan banyak manfaatnya, antara lain :

  1. Dengan ringkasan pelajaran yang diberikan hari ini selama dua jam, anda dapat mengulangnya dalam waktu kurang dari 10 menit, hemat waktu.
  2. Anda tidak akan bisa membuat ringkasan jika anda belum mengerti materinya, oleh karena anda dapat berusaha mengerti suatu konsep.
  3. Dengan membuat ringkasan, anda akan dipaksa belajar secara efektif, ingin menghindari rasa bosan dan mengantuk.
  4. Pada saat-saat ujian akhir dimana materi yang akan diuji begitu banyak, anda tidak akan sanggup mengulang (Review) dengan membaca semua pelajaran. (Hasbullah Tabrany, 1994 : 92)

Adapun bentuk daripada ringkasan itu juga bermacam-macam, yang penting bentuk ringkasan itu sesingkat mungkin. Ringkasan semua garis besar dari pokok-pokok pikiran dan perincian-perincian yang saling bertalian.

The Liang Gie menyatakan sebagai berikut :

Sebaiknya ringkasan itu dicatat pula pada lembaran kertas yang terlepas untuk tiap-tiap pokok persoalan baru dipergunakan halaman yang baru pula. Demikian pula catatan itu dapat ditulis dengan kata-kata singkat atau tanda-tanda lainnya misalnya : untuk ganti perkataan “karena itu”, tanda = untuk adalah, ialah atau sama dengan, dan lain-lainnya. (the Liang Gie,1985 : 115

Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa bentuk ringkasan itu dapat dibentuk lembaran-lembaran dan bisa berbentuk sebuah buku, bila bentuk lembaran-lembaran maka setiap satu lembar hanya memuat satu persoalan saja.

  1. Mengerjakan tugas

Setiap apa yang diperintah guru itu merupakan suatu masalah yang harus dikerjakan atau diselesaikan oleh setiap siswa. Perintah atau tugas tersebut dapat berupa pekerjaan rumah (PR), mengerjakan dipapan tulis, ulangan, hafalan dan sebagainya. Tugas tersebut bisa berupa individu maupun kelompok.

Menurut pendapat Ahmadi dalam bukunya Didaktik Metodik sebagai berikut : “Tugas guru disamping mendidik dan mengajar adalah membuat penilaian terhadap murid diatas bahkan yang telah diterimakan. Pelaksanaannya dengan jalan memberikan ulangan terhadap murid”. (1978:39)

Dari pendapat tersebut di atas, dipahami bahwa beberapa fase dalam aktivitas belajar, yaitu mengerjakan tugas, fase pertama siswa menerima tugas, dan tugas tersebut bisa dari guru ataupun siswa itu sendiri sebagai hasil kerjasama antar siswa. Fase kedua siswa mengerjakan tugas, fase ketiga yaitu mempertanggung jawabkan dari hasil tugas yang dilaksanakan tersebut untuk dinilai guru.

Dengan demikian pada akhir aktivitas siswa mengerjakan tugas, guru memberikan penilaian dari tugas yang telah dikerjakan siswa. Dipergunakan sebagai motivasi bagi murid dan juga sebagai salah satu pertimbangan nilai akhir mata pelajaran dari guru yang mengajar mata pelajaran tersebut.

  1. Belajar kelompok

Belajar kelompok itu merupakan suatu kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa secara bersama yang anggotanya sekurang-kurangnya tiga sampai lima orang. Menurut pendapat Hasbullah Tabrany yaitu : “Sebagian para ahli juga berpendapat bahwa belajar kelompok (Group Study) banyak membantu proses belajar. Memang ada orang yang tidak bisa belajar kelompok tetapi hasilnya juga bagus. (1994:96)

Maka belajar kelompok itu merupakan suatu hal yang sangat penting, sebab dapat membantu siswa untuk bertanya jawab dengan temannya untuk saling bertukar pendapat atau dengan belajar kelompok itu sendiri akan mempunyai semangat tinggi untuk belajar.

Adapun dengan belajar kelompok ada beberapa hal yang dapat dicapai yaitu :

  1. Membiasakan anak untuk bergaul dengan teman-temannya, bagaimana mengemukakan pendapatnya dengan menerima pendapat dari teman yang lain.
  2. Dengan belajar secara kelompok turut pula merealisasikan tujuan pendidikan dan pengajaran.
  3. Untuk belajar mengatasi kesulitan terutama dalam hal pelajaran secara bersama-sama.
  4. Belajar hidup bersama agar nantinya tidak canggung didalam masyarakat yang lebih leluasa.
  5. Memupuk rasa kegotong royongan. (Bimo Walgito, 1993 : 104)

Namun setiap sesuatu hal itu tidak luput dari kekurangan dan kelebihan, demikian juga dengan belajar kelompok ini juga ada kelebihan dan kekurangannya yaitu : menurut pendapat Hasbullah Thabrany adapun kelebihan atau keuntungan dari belajar kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Dapat mengurangi rasa kantuk dibanding sendiri. Jika belajar sendiri, seringkali rasa bosan timbul  dan rasa kantuk pun resitasi. Kita menjelaskan suatu teori dengan bahasa sendiri. Dapat membantu datang. Apalagi jika kita mempelajari pelajaran yang kurang menarik perhatian kita atau pelajaran yang sulit buat kita.
  2. Dapat merangsang motivasi belajar, kalau ada lawan jenis dikelompok itu, sering bisa menambah semangat, tetapi jangan buat kelompok belajar berdua dengan pacar anda, hasilnya akan lain. Dengan belajar bersama akan tumbuh perasaan anda saingan.
  3. Ada tempat bertanya dan ada orang lain yang dapat mengoreksi kesalahan kita …… dalam belajar kelompok, seringkali kita dapat memecahkan soal yang sebelumnya tidak bisa kita pecahkan sendiri.
  4. Kesempatan melakukan resitasi oral. Dalam belajar bersama, sering kita harus berdiskusi dengan menjalankan suatu teori kepada teman belajar kita. Inilah saat resitasi, kita menjelaskan suatu teori dengan bahasa sendiri.
  5. Dapat membantu timbulnya asosiasi dengan peristiwa lain yang mudah diingat.
  6. Yang terakhir tentu saja ada kenangan tersendiri dan punya teman akrab, jika kita dapat membuat kelompok belajar yang tetap. (1994:94-96)
    1. Membagi waktu belajar

Waktu adalah merupakan hal yang penting dan sangat berharga bagi manusia, sudah sepatutnya manusia memperhatikan waktu dan mempergunakannya dalam hal-hal yang dianjurkan oleh syari’at Islam.

Di dalam belajar siswa harus dapat menentukan sendiri waktu yang sangat efektif untuk belajar dan juga sebaiknya siswa membagi waktunya untuk bermacam-macam keperluan dan harus mempunyai rencana belajar dengan waktu yang tepat. Oleh sebab itu perlu adanya pedoman untuk mengatur waktu yang baik bagi siswa adalah sebagai berikut :

  1. Kelompokkan waktu sehari-hari untuk keperluan tidur, belajar, makan, mandi, olah raga dan urusan pribadi lainnya.
  2. Selidiki dan tentukanlah waktu yang tersedia untuk belajar setiap hari
  3. Setelah mengetahui waktu yang tersedia tiap siswa hendaknya merencanakan penggunaan waktu itu dengan jalan menetapkan macam-macam mata pelajaran berikut urutannya yang harus dipelajari setiap hari.
  4. Setiap siswa perlu pula menyelidiki bilamana dirinya dapat belajar dengan hasil yang terbaik.
  5. Bila waktu agak terbatas berilah waktu tertentu bagi setiap mata pelajaran. Dan kemudian belajarlah dengan penuh konsentrasi dalam batas waktu yang telah ditentukan itu.
  6. Berhematlah dengan waktu. Setiap siswa hendaknya jangan ragu-ragu untuk memulai apa yang perlu dilakukannya. Dalam belajar mulailah dengan seketika dan selesaikanlah secepat mungkin.
  7. Bagi mereka yang bekerja biasanya waktu antara jam 05.00-07.00 pagi merupakan waktu yang tebaik untuk belajar secara intensif. (The Liang Gie, 1985 : 69-70)

Dengan menggunakan mengatur waktu di atas, maka seorang siswa akan lebih mudah untuk mengatur waktu belajarnya dengan baik. Karena setiap waktu dan saat sudah mengetahui apa yang harus dilakukan dan dikerjakan, maka tidak akan bingung apa yang harus dikerjakan, maka tidak akan bingung apa yang harus dikerjakan dan diperbuat dalam saat tertentu, pelajaran apa yang harus dibaca, dihafal dan diulangi. Dengan demikian tidak ada waktu yang terbuang dengan sia-sia.

  1. 3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Agar supaya pendidikan atau proses belajar itu berhasil sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai maka, perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar tersebut.

Sedangkan faktor yang mempengaruhi belajar itu banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, menurut pendapat Slameto yaitu adalah “Faktor Intern dan Faktor Ekstern”. (1991:56)

  1. a.      Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam diri individu, faktor ini dibagi menjadi tiga, yaitu : faktor jasmani, faktor psikologi, dan faktor kelelahan.

  1. Faktor Jasmani

a)      Faktor Kesehatan

Setiap seseorang melakukan kegiatan belajar itu harus mempunyai kesehatan jasmani yang cukup untuk mendapatkan hasil belajar yang baik. “sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagian atau bebas dari penyakit”. (Slameto, 1991:56)

Sedangkan kronis yang dapat mengganggu belajar adalah penyakit pilek, sakit gigi, batuk dan yang sejenisnya yang biasanya diabaikan karena dipandangnya bukan penyakit yang serius, akan tetapi penyakit-penyakit seperti ini sangat mengganggu aktivitas belajar. (Sumadi Suryabrata, 1971:56)

Proses belajar itu akan terganggu jika terkena penyakit tersebut, selain itu juga menyebabkan akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk dan lain sebagainya yang termasuk gangguan fungsi alat inderanya (Slameto, 1991:56)

Dengan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang atau siswa harus selalu menjaga kesehatannya dengan baik agar dapat melakukan aktivitas belajar dengan baik.

b)      Cacat Tubuh

“Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan”. (Slameto, 1991:57)

Dengan demikian cacat tubuh itu bisa mempengaruhi proses belajar, dan jika hal itu terjadi maka hendaknya siswa bisa belajar pada lembaga yang khusus yang bisa membantu atau mengusahakan dengan alat bantu untuk mengurangi kecacatan itu demi kelancaran belajarnya.

  1. Faktor Psikologi

Faktor psikologi ini biasanya besar pengaruhnya dalam aktivitas belajar siswa terutama adalah cita-cita. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Sumadi Suryabrata sebagai berikut :

Cita-cita merupakan pusat dari bermacam-macam kebutuhan,  artinya kebutuhan biasanya disentralisasikan disekitar cita-cita itu, sehingga dorongan tersebut mampu memobilisasikan energi psikis untuk belajar. (1971 : 257)

Sedangkan yang tergolong faktor psikologis menurut pendapat Slameto adalah “Intelegensi, perhatian, minat, motif, kematangan dan kelelahan” (1991 : 57)

a)      Intelegensi

Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan di dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif mengetahui realisasi dan memperlajarinya dengan cepat. (Slameto, 1991 : 57)

Dari pendapat tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa yang dimaksud dari hal tersebut adalah kecerdasan atau bisa disebut dengan kepandaian yang dimiliki seseorang, sehingga dengan kecerdasannya itu akan lebih mudah untuk belajar.

Siswa yang mempunyai intelegensi yang tinggi akan lebih mudah dalam belajar, dan akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai intelegensi yang rendah. Sebagai contoh misalnya, siswa yang dapat mengerjakan soal-soal fisika ataupun matematika, kalau siswa mempunyai intelegensi yang tinggi dan kepandaian serta kreativitas yang tinggi maka akan mudah untuk mengerjakannya.

Dari uraian di atas sudah jelas kalau intelegensi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan belajar siswa.

b)      Perhatian

Menurut pendapat ghozali yang dikutip oleh Slameto adalah : “Keaktifan jiwa yang tinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekelompok obyek ”. (1991 : 58).

Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perhatian itu adalah suatu keaktifan yang semata-mata tertuju pada suatu kegiatan belajar.

Dengan demikian setiap siswa untuk menghasilkan belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang sedang dipelajarinya, jika bahan pelajaran itu tidak diperhatikan, maka timbulah kebosanan, sehingga ia tak suka dan akan malas untuk belajar. (Slameto, 1991 : 58).

Karena itu siswa harus dapat menyesuaikan atau mengusahakan bahan itu menarik perhatian dengan cara mengusahakan bahan pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya, dengan begitu siswa akan dapat belajar dengan baik.

c)      Minat

Menurut pendapat Slameto antara perhatian dan minat itu berbeda, kalau perhatian bersifat sementara (tidak dalam waktu yang lama), sedangkan minat selalu diikuti dengan perasaan senang. (1991 : 29).

Adapun pengertian minat menurut Slameto sebagai berikut: “Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. (1991:59).

d)     Bakat

Bakat menurut pendapat Slameto, adalah kemampuan untuk belajar (1991:59). Seseorang yang mempunyai kemampuan untuk belajar dengan kemampuan itulah maka akan terealisasi dengan kecakapan sesudah ia belajar dan berlatih. Misalnya kalau siswa bakat main bola, maka siswa bermain bola dengan baik. Demikian juga degnan belajar, kalau siswa mempunyai bakat terhadap pelajaran itu, maka hasilnya akan lebih baik daripada yang tidak mempunyai bakat.

Dari uraian di atas, maka bakat itu juga mempengaruhi terhadap belajar siswa, oleh sebab itu memilih jurusan atau sekolah sesuai dengan bakatnya.

e)      Motif

Motifasi adalah merupakan hal yang sangat penting bagi proses belajar, karena motifasi itu menggerakkan organisme, mengarahkan tindakan untik melakukan aktifitas belajar. Sejalan dengan itu Slameto mengungkapkan bahwa : “dalam proses belajar mengajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai motif untuk berfikir dan memusatkan erhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan/menunjang belajar”. (1991:60).

Maka dengan demikian bahwa motifasi itu mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi kelancaran atau kemajuan bagi aktifitas belajar siswa, sebab dengan motifasi tersebut siswa akan merasa senang untuk melakukan aktifitas belajarnya.

f)       Kematangan

“Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertimbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru”. (Slameto, 1991:60).

Dari pendapat di atas dapat diambil suatu penjelasan bahwa siswa yang mempunyai kematangan atau kesiapan untuk melaksanakan aktifitas belajar, maka belajarnya akan lebih berhasil daripada siswa yang tidak mempunyai kesiapan untuk belajar.

  1. Faktor Kelelahan

Kelelahan pada seseorang walaupun sulit dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : kelelahan jasmani dan rohani.

“Kelelahan jasmani timbul atau terlihat dari lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dari adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan suatu hilang”. (Slamet, 1991:61)

Dengan demikian, siswa mejalankan study harus menghindar jangan sampai terjadi kelelahan itu dapat mengganggu semangat untuk belajar. Untuk menghindari kelelahan itu dapat di lakukan sebagai berikut :

  1. Tidur
  2. Istirahat
  3. Mengusahakan variasi dalam belajar
  4. Menggunakan obat-obatan yang bersifat melancarkan peredaran darah.
  5. Reaksi yang teratur
  6. Olah raga secara teratur
  7. Mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
  8. Jika kelelahannya sangat serius cepat-cepat hubungi Dokter. (Slameto, 1991 : 62)
  1. b.      Faktor Ekstern

Faktor ekstern ini adalah faktor ada di luar individu. Yang termasuk faktor ekstern ini adalah :

1)      Faktor Keluarga

a)      Cara orang tua mendidik

Cara orang tua  mendidik anaknya sangat besar sekali pengaruhnya terhadap belajar siswa, hal ini jelas bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan yang paling utama, oleh sebab itu maka pendidikan juga ditentukan oleh orang tua tergantung bagaimana cara mendidik siswa tersebut.

Orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan siswa, misalnya orang tua acuh tak acuh terhadap aktivitas belajar siswadi rumah, dan tidak memperhatikan sama sekali terhadap kepentingan dan kebutuhan siswanya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajar, tidak melengkapi alat perlengkapan untuk belajar, dan tidak memperhatikan apakah siswa belajar atau tidak, dan tidak mau tahu akan kemajuan belajar siswanya dan kesulitan apa yang sedang dialami, maka dapat menyebabkan siswa kurang berhasil dalam belajarnya karenam merasa dirinya kurang atau tidak diperhatikan. (Slameto, 1991 : 63).

Demikian juga orang tua juga tidak boleh terlalu memanjakan anak, dan juga jangan terlalu keras, sebab akibatnya akan fatal.

Maka dengan demikian, dari uraian diatas bahwa peranan orang tua disini adalah pemimpin atau membimbing kalau siswa mengalami kesulitan-kesulitan dalam hal yang berkaitan dengan belajar siswa.

b)      Relasi antara anggota keluarga

Relasi antara anggota keluarga ini adalah yang terpenting yaitu relasi antara orang tua dengan siswa. Demikian juga relasi antara saudaranya dengan yang lain juga mempengaruhi belajar siswa.

Oleh sebab itu maka sebaiknya di dalam keluarga tersebut diusahakan suatu hubungan yang baik yang penuh dengan rasa kasih sayang dan disertai dengan bimbingan, dan bila perlu diberi hukuman bila melakukan kesalahan, semua itu hanya demi keberhasilan dan kesuksesan siswa itu sendiri dalam belajar. (Slameto, 1991 : 64).

c)      Suasana rumah

Suasana rumah harus dibuat sedemikian rupa dan senyaman mungkin untuk menciptakan keluarga yang rukun, sehingga menyebabkan siswa betah dirumahdan merasa nyaman dalam belajarnya.

Tetapi sebaliknya kalau suasana rumah yang gaduh dan ramai, tegang dan sering ribut, cekcok antara anggota keluarga, maka menyebabkan siswa bosan dirumah akibatnya belajarnya akan kacau. (Slameto, 1991 : 65).

d)     Keadaan ekonomi keluarga

Siswa dalam belajar itu memerlukan sarana-sarana atau alat-alat untuk belajar, yang kadang-kadang mahal harganya. Bila keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan, maka dapat menghambat siswa untuk melakukan belajar, tetapi sebaliknya jika ekonomi keluarga terpenuhi, maka sarana-sarana yang dibutuhkan untuk belajar juga dapat dipenuhi, sehingga siswadapat belajar dengan senang dan semangat yang tinggi.

Sehingga kalau demikian siswayang hidup dalam keluarga yang miskin, maka kebutuhannya kurang terpenuhi, maka belajarnya akan terganggu. Dan sebaliknya juga siswa yang hidup dilingkungan yang kaya orang tua mempunyai kecenderungan untuk memanjakan ana.k (siswa) sehingga mereka akan berfoya-foya, sehingga akibatnya siswa tidak akan memperhatikan belajarnya.

e)      Latar belakang kebudayaan

Orang tua harus bisa menanamkan kebiasaan yang baik yang bisa mendorong siswa untuk belajar. Misalnya, sepulang sekolah siswa disuruh tidur dan setelah tidur disuruh belajar dan sebagainya.

Dengan demikian siswa akan terbiasa dengan belajar secara teratur. Dan belajar tidak menyia-nyiakan waktu secara percuma, sehingga digunakan untuk belajar.

2)      Faktor Sekolah

Sekolah sendiri adalah merupakan lanjutan dari pendidikan yang telah diberikan oleh orang tua didalam lingkungan keluarga. Oleh sebab itu sekolah juga mempunyai pengaruh terhadap aktivitas belajar siswa. Sebab sekolah sendiri tempat menambah ilmu yang sudah diperoleh dirumah.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagai berikut :

(a)    Metode mengajar

Menurut Slameto belajar adalah suatu cara untuk jalan yang harus dilalui dalam mengajar. (1991 : 67). Dengan demikian, dalam sekolah guru didalam mengajar harus dapat meanggunakan metode yang sesuai dengan bahan yang akan diajarkan, sebab kalau tidak cocok dengan metodenya, maka siswa akan malas untuk mengikuti atau untuk belajar dan siswa tidak dapat menguasai bahan yang diajarkan.

(b)   Kurikulum

Pengertian kurukulum menurut Slameto “Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa”. (1989 : 67). Karena itu guru harus dapat memahami siswa agar dapat melayani siswa dengan baik dan mempunyai perencanaan dengan baik agar siswa dapat belajar dengan baik pula.

(c)    Relasi guru dengan siswa

Guru dan siswa harus dapat menciptakan suasana yang baik, dan guru harus dapat berinteraksi dengan siswa, agar siswa merasa dekat dengan gurunya dan tidak merasa canggung dalam mengungkapkan suatu pendapat sehingga terjadi interaksi belajar mengajar yang lancar.

