VARIABEL PENELITIAN: Jenis, Hubungan, Pengukuran, Variabel Independen dan Variabel Dependen

VARIABEL PENELITIAN: Jenis, Hubungan, Pengukuran

Oleh supraptojielwongsolo

A. Pengertian

Pemahaman terhadap variabel dan hubungan antar variabel merupakan salah-satu kunci penting dalam penelitian kuantitatif. Posisi variabel yang senteral menempatkannya sebagai dasar dari semua proses peneltian; mulai dari perumusan masalah, perumusan hipotesis, pembuatan instrumen pengumpul data, sampai pada analisisnya. Sehubungan dengan posisi penting ini, variabel menjadi penting artinya untuk menentukan bermutu-tidaknya suatu hasil penelitian.

Secara leksikal, istilah variabel dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat beragam (bervariasi). Arti kata ini menunjukkan bahwa variabel merupakan sesuatu yang di dalamnya terdapat atribut-atribut, unit-unit, dimensi-dimensi atau nilai-nilai yang beragam. Kerlinger mendefinisikan variabel sebagai ‘suatu sifat yang dapat memiliki bermacam nilai”, atau “simbol/lambang yang padanya dilekatkan bilangan atau nilai”.

Pada hakikatnya, setiap variabel adalah suatu konsep, yaitu konsep yang bersifat khusus yang mengandung variasi nilai. Banyak ahli yang menyebutnya dengan konsep variabel. Yang dimaksud dengan konsep variabel di sini adalah konsep yang bersifat observatible, maksudnya konsep yang sudah sangat dekat dengan fenomena-fenomena atau obyek-obyek yang teramati. Jadi konsep variabel itu merupakan sebutan umum yang mewakili semua atribut, dimensi atau nilai yang perlu diamati. Karena itu tidak semua konsep disebut variabel, karena masih terdapat konsep-konsep yang tidak mengandung memenuhi ciri seperti itu.

B. Variabel Kategori dan Dimensi

Sebagai konsep yang mengandung nilai, variabel dapat dikelompokkan pada variabel kategori dan variabel dimensi. Kedua jenis variabel ini dapat dijelaskan sebagai berikut;

Variabel kategori adalah konsep yang memiliki beberapa gejala yang dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan label, atribut atau unsur formal dari gejala itu.Variabel kategori adalah variabel mengandung nilai-nilai yang tidak dapat diutarakan dalam bentuk angka, tetapi dalam bentuk kategori-kategori. Karena itu, variabel ini disebut juga variabel kualatitatif. Included terms atau idividu-individu yang terdapat pada konsep itu dikelompokkan berdasarkan ciri tertentu, tanpa melihat peringkatnya. Jadi, pada dasarnya tidak ada kelebihan peringkat nilai satu sub-himpunan dari sub-himpunan lainnya. Mengkategorisasikan berarti menempatkan suatu obyek ke dalam sub-himpunan, sebagai bagian dari himpunan. Karena itu, individu-individu yang termasuk dalam sub-kategori hanya mungkin dihitung secara nominal, dan perbedaan antara satu sama lain hanya karena ciri atributnya (bukan harganya). Contoh variabel kategori ini adalah jenis kelamin (memiliki dua gejala; laki-laki dan perempuan).

Pembuatan kategori yang terbaik adalah dengan merujuk teori yang sudah ada. Tetapi jika sistem kategori yang baku belum ditemukan, maka seorang peneliti dapat membentuk kategori sendiri. Ada dua ketentuan dalam membentuk kategori dari suatu variabel; 1) bersifat exhaustive; artinya semua unsur dari variabel tersebut harus dapat dimasukkan ke dalam salah satu kategori, dan 2) bersifat mutually exlusive, artinya satu usnur hanya dapat dimasukkan ke dalam salah satu kategori.

Pada era perkembangan ilmu yang pesat belakangan ini, para peneliti telah berusaha untuk mengkuantifikasi variabel-variabel kualitatif. Menurut para ahli ini, terdapat beberapa jenis variabel kualitatif yang dapat dihitung dengan angka-angka, sekalipun tetap menyadari bahwa tidak semuanya dapat diangkakan. Cara yang lazim digunakan untuk mengkuantifikasi vaiabel kualitatif adalah dengan membentuk indeks dan skala.

Variabel dimensi adalah konsep yang menunjukkan suatu gejala berdasarkan nilai atau tingkatan. Ini berarti bahwa variabel dimensi itu mengandung dimensi-dimensi yang dapat diukur dan diberi skore dengan angka. Karena itu variabel dimensi ini disebut juga variabel kuantitatif.

Pada penelitian kuantitatif, umumnya yang dipilih sebagai variabel adalah konsep berdimensi tunggal. Konsep berdimensi tunggal (unidimensional) adalah konsep yang spesifik (bukan bersifat general) yang hanya mengandung satu jenis gejala. Sebagai contoh, pelaksanaan shalat fardhu. Konsep ini sudah spesifik, karena tidak bercampur aduk dengan shalat sunat, zikir dan sebagainya. Jika variabel penelitian adalah seperti ‘pengamalan agama’, maka konsep ini termasuk kategori berdimensi majemuk (multidimensional). Konsep ‘pengamalan agama’ mengandung banyak jenis gejala, seperti pelaksanaan shalat fardhu, pelaksanaan shalat sunat, pelaksanan puasa, pelaksanaan zakat, kepatuhan kepada orangtua, hubungan antara sesama dan banyak lagi yang lain. Setiap jenis gejala pada ‘pengamalan agama’ adalah satu variabel, karena itu sangat kompleks dan sulit untuk diuji dengan metoda statistik. Karena itu, konsep multidimensional hanya mungkin dijadikan variabel dalam penelitian yang berskala besar dan bermaksud untuk menperoleh hasil yang mendalam.

Variabel dimensi dapat dibedakan pada dua jenis; diskret dan kontinu. Secara umum, perbedaan antara kedua jenis variabel ini adalah bahwa, variabel diskret merupakan hasil perhitungan sedangkan variabel kontinu merupakan hasil pengukuran. Secara literal, diskret berarti tidak mempunyai pecahan (utuh). Maksudnya, dalam variabel kuantitatif diskret (discrete quantitative variables), tiap nilai variabel dipisahkan oleh satu kesatuan tententu. Jadi, variabel diskret hanya dapat dinyatakan dalam satuan-satuan (satu, dua, enam), dan satuan-satuan itu tidak dapat dibagi lagi ke dalam satuan yang lebih kecil. Dengan demikian, data yang diperoleh dari variabel ini adalah data nominal. Sedangkan variabel kuantitatif kontinu (continuous quantitative variables) adalah variabel yang bersambungan, artinya di antara dua unit ukuran masih terdapat unit-unit ukuran lain yang secara teoritik tidak terhingga banyaknya. Contohnya, di antara 1,5 meter dan 1,6 meter masih terdapat ukuran 1,51, 1,52 dan seterusnya. Data yang diperoleh dari variabel kontinu ini terdiri dari data skala rasio, skala interval, dan skala ordinal. Kerlinger menyatakan; bahwa variabel kontinu itu memiliki sehimpunan harga yang teratur dalam suatu cakupan (range) tertentu. Ini menunjukkan; pertama, harga-harga suatu variabel kontinu mencerminkan suatu urutan peringkat (rank order). Harga yang lebih besar menunjukkan lebih banyak sifat tertentu yang dimilikinya dibanding dengan harga yang lebih kecil, dan kedua, ukuran-ukuran kontinu termuat dalam suatu range dan setiap individu mendapat skor yang ada dalam range itu.