Adanya persaingan antara grup-grup antar siswa dengan yang lainnya, maka ia akan mempunyai rasa rendah diri atau akan mengalami tekanan-tekanan batin dan disaingkan dari kelompok.

Maka akibatnya akan mengganggu terhadap aktivitas belajar. Lebih-lebih maka siswa malas untuk sekolah, karena ia di sekolah menerima perlakuan yang tidak baik dari teman-temannya.

Maka dengan demikian menciptakan relasi yang baik antara siswa adalah perlu, agar dapat memberi pengaruh yang positif terhadap belajar siswa.

(d)   Disiplin sekolah

Banyak sekolah yang dalam pelaksanaan disiplin kurang, sehingga mempengaruhi siswa dalam belajar. Kalau disiplin di sekolah baik, secara otomatis siswa akan disiplin dengan sendirinya, sebab kalau tidak disiplin takut akan diberi sangsi atau hukuman.

(e)    Alat pelajaran

Alat pelajaran merupakan suatu yang sangat diperlukan untuk memperlancar aktivitas belajar. Sebab kalau alat pelajaran itu lengkap maka guru akan mudah untuk mengajar kepada murid dan murid juga mudah untuk menerima pelajaran. Dengan demikian akan lebih mudah untuk mencapai tujuan belajar.

(f)    Waktu sekolah

Waktu sekolah ini juga sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar siswa “waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah”. (1991:70)

Biasanya waktu sekolah yang dipergunakan yang baik adalah pagi hari, karena pada pagi hari pikiran masih segar dan jasmani dalam kondisi yang baik. Kalau siang hari, maka siswa sebagian besar tidak memperhatikan pelajaran, karena kondisi pada siang hari badan sudah lelah dan waktunya istirahat. Karena terpaksa harus sekolah maka siswa mendengarkan pelajaran sambil ngantuk akhirnya tidak berkonsentrasi menerima pelajaran.

(g)   Keadaan gedung

Dengan jumlah siswa yang luar biasa banyaknya, keadaan gedung dewasa ini terpaksa kurang, mereka duduk berjejal-jejal didalam setiap kelas. Bagaimana mungkin mereka dapat belajar dengan enak, kalau kelas itu terpaksa diisi 50 orang sisw. (Slameto, 1991 : 71).

(h)   Metode belajar

Siswa harus dapat membagi waktu belajarnya dengan baik, dengan cara belajar yang efektif dan efisien. Sebab metode belajar itu juga mempengaruhi terhadap hasil atau prestasi belajar siswa.

(i)     Tugas rumah

Tugas rumah merupakan tugas yang harus dikerjakan di rumah untuk melatih agar anak kebiasaan dengan mengerjakan pekerjaan dengan disiplin. Tapi tugas tersebut jangan terlalu banyak sehingga siswa tidak mempunyai waktu untuk yang lain. Sebab tugas yang banyak juga akan mempengaruhi terhadap aktivitas belajar siswa.

3)      Faktor Masyarakat

Masyarakat sendiri merupakan faktor ekstern yang berpengaruh. Pengaruh ini terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Faktor-faktor masyarakat yang dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa antara lain adalah :

(a)    Kegiatan siswa dalam masyarakat

Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan siswa untuk mengembangkan perkembangan pribadinya. Tapi siswa jangan terlalu banyak mengikuti kegiatan dalam masyarakat, sebab nanti akan terganggu belajarnya lebih-lebih bagi siswa yang tidak bisa membagi waktu untuk belajar.

Karena itu siswa harus dapat membatasi kegiatannya di masyarakat agar tidak mengganggu aktivitas belajarnya, dan jika mungkin dapat memilih kegiatan yang mendukung terhadap belajar. Misalnya kursus bahasa inggris, melakukan diskusi kelompok dan lain sebagaiya.

(b)   Mass media

Yang termasuk mass media menurut Slameto adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, buku-buku, komik dan lain-lain.(1991 : 72)

Mass media ini  sangat berpengaruh sekali terhadap belajar siswa, jadi kalau mass media itu jelek, maka pengaruhnya juga jelek, begitu juga sebaliknya kalau mass media itu baik, maka akan baik juga pengaruhnya.

Dengan demikian ayah sebagai pemimpin dalam keluarga harus pandai-pandai menyeleksi bacaan-bacaan yang dibaca oleh siswa. Kadang-kadang karena asyiknya membaca buku yang bukan pelajaran, sehingga buku pelajaran itu tidak dibaca.

(c)    Teman bergaul

Menurut pendapat Slameto “teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap dirinya, begitu juga sebaliknya teman bergaul yang jelek pasti akan mempengaruhi sifat yang buruk juga”. (1992 : 73)

Karena itu sebaliknya memilih teman bergaul yang baik, kalau bisa juga teman yang pandai, karena teman tersebut akan bersedia membantu menyelesaikan pekerjaan belajar. Karena itu sebagai ayah harus pandai-pandai memberikan pembinaan dan pengawasan kepada siswa agar tidak bergaul dengan teman yang tidak baik.

(d) Bentuk kehidupan masyarakat

Lingkungan masyarakat yang ada disekitar rumah itu juga mempengaruhi aktivitas belajar siswa, jika siswa belajar dilingkungan yang terpelajar dan rajin, secara tidak langsung akan rajin belajar walaupun tanpa disuruh.tetapi sebaliknya kalau siswa berada disekitar lingkungan yang tidak terpelajar bahkan dilingkungan pencuri dan mempunyai kebiasaan yang tidak baik, maka siswa akan terpengaruh ingin melakukan hal-hal yang sama, maka akibatnya belajarnya terganggu bahkan siswa kehilangan semangat untuk belajar.

Karena itu sangat penting untuk mengusahakan lingkungan yang baik agar mempunyai pengaruh yang positif terhadap siswa dan dapat belajar yang sebaik-baiknya.

C.    Korelasi antara Kepemimpinan Orang Tua dengan Aktivitas Belajar Siswa

Untuk mengetahui bagaimana korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa. Disini keluarga sendiri merupakan lingkungan yang dapat mempengaruhi siswa dalam segala tingkah laku dan perbuatannya, dalam hal ini aktivitas belajar di rumah.

Lingkungan keluarga adalah merupakan lembaga pendidikan pertama dalam kehidupan siswa dan tempat belajar yang menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Dalam hal ini dijelaskan oleh Kartini Kartono bahwa “dalam keluarga umumnya ada hubungan interaksi yang intim dan segala sesuatu yang diperbuat anak mempengaruhi keluarganya dan sebaliknya keluarga memberikan dasar tingkah laku, watak moral dan pendidikan anak”. (1986 : 19)

Dari pendapat tersebut diatas maka dapat disimpulkan kalau lingkungan keluarga itu tidak seperti pengaruh yang diberikan pendidik disekolah, sebab pengaruh lingkungan sekolah hanya berusaha dengan sadar, dan tanggung jawab dalam mengantarkan siswa untuk mencapai kedewasaan secara jasmani maupun rohani. Karena itu keluarga adalah lingkungan yang sangat berperan paling utama dalam aktivitas belajar siswa yang baik.

Karena itu didalam keluarga harus ada pemimpinnya yaitu ayah, setiap pemimpin mempunyai cara-cara tersendiri dalam kepemimpinannya. Karena keberhasilan ini juga sangat tergantung dengan cara yang diterapkan oleh ayah.

Oleh sebab itu walaupun ayah sibuk dengan pekerjaannya, setidak-tidaknya pada saat berkumpul dengan keluarganya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk memberikan bimbingan, nasehat, juga teladan kepada anak (siswa). Sebab ayah disamping mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.

Marwah Daud memberikan kisi-kisi sifat yang harus dikembangkan dalam kaitannya dalam pendidikan siswa dikutip dalam mimbar pembangunan agama September adalah sebagai berikut :

  1. Orang tua harus mampu memberikan sebagai indikator dan ore model, orang tua menjadi Pendidik inti dari anak-anaknya.
  2. Orang tua harus mampu sebagai motifator, dalam hal ini misalnya orang tua memotivasi pada anak didiknya untuk mempelajari alam sekitarnya, maka ibu dan bapak harus dapat memotivasi bahwa belajar bukan hanya sebatas untuk pengetahuan saja namun lebih jauh dari itu juga untuk beribadah pada-Nya, dalam demensi-Nya dalam demensi ibbadah yang luas.
  3. Orang tua sebagai fasilisator, saat ini orang tua tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, jadi orang juga harus menyediakan beberapa bacaan lainnya.
  4. Orang tua sebagai selektor, dalam hal ini orang tua harus mampu menyeleksi semua informasi yang diterima oleh anak. (1995 : 69).

Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagai pemimpin dalam keluarga (ayah) maka harus mampu atau dapat berperan sebagai indikator, motivator, fasilisator, dan sebagai selektor terhadap anak (siswa). Dengan demikian jika hal itu dilakukan maka akan lebih mudah untuk memimpin siswa untuk mencapai tujuan yang baik.

Dalam hal ini juga tidak terlepas hubungannya dengan cara orang tua dalam menerapkan kepemimpinannya. Karena bagaimanapun lingkungan keluarga memberikan dorongan atau motivasi dalam memberikan pengarahan belajar anak (siswa) dalam keseluruhan proses aktivitas belajar, hal ini merupakan dasar yang menduduki peranan yang sangat penting bagi terdidik, faktor yang sangat terpenting dalam mendukung terhadap jasmaniah atau rohaniah, adalah belajar yang terarah yang sesuai tujuan yang hendak dicapainya. Dan untuk mencapai hal tersebut banyak dipengaruhi berbagai faktor seperti faktor lingkungan keluarga, yaitu bagaimana lingkungan seorang ayah memimpin anak atau siswa dalam memberikan bimbingan atau motivasi terohadap diri sendiri maupun kepada anak (siswa).

Dengan demikian pada dasarnya ayah itu mempunyai cara-cara atau model sendiri-sendiri dalam memimpin keluarga, seperti otoriter, demokrasi, kaisez faire ketiga kepemimpinan tersebut yang dapat mempengaruhi sangat besar terhadap aktivitas belajar siswa dan juga yang menyebabkan berhasil atau gagalnya dalam memimpin.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. D.    Rancangan Penelitian

Dalam sebuah penelitian penulis diharuskan merangcang dan menyusun rencana pelaksanaan kegiatan penelitian agar dalam realisasinya dapat berjalan denga lancar dan sukses.

Untuk mendapatkan data mengenai kememimpinan orang tua dan aktivitas belajar siswa di rumah penulis mendatangi langsung obyek penelitian dan mengambil data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, antara lain observasi, angket, dan wawancara.

Lebih detail rancangan penelitian yang penulis laksanakan adalah sebagaimana di bawah ini.

1)      Preparing (persiapan)

Sehubungan dengan judul dan rumusan masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka perencanaan dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a)      Menyusun rencana, antara lain dengan menetapkan beberapa hal sebagai berikut :

1)      Judul penelitian

2)      Alasan penelitian

3)      Problema penelitian

4)      Tujuan penelitian

5)      Obyek penelitian

6)      Metode yang dipergunakan

b)      Ijin melaksanakan penelitian

Dengan surat pengantar dari Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo, penulis dimohonkan ijin ke Kepala MI Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. Dengan demikian penulis telah mendapatkan ijin untuk mengadakan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut.

2)      Actuating (pelaksanaan)

Setelah perencaan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain :

a)      Observasi

b)      Angket

c)      Wawancara / interview

3)      Finishing (penyelesaian)

Setelah kegiatan penelitian selesai, penulis mulai menyusun langkah-langkah berikutnya, yaitu :

  1. Menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh, yang kemudian dikonsultasikan kepada Dosen Pembimbing dengan harapan apabila ada hal-hal yang perlu direvisi, akan segera dilakukan sehingga memperoleh suatu hasil yang optimal.
  2. Laporan yang sudah selesai kemudian akan dipertaruhkan di depan Dewan Penguji, kemudian hasil penelitian ini digandakan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.

E.     Populasi dan Angket Penelitian

Populasi menurut Sutrisno Hadi adalah semua individu untuk siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel yang hendak digeneralisasikan. Sedangkan pengertian sampel adalah sebagian individu yang diselidiki” (1994:70).

Dari sini yang akan dijadikan populasi yaitu semua siswa dan orang tua siswa MI Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo kelas IV sampai kelas VI tahun pelajaran 2003/2004. Dan sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diteliti secara mendalam sebagai wakil dari populasi.

Metode ini digunakan dalam pengambilan sampel, dalam penelitian ini ditetapkan 40 responden sebagai sampel dari populasi siswa dan atau orang tua siswa MI Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo dari kelas IV sampai dengan kelas VI, yakni :

  1. Siswa dan orang tua siswa kelas IV sebanyak 20
  2. Siswa dan orang tua siswa kelas V sebanyak 10
  3. Siswa dan orang tua siswa kelas VI sebanyak 10

Kemudian dari penelitian yang diambil sebagai sampel adalah kelas IV sampai dengan kelas VI, maka dalam pengambilan sampel digunakan teknik sampling yaitu random sampling atau tanpa pandang bulu.

Dalam random sampling, semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Dengan demikian anggota populasi dari setiap strata atau tingkatan mempunyai kemungkinan dan kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel.

F.     Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan apa yang diharapkan, sehingga data yang diperoleh itu benar-benar valid, maka dalam setiap penelitian terlebih dahulu harus menentukan metode apa yang akan dipakai untuk mendapatkan serta mengumpulkannya. Sebab metode merupakan kunci keberhasilan dalam suatu penelitian.

Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Metode Observasi

Metode observasi adalah suatu teknik untuk memperoleh data dengan menggunkan pengamatan (gejala-gejala) yang diselidiki (Hadi, 1991:36).

Berdasarkan pendapat-pendapat dapat dikemukakan bahwa Observasi adalah merupakan tekhnik atau metode untuk mengadakan penelitian dengan cara mengamati langsung terhadap kejadian, baik di sekolah maupun di luar sekolah dan hasilnya dicatat secara sempurna.

Dengan metode ini peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian, dalam hal ini yang diamati adalah lokasi atau letak penelitian, yakni MI Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo sebagai pusat pembelajaran dan pendidikan bagi para siswanya. Dari sana dapat diketahui beberapa data yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian ini.

  1. Metode Wawancara/interview

Menurut Bakrun dan Nasruddin (1990:47), menyatakan bahwa, “Wawancara merupakan teknik pengumpul data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab) secara lisan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Berdasarkan hal tersebut di atas, dalam penelitian ini penulis menggunakan wawancara yang bersifat tidak langsung, yaitu wawancara dengan Kepala Madrasah MI Bustanul Abidin, yakni untuk mendapatkan data mengenai madrasah  yang menjadi obyek penelitian.

  1. Angket

Metode angket dapat dilakukan dengan adanya sejumlah pertanyaan yang tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. (Arikunto, 1993:188)

Dalam hal ini sumber data yang diberi angket adalah 40 orang tua siswa untuk memperoleh data mengenai kepemimpinan orang tua dan kepada 40 orang siswa mengenai aktivitas belajar siswa di rumah.

G.    Metode Analisis Data

Sesuai dengan jenis data yang diperoleh, maka dalam penelitian ini digunakan teknik analisis data deskriptif kuantitatif, karena ingin mengetahui ada tidaknya korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah.

Sesuai dengan kebutuhan tersebut, maka digunakan rumus analisis karelasi Product Moment dengan rumus sebagai berikut :

                   Sxy

rxy

              (SX 2) (SY 2 )

Keterangan :

rxy        : koefisien korelasi antara X dan Y

xy        : product dari x kali y

x2         : product dari x dikuadratkan

y2         : product dari y dikuadratkan

(Sutriso Hadi, 1997:293)

PERANAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN DALAM MENANGGULANGI KESULITAN BELAJAR SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan perlu diberikan kepada anak sejak lahir, karena anak adalah makhluk yang berkembang menuju kedewasaannya atau kesempurnaannya setingkat demi setingkat dalam perkembangannya selain memiliki pembawaan sejak lahir juga sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Menurut Arifin sesuai dengan pendapatnya ia mengatakan sebagai berikut :

“Perkembangan anak adalah perkembangan fungsi-fungsi jiwanya secara integral, yang berhubungan satu sama lain dan masing-masing tingkat tersebut memerlukan bimbingan atau pimpinan yang tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan bagi persiapan hidup anak di masa akan datang”. (Arifin, 1977:75)

Anak yang lahir sudah dilengkapi oleh Allah berupa bentuk atau wadah yang dapat diisi dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dapat berkembang. Pikiran, perasaan dan kemampuan berbuat merupakan komponen dari fitrah itu. Dalam hal ini para pendidik hendaknya siap mengisi atau mempengaruhi dengan memberikan arahan dan nasehat agar anak dapat berkembang menjadi orang yang mandiri berguna bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.

Sesuai dengan firman Allah SWT yang ada di dalam Al Qur’an surat Al Rum ayat 30 yang berbunyi :

Artinya :

……………Fitrah Allah yang menciptakan manusia berdasarkan fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah itu…… (Depag. RI., 1974:645)

Fitrah Allah inilah yang membedakan antara manusia dengan makhluk yang lainnya dan fitrah ini pulalah yang membuat manusia itu istimewa atau lebih mulia, tetapi ia akan tetap mulia apabila mau beriman dan beramal shaleh sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulnya. Di antara yang menjadi petunjuk Allah yaitu menurut Al Qur’an surat Ali Imron ayat 102 yang berbunyi :

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu mati melainkan kamu menyerahkan diri kepada Allah. (Depag RI, 1974:92)

Allah SWT memang telah menciptakan semua makhluk-Nya ini berdasarkan fitrah-Nya. Tetapi fitrah Allah yang untuk manusia diterjemahkan dengan potensi dapat dididik dan dapat mendidik memiliki kemungkinan berkembang dan meningkat.

Teori konvergensi oleh William Stern ikut membuktikan bahwa :

“Manusia itu adalah makhluk yang dapat dididik dan dapat mendidik. Dengan pendidikan dan pengajaran potensi itu dapat dikembangkan. Manusia meskipun dilahirkan seperti kertas putih, bersih belum berisi apa-apa dan meskipun ia lahir dengan pembawaan yang dapat berkembang sendiri, namun perkembangan itu tidak akan maju kalau tidak melalui proses pendidikan.” (Darajat, 1996:17)

Setiap umat Islam harus beriman dan beramal yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, untuk memperoleh petunjuk itu harus melalui usaha dan kegiatan atau pendidikan. Pendidikan untuk membina pribadi agar beriman dan beramal itu suatu kewajiban. Pendidikan Islam itu berarti pembentukan pribadi muslim. Pribadi muslim itu adalah pengamalan sepenuhnya ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya.

Menurut Muchtar Yahya merumuskan tentang tujuan pendidikan Islam yaitu :

“Memberikan pemahaman-pemahaman ajaran Islam pada anak didik dan membentuk kelahiran budi pekerti sebagaimana misi Rasulullah SAW sebagai pengemban pemerintah menyempurnakan akhlak manusia untuk memenuhi kerja.” (Yahya, 1977:40-43)

Dengan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan Islam tersebut maka anak diharapkan mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.

Dengan memperhatikan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam itu sangat penting bagi anak didik terutama pendidikan agama Islam.

Maka untuk mengupayakan agar anak memperoleh pendidikan yang berkwalitas, maka harus ada peningkatan perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam dan juga turut berperan dalam pendidikan. Tugas guru adalah mengajar dan mendidik, mendidik adalah tugas yang amat utama, karena mendidik dapat dilakukan dengan memberi motivasi, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan dan sebagainya.

Untuk mengetahui secara pasti perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam dan faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam, maka penulis bermaksud akan mengadakan penelitian secara langsung di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.

B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah merupakan hal yang sangat penting di dalam kegiatan penelitian, sebab masalah merupakan obyek yang akan diteliti dan dicari jalan keluarnya melalui penelitian. Pernyataan ini relevan dengan yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya Prosedur Penelitian suatu Pendekatan mengatakan bahwa : “Masalah mesti merupakan bagian kebutuhan seseorang untuk dipecahkan, orang ingin mengadakan penelitian karena ia ingin mendapatkan pemecahan dari masalah yang dihadapi.” (Surahmad, 1989:22)

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah sudah menjadi suatu “kebutuhan” dalam sebuah penelitian, karena tanpa rumusan masalah alur dan sistematika penelitian tidak akan menemukan jawaban dari masalah yang sedang diteliti.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan oleh penulis adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana perhatian siswa terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.
  1. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian siswa terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.