Dalam penelitian kuantitatif, variabel yang paling baik adalah konsep dimensi. Alasannya, adalah karena 1) konsep dimensi dapat diterapkan untuk semua budaya, dan 2) konsep dimensi akan menghasilkan data berbentuk skala sehingga lebih mungkin untuk dianalisis dengan metode-metode statistik yang lebih akurat. Hal ini bukan berarti konsep kategori tidak berguna, sebab konsep ini juga masih dapat dianalisis dengan statistik non-prametrik dengan hasil perhitungan kasar atau dapat juga diubah dengan cara-cara tertentu menjadi konsep dimensi.

C. Variabel Independen dan Variabel Dependen

Secara umum, jenis variabel (dilihat dari sifat hubungan antar variabel) dapat dibedakan pada variabel indenpenden dan variabel dependen. Istilah variabel independen dan variabel dependen berasal dari logika matematika, di mana X dinyatakan sebagai yang ‘mempengaruhi atau sebab’ dan Y sebagai yang ‘dipengaruhi atau akibat’. Namun pengertian ini tentu tidak selalu menggambarkan hakikat yang sebenarnya dari konsep variabel independen dan dependen. Sebab dalam kenyataan, khususnya dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, hubungan antar variabel tidak selalu merupakan hubungan kausal. Yang dapat dipastikan adalah, bahwa terdapat variabel yang saling berhubungan, di satu pihak ada yang disebut variabel independen dan di pihak lain ada yang disebut variabel dependen. Kedua variabel ini diperlukan oleh setiap penelitian kuantitatif. Adapun sifat hubungan itu ada yang bersifat kausal, dan ada yang tidak demikian.

Selain itu ada beberapa catatan yang perlu dipahami dalam mempelajari dua variabel, independen dan dependen.

Dalam suatu hubungan antar kedua variabel itu, keberadaan variabel independen adalah sesuatu yang harus diterima, tanpa mempersoalkan ‘mengapa’ variabel independen itu demikian. Ini dapat dinyatakan sebagai suatu kepastian, sebab jika suatu variabel masih dicaritahu hal-ihwal pembentuknya, maka ia akan berubah posisi menjadi variabel antara (intervening variabel), yaitu suatu variabel yang menghubungkan antara variabel independen dengan variabel dependen.

Variabel independen, khususnya dalam eksperimen, dapat dimanipulasi oleh peneliti. Di sini dianut keyakinan, bahwa variabel dependen akan diketahui tingkat perubahannya bila variabel terlebih dahulu dipersiapkan. Bila seorang ahli farmakologi, misalnya, ingin tahu dosis pemakaian dan khasiat suatu obat yang baru diraciknya, maka ia harus terlebih dahulu menakar obat yang akan diberikannya kepada ‘kelinci’ percobaannya. Karena itu dapat pula dikatakan, bahwa variabel independen adalah variabel yang meramalkan, sedangkan variabel dependen adalah variabel yang diramalkan.

Dalam penelitian yang menggunakan tiga variabel atau lebih (multivariat), selain variabel independen dan dependen masih ada lagi sejumlah variabel lainnya yang menempati posisi tertentu dalam hubungan antar variabel. Secara umum, variabel-variabel itu disebut variabel kontrol. Disebut variabel kontrol, karena variabel tersebut berfungsi untuk mengontrol variabel independen dan atau variabel dependen.

Tujuan dari pemunculan variabel kontrol yang paling penting adalah, untuk; a) menetralisir pengaruh variabel-variabel luar yang tidak perlu, dan atau b) menjembatani hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Karena itu variabel kontrol dapat menempati posisi-posisi tertentu dalam hubungan antar variabel; ada yang ditempatkan sebelum variabel independen dan ada yang berada di antara variabel independen-dependen. Variabel kontrol yang ditempatkan sebelum variabel independen adalah variabel penekan (suppressor variable) atau variabel pengganggu (distorter variable), sedangkan variabel kontrol yang berada di antara variabel independen-dependen adalah variabel antara (intervening variable).

Variabel Penekan atau pengganggu;

Ketika peneliti mengasumsikan bahwa selain variabel X dan Y masih ada faktor lain yang sangat menentukan untuk mengetahui hubungan antarvaribel yang sebenarnya, maka di sini perlu menyertakan faktor itu sebagai variabel penekan atau pengganggu dalam pengujian. Tujuan penyertaan variabel penekan ini adalah untuk mengeleminir kemungkinan kesalahan dalam pengambilan kesimpulan. Penelitian mengenai hubungan antara “lama waktu senggang (di rumah) dengan lama menonton televisi”, misalnya, diasumiskan akan berbeda antara suami dengan isteri. Karena itu, variabel ‘jenis kelamin’ dapat dijadikan sebagai variabel penekan/pengganggu. Berikut adalah gambaran penyebaran data tanpa dan dengan menggunakan variabel penekan/pengganngu;

Contoh penyebaran data tanpa variabel penekan/pengganggu;

No Lama waktu senggang 

Dalam Jam/minggu

Rata-rata lama menonton TV 

Dalam menit/minggu

1 >61 600
2 51-60 534
3 41-50 340
4 31-40 287
5 <30 210

Contoh penyebaran data dengan variabel Jenis Kelamin sebagai penekan/pengganngu;

No Lama waktu senggang 

Dalam jam/minggu

Rata-rata lama menonton tv 

Dalam menit/minggu

Laki-laki Peremp.
1 >61 450 150
2 51-60 412 122
3 41-50 223 117
4 31-40 175 112
5 <30 109 101

Ada beberapa informasi baru yang dapat diperoleh dari hubungan variabel yang dimasuki oleh variabel kontrol pada contoh kedua ini;

Bahwa hubungan antarvariabel tetap sama, yaitu menunjukkan relasi;

Lama waktu senggang berhubungan secara signifikan dengan lama menonton tv bagi laki-laki, dan sedikit sekali hubungannya bagi perempuan.