C.    Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian di dalam karya ilmiah merupakan target yang hendak dicapai melalui serangkaian aktivitas penelitian, karena segala yang diusahakan pasti mempunyai tujuan tertentu yang sesuai dengan permasalahannya.

Adapun tujuan penelitian yang dapat penulis tentukan adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui perhatian siswa terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.
  1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian siswa terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.
  1. D.    Kegunaan Penelitian

Berdasarkan tujuan penulisan yang telah ditetapkan tersebut, maka diharapkan skripsi ini berguna untuk :

  1. Bagi penulis
  1. Untuk menambah ilmu pengetahuan di dalam bidang penelitian
  2. Untuk mengembangkan ilmu yang telah diperoleh mengikuti perkuliahan pendidikan agama Islam di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
  3. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru-guru SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo, dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam.
  4. Untuk memberikan sumbangan pustaka pada perpustakaan Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
  1. Bagi lembaga formal
  1. Bagi guru atau pendidik
  1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada guru-guru agama Islam di SD khususnya di Kecamatan Tegalsiwalan
  2. Untuk memberikan rangsangan kepada para guru agama Islam dalam rangka untuk meningkatkan prestasi belajar pendidikan agama Islam.
  1. E.     Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian tentang perhatian siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo ini mempunyai jangkauan pembahasan yang sangat luas dan umum. Namun karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, dana, dan kemampuan yang dimiliki penulis, maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada masalah sebagai berikut ini :

  1. Karakteristik lokasi penelitian, yakni mengenai gambaran umum tentang lokasi tersebut yang meliputi letak sekolah, struktur organisasi, data guru, data siswa dan data-data lain yang diperlukan dalam penelitian.
  2. Bentuk-bentuk perhatian siswa yang ada di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo
  3. Beberapa upaya guru dalam membina / mendidik siswa dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
  4. Data tentang hasil perolehan skor dari angket yang telah disebarkan untuk mengetahui hasil prosentase jawaban siswa sehingga penulis dapat mengambil suatu kesimpulan dari data tersebut.
  1. F.     Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk menghindari perbedaan interpretasi makna terhadap hal-hal yang bersifat esensial yang dapat menimbulkan kerancuan dalam mengartikan judul, maksud dari penelitian, disamping itu juga sebagai penjelas secara redaksional agar mudah dipahami dan diterima oleh akal sehingga tidak terjadi dikotomi antara judul dengan pembahasan dalam skripsi ini. Definisi operasional ini merupakan suatu bentuk kerangka pembahasan yang lebih mengarah dan relevan dengan permasalahan yang ada hubungannya dengan penelitian.

  1. Perhatian siswa

Perhatian itu merupakan reaksi umum dari organisme dan kesadaran, yang menyebabkan bertambahnya aktifitas dalam konsentrasi dan pembatasan kesadaran terhadap suatu obyek (Kartono, 1984 : 154)

Jadi yang dimaksud perhatian di dalam skripsi ini adalah reaksi siswa terhadap aktivitas dalam konsentrasi terhadap suatu bidang atau obyek.

  1. Pendidikan Agama Islam

Menurut Zakiah Darajat (1996 : 88) “Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung di dalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuan dan pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akherat”.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian tentang Perhatian Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam

  1. 1.      Pengertian

Perhatian adalah bagian dari segala psikis yang sangat penting dalam mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu untuk mencapai suatu tujuan perlu adanya rangsangan yang dapat menarik perhatian seseorang. Sardjoe menjelaskan di dalam bukunya Psikologi Umum sebagai berikut :

Perhatian itu merupakan reaksi umum dari organisme dan kesadaran, yang menyebabkan bertambahnya aktifitas dalam konsentrasi dan pembatasan kesadaran terhadap suatu obyek (Kartono, 1984 : 154)

Seorang guru yang mempunyai tugas berat yaitu mendidik atau membimbing, menasehati, mengarahkan, memberi dan menjadi tauladan bagi siswanya selain itu juga memberi motivasi agar siswanya selalu memiliki perhatian atau memperhatikan pendidikan gurunya terutama pendidikan Agama Islam. Dengan perhatian siswa yang sungguh-sungguh terhadap Pendidikan Agama Islam maka pendidikan tersebut akan berhasil dengan baik.

  1. 2.      Macam-macam Perhatian

Ada beberapa macam perhatian yaitu :

  1. Perhatian spontan yang disengaja

-          Perhatian spontan, spontan atau perhatian asli yang disebut juga perhatian langsung adalah perhatian yang timbul dengan sendirinya karena tertarik pada sesuatu, bukan karena dorongan kemauan.

-          Perhatian disengaja adalah perhatian yang timbul karena dorongan kemauan atau karena adanya tujuan tertentu. Misalnya seorang anak mendapat dorongan dari orang tuanya supaya rajin mengaji di Masjid dan oleh keinginannya sendiri, maka setiap saat perhatiannya terhadap pendidikan mengaji selalu kuat, karena besar atau kuat perhatiannya itu akan mengaji dengan tekun, rajin dan penuh tanggung jawab, karena ia telah menyadari bahwa mengaji itu merupakan kebutuhan hidupnya.

  1. Perhatian statis dan dinamis

-          Perhatian statis adalah perhatian yang tetap terhadap sesuatu. Dengan perhatian yang tetap itu, maka dalam waktu yang agak lama, perhatian akan menjadi kuat, misalnya : seorang siswa selalu memperhatikan pelajaran dan pendidikan agama Islam karena tertarik pada pendidikan Agama Islam makin lama perhatian siswa tersebut bertambah kuat, tidak mudah pindah ke obyek lain karena pendidikan tersebut cocok untuknya.

-          Perhatian dinamis ialah perhatian yang mudah berubah-ubah, bergerak atau pindah dari obyek yang satu ke obyek yang lain, agar perhatian kita terhadap sesuatu tetap kuat, maka perlu sering diberi perangsang baru.

  1. Perhatian konsentratif dan distributif

-          Perhatian konsentratif atau perhatian memusat yakni : perhatian yang hanya ditujuakan pada satu obyek atau satu masalah tertentu, misalnya: seseorang sedang berdo’a, saat itu jiwanya dipusatkan hanya untuk berdo’a kepada Allah saja perhatiannya tidak bercabang umumnya agak tetap, kukuh, kuat dan perhatiannya tidak mudah pindah ke obyek yang lain.

-          Perhatian distributif atau perhatian yang terbagi-bagi dengan perhatian ini orang dapat membagi-bagikan perhatiannya kepada beberapa arah dengan sekali jalan dan dalam waktu yang bersamaan, misalnya : guru sedang mengajar perhatiannya terbagi kepada materi pelajaran, sikap siswa, kondisi siswa dan lain-lainnya.

  1. Perhatian sempit dan perhatian luas

-          Perhatian sempit adalah perhatian yang mudah dipusatkan kepada suatu obyek yang terbatas, sekalipun berada pada tempat yang ramai, jiwanya tidak mudah digoda keadaan sekitarnya, tidak mudah mengalihkan perhatiannya ke obyek lainnya.

-          Perhatian luas adalah perhatian yang mudah tertarik oleh kejadian-kejadian di sekelilingnya, mudah dipengaruhi, mudah terangsang dan mudah mencurahkan jiwanya kepada hal-hal yang lain (Ahmadi, 1983: 99 – 100)

  1. 3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perhatian Siswa

Yang dapat mempengaruhi perhatian siswa ada dua faktor, yaitu :

  1. Faktor intern atau faktor pembawaan juga disebut faktor heriditas, faktor ini timbul dari diri siswa itu sendiri karena menarik pada sesuatu dan tidak didorong oleh kemauan.
  2. Faktor ekstern yang disebut faktor milieu atau faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini ada beberapa macam, misalnya faktor pendidikan jika di sekolah adalah guru dengan pendidikan atau bimbingan, nasehat, arahan, teladan dan motivasi maka akan menumbuhkan perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam. Juga perhatian siswa bisa dipengaruhi dari teman-temannya dengan cara sering diajak belajar bersama, diajak mengaji, diajak bermain bersama kegiatan yang seperti ini akan mempengaruhi perhatian siswa, oleh karen itu siswa hendaknya dapat memilih teman yang dapat memberi pengaruh yang positif, agar dapat menumbuhkan perhatian siswa terhadap pendidikan khususnya pendidikan agama Islam. Jika siswa sedang berada di rumah yang dapat mempengaruhi perhatiannya adalah keluarga terutama orang tua, oleh karena itu orang tua harus mendidik atau mendidik atau membimbing, menasehati, memberi atau menjadi teladan yang baik agar dapat menumbuhkan perhatian siswa terhadap pendidikan khususnya pendidikan Agama Islam.

B.     Kajian tentang Pendidikan Agama Islam

  1. 1.      Pengertian

Pengertian pendidikan agama Islam menurut Direktorat Pembinaan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum Negeri adalah sebagai berikut :

Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung didalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuan dan pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akherat (Daradjat, 1996 : 88)

Demikianlah pengertian Pendidikan Agama Islam tersebut di atas bahwa yang dimaksud mendidik adalah membimbing dan mengasuh siswa, agar siswa tersebut mampu memahaminya ajaran Islam secara keseluruhan, menghayati dan mengamalkannya sehingga dapat selamat di dunia dan akherat.

Mengingat demikian pentingnya arti pendidikan Agama Islam bagi anak, maka guru harus mendidik siswa dengan sungguh-sungguh bila ingi berhasil tugasnya sebagai pendidik. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, maka guru Agama harus membekali dirinya dengan segala persyaratan sebagai guru dengan memperdalam ilmu Dikdaktik dan ilmu Metodik serta ilmu pengetahuan baik pengetahuan umum maupun pengetahuan agama, memahami betul-betul perkembangan jiwa anak sesuai dengan usia anak, memahami latar belakang anak dan anak usia SD perlu sering contoh dan pembiasaan.

  1. 2.      Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan agama Islam, juga merupakan tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila, karena peningkatan ketaqwaan terhadap tuhan yang maha esa yang tercantum dalam GBHN 1993 – 1988.

Tujuan pendidikan agam Islam pada sekolah umum adalah :

Untuk meningkatkan ketagwaan terhadap tuhan yang maha esa, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti mmperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa (Daradjat, 1996 : 88)

Mengingat tujuan pendidikan agama Islam yang indah dan bagus, maka pendidikan tersebut harus diberikannya kepada siswa dengan berhasil dengan baik yaitu membentuk pribadi siswa yang berbudi pekerti luhur, cerdas, terampil, bertanggung jawab, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  1. 3.      Fungsi Pendidikan Agama Islam

Dengan pendidikan agama Islam inilah guru agama memberikan bimbingan, asuhan, latihan, membiasakan memberi dan menjadi contoh kepada siswanya agar menjadi pribadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, yang selalu mengamalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya sesuai tuntutan Allah SWT dan Rasul-Nya.

C.    Kajian tentang Faktor-faktor yang dapat Mempengaruhi Pendidikan Agama Islam

Pada Umumnya siswa dalam mengikuti pendidikan agama Islam dipengaruhi 2 faktor yaitu : faktor heriditas dan faktor milieu.

  1. Fakor Heriditas atau Faktor Pembawaan

Faktor heriditas adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh siswa sejak masih dalam kandungan, faktor ini adalah : mental, kesadaran, kemauan, daya serap dan minat ada lagi yaitu karakter, karakter dapat dipengaruhi dengan lingkungan atau pendidikan untuk menuju kedewasaan. Menurut pendapat Sardjoe sebagai berikut :

Karakter manusia dapat dididik dan diarahkan serta dikembangkan menjadi watak manusia yang baik (Sardjoe,1994 : 72 – 73)

  1. Faktor Milieu atau Faktor Lingkungan

Faktor Milieu adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor ini berupa pengalaman-pengalaman, pendidikan alam sekitarnya dan sebagainya (Sardjoe,1994 : 74)

Faktor lingkungan siswa terdiri dari : keluarga, sekolah, dan masyarakat, ketiga faktor tersebut diatas selalu mempengaruhi siswa untuk menuju kesempurnaan atau kedewasaannya.

Dengan demikian berarti siswa harus dipengaruhi dengan memberikan pendidikan untuk menuju kedewasaannya.

Berdasarkan dua faktor yang dapat mempengaruhi pendidikan siswa yaitu interndan ekstern yang penulis kemukakan diatas, maka perlu adanya usaha dan kegiatan agar dapat tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan yaitu terbentuknya manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri dan membangun bangsanya, bertanggung jawab, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Pendidikan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut di atas adalah :

  1. a.      Siswa

Karena mengingat siswa memiliki faktor pembawaan yang dapat dipengaruhi atau dididik dan sangat diharapkan perhatiannya, maka siswa selalu memiliki perhatian yang kuat terhadap pendidikan khususnya pendidikan agama Islam.

Anak didik adalah manusia yang senantiasa mengalami perkembangan sejak terciptanya sampai memasuki liang lahat. Perkembangan disini dimaksutkan perubahan yang selalu terjadi dalam diri anak didik secara wajar (Soetopo, 1982 : 134)

Dengan demikian anak adalah perlu dikembangkan daya imajinasinya sesuai dengan kefitrahannya yang dimiliki sehingga ia mampu menjadi sosok manusia yang mandiri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain karena adanya modal disiplin keilmuan.

Untuk meningkatkan kemauan belajar siswa perlu diberi motivasi. Tajab dalam bukunya Ilmu Jiwa Pendidikan menjelaskan bahwa :

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dn memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai satu tujuan (Tajab, 1994 : 102)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :

Motivasi adalah dorongan yang timbul dari seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu (Depdikbud, 1995 : 666)

Berdasarkan dua pendapat tersebut di atas, dapat diambil pengertia bahwa, motivasi belajar adalah daya atau tenaga yang mendorong siswa untuk melaksanakan aktivitas belajar guna mencapai prestasi yang lebh bagus. Dengan demikian motivasi itu erat hubungannya dengan tujuan pendidikan. Maka dari itu apabila motivasi diberikan kepada siswa dalam tarap belajar, tentu akan menumbuhkan perhatian siswa terhadap pelajaran serta rasa tanggung jawab terhadap statesnya sebagai pelajar, sehingga ia akan terdorong untuk belajar yang bersifat ekstrinsik.

  1. Motivasi intrinsik adalah suatu aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa berdasarkan penghayatan suatu kebutuhan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar itu, misalnya anak ungin belajar karena ingin menjadi dokter atau ingin menjadi guru ingin pintar dan sebagainya.
  2. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri siswa sendiri yaitu aktivitas belajar yang dilakukan siswa berdasarkan kebutuhan yang tidak mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar itu sendiri, misalnya siswa belajar untuk memperoleh hadiah, menghindari hukuman, dan sebagainya.

Dengan motivasi inilah perhatian dan kemauan siswa akan mendapat pengaruh yang kuat sehingga siswa akan belajar lebih rajin lagi untuk meningkatkan prestasi yang lebih tinggi.

  1. b.      Pendidik atau Guru

Mendidik adalah tugas yang mulia dan luhur, maka mendidik harus dilakukan dengan rasa tanggung jawab dan ikhlas. Mendidik haruslah diserahkan kepada orang yang memiliki kemampuan dan kesenangan bekerja untuk orang lain.

Pendidik yang penulis maksutkan adalah setiap orang dewasa yang dengan sengaja memberikan pengaruh terhadap seseorang untuk mencapai suatu kedwasaannya (Barnadib, 1999 : 61)

Di antara tugas-tugas pendidik atau guru adalah :

  1. Membimbing, mengarahkan dan mengembangkan kemanusiaan siswa dengan memberikan pendidikan Ilmu Agama dan Ilmu Pengetahuan umum agar dapat hidup mandiri dan bertanggung jawab serta mau melaksanakan kewajibannya dengan baik.
  2. Membina kepribadian siswa, agar menjadi manusia yang berbudi pekeri luhur, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta patuh terhadap orang tua dan gurunya.
  3. Membina siswa agar dapat menjadi manusia yang terampil, sehat kuat, berilmu dan bercita-cita tinggi.

Mengingat tugas guru demikian berat yaitu mengajar dan mendidik dengan mengupayakan seluruh potensinya siswa yang terdiri dari :

Konitif, efektif dan psikomotoriknya. Dengan beban dan tanggung jawabnya guru yaitu begitu besar, maka untuk menjadi guru sudah barang tentu diperlukan syarat-syarat yang memadai pula.

Adapula syarat menjadi guru, menurut beberapa pakar pendidikan adalah sebagai berikut :

  1. Menurut Undang-undang Republik Indonesia No 2 Tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi sebagai berikut:

Untuk diangkat sebagai pendidik/pengajar, yang bersangkutan harus beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta memiliki kualifikasi sebagai tenaga Pengajar (UUD RI 1989 : 63)

  1. Menurut Munir Mursi, tatkala membicarakan syarat-syarat guru kuttab (semacam Sekolah Dasar di Indonesia) menyatakan bahwa syarat terpenting bagi guru dalam Islam adalah sebagai berikut :
    1. Dewasa, sebaba salah satu tugas guru adalah mendewasakan potensi anak didik, maka terlebih dahulu guru harus dewasa, orang dewasa tentunya memiliki bekal pengalaman yag lebih matang dibandingkan dengan anak yang diajarnya.
    2. Sehat jasmani dan rohani, seorang guru harus mempunyai kesehatan yang sempurna. Sebab adanya kekurang sehatan atau cacat jasmani dan rohani, akan dapat mengganggu kelancaran dalam proses pendidikan dan pengajaran, bahkan dapat membahayakan guru dan siswa.
    3. Mempunyai keahlian, seorang guru harus mempunyai keahlian dalam mendidik, oleh karena itu ia dituntut untuk menguasai ilmu yang akan diajarkan dan kemampuan mengajar dan mendidik.
    4. Berbudi pekerti luhur, guru harus mempunyai budi pekerti luhur dan sifat-sifat yang terpuji, yang dapat mendukung tercapainya keberhasilan dalam mendidik dan mengajar.

Dengan terpenuhinya beberapa syarat tersebut di atas, maka keberadaan guru khususnya guru-guru di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo akan dapat menjalankan tugasnya yang lebih baik, Guru Agama Islam disamping memberikan pengetahuan dan kecakapan kepada siswa juga harus sanggup mempengaruhi dan menggerakkan jiwa siswa menjadi manusia yang dapat mengamalkan ajaran Islam dengan baik.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Rancangan Penelitian

Dalam penilitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang perhatian siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo. Sesuai dengan judul penelitian, yakni Studi Perhatian Siswa terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo

Selanjutnya penulis mengambil beberapa langkah untuk menyelesaikan skripsi ini, yakni sebagai berikut :

1)      Persiapan

Dalam suatu kegiatan, persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat penting. Begitu juga dalam kegiatan penelitian, persiapan merupakan unsur yang perlu diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan memperlancar jalannya penelitian.

Sehubungan dengan judul dan rumusan masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka persiapan dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a)      Menyusun rencana

Dalam menyusun rencana ini penulis menetapkan beberapa hal seperti berikut ini.

1)      Judul penelitian

2)      Alasan penelitian

3)      Problema penelitian

4)      Tujuan penelitian

5)      Obyek penelitian

6)      Metode yang dipergunakan

b)      Ijin melaksanakan penelitian

Dengan surat pengantar dari Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam (IAIN) Nurul Jadid Jurusan Pendidikan Agama Islam dengan alamat PO. BOX I Paiton Probolinggo, penulis dimohonkan ijin  kepada Kepala SD Negeri Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo. Dengan demikian penulis telah mendapatkan ijin untuk mengadakan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut di atas.

c)      Mempersiapkan alat pengumpul data yang berhubungan dengan perhatian siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo, yakni menyusun instrumen untuk angket dan wawancara dan dokumentasi.

2)      Pelaksanaan

Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain :

a)      Observasi

b)      Interview

c)      Dokumenter

3)      Penyelesaian

Setelah kegiatan penelitian selesai, penulis mulai menyusun langkah-langkah berikutnya, yaitu :

  1. Menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh, yang kemudian dikonsultasikan kepada Dosen Pembimbing dengan harapan apabila ada hal-hal yang perlu direvisi, akan segera dilakukan sehingga memperoleh suatu hasil yang optimal.
  2. Laporan yang sudah selesai kemudian akan dipertaruhkan di depan Dewan Penguji, kemudian hasil penelitian ini digandakan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.

B.     Populasi dan Sampel Penelitian

  1. Populasi

Populasi merupakan obyek informasi atau kelompok yang menjadi sasaran penelitian. Dalam hal ini T. Raka Jono menyatakan bahwa “populasi adalah keseluruhan individu yang ada, yang pernah dan mungkin ada yang merupakan sasaran yang sesungguhnya dari pada suatu penyelidikan” (t.th.1).

Bertolak dari pengertian di atas, maka dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah keseluruhan guru termasuk Kepala SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo dan keseluruhan siswanya.

  1. Sampel

Pengertian mengenai sampel, Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa, “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (1997:177). Selanjutnya Suharsimi menyatakan bahwa :

“Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100 lebih 100 lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung setidaknya dari :

  1. Kemampuan peneliti melihat dari segi waktu, tenaga dan dana.
  2. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.
  3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti, untuk peneliti yang beresiko besar, hasilnya akan lebih besar” (1992:107)

Berdasarkan pengertian di atas, mengingat kemampuan yang terbatas pada diri penulis maka dalam penelitian ini, penulis mengambil sampel yang terdiri dari semua guru termasuk Kepala Sekolah berjumlah 9 orang dan 50 orang siswa, dengan perincian sebagai berikut : Siswa kelas I s/d V masing-masing diambil 10 orang anak sehingga jumlah semuanya 50 orang anak.

C.    Instrumen Penelitian

Guna memperoleh data yang diperlukan maka perlu adanya alat-alat pengumpul data atau instrumen, sebab instrumen sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian. Instrumen yang baik akan menghasilkan data-data yang baik dan sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu data harus cocok dan mampu bagi pemecahan masalah. Dalam hal ini Winarno Surachmad menyatakan bahwa :

“Setiap alat pengukur yang baik akan memiliki sifat-sifat tertentu yang sama untuk setiap jenis tujuan dan situasi penyelidikan. Semua sedikitnya memiliki dua sifat, reliabilitas dan validitas pengukuran. Tidak adanya suatu dari sifat ini menjadikan alat itu tidak dapat memenuhi kriteria sebagai alat yang baik”. (t.th.:145)

Sifat-sifat yang lain yang harus dipenuhi adalah obyektifitas dan adanya petunjuk penggunaan. Adapun instrumen yang dibuat penulis guna menjaring data adalah pedoman interview terhadap Kepala Sekoalah dan angket untuk siswa.

D.    Teknik Pengumpulan Data

Dalam suatu penelitian tidak lepas dari data, karena dengan adanya data atau keadana tertentu dapat membangkitkan niat untuk mengadakan penelitian. Dengan adanya data tersebut orang akan dapat menyesuaikan penelitiannya. Penelitian terhadap suatu obyek itu tidak dapat dilaksanakan dengan baik apabila dari obyek itu tidak dapat dibuat datanya. Data mempunyai pengertian khusus, seperti yang dinyatakan oleh Masud Kasan Kohar bahwa, “data adalah himpunan kenyataan-kenyataan yang mengandung suatu keterangan atau menyusun kesimpulan” (t.th.:61).

Dari definisi di atas maka jelaslah bahwa dalam suatu penelitian diperlukan banyak sekali data agar keputusan yang diambil dapat dipercaya. Oleh karena itu data yang dikumpulkan haruslah menggambarkan tentang variabel-variabel yang ada pada judul, memilih metode yang tepat, karena kesalahan dalam memilih metode akan berakibat data yang terkumpul kurang memenuhi syarat baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Oleh karenanya dalam penelitian ini penulis memilih beberapa metode pengumpulan data yang sekiranya tepat untuk penelitian ini, yaitu metode angket, wawancara, dan dokumentasi.

  1. Observasi

Metode observasi adalah suatu teknik untuk memperoleh data dengan menggunkan pengamatan (gejala-gejala) yang diselidiki (Hadi, 1991:36).

Berdasarkan pendapat-pendapat dapat dikemukakan bahwa Observasi adalah merupakan tekhnik atau metode untuk mengadakan penelitian dengan cara mengamati langsung terhadap kejadian, baik di sekolah maupun di luar sekolah dan hasilnya dicatat secara sempurna.

Dengan metode ini peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian, dalam hal ini yang diamati adalah lokasi atau letak penelitian kegiatan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.

  1. Interview

Menurut Bakrun dan Nasruddin (1990:47), menyatakan bahwa, “Wawancara merupakan teknik pengumpul data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab) secara lisan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Berdasarkan hal tersebut di atas, dalam penelitian ini penulis menggunakan wawancara yang bersifat tidak langsung, yaitu wawancara dengan Kepala SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo, untuk memperoleh data mengenai pelaksanaan pendidikan agama Islam dan perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam yang dilaksakana di lembaga tersebut.

  1. Dokumenter

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan transkrip, agenda dan sebagainya. (Arikunto, 1993:198)

Dokumentasi adalah suatu penyelidikan yang ditujukan kepada penguraian dan penjelasan apa yang telah lalu melalui sumber-sumber dokumenter. Dan peneliti menggunakan metode ini adalah untuk memperoleh data SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo terutama data mengenai siswa, tenaga pendidik serta sarana prasarana yang ada di lembaga tersebut.

  1. E.     Metode Analisis Data

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa data adalah fakta-fakta, bahan-bahan dan keterangan yang sengaja dikumpulkan untuk mengambil kesimpulan mengenai sesuatu hal.

Setelah mengadakan serangkaian proses pengumpulan data dengan cara menggunakan metode analisa deskriptif kwantitatif. Deskriptif adalah menggarbarkan secara tepat sifat-sifat individu atau kelompok tertentu. Dalam hal ini penulis menggunakan teknik analisa data prosentase dengan rumus sebagai berikut :

                  F

      P   =  —–  100%

N

Keterangan :

P = Prosentase

F = Frekwensi jawaban yang diperoleh

N = Jumlah Responden

(Sudiono, 1995:40)

 

PROBLEMATIKA PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SLTP

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Agama Islam diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Dalam agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu kepada dua fenomena perkembangan yaitu :

a)      Potensi psikologis dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi sosok pribadi yang berkualitas dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT.

Artinya : ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT, sekiranya ahli kitab beriman : di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Depag. RI. 1987:110)

b)      Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai “Kholifah” di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya baik yang alamiah maupun ijtimaiyah, di mana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya. Firman Allah SWT yang berbunyi :

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat ; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah dimuka bumi”. (Depag. RI., 1987:13)

Untuk mengaktualisasikan dan memfungsikan potensi tersebut di atas diperlukan ikhtiar kependidikan yang sistematis berencana berdasarkan pendekatan dan wawasan interdisiplinerm, karena manusia semakin kompleks. Kompleksitas perkembangan sosial itu sendiri menunjukkan interelasi dan interaksi dari berbagai fungsi aspek kepentingan.

Agama Islam yang membawa nilai-nilai dan norma-norma kewahyuan bagi kepentingan hidup umat manusia di atas bumi baru aktual dan fungsional bila diinternalisasikan ke dalam pribadi melaui proses kependidikan yang konsisten dan terarah kepada tujuan.

Oleh karena itu proses kependidikan Islam memerlukan konsep-konsep yang pada gilirannya dapat dikembangkan menjadi teori-teori yang teruji dalam praktisasi di lapangan operasional. Bangunan teoritis kependidikan Islam itu akan dapat berdiri tegak di atas fondasi pandangan dasar yang telah digariskan oleh Allah dalam kitab yang wahyukan-Nya.

Maka dengan teori pendidikan Islam itulah, para pendidik muslim akan mengembangkan konsep-konsep baru sesuai dengan kebutuhan zaman dan tempatm sehingga pendidikan Islam akan terus berkembang. Mengacu kepada tuntutan masyarakat yang berkembang secara dinamis-konstruktif menuju masa depan yang lebih sejahtera dan maju.

Bila pendidikan Islam telah menjadi ilmu yang ilmiah dan alamiah, maka ia akan dapat berfungsi sebagai sarana pembudayaan manusia yang bernafaskan Islam yang lebih efektif dan efisien. Kita mengetahui bahwa sejak Islam diaktualisasikan melalui dakwahnya dalam masyarakat sampai kini, proses kependidikan Islam telah berlangsugn 14 abad lamanya, yang mana selama berabad-abad tersebut pendidikan Islam telah mengacu dalam masyarakat yang beraneka ragam kultur dan budayanya, selama itu pula hasil-hasilnya telah mampu mewarnai sikap dan kepribadian manusia yang tersentuh oleh dampak-dampak positif dari keberlangsungan pendidikan Islam tersebut.

Dengan demikian perlu adanya pendidikan yang berkualitas, untuk itu memerlukan perhatian yang bersungguh-sungguh, sebab masalah ini secara langsung akan mempengaruhi kebijakan pendidikan selanjutnya. Pemerintah serta para pakar pendidikan dihadapkan pada suatu alternatif yang sulit untuk memilih dan menetapkan kebijakan pendidikan, apa memilih kualitas dengan mengorbankan kuantitas, atau sebaliknya mengutamakan kuantitas dengan mengorbankan kualitas. Masalah kuantitas pendidikan Islam di negara kita ini sudah tidak perlu dikhawatirkan, namun masalah kualitas masih perlu dipertanyakan. Terlepas dari realita tersebut di atas, pemerintah dewasa ini mengupayakan keduanya, sekaligus memprioritaskan untuk meningkatkan mutunya. Mutu tersebut akan dicapai bila mana pendidikan dilaksanakan secara kontinyu, serta dilaksanakan secara terpadu.

Namun di sisi lain, dalam kurun waktu akhir-akhir ini, akibat timbulnya perubahan sosial di berbagai sektor kehidupan umat manusia, beserta timbulnya nilainya ikut mengalami pergeseran yang kurang mapan. Maka pendidikan Islam seperti yang dikehendaki umat Islam harus merubah strategi dan taktik operasional. Strategi dan taktik operasional itu membutuhkan perombakan model sampai dengan institusi-institusinya, sehingga lebih efektif dan efisien.

Rupanya usaha-usaha yang telah dilakukan selama ini ternyata masih kurang mampu untuk mendongkrak tata nilai pendidikan agama yang masih terpuruk. Hal ini terbukti dengan adanya prilaku-perilaku siswa yang masih sering bertentangan dengan tata nilai keislaman.

Dari realitas itulah penulis ingin sekali meneliti tentang “Problematika Pelaksanaan Pendidikan Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana problematika pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.
  2. Faktor apa saja faktor-faktor yang dapat menunjang dan menghambat pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.
  1. C.    Tujuan Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini penulis bertujuan untuk :

  1. Mengetahui pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.
  2. Mengetahui faktor-faktor yang dapat menunjang dan menghambat pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.
  1. D.    Kegunaan Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini penulis mengarapkan hasil penelitiannya akan bermanfaat bagi :

  1. Pihak sekolah

Sebagai bahan informasi, pertimbangan, dan acuan kerangka berpikir bagi pengelolaan sekolah demi tercapainya tujuan pendidikan sebagaimana yang diahrapkan oleh masyarakat, bangsa dan negara.

  1. Pihak Guru Pendidikan Agama Islam

Dalam penulisan skripsi ini, Guru Pendidikan Agama menjadi obyek utama selain siswa itu sendiri. Eksistensi skripsi ini diharapkan dapat menambah wawasan dan sebagai bahan evaluasi tambahan untuk kesempurnaan dan perbaikan sistem dan metode pengajaran yang akan datang.

  1. Bagi Penulis

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guna mengadakan penelitian lebih lanjut. Dan untuk mengetahui sejauhmana tingkat kesulitan dan problematika dalam pengajaran agama Islam serta bagaimana solusi yang seharusnya dilaksanakan.

  1. E.     Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan antara lain :

  1. Dalam penelitian ini yang dijadikan objek penelitian adalah unsur organik (siswa dan guru). Oleh karena itu hanya dipilih mereka yang betul-betul memahami permasalahan penelitian dan sudah dianggap mewakili.
  2. Waktu penelitian dan biaya yang sangat terbatas, akan tetapi hasil-hasil penelitian yang didapatkan oleh penulis sudah dianggap cukup representatif.
  1. F.     Definisi Operasional

Definisi operasional dalam skripsi ini dirasa penting dan perlu agar tidak terdapat kesalahfahaman dalam memahami skripsi ini.

  1. Problematika

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, “Problem adalah masalah, persoalan”. (1990:701). Jadi yang dimaksud problematika dalam penulisan skripsi ini adalah permasalahan-permasalahan yang terdapat pada pelaksanaan pendidikan agama di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.

  1. Pelaksanaan

Pelaksaan adalah berasal dari kata “laksana” artinya perbuatan atau cara pelaksanaan sesuatu, kemudian mendapatkan afik “pe” dan “an”, sehingga menjadi kata pelaksanaan yang berarti “tentang sesuatu, perbuatan, perbuatan yang dipergunakan untuk mengerjakan sesuatu”. (Poerwadarmninta, 1983:553).

  1. Pendidikan Agama Islam

Menurut Ahmad D. Marimba adalah “bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.” (1981:23). Sedangkan menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan Islam adalah “usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, dan mengenalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. (Depdikbud, 1994:1)


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. A.    Kajian tentang Pendidikan Agama Islam
  1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Sebelum penulis uraikan lebih lanjut mengenai pengertian pendidikan agama, terlebih dahulu akan penulis kemukakan beberapa pendapat tentang pengertian pendidikan, yang mana banyak para ilmuan memberikan definisi yang berbeda, hal ini disebabkan tinjauan mereka yang berbeda-beda pula.

Adapun pengertian mereka tentang pendidikan, antara lain :

MJ. Langeveld :

“Pendidikan adalah usaha yang sadar yang diberikan oleh yang berkewajiban dengan cara tertentu, teratur dan sistematis agar si terdidik itu bisa berdiri sendiri. (1981:17)”

Khursid Ahmad mengatakan :

Pendidikan adalah suatu latihan mental fisik dan moral, serta tujuannya adalah memproduksi pria dan wanita yang berkebudayaan tinggi sebagai makhluk manusia yang baik dan sebagai warga negara yang patut.(1968:80)

Ahmad D. Marimba dalam bukunya “Pengantar filsafat Islam” berkata :

Pendidikan Islam adalah bimbingan atua pimpinan yang diberikan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. (1984:20)

Dari beberapa definisi di atas dapat penulis disimpulkan bahwa pendidikan adalah segala pembinaan kepribadian dan pengembangan kemampuan manusia seumur hidup baik jasmani maupun rohani.

Di dalam usaha peningkatan pendidikan tidak terlepas dari unsur-unsur pendidian yaitu :

  1. Adanya tujuan
  2. Adanya pendidikan
  3. Adanya anak didik
  4. Alat yang digunakan
  5. Lingkungan

Adapun pengertian pendidikan Agama Islam akan penulis kemukakan beberapa pendapat sebagai berikut :

Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa :

“Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian yang utama”. (1984:26)

Abd. Rachman Saleh mengemukakan bahwa :

“Pendidikan adalah usaha yang diarahkan kepada terbentuknya kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran agama Islam”. (1989:33)

Dengan pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan agama ialah bimbingan atau pimpinan sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak sehingga sesuai dengan ajaran-ajaran agama untuk ke arah terbentunya kepibadian yang utama menurut Islam.

 

  1. Dasar Pendidikan Agama Islam

Dasar dari pada pendidikan agama merupakan hal yang sangat penting, karena dasar merupakan azas pokok dalam istilah bangunan disebut fondamen suatu bangunan. Kalau fondamenya kuat maka bangunan juga kuat. Yang mendasari dari pada tujuan suatu usaha adalah dasar dari pada sesuatu itu.

Adapun dasar pelaksanaan pendidikan agama Islam di Indonesia adalah sebagai berikut :

  1. Dasar Agama

Yang dimaksud dengan dasar agama ialah suatu dasar atau landasan yang sudah ditetapkan oleh ajaran agama yaitu : Al Qur’an dan Al Hadits yang harus dijadikan pegangan pertama kali dan diyakini, karena keduanya merupakan sumber dari ajaran Islam.

Adapun segala persoalan yang di luar ketentuan di atas, maka manusia diberi hak untuk berfikir dengan ketentuan hasil pemikiran manusia tersebut tidak bertentnagan dengan garis-garis ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Pendidikan agama Islam adalah usaha manusia dalam mewujudkan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu dasar pemikiran pendidikan agama Islam adalah sebagaimana yang ada dalam sumber di atas.

Adapun landasan pelaksanaan pendidikan agama Islam antara lain surat at Tahrim ayat 6 :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka. (Depag. RI., 1978:951)

Dijelaskan dalam surat an Nahl ayat 125 :

Artinya : “Serulah (semua manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Depag. RI., 1978:652)

Kedua ayat tersebut di atas merupakan pernyataan yang tegas dan menjadi tuntunan bagi manusia untuk menjalankan pendidikan yang berisikan seruan kepada perbuatan yang baik dan mencegah dari perbuatan yang terlarang. Peru diingat bahwa suruhan dan larangan itu bukanlah paksaan dan intimidasi, melainkan nasehat yang baik serta yang bijaksana.

Dalam hadits juga ada pernyataan yang tegas tentang keharusan adanya pendidikan agama, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

Artinya : Rasulullah SAW, telah bersabda : Sampaikanlah apa-apa yang dari padakum walaupun satu ayat. (HR. Buchari) Bahresi, 1977:121)

Juga dalam hadits Imam Tirmidzi disebutkan :

Artinya : “Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berjuang di sabilillah hingga kembali. (Bahresi, 1977:126)

  1. Dasar Hukum

Dasar hukum pendidikan agama di Indonesia terdiri dari tiga landasan yang kokoh, yakni :

1)      Pancasila

Bagi bangsa Indonesia, pelaksanaan dalam kehidupan bermasyarakat dan  bernegara didasari jiwa Pancasila yang merupakan pandangan hidup, kesadaran cita-cita moral meliputi suasana kejiwaan.

Dari uraian di atas, dapat diambil pengertian bahwa jiwa Pancasila adalah merupakan kehidupan bermasyarakat dan bernegara bagi seluruh bangsa Indonesia. Jiwa pancasila tidak saja mendasari kehidupan bangsa, tetapi sekaligus merupakan pandangan hidup yang diyakini dan menjadi cita-cita hukum yang ingin dicapai dan menjadi dasar moral bagi bangsa Indonesia.

Adapun isi Pancasila menurut Undang-Undag Dasar 1945, adalah sebagai berikut :

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kelima dasar inilah yang harus kita amalkan secara keseluruhan dan tidak boleh dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, dan atas dasar inilah pendidikan itu dilaksanakan. Untuk merealisir tujuan pendidikan maka diperlukan adanya pendidikan agama kepada anak-anak, karena tanpa adanya agama akan sulit untuk mewujudkan sila pertama dari Pancasila tersebut.

2)      Undang-Undang Dasar 1945

Di dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945 masalah pendidikan dan pengajaran tercantum dalam Ban XIII pasal 31 ayat 1 dan 2 yang berbunyi :

  1. Tiap warga negara berhak mendapat pengajaran
  2. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. (UUD 45, 1978:10)
  1. Dasar Sosial Psychologis

Dasar sosial psikologis adalah dasar yang menyatakan bahwa semua manusia dalam hidupnya senantiasa membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut agama. Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya terdapat perasaan yang mengakui adanya dzat Yang Maha Agung sebagai tempat berlindung dan memohon pertolongan. Hal ini pasti terjadi pada masyarakat yang maju dan modern. Mereka menjadi tenang dan tentram hatinya manakala mereka bisa mendekatkan diri dan mengabdi kepada Allah SWT.

Uraian tersebut di atas sanga relevandengan firman Allah dalam surat Al Ra’du ayat 28 sebagai berikut :

Artinya : (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. (Depag. RI., 1978:354).

Oleh karena itu manusia selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah., hanya saja cara mereka dalam mengabdi dan beribadah kepada-Nya berbeda-beda sesuai dengan amal yang mereka lakukan.

  1. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan antara suatu negara dengan negara yang lain itu tentu berbeda. Hal ini disebabkan sumber-sumber yang ditetapkan sebagai dasar cita-cita pendidik itu juga berbeda. Di Indonesia pada umumnya kita umumnya mengenal rumusan formal tentang tujuan pendidikan atau pengajaran secara hierarkis. Di mana tujuan yang lebih umum dijabarkan menjadi tujuan yang lebih khsusus, sedangkan tujuan yang lebih khusus adalah merupakan tujuan yang lebih spesifik, yang semuanya diarahkan untuk dapat tercapainya tujuan umum tersebut. Adapun rumusan formal dari tujuan pendidikan secara hierarkis adalah :

Tujuan pendidikan Agama secara umum pendidikan formal di Indonesia adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Zuhairni, dkk. Sebagai berikut :

“Tujuan umum pendidikan agama ialah membimbing anak agar mereka menjadi orang muslim sejati, beriman teguh, beramal sholeh dan berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, agama dan negara.” (Zuhairini, 1989:45)

Kepribadian muslim sebagaimana dipaparkan di atas bila secara filosofis yang mendalam sifatnya masih abstrak dan sulit ditinjau. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditempuh, di mana setiap tujuan tersebut terarah pada pencapaian tujuan agama (Islam) secara umum.