Rank lama penontonan tv sangat berbeda antara laki-laki dengan perempuan, yaitu antara 109-450 (=341) dengan 101-150 (=49).

Variabel Antara;

Pada dasarnya ide pemunculan variabel antara berawal dari asumsi bahwa variabel independen memiliki hubungan kausal dengan variabel dependen. Karena itu variabel ini diperlukan bilamana; 1) secara logika tidak mungkin kedua variabel berhubungan secara langsung, 2) tidak ada teori yang mendukung adanya hubungan antar keduanya, dan 3) diasumsikan ada variabel lain yang dapat digunakan untuk menghubungkan kedua variabel itu.

C. Hubungan antar Variabel

Pada hakikatnya inti dari setiap kegiatan penelitian ilmiah adalah mencari hubungan antar variabel. Hubungan yang paling dasar adalah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen (X dengan Y).

Berdasarkan penjelasan terakhir, Dr. Zamari mencatat sejumlah pola hubungan variabel independen-dependen dalam penelitian sosial;

  • Pola linear dan posisitf; hubungan yang menunjukkan perubahan pada kedua variabel dengan arah semakin membesar dan intensitas perubahan bersifat konstan.
  • Pola linear dan negatif; hubungan yang menunjukkan perubahan pada kedua variabel dengan arah yang berbeda, yang satu bertambah dan yang lain berkurang atau sebaliknya.
  • Pola kurva linear dan positif; hubungan yang menunjukkan perubahan pada kedua variabel dengan arah semakin membesar dan tetapi intensitas perubahan tidak bersifat konstan, bahkan bila sampai titik tertentu bisa berubah ke arah berlawanan.
  • Pola kurva linear dan negatif; hubungan yang menunjukkan perubahan pada kedua variabel dengan arah yang berbeda, yang satu bertambah yang lain berkurang, namun tidak bersifat konstan dan bahkan bila sampai pada titik tertentu perubahan kedua variabel menuju arah yang sama.
  • Pola posisitf power; dikatakan hubungan posisitf power apabila perubahan kedua variabel ke arah yang lebih besar dengan intensitas yang semakin lama semakin kuat atau besar.
  • Pola negatif power; suatu hubungan bersifat negatif power apabila perubahan kedua variabel ke arah yang berlawanan dan intensitas perubahan tidak konstan.

Sedikit berbeda dari pendekatan di atas, Zetterberg mengungkap beberapa pola hubungan antar variabel, yaitu;

  • hubungan determinasi, yaitu hubungan yang mengandung konotasi bahwa sesuatu akan selalu terjadi apabila ada sesuatu yang lain;
  • hubungan kesetaraan, yaitu hubungan yang apabila sesuatu konsep variabel mengandung keumungkinan setara atau tidak setara antara satu sama lain;
  • hubungan berurutan, yaitu hubungan yang menunjukkan bahwa sesuatu pasti terjadi setelah sesuatu yang lain terjadi;
  • hubungan kebersamaan, yaitu hubungan yang tidak menunjukkan dimensi waktu, sehingga dua kejadian bisa terjadi dalam waktu yang sama;
  • hubungan kecukupan, yaitu hubungan yang menunjukkan bahwa jika sesuatu terjadi maka sesuatu yang lain akan mengikuti;
  • hubungan gabungan, yaitu hubungan yang menunjukkan bahwa sesuatu akan terjadi apa ada sesuatu yang mendahului dan ditambah dengan adanya kejadian lain;
  • hubungan keharusan, yaitu hubungan yang menunjukkan bahwa untuk terjadinya sesuatu perlu adanya sesuatu yang lain muncul terlebih dahulu;
  • hubungan tambahan, yaitu hubungan yang menunjukkan perlunya beberapa alternatif untuk terjadinya sesuatu yang lain.

Dari sudut pandang yang lain masih ada jenis hubungan antar variabel yang perlu dikteahui, yaitu simetris, timbal-balik (reciprocal), dan asimetris. Dua dari tiga jenis hubungan ini masih dapat dibedakan pada beberapa kategori.

Hubungan Simetrik, terdiri dari:

  • Kedua variabel merupakan indikator untuk konsep yang sama.
  • Kedua variabel merupakan akibat dari faktor yang sama.
  • Kedua variabel berkaitan secara fungsional.
  • Hubungan yang kebetulan semata-mata.

Hubungan Asimetrik, terdiri dari:

  • Hubungan antara stimulus dan respons.
  • Hubungan antra disposisi dan respons.
  • Hubungan antara ciri individu dan disposisi atau tingkah laku.
  • Hubungan yang imanen.
  • Hubungan antara tujuan dan cara.

Hubungan timbal-balik (korelasi)

Seperti yang sudah dikemukakan, hubungan antara variabel X dan Y cukup banyak ragamnya, namun untuk mensinkronkan dengan kebutuhan pengujian secara statistik, pola-pola hubungan itu perlu disederhanakan. Secara garis besar, jenis-jenis hubungan dimaksud ada tiga kategori; korelasi, regresi dan variasi. Penjelasan mengenai ketiga jenis variabel ini akan dikemukakan pada pembahasan tentang Uji Statistik Inferensial.

D. Pengukuran Variabel

Pengukuran merupakan keniscayaan dalam penelitian ilmiah, karena pengukuran itu merupakan jembatan untuk sampai pada observasi. Penelitian selalu mengharuskan pengukuran variabel dalam relasi yang dipelajarinya. Pengukuran variabel itu ada yang mudah, seperti konsep ‘jenis kelamin’, dan ada yang sulit, seperti konsep inteligensi.

Pengukuran variabel merupakan tahap awal dari kegiatan pengukuran dalam penelitian. Tujuan pengukuran variabel ini baru pada tahap menjawab pertanyaan “bagaimana cara untuk mengukur variabel tersebut”? Selanjutnya muncul pertanyaan lanjutan; “apa yang diukur” atau “bagaimana cara merubah konsep, dan “apa alat ukurnya”.

Mengukur adalah sebuah proses kuantifikasi, karena itu setiap kegiatan pengukuran berkaitan dengan jumlah, dimensi atau taraf dari sesuatu obyek/gejala yang diukur. Hasil dari pengukuran itu biasanya dilambangkan dalam bentuk bilangan.

Posedur pengukuran variabel dimulai dari pembuatan definisi operasional konsep variabel. Kerlinger mengungkapkan, bahwa definisi operasional itu melekatkan arti pada suatu konsep variabel dengan cara menetapkan kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang perlu untuk mengukur suatu konsep variabel itu. Atau dengan ungkapan lain, definisi operasional merupakan spesifikasi kegiatan peneliti dalam mengukur suatu variabel atau memanipulasaikannya. Suatu contoh definisi operasional yang sederhana (kasar) dari konsep ‘inteligensi’ adalah skor yan dicapai pada tes intelegensi X.

Ada dua cara pembuatan definisi operasional, terukur dan eksprimental. Definisi operasional terukur memaparkan cara pengukuran suatu variabel, sedangkan definisi operasional eksperimental menyebutkan rincian-rincian hal yang dilakukan peneliti dalam memanipulasi sesuatu variabel. Contoh di atas adalah definisi oprerasional terukur, sedangkan contoh definisi eksperimental untuk konsep ‘penguatan’ (reinforcement),dapat diberikan dengan menyatakan secara rinci bagaimana subyek-subyek diberi penguat (imbalan) dan tidak diberi penguat (tidak diberi imbalan) karena melaksanakan tingkah laku tertentu.

Pustaka Acuan

Fred N. Kerlinger, Foundation of Behavioral Research, terjemahan Drs. Landung R. Simatupang, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998).

Koentjaraningrat (ed), Metode-metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1981).

Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (ed), Metode Penelitian Survai, (Jakarta: LP3ES, 1989).

Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988).

Suharsini Arikunto, Manjemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990)

Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993)

Zamari, Pengantar Pengembangan Teori Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992).

Diambil dari tulisan: Parluhutan Siregar

END—————————————————————————————————-

Adalah konsep yang bervariasi atau konsep yang memiliki nilai ganda atau suatu factor yang jika diukur akan menghasilkan nilai yang bervariasi.
Variabel juga dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang yang atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau suatu objek dengan objek yang lain.

MACAM-MACAM VARIABEL

1. Variabel Prediktor atau Antiseden, variable Bebas atau variable Stimulus.
Adalah variable yang menyebabkan timbulnya variable terikat.

2. Variabel Terikat atau Dependent atau variable Output atau Kriteria atau Konsekuen.
Adalah variable yang mempengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variable bebas.

3. Variabel Moderator
Adalah variable yang mempengaruhi (bisa memperkuat atau memperlemah) hubungan antara variable bebas dan variable terikat.

4. Variabel Kontrol
Adalah variable yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variable bebas terhadap variable terikat tidak dipengaruhi oleh factor luar yang tidak diteliti.

5. Variabel Intervening / Antara
Adalah variable yang dipengaruhi leh variable bebas kemudian mempengaruhi variable variable terikat, jadi variable bebas mempengaruhi variable terikat melalui variable antara

6. Variabel Anteseden
Variabel ini mempunyai persamaan dengan variable antar yaitu mempunyai hasil yang lebih mendalam dari penelusuran.

Berdasarkan dari hasil pengukuran terdapat 4 tingkat variable, yaitu :

1. Variabel Nominal :
Yaitu variable yang hanya mampu membedakan cirri atau sifat antara unti yang satu dengan yang lainnya, dalam variable ini tidak mengenal jenjang atau bertingkat.Variabel Nominal dapat di kategorikan :
• Var. Nominal Dikotomus, dan
• Var. Non Dikotomus (non kategori)

2. Variabel Nominal :
Yaitu variable yang tersusun menurut jenjang dalam atribut tertentu . Pada variable ini menunjukkan urutan atau bertingkat, ada gradasi atau peringkat.

3. Variabel Interval :
Untuk data interval angka yang digunakan adalah nilai yang dapat di dentikkan dengan bilangan riil, oleh karena itu maka angka dalam data interval dapat dioperasikan dengan operasi hitung.

4. Variabel Rasio :
Variabel yang dalam kuantifikasinya mempunyai nilai nol mutlak.

Tag: VariabelPenelitianJenisHubunganPengukuran

Tulisan ini dikirim pada pada Juni 10, 2008 1:06 pm dan di isikan dibawah Uncategorized. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. r Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.

By balian86

PENGERTIAN METODE dan PENGEMBANGAN PEMANFAATAN TEKNOLGI IMFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENDIDIKAN.

 

PENGERTIAN METODE

 

A.1 Pengertian Metode

Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah,maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan.[1]

Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru.

Metode belajar yang mampu membangkitkan motif, minat atau gairah belajar murid dan menjamin perkembangan kegiatan kepribadian murid adalah metode diskusi. Metode diskusi merupakan suatu cara mengajar yang bercirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pertanyaan atau problem. Di mana para anggota diskusi dengan jujur berusaha mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama.[2] Dalam metode diskusi guru dapat membimbing dan mendidik siswa untuk hidup dalam suasana yang penuh tanggung jawab, setiap orang yang berbicara atau mengemukakan pendapat harus berdasarkan prinsip-prinsip tertentu yang dapat dipetanggungjawabkan. Jadi bukan omong kosong, juga bukan untuk menghasut atau mengacau suasana. Menghormati pendapat orang lain, menerima pendapat yang benar dan menolak pendapat yang salah adalah ciri dari metode yang dapat dighunakan untuk mendidik siswa berjiwa demokrasi dan melatih kemampuan berbicara siswa. Agar suasana belajar siswa aktif dapat tercapai, maka diskusi dapat menggunakan variasi model-model pembelajaran menarik dan memotivasi siswa. Dari sekian banyak model pembelajaran yang ada, model pembelajaran jigsaw cocok untuk digunakan dalam metode diskusi. Model pembelajaran jigsaw membantu murid untuk mempelajari sesuatu dengan baik dan sekaligus siswa mampu menjadi nara sumber bagi satu sama yang lain.

 

 

 

PENGERTIAN DAN PENGEMBANGAN  PEMANFAATAN TEKNOLGI IMFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENDIDIKAN.

 

Pengertian  Imformasi Dan Komunikasi.

Imformasi adalah fakta atau data yang akurat yang meupakan hasil dari froses pengolahan data. Komponen imformasi meliputi :

-          Absolute imfomasi.

-          Philosophic imfomasi

-          Subtitusionl impormasi

-          Subjectib imformasi

-          Cultur imfomasi

 

Teknolgi imformasi adalah serangkain tahapan penanganan imformasi yang meliputi penciptaan sumber-sumber imformasi, pemelihara saluran imformasi,seleksi dan tranmisi impormasi, penerimaan impormasi secara seklektif,penyimpanan dan penelusuan imomasi dan pengguaan impormasi.

Teknolgi imformasi menyakup system-sistem komunikasi seperti satlit ,siaran langsung,kabel,itraktif dua arah,penyiaran beratena rendah,kumputer,Televisi teramsuk vido disk dan raido tape caseet.

Komunikasi berasal dari bahasa latin yakitu: “comunicare” yang artinya yang memberi taukan atau milik bersama. Komunikasi merupakan suatu peruses pemindahan lambing-lambang yang mengandung makna .

Proses komunikasi di bedakan menjadi dua macam , yakitu:

-          Proses perimer.

-          Proses sekunder.