4.      Materi Pendidikan Agama Islam

Yang disebut materi Pendidikan Agama Islam ialah bahan-bahan yang disajikan kepada murid guna mendidik anak. Bahan-bahan pokok pendidikan Agama yang diberikan dalam rangka mendidik anak pada dasarnya adalah sama dengan tingkat jenjang sekolah. Apabila terdapat perbedaan itu hanya ruang lingkup dan luas mendalamnya pembahasan. Pada setiap tigkat bahan pelajaran itu disusun pada rwencana pelajaran yang disebut kurikulum.

Adapun materi pokok dalam Pendidikan Agama Islam adalah :

  1. Masalah keimanan ( aqidah )
  2. Masalah keislaman ( syari’at )
  3. Masalah akhlak ( ikhsan ) (Zuhairini, 1989:59)

Dari tiga masalah tersebut diatas akhirnya timbul beberapa keilmuan dalam agama Islam, yaitu :

  1. Ilmu tauhid
  2. Ilmu fiqh, dan
  3. Ilmu akhlak

1)      Ilmu Tauhid (keimanan).

Ilmu tauhit adalah I’tiqad-I’tiqad batin yang mengajarkan keesaan Allah, Esa sebagai Tuhan yang menciptakan, mengatur dan meniadakan alam ini. (Zuhairini, 1989:32)

Setelah kita maklumi bahwa segala sesuatu yang ada dibumi ini adalah ciptaan Allah, dan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah dialam ini disebut makluk yang dapat dilihat dengan mata kepala, seperti; manusia, binatang, dan lain-lain. Allah juga menciptakan mahluk halus yang tidak dapat dilihat oleh manusia, mahluk itu adalah manusia, malaikat, jin dan syetan.

Dengan demikian iman itu adalah kepercayaan akan adanya Allah yang telah menjadikan alam ini yang membenarkan apa-apa yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Iman itu dianggap sempurna betul-betul, bila diyakini dengan hati, diikrarkan dengan lesan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Di dalam agama Islam ada kepercayaan yang dinamakan oleh pemeluknya dengan penuh keyakinan dan kesadaran yang dapat mendorong dirinya untuk berbuat baik dan menjauhi larangan Allah SWT.

Adapun hal-hal yang wajib diimani dalam agama Islam ada 6 perkara yaitu

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah
  4. Iman kepada rasul-rasul Allah
  5. Iman kepada hari kemudian, dan
  6. Iman kepada qadla’ dan qadar

Keenam (6) iman itu berdasarkan Hadist Nabi Muhammad SAW. Yang berbunyi :

Artinya  : Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, para rasul-Nya, hari qiamat dan kepada qadar ketentuan baik dan buruk.“ (Mu’in, t.th.:129)

2)      Ibadah (syari’ah)

Syari’at menurut Zuhairini adalah :

“Berhubungan dengan amal lahir dalam rangka mentaati semua peraturan dan hukum Tuhan, guna mengatur antara manusia dengan Tuhan dan mengatur pergaulan hidup dan kehidupan manusia.” (Zuhairini, 1989:35)

 

Adapun ibadah itu terdiri atas :

  1. Syahadat
  2. Shalat
  3. Zakat
  4. Puasa
  5. Haji

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

Artinya  :  Dan dari Ibnu Umar ra, bahwa sesungguhnya Rasullullah saw, bersabda : Didirikan agama Islam itu atas lima perkara, yaitu mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad pesuruh Allah, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, puasa pada bulan Ramadlan.” (Nawawi, t.th.:501)

3)      Akhlaq (budi pekerti).

Akhlaq yaitu suatu amalan yang bersifat pelengkap, penyempurna bagi kedua amal tersebut di atas dan yang mengajarkan tentang cara pergaulan hidup manusia.

Akhlaq atau budi pekerti itu memang penting bagi kehidupan manusia di dunia ini, karena akhlaq bisa digunakan sebagai berometer,alat pengukur tinggi atau rendahnya pribadi seseorang bahkan dapat pula untuk mengetahui sempurna atau tidaknya iman seseorang. Maka semakin sempurna akhlaq maka semakin sempurna iman. Makin merosotnya akhlaq semakin merosot pula iman seseorang. Dan Nabi Muhammad SAW. Adalah sebaik-baik akhlaq manusia, sehingga pantas dijadikan suri tauladan bagi ummatnya.

Sabda Nabi Muhammad SAW :

Artinya : “Aku diutus ialah untuk menyempurnakan akhlaq moral yang mulia”. (Depag. RI., 1982:59)

Dengan adanya Hadits tersebut Rasulullah SAW. diutus oleh Allah SWT. untuk menyempurnakan budi pekerti, mengatur hubungan manusia dengan Khaliq, manusia dengan alam, hubungan manusia dengan sekitarnya dan dengan dirinya sendiri.

Semua ini karena Islam sebagai agama samawi yang terakhir mempunyai moral Islam, karena manusia tanpa moral Islam akan merusak diri sendiri dan manusia lainnya serta alam sekitarnya. Betapapun tingi pengetahuan dan tehnologi mereka seperti yang sedang dialami manusia dewasa ini.

Allah juga memperingatkan manusia yang tidak mengacuhkan moral Islam dengan firman-Nya dalam surat Al-Imran, ayat 112 :

Artinya: “Kehinaan mereka dimana saja, kecuali (jika) memegang tali Allah (agama Allah) dan memegang tali sesamanya (memelihara pergaulan yang baik sesama manusia) dan mereka kembali mendapat kemarahan Allah ditimpahkan kepadanya kemiskinan. Demikian itu lantaran kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh Nabi-nabi tanpa alasan yang benar (nereka lakukan), demikian karena mereka durhaka dan melampaui batas”.(Depag. RI., 1982:89)

B.     Kajian tentang Problematika Pendidikan Agama

  1. 1.      Pengertian Problematika

Problematika adalah suatu istilah dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu : “Problem”, yang berarti “soal atau masalah” (demikian menurut Munisu HW, Dkk 1987:268).

Sedangkan menurut Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dalam buku yang berjudul “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, bahwa : “Problem adalah masalah, persoalan”. (1990:701).

Jadi problema yang dimaksud penulis dalam judul skripsi adalah permasalahan-permasalahan yang terdapat pada pelaksanaan pendidikan agama di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo tahun pelajaran 2002/2003.

  1. 2.      Problema Pelaksanaan Metode Pendidikan Agama

Adapun problema dalam pelaksanaan pendidikan agama, adalah sebagai berikut :

  1. Problem metode ceramah

Pada umumnya dalam menggunakan metode ceramah memenuhi beberapa kesulitan, di antaranya bagaimana seorang guru membangkitkan siswa agar tidak pasif dan bagaimana pula agar pelajaran tidak bersifat pemompaan. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesulitan tersebut, maka perlu menggunakan metode variasi seperti metode tanya jawab, diskusi dan lain sebagaiya.

  1. Problem metode tanya jawab

Dalam melaksanakan metode tanya jawab dapat menimbulkan penyimpangan dari pokok pelajaran, karena dari proses tanya jawab sangat besar kemungkinan siswa-siswi menimbulkan masalah baru dan penyimpangan dari pokok pelajaran yang sedang dibahas atau dipelajari. Oleh karena itu, untuk mengatasi metode tersebut, maka dalam penggunaannya perlu dipersiapkan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.

  1. Problem metode diskusi

Dalam melaksanakan metode diskusi kadangkala timbul penyimpangan dari tujuan, karena masalah yang dipecahkan bersifat kompleks.

Dalam hal guru sebagai pembimbing, pengatur tata tertib sekaligus mengatasi permasalahan agar diskusi itu berjalan pada garis yang sebenarnya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu tujuan pelajaran.

  1. Problem metode demonstrasi

Problem dalam penggunaan metode demonstrasi yaitu banyaknya memakan waktu dan perhatian yang harus dibutuhkan. Oleh karena itu, untuk mengatasi metode tersebut, maka seorang pendidik harus mengambil langkah utuk memberikan landasan teori terhadap materi yang akan didemonstrasikan. Atau dapat menggunakan metode ini hanya pada masalah yang praktis saja seperti masalah ibadah dan akhlak.

  1. Problem metode sosiodrama

Problem dalam pelaksanaan metode sosiodrama adalah terlalu banyaknya memakan waktu, dan  siswa sering tidak mau untuk maju memegang peranan.

Problem dalam pelaksanaan metode sosiodrama adalah terlalu banyaknya memakan waktu, yaitu siswa sering tidak mau memerankan adegan karena malu bila pelaksanaan metode ini gagal, maka tidak akan memperoleh kesimpulan. Oleh karena itu, guru dalam melaksanakan metode ini terlebih dahulu harus menceritakan yang sejelas-jelasnya terhadap masalah yang akan didemonstrasikan.

  1. Problem metode pemberian tugas

Yang menjadi problema dalam pelaksanaan metode pemberian tugas adalah seringkali siswa melakukan penipuan tugas di mana siswa hanya meniru atau menyalin pekerjaan orang lain bahkan adakalanya tugas itu dikerjakan oleh orang lain.

Dalam upaya mengatasi problem di atas, maka ada dua hal yang harus ditempuh oleh seorang guru agama :

  1. Memberikan penjelasan kepada siswa tentang tugas yang harus dikerjakan, sehingga siswa mengerti betul terhadap tugas yang dikerjakan.
  2. Mengadakan pengawasan secara intensif, sehingga mendorong siswa untuk berlajar aktif.
  1. 3.      Problema Pelaksanaan Pendidikan Agama

Problema pelaksanaan pendidikan agama dapat penulis bagi pada beberapa problem, antara lain sebagai berikut :

  1. Problem yang berhubungan dengan pendidik

Dalam hal ini, apabila pendidik kurang memperhatikan keberadaan dirinya dalam setiap melaksanakan tugasnya seperti membuat satpel atau persiapan mengajar, absen siswa, jurnal mengajar, buku nilai dan lain sebagainya yang harus dipersiapkan, maka akan menimbulkan hal-hal yang bersifat negatif pada diri anak didik, misalnya timbul sifat antipati kepada guru, kurang percaya, sering terlambat, tidak disiplin dalam mengikuti pelajaran dan lain sebagaiya.

Jika sudah demikian keberadaannya, maka pelaksanaan peroses belajar mengajar akan terbengkalai, yang sudah barang tentu cita-cita pendidikan tidak akan tercapai. Problem semacam ini yang kadangkala menimbulkan kenakalan anak pada usia sekolah.

Selain tersebut di atas, problem atau kesulitan yang dihadapi guru, antara lain sebagaimana yang diungkapkan oleh Zuhairini, berikut ini :

1)          Kesulitan dalam menghadapi adanya perbedaan individual murid, yang disebabkan oleh karena perbedaan I.Q.nya, watak, back ground kehidupannya.

2)          Kesulitan dalam menentukan materi yang cocok dengan anak yang dihadapinya.

3)          Kesulitan dalam memilih metode yang tepat

4)          Kesulitan dalam mengadakan evaluasi dan dalam karena kadang-kadang kelebihan waktu atau kekurangan waktu. (1987:39)

Kelima kesulitan atau problema tersebut di atas, dapat diatasi dengan baik apabila seorang guru sudah profesional dan lama mengajar (berpengalaman).

  1. Problema yang berhubungan dengan anak didik

Dalam ajaran Islam anak mempunyai kewajiban untuk taat dan patuh serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Dan orang tua berkewajiban mendidik putra-putrinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Allah SWT., berbudi pekerti yang luhur dan perbuatan baik lainnya. Dengan sebab kewajiban orang tua dalam mendidik putra-putrinya tidak punya cukup waktu yang memadai, maka orang tua menempuh jalan yang mudah dengan cara menitipkan putra-putrinya di lembaga-lembaga pendidikan, seperti pondok pesantren, sekolah umum maupun agama.

Dalam memilih sekolah kadangkala terjadi perbedaan antara anak dengan orang tuanya. Si anak bermaksud sekolah di lembaga pendidikan yang sesuai dengan keinginannya, sedangkan orang tua menginginkan si anak sekolah pada lembaga pendidikan yang sesuai dengan keinginannya pula. Anak yang ingin menyenangkan hati orang tuanya dan takut tergolong ke dalam anak yang durhaka, maka tidak ada jalan lain kecuali menuruti kehendak orang tua walaupun sebenarnya tempat pendidikan yang menjadi pilihan orang tuanya tidak sesuai dengan kehendaknya.

Sebaliknya anak yang keras kemauannya dan mempertahankan kehendaknya tetapi memilih sekolah yang sesuai dengan keinginan sendiri walaupun harus bertolak belakang dengan keinginan orang tua, maka hal yang demikian ini akan berbuntut negatif terhadap kelangsungan pendidikan anak, misal orang tua kurang memberikan semangat atau motivasi serta bimbingan terhadap sang anak. Kejadian semacam ini merupakan problem pendidikan yang dapat menentukan jati dirnya. Oleh karena itu, seorang anak mempunyai sifat, watak dan kehendak serta tujuan yang berbeda dengan pandangan orang dewasa. Dalam menghadapi hal ini, peranan orang tua sangat dibutuhkan dalam bertindak sebagai pembimbing, pengaruh, pendorong bagi anak dalam meraih cita-cita yang diharapkan.

Selanjutnya, juga penting diperhatikan oleh anak usia sekolah ialah belajar dan mau mengulangi lagi pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah setelah berada di rumah secara rutin dan merupakan suatu kebiasaan yang baik, sert besar sekali manfaatnya dalam meraih kesuksesan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini bahwa dengan pesatnya ilmu pengeahuan dan teknologi kita dituntut untuk membentuk sumber daya manusia seutuhnya dengan mengutamakan kualitas pendidikan harus ditingkatkan. Oleh karenanya, kalau anak didik hanya menggantungkan diri dari hasil pelajaran yang diberikan guru di sekolah, sudah barnag tentu hasilnya kurang memuaskan. Apalagi jika sepulang sekolah anak tidak lagi mau belajar, maka hal ini tidak akan mendukung terhadap keberhasilan pendidikan yang ditempuhnya. Sebab kebiasaan malas merupakan problem yang perlu diatasi oleh orang tua terhadap kegiatan belajar anak didik di rumah serta kegiatan-kegiatan lain yang dapat mendukung keberhasilan dalam meraih prestasi belajarnya.

Di samping itu, yang tidak kalah petingnya adalah teman sepergaulan dapat mempengaruhi anak, di mana temah sepergaulan itu tidak mempunyai latas belakang pendidikan yang baik, maka besar kemungkinan dapat memberi pengaruh yang negatif terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak didik.

Dari uraian di atas, bahwa pembentukan pribadi anak didik tergantung kepada kedua orang tua dan guru di sekolah.

  1. Problema yang berhubungan dengan alat pendidikan.

Dalam hal ini, Zuhairini, Dkk., mengemukakan bahwa : “Alat pendidikan ialah segala sesuatu yang dipergunakan dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan”. (1987 ; 42).

Berdasarkan pengertian diatas, bahwa alat pendidikan sangat luas sekali, termasuk di dalamnya adalah kurikulum, metode mengajar, administrasi pendidikan dan lain sebagainya yang dapat membantu terhadap kelangsungan kegiatan proses belajar.

Terbatasnya alat pendidikan / fasilitas pedidikan merupakan probem yang harus diatasi oleh pihak yang berwenang, yaitu pemerintah. Sebab alat pendidikan yang disediakan oleh pemerintah tergantung pada keadaan dan kemajuan dari pada negara tersebut. Semakin maju satu negara maka semakin lengkap alat atau fasilitas pendidikan yang dimilikinya, dan pendidikan dapat berjalan dengan baik.

Alat atau fasilitas pendidikan yang menyangkut sarana dan prasarana di negara kita tercinta kenyataan menunjukkan bahwa masalah pengadaan gedung sekolah baik negeri maupun swasta telah memenuhi syarat dan telah medadai daya tampungnya. Disamping itu, pengadaan buku paket, alat-alat pendidikan, dan lain sebagainya dapat kita rasakan bersama pada masa sekarang ini.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas, Rasulullah SAW. bersabda :

Artinya :

“Semua anak dilahirkan atas kesucian atau kebersihan, maka kedua orang tuanyalah  yang menyebabkan anak menjadi yahudi, nasrani atau majusi”. (HR. Muslim), (tt;458).

Dengan demikian, khususnya orang tua mempunyai tanggung jawab yang penuh untuk mendidik putra putrinya agar menjadi anak yang sholeh, anak yang selamat di dunia dan di akherat.

  1. Probema yang berhubungan dengan faktor lingkungan.

Ada tiga hal probel pelaksanaan pendidikan agama yang berhubungan dengan faktor lingkungan, di antaranya sebagai berikut :

1)      Lingkungan keluarga.

Sebagian besar waktu anak adalah berada dalam lingkungan keluarga. Oleh karena itu keluarga berpengaruh besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan jiwa anak itu.

Ada   beberapa   hal   yang   berpengaruh   dari   lingkungan   keluarga, antara lain :

a)      Kesediaan orang tua menerima anak sebagai anggota keluarga.

b)      Pertengkaran dan selisih paham antara kedua orang tua.

c)      Sikap demokratis atau otoriter anggota keluarga.

d)     Keharmonisan antara kedua orang tua.

e)      Keadaan ekonomi keluarga.

f)       Hubungan keluarga dengan masyarakat sekitarnya. (Dep.Dik.Bud, 1980:2).

Anak yang lebih banyak mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, maka sudah barang tentu akan lebih merasa senang dan aman serta tentram dalam kehidupannya. Sebaliknnya apabila dibandingkan dengan anak yang hidup dalam keluarga yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang, maka akan mengakibatkan anak tersebut tidak betah di rumah.

Suasana negatif dalam lingkungan keluarga akan membawa dampak yang negatif pula, sehingga anak tidak tenang, aman dan temtram ketika berada dirumah. Akibatnya anak sering keluyuran, kestabilan belajar tidak lagi terkontrol dengan baik.

Dengan demikian, pertengkaran, selisih paham, sikap demokratis dan otoriter, keharmonisan, keadaan ekonomi keluarga akan membawa terhadap kelangsungan pendidikan anak.

2)      Lingkungan sekolah.

Pengaruh lingkungan sekolah dalam pembentukan pribadi anak, anatara lain dilatar belakangi oleh :

  1. Kurikulum.
  2. Hubungan guru dengan siswa
  3. Tata tertib dan,
  4. BP.3 (Dep.Dik.Bud, 1980:3).

Hubungan guru dengan siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar, tata tertib, dan peranan BP3, merupakan kegiatan yang mempengaruhi pola sikap siswa. misalnya sekolah yang berorientasi kejuruan, namun demikian faktor guru merupakan suatu hal yang perlu mandapat perhatian. Ini disebabkan karena guru adalah sebagai pengganti orang tua disekolah, sehingga guru menjadi tokoh identifikasi yang mewarnai pribadi anak didik.

Dalam pelaksanaan kurikulum, tugs guru sebagai tenaga edukatif hendaknya dilaksanakan denga sebaik-baiknya, disiplin, tepat waktu, membuat persiapan mengajar dan lain sebagainya. Siswa yang tidak mengindahkan disiplin dalam melaksanakan tugas,m sering terlambat, tidak memenuhi kriteria yang semestinya melaksanakan tugas akan menghambat keberhasilan pendidikan dan pengajaran disekolah. Demikina pula hubungan yang kurang baik akan merupakan probema pendidikan yang akan menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan.

Di samping itu situasi dan kondisi sekolah memberikan arti baik kepada anak didik. Situasi dan kondisi sekolah yang tenang dan jauh dari keramaian akan lebih baik dari pada sekolah yang dekat dengan keramaian, hiruk pikuk dan lain sebagainya.

3)      Lingkungan masyarakat.

Selain lingkungan keluarga, sekolah, anak sebenarnya tidak bisa lepas dari lingkungan masyarakat pada umumnya. Dalam masyarakat anak bergaul dekat dengan teman sebaya, tetangga serta ikut aktif dalam kegiatan keagamaan, olah raga dan lain sebagainya.

Kegiatan-kegiatan tersebut apabila dilaksanakan dengan pengaturan waktu yang baik sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar anak didik dirumah, maka jelas akan manfaatnya bagi anak didik. Sebaliknya jika lingkungan masyarakat terdiri dari hal-hal yang kurang menguntungkan, maka besar kemungkinan akan memberikan dampak pengaruh negatif kepada anak didik yang dapat menghambat keberhasilan pendidikannya.

  1. 4.      Faktor Penunjang dan Penghambat Pelaksanaan Pendidikan Agama
  2. Faktor Penunjang

Ada beberapa hal yang dapat menunjang pelaksanaan pendidikan agama di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo adalah sebagai berikut :

1)      Dukungan Kepala Madrasah yang selalu memberikan bimbingan, pengarahan serta motifasi kepada guru agama dalam mengembangkan pendidikan agama.

2)      Partisipasi aktif para guru dalam pendidikan agama, terutama pada peringatan hari-hari besar Islam.

3)      Adanya beberapa tempat kegiatan keagamaan, baik di Madrasah itu sendiri maupun disekitarnya yang memberikan pelajaran agama (nilai-nilai Islam).

  1. Faktor Penghambat

Hidup manusia di dunia ini selalu kepada berbagai masalah atau kesulitan. Begitu juga seorang pendidik yang sedang dalam tugas mengajarnya atau pengajar yang masih dalam proses pendidikannya baik yang berhubungan dengan kegiatan sekolah maupun menyesuaikan hidup dengan kehidupan dalam kelurga, dengan tugasnya masing-masing serta tanggung jawab masing-masing.

Untuk mengatasi kesulitan atau hambatan yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pendidikan agama, maka Zuhairini, mengemukakan sebagai berilkut :

1)      Guru agama harus Zuhud, yakni Ikhlas dan bukan semata-mata bersifat materialistis.

2)      Bersih jasmani dan rohani, dalam berpakaian bersih dan rapi, dan ahlaknya juga baik.

3)      Bersifat pemaaf, sabar dan pandai menahan diri.

4)      Seorang guru harus terlebih dahulu merupakan seorang bapak sebelum ia menjadi seorang guru (cinta kepada murid-muridnya seperti anaknya sendiri).

5)      Mengetahui tabiat dan tingkah berfikir anak.

6)      Menguasai bahan pelajaran yang diberikan. (1987;34 – 35).

Pendeknya, guru itu harus dapat memikat anak didik dengan sifat-sifat pendidik yang baik dalam memberikan contoh/tauladan yang baik kepada anak didiknya, sehingga dapat tertarik perhatiannya kepada guru dan apa-apa yang disampaikannya akan dilaksanakan dan diterima dengan senang hati.

Dengan demikian, maka dengan beberapa syarat tersebut di atas, maka hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan dapat diatasi dengan mudah.

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.    Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menyusun rancangan penelitian sesistematis dan seefisien mungkin, agar dalam penulisannya nanti tidak memakan waktu yang lama dan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan.

Untuk memperoleh data tentang Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo, peneliti menggunakan metode wawancara dan observasi dengan mendatangi dan menanyakan langsung kepada sumber data yang bersangkutan, dalam hal ini guru Agama Islam dan siswa kelas I, II, dan III.

Selanjutnya hasil dari data yang telah diperoleh ditabulasikan dengan menggunakan rumus prosentase. Hal ini dilakukan untuk dapat mengklasifikasikan dan mendapatkan jawaban dari tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Secara lebih jelasnya rancangan penelitian yang penulis laksanakan adalah sebagaimana di bawah ini.

1)      Persiapan

Dalam suatu kegiatan, persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat penting. Begitu juga dalam kegiatan penelitian, persiapan merupakan unsur yang perlu diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan memperlancar jalannya penelitian.

Sehubungan dengan judul dan rumusan masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka persiapan dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a)      Menyusun rencana

Dalam menyusun rencana ini penulis menetapkan beberapa hal seperti berikut ini.

1)      Judul penelitian

2)      Alasan penelitian

3)      Problema penelitian

4)      Tujuan penelitian

5)      Obyek penelitian

6)      Metode yang dipergunakan

b)      Ijin melaksanakan penelitian

Dengan surat pengantar dari Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo, penulis dimohonkan ijin ke Kepala SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo. Dengan demikian penulis telah mendapatkan ijin untuk mengadakan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut.

c)      Mempersiapkan alat pengumpul data yang berhubungan dengan pelaksanaan pendidikan agama Islam di SLTP, yakni menyusun instrumen dan wawancara serta dokumentasi.

2)      Pelaksanaan

Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain :

a)      Observasi

b)      Wawancara / interview

c)      Angket

3)      Penyelesaian

Setelah kegiatan penelitian selesai, penulis mulai menyusun langkah-langkah berikutnya, yaitu :

  1. Menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh, yang kemudian dikonsultasikan kepada Dosen Pembimbing dengan harapan apabila ada hal-hal yang perlu direvisi, akan segera dilakukan sehingga memperoleh suatu hasil yang optimal.
  2. Laporan yang sudah selesai kemudian akan dipertaruhkan di depan Dewan Penguji, kemudian hasil penelitian ini digandakan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.
  1. B.     Populasi, Sampel dan Responden

Langkah awal dari suatu kegiatan penelitian ialah menentukan populasi dan sampel penelitian. Hal ini dipergunakan untuk menetapkan besar kecilnya populasi, sehingga nantinya dapat diambil sampel yang representatif guna memperoleh generalisasi yang akurat dan realistis.

Berdasarkan pada rumusan masalah yang telah ditetapkan di atas, maka dapat dijadikan populasi penelitian adalah seluruh siswa SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo beserta seluruh guru pendidikan agama Islam.

Suharsimi Arikunto mendefinisikan populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. (Arikunto, 1993:103) Nazir menyatakan populasi adalah kumpulan individu dengan kualitas dan ciri-ciri yang telah ditetapkan, dinamakan variabel.

Adapun jenis sampel yang digunakan dalam penelitian ini, menggunakan proporsional sampel, menurut Sutrisno Hadi, berpendapat bahwa:

Proporsional sampel, jika populasi terdiri dari beberapa sub populasi yang tidak homogen dan tiap-tiap sub populasi akan diwakili dalam penyelidikan, maka pada prinsipnya ada dua jalan yang ditempuh :

  1. Mengambil sampel dari tiap-tiap sub populasi tidak memperhitungkan besar kecilnya sub populasi, atau
  2. Mengambil sampel dari tiap-tiap sub populasi dengan memperhitungkan besar kecilnya sub-sub populasi itu.” (Arikunto, 1993:91)

Untuk mengumpulkan data peneliti harus menentukan responden yang akan diteliti. Responden merupakan penjawab dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Data-data tersebut bisa menjadi data primer ataupun data skunder menurut kualitas data yang diberikan oleh responde tersebut.

Dari berbagai pendapat di atas, maka dalam penentuan responden peneliti menggunakan teknik proporsional random sampling yaitu dengan cara mengambil populasi yang ada SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo, dari populasi tersebut diambil menjadi sub populasi. Sehingga dari sub-sub populasi yang ada tersebut dijadikan responden dalam penelitian ini.

  1. C.    Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan yang diharapkan, sehingga data yang diperoleh itu benar-benar valid, maka dalam setiap penelitian terlebih dahulu harus menentukan metode apa yang akan dipakai untuk mendapatkan serta mengumpulkannya. Sebab metode merupakan kunci keberhasilan dalam suatu penelitian.

Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Metode Observasi

Metode observasi diartikan sebagai metode penyelidikan dan pencatatan untuk memperoleh data melalui pengamatan langsung terhadap obyek penelitian. Metode observasi merupakan salah satu cara untuk mengumpulkan data dengan jalan mengamati dan mencatat secara teratur, sistematis terhadap objek diselidiki baik secara langsung maupun secara tidak langsung sesuai dengan jangka waktu tertentu.

Dalam hal ini terdapat jenis-jenis observasi sebagai berikut:

  1. Observasi partisipan – observasi nonpartisipan
  2. Observasi sistematik – observasi nonsistematik
  3. Observasi eksperimental – observasi noneksperimental. (Arikunto, 1993:141).

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dalam penelitian ini menggunakan observasi nonpartisipan artinya : peneliti tidak ikut terjun langsung pada kejadian yang diselidiki tetapi sebagai pengamat saja.

Adapun metode ini digunakan untuk meraih data tentang :

  1. Lokasi dan obyek daerah penelitian
  2. Keadaan siswa dan guru di SLTP Zainul Hasan 2 Condong Gading Probolinggo
  3. Keadaan sarana dan prasarana sekolah
  4. Aktifitas belajar mengajar
  1. Metode Interview

Interview dapat dipandang sebagai metode pengumpul data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan pada tujuan penyelidikan atau penelitian. Pada umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses tanya jawab itu dan masing-masing pihak dapat menggunakan saluran-saluran komunikasi secara wajar dan lancar.

  1. Metode Angket

Metode angket dapat dilakukan dengan adanya sejumlah pertanyaan yang tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. (Arikunto, 1993:188).

Dalam hal ini sumber data yang diberi angket adalah 20 siswa untuk memperoleh data tentang Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo. Angket yang digunakan adalah angket langsung tertutup yaitu angket yang langung diberikan kepada responden serta jawaban yang diberikan yang sudah disediakan oleh peneliti, sehingga responden tinggal memilih.

  1. D.    Analisis Data

Dalam penelitian ini digunakan metode statistik sebagai analisa data. Adapun langkah-langkah di dalam menganalisa data hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengumpulkan data yang telah ada
  2. Mengklasifikasikan data
  3. Memasukkan data di atas, kemudian diklasifikasikan ke dalam tabel kerja yang selanjutnya dianalisa dengan teknik sebagaimana yang telah dipersiapkan.
  4. Dari tabel persiapan itu, kemudian dimasukkan ke dalam tabel kerja yang selanjutnya dengan teknik sebagaimana yang telah dipersiapkan.

Mengingat banyaknya metode statistik untuk menganalisa data, maka dalam hal ini peneliti menggunakan prosentase yang bertujuan untuk menemukan data tentang tingkat pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo. Adapun lebih jelasnya adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

         F

P = —– x 100%

         N

Keterangan :

P          = Prosentase yang dicari

F          = Distribusi F tiap-tiap alternatif yang diberikan oleh responden

N         = Jumlah secara total dan responden yang menjadi sampel penelitian.

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTOR SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) KELAS VIII SMP

auto_play = (true or false)
show_comments = (true or false)
color = (color hex code) will paint the play button, waveform and selections in this color
theme_color = (color hex code) will set the background color

Here are some examples:

This is how the player looks when only the basic url parameter is given.


Embeds a track player which starts playing automatically and won’t show any comments.


Embeds a set player with a green theme.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    LATAR BELAKANG

Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan keperibadian dan kemampuan di dalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu agar pendidikan dapat dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan kemampuan setiap individu. Pendidikan adalah tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Dalam undang-undang Republik Indonesia No. 20 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 1 ayat 1 dijelaskan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, (Depdiknas, Tahun 2003:2).

Pembelajaran merupakan perpaduan yang harmonis antara antara kegiatan pengajaran yang dilakukan guru dan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut, terjadi interaksi antara siswa dengan siswa, interaksi antara guru dan siswa, maupun interaksi antara siswa dengan sumber belajar. Diharapkan dengan adanya interaksi tersebut, siswa dapat membangun pengetahuan secara aktif, pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, serta dapat memotivasi peserta didik sehingga mencapai kompetensi yang diharapkan. Pelaksanaan pembelajaran TeknologiInformasi dan Komunikasi (TIK) merespons jauh lebih cepat berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran TIK dengan keadaan dan kebutuhan sekarang dan masa yang akan datang.

Sungguh tidak dapat dipungkiri bahwa realita di lapangan menunjukkan bahwa betapa teknologi informasi sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia terutama kebutuhan akan informasi, oleh karena itu kompetensi TIK diharapkan mampu menyeimbangkan pertumbuhan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penguasaan kecakapan hidup, penguasaan tehnologi, informasi sehingga tumbuh generasi yang kuat dan berakhlak mulia.

Melihat dari uraian tersebut maka mata pelajaran TIK seharusnya merupakan suatu pelajaran yang ditunggu-tunggu, disenangi, menantang dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan belajar mengajar mengandung arti interaksi dari berbagai komponen, seperti guru, murid, bahan ajar, media dan sarana lain yang digunakan pada saat kegiatan berlangsung.

Dalam upaya menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, maka guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip mengajar diantaranya menggunakan strategi mengajar yang bervariasi. Bahwa dalam prinsip mengajar yaitu sebagai guru, diharapkan mampu memperhatikan perbedaan individual siswa, menggunakan variasi metode dan strtaegi mengajar;; melibatkan siswa secara aktif; menumbuhkan minat belajar siswa, dan menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif.

Strategi pembelajaran kooperatif merupakan salah satu strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi  pembelajaran kooperatif dapat lebih menfokuskan kegiatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar secara kelompok. Konsentrasi diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar karena kegiatan belajar mengajar memerlukan perhatian khusus. Dengan adanya konsentrasi belajar dapat meningkatkan intelektual, emosional dan mental siswa. Siswa merasakan bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan, sehingga siswa benar-benar berkonsentrasi atau memusatkan perhatiannya pada materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Jika siswa berkonsentrasi dalam belajar, maka tujuan belajar mengajar atau prestasi belajar akan mudah tercapai.

Proses pembelajaran dapat dirancang tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil pembelajaran, melainkan mencakup interaksi dengan semua sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil yang bermakna.

Dalam kegiatan pembelajaran guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka pemikiran demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap peserta didik secara individual. Peserta didik sebagai individu memliki perbedaan sebagaimana disebutkan di atas. Pemahaman ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan guru dengan peserta didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan mengajar.

Berdasarkan data dari SMP Negeri 1 Kuripan Kabupaten Lombok Barat diperoleh gambaran bahwa penerapan strategi pembelajaran TIK sebagian besar menggunakan strategi pembelajaran praktikum dan tutorial sebaya di lab komputer, tanpa adanya aktivitas yang bervariasi dan melibatkan sisi psikologis yang cukup berarti bagi siswa, melainkan hanya berkonsentrasi pada tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Begitu juga akibat padatnya materi dan penyampaian pembelajaran dengan hanya menggunakan strategi pembelajaran praktikum di depan komputer, membuat siswa menjadi bosan dan jenuh menerima pembelajaran TIK tersebut. Padahal, dalam membahas pelajaran TIK tidak cukup hanya menekankan pada praktikum di depan komputer, tetapi yang lebih penting adalah keterampilan proses dan pengembangan ilmu diri siswa itu sendiri. Sehingga perolehan prestasi belajar pada mata pelajaran TIK di sekolah rata-rata masih berkisar pada angka KKM. Oleh sebab itu, proses pembelajaran TIK yang tepat sasaran sangat diperlukan untuk mempermudah proses tercapainya tujuan apa yang diharapkan dari pembelajaran TIK.

Dari uraian di atas bahwa mata pelajaran TIK mempunyai nilai yang strategis dan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, handal, dan bermoral semenjak dini. Hal yang menjadi hambatan selama ini dalam pembelajaran TIK adalah kurang dikemasnya pembelajaran TIK dengan strategi pembelajaran yang menarik, menantang, dan menyenangkan.

Supaya pembelajaran TIK menjadi pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM), dapat dilakukan melalui berbagai macam cara. Salah satu caranya yaitu melalui penerapan model strategi pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Namun seberapa jauh pengaruh model strategi pembelajaran tersebut dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013”.

 

B.     RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat kemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah Terdapat Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013?”.

 

 

 

  1. TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013.

 

D.    KEGUNAAN PENELITIAN

Dalam buku Metodologi Penelitian dijelaskan bahwa “Kegunaan berarti manfaat atau kebermaknaan” (Arikunto, 1994:21), sedangkan ahli lain mengatakan bahwa “kegunaan adalah manfaat atau pentingnya dari suatu penelitian sehingga memiliki dampak positif baik ditinjau dari segi teoritis maupun praktis” (Surachman, 1994:53).

Berdasarkan kedua pendapat diatas, maka penelitian ini mempunyai kegunaan yang dapat dimanfaatkan baik secara teoritis maupun secara praktis yaitu sebagai berikut :

  1. Kegunaan teoritis
  1. Informasi yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi ilmuan dalam rangka mengembangkan konsep-konsep pendidikan pada umumnya dan khususnya konsep tentang strategi-strategi pembelajaran.
  2. Infomasi yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan rangsangan kepada peneliti lain untuk memperluas ruang lingkup penelitiannya pada pokok permasalahan yang belum dibahas dalam penelitian ini.
  3. Informasi yang dipereh dari penelitian ini, diharapkan dapat berguna sebagai masukan bagi guru pada umumnya dan guru TIK pada khususnya dalam menyusun dan merencanakan program  pembelajaran dan penggunaan strtaegi pembelajaran secara tepat sesuai karakter pembelajaran.
  4. Informasi yang diperoleh melalui penelitian ini, diharapkan dapat dimanfaatkan oleh guru dalam rangka pemilihan metode dan strategi pembelajaran yang tepat untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas.
  5. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada guru dan siswa dalam mengenali kemampuan yang dimilikinya.
  1. Kegunaan Praktis

 

E.     ASUMSI PENELITIAN

Suatu penelitian tidak mungkin memberikan jawaban secara tuntas mengenai suatu masalah apalagi dalam bidang pendidikan jika ada keterkaitan dengan variabel lain. Setiap saat kita berhadapan dengan sesama manusia yang kondisinya dapat mengalami perubahan. Oleh karena itu agar penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang lebih sempurna maka dipandang perlu mengasumsikan beberapa hal, artinya kebenaran hanya dapat diperoleh setelah menerima hal-hal yang dianggap benar terlebih dahulu. Hal  ini sesuai dengan pendapat  yang menyatakan bahwa; “Asumsi adalah anggapan dasar tentang suatu fakta yang kebenarannya tidak diperlukan pembukatian lagi”, (Yousda, 1998:118). Sedangkan ahli lain menyatakan bahwa; “Asumsi adalah dasar pemikiran yang tidak perlu diuji kebenarannya”, (Arikunto, 1994:55).

Berdasarkan kedua pendapat diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan asumsi adalah: Anggapan dasar yang menjadi landasan berpikir dalam memecahkan masalah penelitian.

1.1  Asumsi Teoritis

  1. Strategi Pembelajaran kooperatif menempatkan peserta didik sebagai obyek belajar, artinya peserta didik beperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menggali pengalamannya sendiri, sedangkan dalam pembelajaran konvensional peserta didik ditempatkan sebagai objek belajar yang  berperan sebagai pemberi informasi pasif.
  2. Dalam Strategi Pembelajaran kooperatif pembelajarannya dikaitkan dengan kehidupan nyata   melalui penggalian  pengalaman setiap siswa, sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran bersifat  teoritis dan abstrak.
  3. DalamStrategiPembelajaran kooperatif dibangun atas kesadaran sendiri, sedangkan dalam pembelajaran konvensional perilaku dibangun atas proses kebiasaan
  4. DalamStrategiPembelajaranPeningkatan kooperatif, kemampuan didasarkan atas penggalian pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan
  5. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui Strategi Pembelajaran kooperatif adalah kemampuan berpikir  melalui proses  menghubungkan antara pengalaman dengan kenyataan, sedangkan dalam pembelajaran konvensional tujuan akhir adalah  penguasaan materi pembelajaran
  6. Dalam Strategi Pembelajaran kooperatif tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia  menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat, sedangkan dalam pembelajaran konvensional tindakan atau perilaku individu dalam pembelajaran konvensional tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman.
  7. DalamStrategiPembelajaran kooperatif, pengetahuan yang dimiliki  setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap peserta didik  bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya dalam pembelajaran konvensional, hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan dikontruksikan oleh orang lain.
  8. Tujuan yang ingin dicapai oleh StrategiPembelajaranKooperatif adalah kemampuan siswa dalam proses berpikir untuk  memperoleh pengetahuan, maka kriteria  keberhasilan ditentukan oleh proses dan hasil belajar, sedangkan pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran hanya diukur dari tes.

1.2  Asumsi Metodik

  1. Metode yang digunakan dalam penentuan sampel adalah metode random sampling.
  2. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan strategi pembelajaran kooperatif dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran TIK adalah metode tes, wawancara, dan metode dokumentasi sebagai metode pelengkap.
  3. Teknik analisis data yang digunakan untuk membuktikan kebenaran hipotesis adalah analisis statistik dengan menggunakan rumus product moment

F.     Keterbatasan Penelitian

Mengingat keterbatasan waktu, biaya dan tenaga, maka penelitian ini dibatasi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013.

 

 

G.    RUANG LINGKUP PENELITIAN

Untuk memperjelas arah penelitian ini, maka perlu dibatasi ruang lingkupnya. Adapun rung lingkup penelitian ini sebagai berikut :

  1. Strategi pembelajaran yang akan dilihat pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa adalah Strategi Pembelajaran kooperatif tipe student team achievement devision (STAD)
  2. Kemampuan siswa yang akan dilihat peningkatannya adalah prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013.