Revolusi perkembangan komunikasi meliputi dalam hal berbicara,ditemukanya tulisan,  penemuaan percetakan dan hubungan jarak jauh. Teknologi merupakan wujud hasil ciptaan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan untuk berhubungan antara satu dengan yang lain dengan cepat , jelas dan menjangkau.

Karaktersistik komunikasi meliputi :

-          Jaringan pengolahan data yang memungkinkan orang berbelanja cukup dengan menekan tombol-tombol computer di rumah masing-masing.

-          baik impormasi dan sitem penelusuran yang memungkinkan  orang pemakainya menelusuri impormasi yang di temukan.

-          Sistem Faksimili yang memungkinkan pengiriman dukumen secara electeronik.

-          System teks yang menyediakan imformasi mengenai segala rupa kebutuhan.

-          Tersedianya keluesan dan kecepatan memilih diantara berbagai mitode ,dan alat untuk melayani kebutuhan manusia dalam komunikasi.

-          Kemungkinan mengombinasikan  Teknologi,mitode,dan system-system yang berbeda dan terpisah selama ini.

Perkembangan teknologi imformasi dan komunikasi .

Perkembangan TIK telah memberika pengaruh dunia pendidikan khusunya dalam dunia dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg ( 2001 ) dengan berkembangannya penggunaan TIK . ada 5 pergeseran dalam proses pembelajaran yakitu:

  1. Dari pelatih ke penampilan.
  2. Dari ruang kelas kemana dan kapan saja.
  3. Dari kertas ke on lien (saluran).
  4. Dari fasilitas fisik ke fasilitas kerja.
  5. Dari waktu siklus ke waktu yang nyata.

Komunikasi sebgai media pendidikan yang dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi sperti telpon,computer,internet,e-email dan sebgainya.guru dapat meberika layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa demikian pula sebaliknya melalui Cyber space atau ruang maya dengan menggunkan computer  atau niternet.suatu bentuk TIK adalah internet yang berkembang pesat di pengunjung abad 20 an dan di abang abad 21. Intrnet merupkan salah satu instrument dalam era globlalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi trasnparan dan terhubung sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas wilayah atau kembangsaan. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang di tandai dengan intraksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.

Perkembangan computer dalam bidang  pendidikan sebenarnya merupakan mata rantai seejarah teknologi pembelajatran.sejarah teknologi pembelajaran inisendiri  merupakan kreasi berbgai ahli dalam bidang terkait yang pada dasarnya ingin berupaya dalam mewujudkan ide-ide praktis dalam merupakan perisip didektik, yakitu : pelajaran yang menekankanperbedaan individual baik dalam kemampuan maupun kecepatan.

Sesuiai dengan paparan di atas dapat diramalakan atau dapat disimpulkan dimana utuk masa yang akandatang isi tas anak sekolah berupa :

  1. Computer note book dengan akses internet tanpa kabel yang bermuatan materi-materi pembelajaran yang berupa bahan bacaan , materi untuk dilihat, di dengar dan dilengkapi dengan kamera digitalserta perekam suara.
  2. Jam tangan di lengkapi dengan data peribadi,uang elekteronik,kode skuriti,untuk masuk rumah kalkulator sbb.
  3. Vidphone bentuk saku dengan perankat lunak ,akses internet, permainan, music, dan TV.
  4. Alat-alat music .
  5. Alat-alat olahraga.
  6. Dan bingkisan untuk makan siang.

 

Pemanfaatan TIK Dalam Pendidikan.

 

Pemanfaatan TIK dalam dunia penddikan yaitu perkembangan TIK yang sangat pesat sejak lama telah diman faatkan di dalam dunia pendidikan seperti penemuan kertas , mesin cetak, radio, video tape recorde, flim, TV, overhed projector (OHP) dan computer baik dalam bentuk CAI CBI dan E – learning .

Pada hakekatnya alat-alat tersebut dibuat husus untuk keprluan pendidikan , akan tetapi alat-alat tersebut ternyata dapat dimanfaatkan bahkan dapat meningkatkan efektivitas, efisensi dan kualitas hasil belajar.

Hal yang paling mutahir adalah berkembang Cyber Taeching atau pengajaran maya yaitu : peruses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan Internet . istilah yang popular saat ini adalah E – earning yaitu suatu model pembelajaran yang menggunkan media Teknologi komunikasi dan imformasi khusunya internet.

Menurut Rosenberg E – earning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampain pembelajaran dalam jangkauan luas berdasarkan tiga criteria, yaitu :

  1. E – earning merupakan jarring dengan kemampuan  untuk memperbaruhi , menyimpan mendisteribusikan , dan membagi materi ajar atu imformasi .
  2. Pengiriman sampai ke pengguna trakhir melalui computer dengan menggunakan teknologi internet yang standar.
  3. Mempokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik para digma pembelajaran tradisional.

Saat ini E- earning telah berklembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIKseperti :

-          CBT ( kcomputer basis training )

-          CBI ( computer basis instruction )

-          CAI ( computer Asisten Interuction )

CBI adalah pembelajaran berbasis computer  yang dalam pemamfaatanya terdapat 4 model yaitu : derill and practice,tutorial dan games instruction.CBI bersipat individual learning dan master learning ( belajar tuntas ) CBI dilaksana pada laboratorium computer yang ada di sekolah.

CAI adalah berbagi jenis aplikasi computer dalam pendidikan umumnya dikenal sebagai pelajaran bantuan computer.

Untuk dapat memamfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran,ada 3 hal yang harus diwujudkan yaitu :

  1. Siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas,sekolah dan lembaga pendidikan.
  2. Harus tersedia materi yang berkualitas , bermakna dan dukungan cultural bagi siswa dan guru.
  3. Guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam mengguanakan alat-alat dan sumber digital untuk membatu siswa agar tercapai standar akademik.

Sejalan dengan perkembangan TIK ,maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional pembelajaran di pandang sebgai:

  1. Sesuatu yang yang sulit dan berat
  2. Upaya mengisi kekurangan  siswa
  3. Suatu proses transfer dan penerimaan informasi
  4. Proses individual dan solider
  5. Kegiatan yang dilakukan  dengan menjabarkan materi pembelajaran kepada satu satuan kecil terisolasi
  6. Suatu proses linear

Pandangan pembelajaran sejalan dengan perkembangan TIK, yaitu sebagai berikut:

  1. Proses  alami
  2. Proses social
  3. Proses aktif pasif
  4. Proses linear dan tidak linear
  5. Proses yang berlangsung intergrative dan konteksual
  6. Aktivitas yang yang berbasis pda model kekutan,kecakapan,minat dan kultur siswa
  7. Aktivitas yang hanya dinilai berdasarkan pemenuhan tugas,perolehan hasil, dan pemecahan masalahnya baik individual maupun kelompok.