H.    DEFINISI ISTILAH

Untuk menghindari terjadinya kekeliruan dalam menafsirkan istilah yang ada dalam penelitian ini maka perlu dijelaskan beberapa istilah yang dianggap penting yaitu:

  1. Pengaruh merupakan kata kerja yang mengandung makna akibat (result) yang ditimbulkan dari suatu perlakuan (treatment) tertentu terhadap suatu objek.
  2. Strategi Pembelajaran
    1. Strategi  pembelajaran  kooperatif

Strategi pembelajaran adalah komponen-komponen umum dari suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang akan dipergunakan bersama-sama materi tersebut (Saeful Bahri Djamarah, 1995:106). Sedangkan  Gerlach dan Ely mengemukakan bahwa strategi  pembelajaran sebagai pendekatan pengajar terhadap penggunaan informasi (Erman S. Gerlach dalam Sanjaya, 2006:14). Dikemukakan juga oleh Kempt bahwa strategi pembelajaran adalah kegiatan belajar mengajar, yang berarti apa yang harus dikerjakan pengajar dan mahasiswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Kempt dalam Arifin, 2009: 10).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan dan cara pengorganisasian materi pelajaran, siswa, peralatan, bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan

Strategi pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.

  1. Prestasi belajar

Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar yang diperoleh siswa dalam jangka waktu tertentu. Untuk mengungkap prestasi belajar yang diperoleh siswa, guru harus melakukan penilaian

Kemampuan kognitif merupakan salah satu  bagian dari hasil belajar. MenurutSulaeman (1984:36) bahwa hasil belajar siswa yang dicapai dalam suatu periode tertentu setelah dinilai oleh guru yang ditunjukan dalam bentuk angka-angka (nilai-nilai).

Menurut Bloom, dkk dalam Arifin (2009:21) “Hasil belajar dapat dikelompokan dalam tiga domiain, yaitu kognitif,afektif dan psikomotor”. Setiap domain disusun mulai dari yang sederhana sampai dengan hal yang komplek, dari yang mudah samapai yang sulit dan dari yang kongkrit sampai dengan hal yang abstrak.

Dalam penelitian ini hasil belajar dibatasi pada domain kognitif saja. Bloom dalam Arifin (2009:21) menjelaskan domain kognitif (cognitive domain) memiliki enam jenjang kemampuan, yaitu: pengetahuan (knowledge),pemahaman (comprehension), penerapan (Application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan Evaluasi (evaluation)

  1. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah yang mana pada hakikatnya kurikulum TIK menyiapkan siswa agar terlibat pada perubahan yang pesat dalam dunia kerja maupun kegiatan lainnya yang mengalami penambahan perubahan dalam variasi penggunaan teknologi (http://www.puskur.net. Download jam 10.00 tanggal 24 Mei 2012). Bahan kajian TIK untuk jenjang SMP /MTS dalam standar isi mencakup tiga aspek yaitu konsep, pengetahuan, dan operasi dasar, Pengelolaan informasi untuk produktifitas dan pemecahan masalah, eksploitasi dan komunikasi (httt/www.puskur.net. Download jam 10.00 tanggal 23 Mei 2012)

 

.

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.    Strategi Pembelajaran

Istilah strategi pertama kali digunakan dalam dunia militer yang berarti cara bagaimana menggunakan kekuatan untuk memenangkan perang. Dalam pembelajaran istilah strategi pun digunakan Kemp dalam Sanjaya (2009  :124) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan  guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien.

Strategi pembelajaran model pembelajaran Cooperative Learning group didasarkan pada falsafah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia sebagai mahluk sosial yang saling bekerja sama dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama mencapai tujuan tersebut. (Sanjaya, 2009 :224).

 

Sejalan dengan pandangan tersebut, Dick dan Carey dalam Sanjaya (2009 : 124) juga menyebutkan bahwa strategi  pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersam-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.

Senada dengan pendapat tersebut di atas Reason dalam Sanjaya (2009:228) mengemukakan bahwa: Falsafah yang mendasari model pembelajaran Cooperative Learning group adalah falsafah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia sebagai mahluk sosial yang saling bekerja sama dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama mencapai tujuan tersebut. Tiap-tiap individu ikut andil menyumbang pencapaian itu. Siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika siswa lainnya juga mencapai tujuan tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pola pencapai tujuan dalam pembelajaran kooperatif ini dapat digambarkan seperti dua orang yang memikul balok. Balok akan dapat dipikul bersama-sama jika dan hanya jika kedua orang tersebut berhasil memikulnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif tujuan yang akan dicapai oleh suatu kelompok siswa tertentu merupakan merupakan tujuan bersama atau tujuan kelompok. Tujuan kelompok akan tercapai apabila semua anggota kelompok mencapai tujuannya secara bersama-sama.

  1. a.      Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Koopertaif

Sebagaimana strategi-strategi pembelajaran yang lain, maka unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif hendaknya menjadi perhatian guru agar tujuan pembelajaran kooperatif itu sendiri dapat tercapai secara optimal.

Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut: (a) Siswa dalam kelompoknya harus merasakan bahwa mereka “sehidup semati”; (b) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri; (c) Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama; (d) Siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya; (e) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok; (f) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya; (g) Siswa akan diminta mempertangungjawabkan secara individu materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antarsiswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran (Yeni Susilowati, 2006).

 

Hal yang hampir sama juga dijelaskan Roger dan David Johnson dalam (Yeni Susilowati. 2006), bahwa terdapat lima unsur pembelajaran dalam penerapan strategi pembelajaran kooperatif (pembelajaran gotong royong) yang harus diterapkan, yaitu :

  1. Saling ketergantungan positif

Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya.

  1. Tanggung jawab perseorangan

Setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik.

  1. Tatap muka

Setiap kelompok harus diberi kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi.

  1.  Komunikasi antar anggota

Suatu kelompok tergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka mengutarakan pendapat.

  1. Evaluasi proses kelompok

Setiap kelompok harus melakukan evaluasi hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

 

  1. b.      Model Strategi Pembelajaran Kooperatif

Ibrahim dkk (2000: 19) menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif ada 4 macam yaitu :

  1. Strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student teams Achievement Devision)

Dalam strategi pembelajaran tipe STAD siswa ditempatkan dalam tim-tim belajar beranggotakan empat sampai lima siswa yang heterogen. Adanya penghargaan kelompok dari hasil penilaian.

  1. Strategi pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)

Dalam Strtaegi pembelajaran kooperatif tipe Siswa memainkan permainan dengan tim lain untuk memperoleh skor tambahan bagi timnya.

  1. Strategi pembelajaran kooperatif tipe JIGSAW

Dalam Strtaegi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw siswa dikelompokkan ke dalam tim beranggotakan enam orang yang mempelajari materi yang dibagi menjadi beberapa subbab kemudian anggota dari tim yang berbeda bertemu dalam kelompok ahli.

  1. Strtaegi pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation

Dalam Strtaegi pembelajaran kooperatif tipe group investigation para siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk menangani berbagai macam proyek kelas. Dalam metode ini point tidak diberikan.

  1. c.       Strategi Pembelajaran Kooperatif Type STAD

Strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Devision) dikembangkan oleh Slavin di Universitas John Hopkin Amerika Serikat dan merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana (Ibrahim dkk, 2000:20).

Inti dari model STAD antara lain guru menyampaikan suatu materi, kemudian para siswa bergabung dalam kelompoknya yang terdiri atas empat sampai lima orang untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru. Setelah selesai mereka menyerahkan pekerjaannya secara tunggal untuk setiap kelompok kepada guru.

Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut :

  1. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap kelompok mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya (prestasinya).
  2. Guru menyampaikan materi pelajaran

Guru memberikan tugas kepada kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik, dan kemudian di dalam kelompok saling membantu untuk menguasai materi pelajaraan yang telah diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok

  1. Guru memberikan pertanyaan atau kuis kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab pertanyaan atau kuis dari guru, siswa tidak boleh saling membantu.

Setiap akhir pembelajaran guru memberikan evaluasi untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.

  1. Tiap siswa dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaannya terhadap materi pelajaran, dan kepada siswa secara individual atau kelompok yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan.

Untuk memudahkan penerapannya, guru perlu membaca tugas-tugas yang harus dikerjakan tim, antara lain:

  1. Meminta anggota tim bekerja sama mengatur meja dan kursi, serta memberikan siswa kesempatan sekitar 10 menit untuk memilih nama tim mereka atau ditentukan menurut kesesuaian.
  2. Membagikan lembar kerja siswa (LKS).
  3. Menganjurkan kepada siswa pada tiap-tiap tim bekerja berpasangan (dua atau tiga pasangan dalam satu kelompok).
  4. Memberikan penekanan kepada siswa bahwa LKS itu untuk belajar, bukan untuk sekedar diisi dan dikumpulkan. Karena itu penting bagi siswa diberi lembar kunci jawaban LKS untuk mengecek pekerjaan mereka pada saat mereka belajar
  5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling menjelaskan jawaban mereka, tidak hanya mencocokkan jawaban mereka dengan lembar kunci jawaban tersebut
  6.     Apabila siswa memiliki pertanyaan, mintalah mereka mengajukan pertanyaan itu kepada teman atau satu timnya sebelum menanyakan kepada guru.

 

  1. B.     Prestasi Belajar
    1. 1.               Pengertian Prestasi Belajar

Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia karangan Hoetomo (2002: 40), kata prestasi berarti hasil yang telah dicapai seseorang. Pendapat lain dikemukakan Sukamto (2005: 130), bahwa istilah prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. DalamBahasa Indonesia prestatie diterjemahkan sebagai hasil.

Demikian pula dengan prestasi belajar. Beberapa ahli menjelaskan tentang prestasi belajar. Pendapat mereka berbeda berdasarkan cara pandang masing-masing. Pendapat Muktar dan Yamin (2003: 154), menjelaskan bahwa prestasi belajar sama dengan hasil belajar berupa perubahan tingkah laku yang dicapai siswa setelah mempelajari suatu materi tertentu. Dengan demikian prestasi belajar (hasil belajar) ditandai dengan perubahan perilaku. Perubahan perilaku sebagai akibat proses belajar.

Pendapat lain tentang prestasi belajar dijelaskan oleh Dzajuli (1997: 70), bahwa prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar yang diperoleh siswa dalam jangka waktu tertentu. Untuk mengungkap prestasi belajar yang diperoleh siswa, guru harus melakukan penilaian. Selanjutnya, pendapat yang hampir serupa dikemukakan Aqib (2003), bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh melalui tes yang sesuai dengan tujuan dan sasaran belajar.

Mukhtar dan Yamin menjelaskan bahwa kemampuan berprestasi merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Kemampuan berprestasi siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya faktor potensi siswa dan faktor di luar siswa. Prestasi belajar adalah sebuah proses penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut pengetahuan, kecakapan atau keterampilan yang dinyatakan sesuai hasil belajar  dan ditandai dengan perubahan perilaku (Mukhtar dan Yamin, 2003: 89-90).

Banyak instrumen yang digunakan untuk menilai prestasi belajar siswa. Di antara instrumen untuk menilai perubahan tingkah laku pada siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yaitu tes hail belajar. Pengungkapan hasil belajar melalui hasil tes siswa inilah yang diolah oleh guru menjadi nilai. Nilai siswa dapat berbentuk angka-angka secara kuantitatif dan skala sikap. Pada dasarnya, pengungkapan hasil belajar yang ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar mengajar.

Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku ketiga ranah psikologis yang meliputi ranah kognitif (ranah cipta), afektif (ranah rasa), dan psikomotor (ranah karsa) pada setiap individu siswa sangat sulit dilakukan. Kesulitan untuk mengungkap perubahan tingkah laku tersebut disebabkab oleh perubahan hasil belajar itu sebagian bersifat tidak nyata.

Oleh karena itu yang dapat dilakukan guru adalah hanya mengambil sebagian perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan mewakili (representative) dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik pada ranah cipta, ranah rasa, maupun ranah karsa.

Mencermati uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud prestasi belajar dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses penilaian dalam kurun waktu tertentu.

 

  1. 2.                  Ranah Prestasi Belajar Siswa

Seperti dijelaskan di atas bahwa mengungkap pretasi belajar siswa pada semua ranah mesti dilakukan guru. Prestasi belajar siswa terkait dengan seluruh kompetensi yang dimiliki siswa. Oleh karena itu guru sedapat mungkin dalam melakukan penilaian prestasi belajar siswa  pada semua domain. Menurut Sutrisno (2005: 19-21), ketiga ranah tersebut adalah:

a.  Ranah Kognitif

     Penilaian pada ranah kognitif meliputi enam tingkatan, yakni

1)      Pengetahuan, yakni kemampuan menghafal dan mengingat.

2)      Pemahaman, yakni mrncakup kemampuan membandingkan, mengidentifikasi, menggeneralisasi dan menyimpulkan.

3)      Penerapan, yakni mencakup kemampuan menerapkan rumus, prinsip terhadap kasus-kasus yang terjadi di lapangan.

4)      Analisis, yakni kemampuan mengklasifikasi, memerinci, dan menguraikan suatu objek.

5)      Sintesis, yakni kemampuan memadukan, menyusun, membentuk, mengarang, dan meluki.

6)      Evaluasi, yakni mencangkup kemampuan menilai suatu objek tertentu.

b.  Ranah Psikomotor

Penilaian hasil belajar siswa pada pencapaian ranah psikomotor, meliputi:

1)      Kemampuan dalam menggerakkan anggota tubuh.

2)      Kemampuan melakukan atau menirukan gerakan melibatkan seluruh anggota badan.

3)      Kemampuan melakukan atau menirukan gerakan melibatkan seluruh anggota badan ecara menyeluruh dan sempurna ampai tingkat otomatis.

c.   Ranah Afektif

      Jenis tingkatan ranah afektif yang perlu dinilai meliputi:

1)      memberikan respon atau reaksi terhadap nilai-nilai yang dihadapkan.

2)      Menerima atau menikmati nilai, norma serta objrk yang mempunyai nilai etika dan estetika.

3)      Menilai baik-buruk, adil-tidak adil terhadap suatu objek.

4)      Menerapkan nilai, norma,  etika, dan estetika dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. 3.             Prinsip-Prinsip Penilaian Prestasi Belajar

Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan dalam kegiatan penilaian prestasi belajar siswa. Menurut Sutrisno (2005: 27), di antara prinsip-prinsip tersebut adalah:

  1. Menyeluruh, artinya peribahan perilaku yang diwujudkan dengan prestasi belajar menyeluruh, menyangkut ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
  2. Berkesinambungan, penilaian prestasi belajar siswa dilakukan secara terencana, bertahap, dan terus-menerus.
  3. Berorientasi pada tujuan maksudnya prestasi belajar yang dicapai siswa dapat menentukan sejauhmana telah mencapai tujuan sesuai kompetensi yang diharapkan.
  4. Objektif, penilaian prestasi belajar harus mencerminkan tingkat keberhasilan siswa yang sesungguhnya.
  5. Terbuka, artinya hasil prestasi belajar diketahui dan diterima oleh semua pihak yang berkepentingan.
  6. Kebermaknaan, hasil penialian harus bermakna bagi siswa dan guru.
  7. Kesesuaian, penilaian prestasi belajar harus sesuai dengan materi yang semestinya dikuasai siswa.
  8. Mendidik, prestasi yang diperoleh siswa harus dapat digunakan untuk mendorong dan memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

 

  1. 4.         Bentuk-Bentuk Alat Penilaian Prestasi Belajar Siswa

Bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa pada semua domain penguasaan baik kognitif, psikomotor, dan afektif antara lain (Sutrisno, 2005: 30):

 

 

 

  1. Pertanyaan lisan di kelas

Pertanyaan lisan di kelas sering kali dilakukan guru. Tujuan dari pertanyaan lisan adalah untuk mengungkap penguasaan siswa terhadap materi atau konsep-konsep tertentu.

  1. Ulangan Harian

Ulangan harian dilakukan untuk mengungkap penguasaan siswa pada beberapa kompetensi dasar tertentu. Ulangan lisan dilakukan secara periodik dengan berbagai macam teknik pelaksanaannya. Di amping itu ulangan harian dimaksudkan untuk memotivasi siswa belajar secara teratur dan kontinyu.

  1. Tugas individu

Dilakukan ecara periodik untuk dilakukan oleh setiap siswa dan dapat berupa tugas rumah atau PR. Tugas tersebut sekaligues untuk mengungkap penguasaan aplikasi dan penguasaan menggunakan alat dan prasedur melakukan pekerjaan tertentu.

  1. Tugas kelompok

Digunakan untuk menilai prestasi belajar dalam memecahkan masalah tertentu. Tugas kelompok juga memberi manfaat agar siswa terampil berkomunikasi dengan teman sebayanya. Selain tiu dapat mengembangkan kerja ama dan kompetisi secara sehat.

  1. Ulangan semester

Ulangan semeter berfungsi sebagai alat untuk menilai ketuntasan prestasi belajar siswa selama satu semester. Ulangan semester berfungsi untuk menentukan tingkat daya serap dan pencapaian target kurikulum yang telah dilakukan guru. Pelaksanaan ulangan semester juga dimaksudkan untuk menentukan nilai raport siswa. Nilai raport inilah yang akan menjadi media laporan pendidikan lembaga ekolah kepada masyarakat (orang tua).

  1. Ulangan kenaikan Kelas

Sama halnya dengan ulangan semester, ulangan kenaikan kelas dilaksanakan pada akhir tahun pelajaran. Ulangan ini dilaksanakan sebagai evaluasi akhir prestasi yang telah dicapai siswa selama satu tahun. Sebagai evaluasi terakhir maka maka hasilnya digunakan ebagai penentu kenaikan kelas bagi siswa.

  1. Laporan kerja praktek

Hanya dapat dilakukan pada mata pelajaran tertentu saja. Adapun mata pelajaran yang lazim dilakukan dengan praktek adalah IPA dan Sains, bahasa, Pendidikan jasmani dan kwsehatan, Tata Boga, dan teknologi Informasi dan komunikasi (TIK).

  1. Responsi/Uji Prektek

Biasanya digunakan untuk mengetahui penguasaan akhir dari aspek kognitif dan psikomotorik.

 

  1. 5.    Beberapa Faktor yang Berpengaruh pada Prestasi Belajar

Prestasi belajar bukanlah variabel yang berdiri-sendiri. Mukhtar dan Yamin (2003: 67), menyatakan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari motivasi positif dan percaya diri dalam belajar, tersedianya materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas siswa, keterampilan intelektual, dan strategi yang tepat untuk mengaktifkan siswa dalam belajar. Sedangkan faktor eksternal lebih banyak ditangani oleh guru, faktor tersebut terdiri dari cara guru memberi reward, penghargaan, perhatian orang tua, dan keadaan keluarga.

Pendapat lain yang hampir sama dikemukakan Aqib (2003: 94) dan Hamalik (1999: 55), bahwa ada dua faktor yang berpengaruh pada pencapaian prestasi belajar siswa, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor intern terdiri dari motivasi positif dan percaya diri dalam belajar, tersedianya materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas siswa, keterampilan intelektual, dan strategi yang tepat untuk mengaktifkan siswa dalam belajar. Sedangkan faktor ekstern lebih banyak ditangani oleh guru, faktor tersebut terdiri dari cara guru memberi reward, penghargaan, perhatian orang tua, dan keadaan keluarga.

  1. Faktor intern, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa, berupa faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh), dan faktor psikologi (kecerdasan/intelligensi, minat dan perhatian, bakat, motivasi diri, dan kematangan).

1) Faktor jasmaniah

 (a) Kesehatan merupakan faktor yang berperan dalam menentukan tingkat pencapaian prestasi siswa. Siswa yang kondisi fisiknya lebih sehat tentu saja tidak akan terganggu dalam belajar. Sebaliknya siswa yang sering akit akan mengalami hambatan dalam belajar. Di samping itu siswa yang sering sakit tidak akan dapat mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.

(b) Cacat tubuh sering kali menjadi penghambat bagi siswa untuk belajar. Ada bermacam-macam cacat tubuh yang mungkin diderita siswa. Kurang penglihatan menyebabkan siswa sulit untuk membaca dari jarak yang agak jauh atau terlalu dekat. Kurang pendengaran menyebabkan siswa sulit menangkap penjelasan guru ecara lisan. Demikian pula dengan keterbatasan yang lain yang kesemuanya dapat menghambat aktifitas belajar pada siswa yang mengalaminya.

                    2) Faktor psikologi

                         (a) Inteligensi/kecerdasan pada setiap siswa berbeda-beda. Siswa yang memiliki potensi kecerdasan lebih tinggi tentu akan lebih baik pretasinya daripada siswa yang berpotensi kecerdasan rendah. Siswa yang cerdas adalah siswa yang memiliki dapat menyesuaikan diri dengan secara tepat dan cermat dengan kondisi tertentu.

                       (b) Minat dan perhatian siswa untuk belajar akan mempengaruhi prestasi belajarnya. Siswa yang bersungguh-sungguh dalam belajar akan dapat menyerap materi pelajaran secara lebih sempurna. Kesungguhan siswa ditentukan oleh minat dan perhatian masing-masing siswa dalam belajar.

                        (c) Bakat adalah potensi bawaan menurut sebagian besar ahli. Pendapat ini didasarkan pada kegemaran seseorang yang relatif berbeda satu dengan yang lainnya. Bakat inilah yang akan mendukung seorang siswa untuk mengoptimalkan pretasi belajarnya. Siswa yang berbakat pada pelajaran tertentu akan terlihat dari pretasinya yang menonjol pada pelajaran tersebut.

  1. Faktor ekstern, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa, berupa faktor keluarga (ekonomi keluarga, suasana rumah tangga, cara mendidik orang tua) dan faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, manajemen sekolah,dan suasana/iklim sekolah).

                  1) Faktor keluarga, terdiri dari keadaan sosial ekonomi orang tua,  

                        suasana rumah, cara orang tua mendidik, dan sebagainya. Secara umum siswa yang berasal dari keluarga yang berekonomi tinggi akan lebih mudah berprestasi. Hal ini disebabkan karena siswa tersebut akan dapat memenuhi kebutuhan belajarnya. Demikian sebaliknya siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu cenderung memiliki fasilitas belajar yang sangat terbatas.

                   2) Faktor sekolah yang berpengaruh secara langsung dengan prestasi belajar siswa adalah kompetensi guru, sarana belajar, iklim sekolah, manajemen sekolah, dan kurikulum. Guru yang memiliki kompetensi memadai akan dapat melaksanakan tugasnya secara baik. Hal yang sama sekolah yang memiliki fasilitas atau sarana belajar yang lengkap akan mendorong siswa untuk belajar. Demikian pula dengan manajemen sekolah, iklim sekolah, dan kurikulum yang digunakan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang berupa kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut pengetahuan, kecakapan atau keterampilan yang dinyatakan sesuai hasil belajar.

 

  1. Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu mata pelajaran  yang diajarkan disekolah yang mana pada hakikatnya kurikulum TIK menyiapkan siswa agar terlibat pada perubahan yang pesat dalam dunia kerja maupun kegiatan lainnya yang mengalami penambahan perubahan dalam variasi penggunaan teknologi (http://www.puskur.net download jam 10.00 tanggal 24 Mei 2012).

Bahan kajian TIK untuk jenjang SMP /MTS dalam standar isi mencakup tiga aspek yaitu konsep, pengetahuan, dan operasi dasar,Pengelolaan informasi untuk produktifitas dan pemecahan masalah, eksploitasi dan komunikasi (httt/www.puskur.net)

Setiap mata pelajaran memiliki ciri khas atau karakteristik  nya masing-masing .begitu juga dengan mata pelajaran TIK. Adapun karakteristik mata pelajaran TIK adalah sebagai berikut;

  1. TeknologiInformasi dan komunikasi merupakan keterampilan menggunakan komputer  meliputi  perangkat keras dan perangkat lunak. Namun demikian Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak sekedar terampil, tetapi lebih memerlukan kemampuan intelektual.
  2. MateriTeknologiInformasi dan komunikasi berupa tema-tema esensial,  aktual  serta global yang berkembang  dalam kemujuan teknologi pada masa kini, sehingga mata pelajaran  yang dapat mewarnai perkembangan perkembangan perilaku dalam kehidupan.
  3. Tema-tema esensial dalam Teknologi  Informasi dan Komunikasi  merupakan perpaduan dari cabang-cabang Ilmu Komputer,Matematik, Teknik Elektro, Teknik Elektronika, Telekomunikasi, Sibernetika  dan Informatika  itu  sendiri.Tema-tema esensial tersebut berkaitan dengan  kebutuhan pokok akan informasi sebagai ciri abad 21  seperti  pengolah kata, spreadsheet, presentasi, basis data, internet dan e-mail. Tema-tema esensial tersebut terkait dengan aspek kehidupan sehari-hari.
  4. MateriTeknologi Informasi dan komunikasi dikembangkan dengan pendekatan interdisipliner dan multidimensional. Dikatakan interdisipliner karena melibatkan berbagai  disiplin ilmu, dan dikatakan multidimensional karena mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. (http://www.lpmpjabar.go.id. download jam 10.00 tanggal 23 Mei 2012).

 

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran Teknologi Informasi dan komunikasi merupakan keterampilan menggunakan komputer  meliputi  perangkat keras dan perangkat lunak. Tema-tema esensial dalam pembelajaran ini adalah merupakan tema-tema  aktual  serta global yang berkembang  dalam kemujuan teknologi pada masa kini, sehingga mata pelajaran  yang dapat mewarnai perkembangan perkembangan perilaku dalam kehidupan.

Tema-tema esensial dalam Teknologi  Informasi dan Komunikasi  tersebut merupakan perpaduan dari cabang-cabang Ilmu Komputer, Matematik, Teknik Elektro, Teknik Elektronika, Telekomunikasi, Sibernetika  dan Informatika  itu  sendiri. Tema-tema esensial tersebut berkaitan dengan  kebutuhan pokok akan informasi sebagai ciri abad 21  seperti  pengolah kata, spreadsheet, presentasi, basis data, internet dan e-mail. Tema-tema esensial tersebut terkait dengan aspek kehidupan sehari-hari sehingga materi Teknologi Informasi dan komunikasi dikembangkan dengan pendekatan interdisiplier dan multidimensional.dikatakan interdisipliner karena melibatkan berbagai disiplin ilmu, dan dikatakan multidimensional karena mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat

  1. C.    Hasil Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian yang relevan terhadap penerapan strategi pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran TIK antara lain;  

  1.  M. Darwento, 2011, Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran TIK kelas XI semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011 MAN 1 Bandung. Hasil penelitian ini antar lain menyebutkan bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar pada mata pelajaran TIK kelas XI semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011 MAN 1 Bandung setelah model pembelajaran kooperatif tipe STAD diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas tersebut.
  2.  Hasan Basri, 2010, Penerapan pembelajaran kooperatif  model Jigsaw dalam meningkatkan prestasi belajar TIKOM pada siswa Kelas VIII SMP Muhammadyah Malang Tahun Pelajaran 2009/2010. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar TIKOM siswa
  3. D.    Kerangka Berfikir

Kemp dalam Sanjaya (2009  :124) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan  guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien. Strategi pembelajaran model pembelajaran Cooperative Learning group didasarkan pada falsafah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia sebagai mahluk sosial yang saling bekerja sama dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lain.

Selanjutnya, prestasi belajar adalah sebuah proses penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut pengetahuan, kecakapan atau keterampilan yang dinyatakan sesuai hasil belajar  dan ditandai dengan perubahan perilaku (Mukhtar dan Yamin, 2003: 89-90).

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat dijelaskan bahwa ada hubungan antara penerapan strategi pembelajaran kooperatif secara tepat sebagai variabel bebas (Vasriabel X) dalam penyampaian materi pembelajaran TIK pada siswa kelas VIII SMPN 1 Kuripan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa SMPN 1 Kuripan pada mata pelajaran TIK sebagai variabel terikat (Variabel Y). Artinya bahwa semakin baik penerapan strategi pembelajaran kooperatif maka akan semakin terlihat peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran TIK

E.     Hipotesis

Dalam buku Metodelogi Penelitian dijeskan bahwa: “Hypotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian” (Soegiyono, 1999:39).

Senada dengan hal tersebut di atas (Sutrisno Hadi, 1988:257) menjelaskan bahwa suatu hypotesis akan diterima apabila bahan-bahan penyelidikan membenarkannya dan ditolak bilamana kenyataan menanyakannnya.

Berdasarkan pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa hypotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang telah diajukan dalam penelititan ini dan besar kemungkinannya akan menjadi jawaban yang benar.

Adapun hypotesis yang diajukan penulis dalam penelitian adalah sebagai berikut.

  1. Alternative hypothesis (Ha): Ada Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013”
  2. Null Hypothesis (Ho): Tidak Ada Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

Dalam bab ini akan diruraikan secara berturut-turut tentang: A). Metode Penelitian, B). Rancangan Penelitian, C). Populasi dan Sampling Penelitian, D). Instrumen Penelitian, E). Metode Pengumpulan Data, F). Metode Analisis Data.

A.    METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Cara ilmiah bararti kegiatan itu dilandasi oleh metode keilmuan. Menurut Jujun S. Suriasumantri (1978) metode keilmuan ini merupakan gabungan antara pendekatan rasional dan empiris. Pendekatan rasional memberikan kerangka berpikir yang logis. Sedangkan pendekatan empiris memberikan kerangka pengujian dalam memastikan seuatu kebenaran”, (Sugiyono, 1999:1).

Kegiatan penelitian dilakukan dengan tujuan tertentu, dan pada umumnya tujuan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga hal utama yaitu untuk menemukan, membuktikan, dan mengembangkan pengetahuan tertentu.

Sehubungan dengan penelitian ini maka teknik yang digunakan adalah penelitian korelasi atau regresi, untuk menemukan ada tidaknya pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013.

B.     RANCANGAN PENELITIAN

Rancangan penelitian ini adalah suatu pendekatan yang digunakan dalam suatu penelitian. Dalam buku Metodologi Penelitian dijelaskan bahwa “Rancangan pada dasarnya merupakan suatu keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang tentang hal-hal yang dilakukan serta dapat pula dijadikan dasar penelitian sendirimaupun orang lain terhadap peneltiian dan bertujuan memberikan pertanggung jawaban terhadap semua langkah yang diambil”, (Margono, 1997:100).

Sehubungan denagn penelitian ini, maka secara konseptual rancangan penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :

 
   

 

 

 

 

 

Keterangan :

  1. Variabel bebas (X)        = Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif
  2. Variabel terikat (Y) =Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

 

Berdasarkan gambaran tersebut diatas, maka ada variabel X dan variabel Y. Variabel X adalah obyek penelitian yang bebas atau independent variabel yaitu berupa Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif dan variabel Y adalah variabel terikat atau dependent variabel yaitu Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK).

C.    Populasi dan Sampling Penelitian

  1. Populasi Penelitian

Dalam buku Metode Penelitian Administrasi dijelaskan bahwa : “Populasi adalah wilayah gneralisasi yang terdiri atas: Obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya, (Sugiyono, 1999:57).

Hal yang senada juga dijelaskan (Sutrisno Hadi, 1998:10), bahwa “Populasi adalah seluruh individu yang menjadi subyek dan obyek penelitian yang hendaknya digenaralisasikan”

Dari  kedua pendapat tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan individu yang akan mejadi subyek dan obyek penelitian sehingga diperoleh sampel yang akan digeneralisasikan.

Dengan demikian yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kediri Tahun Pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 125 orang siswa.

  1. Sampel  Penelitian

Dalam buku Prosedur Penelitian dijelaskan bahwa yang  dimaksud dengan sampel adalah “sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti” (Suharsimi Arikunto, 1986:104). Ahli lain berpendapat bahwa “sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut” (Sugiyono, 1999:57).

Teknik sampling pada penelitian ini menentukan, karena teknik sampling yang tepat akan memeudahkan dalam pengolahan daa dan teknik sampling yang salah akan memperoleh data yang salah pula.

Dalam buku Metodologi Penelitian dijelaskan bahwa “Metode sampling adalah cara-cara yang digunakan untuk mengambil sampel (Sutrisno Hadi, 1980:75). Sedangkan dalam buku Metodologi Penelitian administrasi dijelaskan bahwa “Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian terdapat teknik sampling yang dapat digunakan”, (Sugiyono, 1999:61).

Adapun cara yang digunakan dalam Random Sampling adalah cara pengambilan sampel tanpa pilih memilih (sembarang), (IB. Netra,1977:17).

Adapun cara yang digunakan dalam random sampling adalah cara undian, cara ordinal, dan ara randomasi dari tabel bilangan random. Dalam penelitian ini untukmenentukan individu yang akan menjadi anggota sampel yang digunakan cara undian, untuk memberikan kesempatan yang sama pada anggota populasi yang akan dijadikan sampel. Apabila populasi cukup homogen terhadap populasi di bawah 100 dapat digunakan 50% dibawah 1000 dapat dipergunakan 20%-25% dan di atas 1000 dapat dipergunakan antara 10%-15%, (Winarno Surachmad, 1985:64).

Berdasarkan pendapat tersebut, maka dalam penelitian ini besarnya sampel direncanakan 25% karena jumlah populasi siswa SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013 sebanyak 125 orang maka jumlah sampel yang akan diambil adalah sebanyak 31 orang siswa.

D.    METODE PENGUMPULAN DATA

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang akan diguanakan oleh peneliti adalah metode Quetioner/angket, wawancara/interview, dan metode dokumentasi sebagai pelengkap.

  1. Angket /quetionaire

Angket/ questionaire adalah suatu cara untuk memperoleh data dengan menggunakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto, 1986:124).

Angket adalah alat untuk mengumpulkan data yang berupa daftar pertanyaan/pernyataan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis (Sugiyono, 2009: 123).

Beradasrkan uraian di sata, dalam penelitian ini peneliti Angket yang digunakan adalah angket yang berupa daftar pertanyaan/pernyataan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis.

  1. Metode interview/wawancara

Interview/wawancara adalah suatu cara untuk mendapatkan data subyek yang diteliti dengan jalan mengajukan pertanyaan secara lisan melalui kegiatan tanya jawab. Dalam buku Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktik (edisi revisi) dijelaskan bahwa “wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Suharsimi Arikunto, 1986:126). Ahli lain dalam buku Metodologi Reseach menjelaskan bahwa: “Interview dapat dipandang sebagai metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematika dan berlandaskan kepada tujuan pendidikan. Pada umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses tanya jawab dan masing-masing pihak dapat mengemukakan saluran-saluran komunikasi secara wajar dan lancar, (Sutrisno Hadi, 1998:193).

  1. Metode dokumen.

Dokumen (recording document) adalah cara untuk memperoleh data yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan data segala dokumen serta melakukan pencatatan secara sistematis. Yang termasuk  dokumen antara lain : tulisan-tulisan,  lembaran-lembaran, karangan-karangan, bulletin-bulletin, undang-undang, benda-benda, (Oemar Hamalik, 1992:88). Dalam buku Bimbingan dan Penyuluhan dijelaskan bahwa banyak data tentang murid yang sudah dicatat dalam beberapa dokumen seperti dalam buku Induk, Raport, Buku pribadi, surat-surat keterangan, dan sebagainya termasuk dokumen yang bisa menjadi pelengkap data dalam suatu penelitian , (Prayitno, 1992:34).

Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian metode dokumen yang akan digunakan adalah catatan data siswa dalam bentuk buku Induk, Raport, Buku pribadi, surat-surat keterangan, dan sebagainya termasuk dokumen yang bisa menjadi pelengkap data dalam suatu penelitian

E.     METODE ANALISIS DATA

Metode analisis data adalah cara-cara yang harus diikuti atau digunakan oleh peneliti dalam rangka menganalisa data yang sudah dikumpulkan untuk memperoleh suatu kesimpulan dari hasil penelitian. Analisis data adalah kegiatan yang bertujuan untuk menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan, dalam proses ini digunakan statistik untuk menyederhanakan data yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial.

  1. Analisis Statistik deskriptif

Analisis statistik deskriptif bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan data yang diperoleh dan menemukan nilai-nilai yang diperlukan dalam analisis statistik inferensial.

  1. Analisis statistik inferensial

Adapun statistik yang digunakan adalah statistik inferensial yang bertujuan untuk melihat pengaruh penerapan strtaegi pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran TIK yang akan dianalisis secara regresi linier dengan menggunakan rumus Product Moment Pearson sebagai berikut;

rxy=  Riduwan, 2005:128

Keterangan:

n = Jumlah sampel

X = strategi pembelajaran kooperatif

Y= prestasi belajar siswa

 

Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap Y dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut;

Kd = r 2x 100 %, dimana, KP = Nilai koefisien determinan dan r = nilai koefisien. Selanjutnya untyuk melihat signifikansi pengaruh di gunakan rumus sebagai berikut;

t =

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. Jika signifikansi F ≤ 0,05 maka hipotesis nihil (Ho) ditolak, sebaliknya jika nilai F > 0,05 maka hipotesis nihil (Ho) diterima. Sedangkan untuk menguji koefisien korelasi ganda signifikan atau tidak digunakan rumus uji F (Winarsunu, 2002).

Seluruh proses pengolahan data penelitian menggunakan program perangkat SPSS versi 19.

 

DAFTAR  PUSTAKA

 

Aqib. 2003. Belajar dan Pembelajaran. PT.Bumi Aksara. Jakarta

 

Arifin. 2009. Startaegi Pembelajaran. Rineka Cipta: Jakarta

Arikunto, S. 1986, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, PT. Bina Aksara, Jakarta.

 

Arikunto S, 1992, Prosedur Penelitian Edisi Revisi, PT. Rineka Cipta, Jakarta

Arikunto S, 1994, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi, PT. Rineka Cipta, Jakarta

Djamarah, S. Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: PT.Rineka Cipta

Dzajuli, 1997, Teknik Evaluasi hasil Belajar. PT. Bina Aksara, Jakarta.

 

Hadi, S, 1980. Metodologi Penelitian. Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, 

              Yogyakarta

 

Hadi S, 1998, Statistik Jilid II, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.

 

Hamalik, O, 1991, Metode Penelitian, Usaha Nasional, Surabaya

Hamalik, O. 2003. Proses Belajar Mengajar.Jakarta: PT.BumiAksara

Hoetomo. 2002. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, BalaiPustaka. Jakarta.

 

http://www.puskur.net).  Pentingnya Penerapan Mata Pelajaran TIK di Sekolah. di download tanggal 2 Juni 2012.

 

Ibrahim dkk, 2000. Model-Model Strategi Pembelajaran Kelompok. AbdiMahasatya, Jakarta.

 

JujunS.Suriasumantri. 1978. Metodologi Penelitian Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya

 

Margono, 1997, Metodologi Penelitian, Yayasan Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.

 

Muktar dan Yamin. 2003. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Aplikasi.CV.Anugerah. Semarang.

Netra IB, 1997, Statistik Infrensial, Usaha Nasional, Surabaya.

 

Prayitno, 1992, Bimbingan dan Penyuluhan, Yayasan Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.

 

Riduwan, 2005. Metode Penelitian Bagi  Pemula, RosdaKarya. Jakarta.

 

SaefulBahriDjamarah, 1995. Strategi Belajar Mengajar, AbdiMahasatya, Jakarta.

 

Sutrisno, 2005. Statistik penelitian, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta

 

Sanjaya, W 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.

Sanjaya, W. 2009. Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Media Grup

Sugiyono, 1999, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung.

Sukamto. 2005. Belajar dan Prestasi Belajar, CV.Anugerah. Semarang.

 

Sukmadinata, N.Syaodih. 2006. Kurikulum dan Pembelajaran.Bandung:Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI.

 

Sulaeman. 1984. Peserta didik dan Prestasi Belajar. RosdaKarya. Bandung.

 

Surachmad W. 1985, Pengantar Penelitian Ilmiah, Tarsito, Bandung

Surachman. 1994, Penelitian Sosial Bagi Pemula, Rosda Karya, Bandung

­­­­­Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Penerbit BP. Panca Usaha.

 

Winarsunu, 2002, Metodologi Penelitian, Alfabeta, Bandung.

 

YeniSusilowati, 2006. Strategi Pembelajaran Kooperatif, RinekaCipta. Jakarta.

 

Yousda, 1998, Metode Penelitian Teori dan Praktek. Alfabeta, Bandung.

 

(http://www.lpmpjabar.go.id). Interdisipliner dan Multidimensional Melalui Pembelajaran TIK. di download tanggal 23 Mei 2012

 

(http://www.puskur.net, Artikel Pendidikandi download tanggal 23 Mei 2012

.

 

Kutipan

auto_play = (tr…

auto_play = (true or false)
show_comments = (true or false)
color = (color hex code) will paint the play button, waveform and selections in this color
theme_color = (color hex code) will set the background color

Here are some examples:

This is how the player looks when only the basic url parameter is given.


Embeds a track player which starts playing automatically and won’t show any comments.


Embeds a set player with a green theme.