Hal itu telah mengubah peran guru  dan siswa dalam pembelajan,peran guru telah berubah dari:

  1. Dari sebagai penyampaian pengetahuan,menjadi fasilitator pembelajaran,pelatih                                 ,kolaborator,navigator pengetahuan dan mitra belajar.
  2. Dari mengendalikan mengarahkan semua aspek pembelajaran,menjadi lebih banyak memberikan alternative dan tanggung jawabkepada siswa dalam proses pembelajaran.

Peran siswa telah berubah yaitu dari:

  1. Penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran
  2. Dari mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dari berbagai pengetahuan
  3. Dari pembelajaran sebagai aktifitas individual atau solider menjadi pembelajaran berkolaborasi dengan siswa lain.

 

 


hidup itu penuh dengan tantangan

By balian86

Strategi Pengembangan Pembelajaran Berbasis TIK

Browse » Home » Model Pembelajaran »

Strategi Pengembangan Pembelajaran Berbasis TIK

Indonesia sebagai negara berpopulasi tertinggi ke-4 tentunya memiliki tantangan yang nyaris yang sama dengan negara China dan India. Problem kesehatan dan pendidikan selalu dijadikan parameter untuk mengukur kesejahteraan rakyat di suatu Negara. Indonesia dengan populasi 247 juta dimana diantaranya terdapat 51 juta siswa dan 2,7 juta guru di lebih dari 293.000 sekolah, serta 300.000 dosen di lebih dari 2.700 perguruan tinggi yang tersebar di 17.508 pulau, 33 provinsi, 461 kabupaten/kota, 5.263 Kecamatan, dan 62.806 desa. Tentunya juga memiliki tantangan khusus di bidang pendidikan.
Beberapa tantangan diantaranya adalah: masih banyaknya anak usia sekolah yang belum dapat menikmati pendidikan dasar 9 tahun: angka partisipasi anak berusia sekolah 7-12 tahun untuk bersekolah masih dibawah 80% (APK SMP 85,22 dan APK SMA 52,2). Tantangan berikutnya adalah (1) tidak meratanya penyebaran sarana dan prasarana pendidikan/sekolah (sebagai contoh: tidak semua sekolah memiliki saluran telepon, apalagi koneksi internet): Kota vs Desa/Daerah Terpencil/Daerah Perbatasan, Indonesia Barat vs Indonesia Timur. (2) Tidak seragamnya dan masih rendahnya mutu pendidikan di setiap jenjang sekolah yang ditandai dengan tingkat kelulusan UN yang masih rendah, demikian pula nilai UN yang diperoleh siswa. (3) Rendahnya kualitas kompetensi tenaga pengajar, dimana dari jumlah guru yang ada 2.692.217, ternyata yang memenuhi persyaratan (tersertifikasi) hanya 727.381 orang atau baru 27% dari total jumlah guru di Indonesia. Dan yang tidak kalah penting adalah (4) rendahnya tingkat pemanfaatan TIK di sekolah yang telah memiliki fasilitas TIK (utilitas rendah), disisi lain tidak semua sekolah mempunyai sarana TIK yang memadai.
Sejumlah perubahan paradigma di dalam proses pembelajaran perlu kita lakukan agar kita siap memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Berikut ini adalah paradigma yang perlu segera diubah dan secepatnya menyesuaikan dengan perkembangan sistem, infrastruktur dan konten pembelajaran berbasis TIK:

Pada kesempatan ini pula perlu sama-sama kita luruskan kembali bahwa TIK bukan hanya komputer dan internetnya, TIK juga melingkupi media informasi seperti radio dan televisi serta media komunikasi seperti telepon maupun telepon seluler dengan SMS, MMS, Music Player, Video Player, Kamera Foto Digital, dan Kamera Video Digital-nya serta e-Book Reader-nya. Jadi banyak media alternatif yang dapat dipilih oleh pengajar untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan. TIK yang termanfaatkan dengan baik dan tepat di dalam pendidikan akan: memperluas kesempatan belajar, meningkatkan efisiensi, meningkatkan kualitas belajar, meningkatkan kualitas mengajar, memfasilitasi pembentukan keterampilan, mendorong belajar sepanjang hayat berkelanjutan, meningkatkan perencanaan kebijakan dan manajemen, serta mengurangi kesenjangan digital.
Pemanfaatan TIK
Menurut pemanfaatannya, TIK di dalam pendidikan dapat dikategorisasikan menjadi 4 (empat) kelompok manfaat.
Pertama, TIK sebagai Gudang Ilmu Pengetahuan, di kelompok ini TIK dimanfaatkan sebagai sebagai Referensi Ilmu Pengetahuan Terkini, Manajemen Pengetahuan, Jaringan Pakar Beragam Bidang Ilmu, Jaringan Antar Institusi Pendidikan, Pusat Pengembangan Materi Ajar, Wahana Pengembangan Kurikulum, dan Komunitas Perbandingan Standar Kompetensi.
Kedua, TIK sebagai Alat bantu Pembelajaran, di dalam kelompok ini sekurang-kurangnya ada 3 fungsi TIK yang dapat dimanfaatkan sehari-hari di dalam proses belajar-mengajar, yaitu (1) TIK sebagai alat bantu guru yang meliputi: Animasi Peristiwa, Alat Uji Siswa, Sumber Referensi Ajar, Evaluasi Kinerja Siswa, Simulasi Kasus, Alat Peraga Visual, dan Media Komunikasi Antar Guru. Kemudian (2) TIK sebagai Alat Bantu Interaksi Guru-Siswa yang meliputi: Komunikasi Guru-Siswa, Kolaborasi Kelompok Studi, dan Manajemen Kelas Terpadu. Sedangkan (3) TIK sebagai Alat Bantu Siswa meliputi: Buku Interaktif , Belajar Mandiri, Latihan Soal, Media Illustrasi, Simulasi Pelajaran, Alat Karya Siswa, dan media Komunikasi Antar Siswa.
Ketiga, TIK sebagai Fasilitas Pembelajaran, di dalam kelompok ini TIK dapat dimanfaatkan sebagai: Perpustakaan Elektronik, Kelas Virtual, Aplikasi Multimedia, Kelas Teater Multimedia, Kelas Jarak Jauh, Papan Elektronik Sekolah, Alat Ajar Multi-Intelejensia, Pojok Internet, dan Komunikasi Kolaborasi Kooperasi (Intranet Sekolah). dan
Keempat, TIK sebagai Infrastruktur Pembelajaran, di dalam kelompok ini TIK kita temukan dukungan teknis dan aplikatif untuk pembelajaran – baik dalam skala menengah maupun luas – yang meliputi: Ragam Teknologi Kanal Distribusi, Ragam Aplikasi dan Perangkat Lunak, Bahasa Pemrograman, Sistem Basis Data, Komputer Personal, Alat-Alat Digital, Sistem Operasi, Sistem Jaringan dan Komunikasi Data, dan Infrastruktur Teknologi Informasi (Media Transmisi).
Berangkat dari optimalisasi pemanfaatan TIK untuk pembelajaran tersebut kita berharap hal ini akan memberi sumbangsih besar dalam peningkatan kualitas SDM Indonesia yang cerdas dan kompetitif melalui pembangunan masyarakat berpengetahuan (knowledge-based society). Masyarakat yang tangguh karena memiliki kecakapan: (1) ICT and media literacy skills, (2) critical thinking skills, (3) problem-solving skills, (4) effective communication skills, dan (5) collaborative skills yang diperlukan untuk mengatasi setiap permasalahan dan tantangan hidupnya.
Peran Guru & Siswa
Di dalam proses belajar-mengajar tentunya ada subjek dan objek yang berperan secara aktif, dinamik dan interaktif di dalam ruang belajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Guru & Siswa sama-sama dituntut untuk membuat suasana belajar dan proses transfer of knowledge–nya berjalan menyenangkan serta tidak membosankan. Oleh karena itu penataan peran Guru & Siswa di dalam kelas yang mengintegrasikan TIK di dalam pembelajaran perlu dipahami dan dimainkan dengan sebaik-baiknya.
Kini di era pendidikan berbasis TIK, peran Guru tidak hanya sebagai pengajar semata namun sekaligus menjadi fasilitator, kolaborator, mentor, pelatih, pengarah dan teman belajar bagi Siswa. Karenanya Guru dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar kepada siswa untuk mengalami peristiwa belajar. Dengan peran Guru sebagaimana dimaksud, maka peran Siswa pun mengalami perubahan, dari partisipan pasif menjadi partisipan aktif yang banyak menghasilkan dan berbagi (sharing) pengetahuan/keterampilan serta berpartisipasi sebanyak mungkin sebagaimana layaknya seorang ahli. Disisi lain Siswa juga dapat belajar secara individu, sebagaimana halnya juga kolaboratif dengan siswa lain.
Untuk mendukung proses integrasi TIK di dalam pembelajaran, maka Manajemen Sekolah, Guru dan Siswa harus memahami 9 (sembilan) prinsip integrasi TIK dalam pembelajaran yang terdiri atas prinsip-prinsip:
[1] Aktif: memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.
[2] Konstruktif: memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
[3] Kolaboratif: memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.
[4] Antusiastik: memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
[5] Dialogis: memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
[6] Kontekstual: memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau case-based learning”
[7] Reflektif: memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).
[8] Multisensory: memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000).
[9] High order thinking skills training: memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung juga meningkatkan ”ICT & media literacy” (Fryer, 2001).
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka bukti otentik terjadinya pembelajaran berbasis TIK dapat kita cermati dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun dan implementasinya yang dilaksanakan oleh setiap guru mata pelajaran di sekolah. RPP yang mengintegrasikan TIK di dalam pembelajaran dapat disusun melalui 2 (dua) pendekatan, yaitu pendekatan idealis dan pendekatan pragmatis.
Pertama, Pendekatan Idealis dapat dimulai dengan menentukan topik, kemudian menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai; dan menentukan aktifitas pembelajaran dengan memanfaatkan TIK (seperti modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous lainnya) yang relevan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
Kedua, Pendekatan Pragmatis dapat diawali dengan mengidentifikasi TIK (seperti buku, modul, LKS, program audio, VCD/DVD, CD-ROM, bahan belajar on-line di internet, atau alat komunikasi sinkronous dan asinkronous lainnya) yang ada atau mungkin bisa dilakukan atau digunakan, kemudian memilih topik-topik apa yang bisa didukung oleh keberadaan TIK tersebut, dan diakhiri dengan merencanakan strategi pembelajaran yang relevan untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator capaian hasil belajar dari topik pelajaran tersebut.
Adapun strategi yang dapat dipilih sesuai dengan kedua pendekatan tersebut adalah strategi: Resources-based learning (pembelajaran berbasis sumber daya), Case/problem-based learning (pembelajaran berbasis permasalahan/kasus sehari-hari), Simulation-based learning (pembelajaran berbasis simulasi), dan Colaborative-based learning (pembelajaran berbasis kolaborasi).
Peran TVE & Jardiknas
Sebagaimana kita ketahui bersama, tantangan terbesar negara kita dalam mencerdaskan bangsa adalah akses setiap masyarakat Indonesia ke sumber-sumber pengetahuan dan informasi pendidikan. Oleh karena itulah Depdiknas berupaya menjawab tantangan tersebut dengan inisiatif yang penuh inovasi melalui penyelenggaraan siaran TV Edukasi yang diresmikan pada tahun 2004 ini merupakan televisi yang mengkhususkan pada siaran pendidikan, termasuk program pembelajaran. Kemudian pada tahun 2006, Depdiknas menggelar Jardiknas (Jejaring Pendidikan Nasional) yang merupakan jaringan TIK nasional terbesar yang dimanfaatkan oleh Depdiknas untuk keperluan komunikasi data administrasi, konten pembelajaran, serta informasi dan kebijakan pendidikan.
TVE yang kini telah memiliki saluran 2 untuk Guru ini memiliki pola siaran: Informasi yang berisikan materi: News, Pola siaran yang berisikan Kebijakan, Profil Guru, dan sebagainya; Tutorial (Pendidikan Formal) yang berisikan materi: pembelajaran berdasarkan kurikulum Program SD, SMP, SMA, SMK, PJJ S-1 PGSD konsorsium dan Program S1 PGSD Non Konsorsium; dan Pengayaan yang berisikan materi: pengkayaan dan materi yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Guru.
Sedangkan Jardiknas saat ini memiliki 1.072 node (simpul) Zona Kantor dan Perguruan Tinggi yang tersebar di 33 provinsi dan 456 kabupaten/kota. Jardiknas yang berpusat di NOC Pustekkom Ciputat Banten dan NOC Telkom Karet Jakarta ini difasilitasi bandwidth intranet, internet domestik dan internet internasional yang cukup memadai untuk mendukung e-administrasi dan e-pembelajaran di Indonesia. Dalam waktu dekat – dalam rangka memenuhi Inpres nomor 5 tahun 2008 – Depdiknas akan mengembangkan Jardiknas Zona Sekolah untuk 15.000 sekolah dan Jardiknas Zona Perorangan untuk 7.943 tenaga pengajar yang memiliki laptop. Media koneksi Jardiknas Zona Sekolah berorientasi static internet (fixed), sedangkan Jardiknas Zona Perorangan berorientasi kepada mobile internet.
Konten
Kita memahami bahwa infrastruktur semegah apapun tidak akan berarti sama sekali jika tiada konten bermanfaat di dalamnya. Setiap hari pengguna internet berselancar di dunia maya hanya untuk mencari konten yang benar-benar diinginkannya secara instan. Baik didorong oleh rasa keingintahuan terhadap suatu fenomena maupun sekedar membuktikan sebuah informasi.
Demikian halnya konten pendidikan yang disajikan melalui TVE maupun disediakan melalui Jardiknas. Beberapa konten e-learning yang selama ini cukup mendukung pembelajaran berbasis TIK adalah: Bimbingan Belajar Online, Bank Soal Online, Uji Kompetensi Online, Smart School, Telekolaborasi, Digital Library, Research Network, dan Video Conference PJJ.
Salah satu konten yang cukup menyita perhatian publik akhir-akhir ini adalah program buku murah yang dikemas di dalam aplikasi Buku Sekolah Elektronik (BS) yang dapat diakses melalui: bse.depdiknas.go.id. BSE merupakan langkah reformasi di bidang perbukuan dimana Depdiknas telah membeli Hak Cipta buku-buku teks pelajaran SD, SMP, SMA, dan SMK tersebut. Softcopy buku-buku teks pelajaran tersebut didistribusikan melalui web BSE agar guru atau masyarakat dapat mengakses, mengunduh, mencetak, mendistribusikan, atau menjualnya sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) dimana saja dan kapan saja. Selain BSE versi Online yang dapat diakses melalui internet, Depdiknas juga telah menyediakan dan mendistribusikan BSE versi Offline yang dikemas di dalam cakram padat DVD.
Demikian strategi pengembangan pembelajaran berbasis TIK yang terus-menerus dikembangkan dan didukung oleh Depdiknas melalui sejumlah inisiatif dan inovasi di bidang teknologi pembelajaran, teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Kita dapat berharap suatu saat nanti TVE dan Jardiknas dapat menjadi Pusat Konten Pembelajaran yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja melalui koneksi Kabel, Nirkabel & Satelit

 

By balian86

PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
MENDESKRIPSIKAN PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM KEHIDUPAN SEHARI – HARI. Oleh : MUHIDIN

PENDAHULUAN

Istilah teknologi informasi mulai populer di akhir tahun 70-an. Pada masa sebelumnya istilah teknologi informasi biasa disebut teknologi komputer atau pengolahan data elektronis (electronic data processing). Teknologi informasi didefinisikan sebagai teknologi pengolahan dan penyebaran data menggunakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), komputer, komunikasi, dan elektronik digital.

Teknologi Informasi dan Komunikasi merupakan elemen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peranan teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Teknologi informasi telah menjadi fasilitas utama bagi kegiatan berbagai sector kehidupan dimana memberikan andil besar terhadap perubahan –perubahan yang mendasar pada struktur operasi dan manajemen organisasi, pendidikan, trasportasi, kesehatan dan penelitian. Oleh karena itu sangatlah penting peningkatan kemampuan sumber daya manusia

(SDM) TIK, mulai dari keterampilan dan pengetahuan, perencanaan, pengoperasian, perawatan dan pengawasan, serta peningkatan kemampuan TIK para pimpinan di lembaga pemerintahan, pendidikan, perusahaan, UKM (usaha kecil menengah) dan LSM. Sehingga pada akhirnya akan dihasilkan output yang sangat bermanfaat baik bagi manusia sebagai individu itu sendiri maupun bagi semua sector kehidupan.

PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN

KOMUNIKASI

Peningkatan kualitas hidup semakin menuntut manusia untuk melakukan berbagai aktifitas yang dibutukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya.

Beberapa penerapan dari Teknologi Informasi dan Komunikasi antara lain dalam perusahaan, dunia bisnis, sektor perbankan, pendidikan, dan kesehatan.

A. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perusahaan Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi banyak digunakan para usahawan. Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku usaha merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja. Penerapan Teknologi Informasi dan

Komunikasi menyebabkan perubahan bada kebiasaan kerja. Misalnya penerapan Enterprice Resource Planning (ERP). ERP adalah salah satu aplikasi perangkat lunak yang mencakup sistem manajemen dalam perusahaan, cara lama kebanyakan

B. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Bisnis Teknologi Informasi dan Komunikasi dimanfaatkan untuk perdagangan secara elektronik atau dikenal sebagai E-Commerce. E-Commerce adalah perdagangan menggunakan jaringan komunikasi internet.

C. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perbankan Dalam dunia perbankan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah diterapkannya transaksi perbankan lewat internet atau dikenal dengan Internet Banking. Beberapa transaksi yang dapat dilakukan melalui Internet Banking antara lain transfer uang, pengecekan saldo, pemindahbukuan, pembayaran tagihan, dan informasi rekening.

D. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan Teknologi pembelajaran terus mengalami perkembangan seirng perkembangan zaman. Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari sering dijumpai kombinasi teknologi audio/data, video/data, audio/video, dan internet. Internet merupakan alat komunikasi yang murah dimana memungkinkan terjadinya interaksi antara dua orang atau lebih. Kemampuan dan karakteristik internet memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar jarak jauh (E-Learning) menjadi ebih efektif dan efisien sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik.

E. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kesehatan Sistem berbasis kartu cerdas (smart card) dapat digunakan juru medis untuk mengetahui riwayat penyakit pasien yang datang ke rumah sakit karena dalam kartu tersebut para juru medis dapat mengetahui riwayat penyakit pasien. Digunakannya robot untuk membantu proses operasi pembedahan serta penggunaan komputer hasil pencitraan tiga dimensi untuk menunjukkan letak tumor dalam tubuh pasien.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. SARAN

Semakin cepatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi menuntut manusia untuk mencoba membuat perubahan di segala jenis kehidupannya yang tujuannya adalah mendapatkan hasil maupun kondisi yang terbaik yang dapat dicapai. Banyaknya sektor kehidupan yang ada diharapkan membuka inovasi baru bagi kita untuk menciptakan sesuatu yang baru untuk kemajuan peradaban manusia. Namun semua inovasi tersebut hendaknya harus dibatasi oleh aturan hukum negara dan budaya bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Darmawan Ady Prabowo,S.Kom
Diposkan oleh Penerapan teknologi informasi dan komunikasi di 12.05 Link ke posting ini 0 komentar
PENINGKATAN PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
PENINGKATAN PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI April 3, 2009

PENDAHULUAN

Pembangunan Teknologi Informasi Perusahaan dilakukan secara bertahap sebelum sebuah sistem holistik atau menyeluruh selesai dibangun, hal tersebut disesuaikan dengan kekuatan sumber daya yang dimiliki. Dalam penerapannya rencana strategis Teknologi Informasi senantiasa diselaraskan dengan Rencana Perusahaan, agar setiap penerapan Teknologi Informasi dapat memberikan nilai bagi Perusahaan. Mengacu kepada Arsitektur Teknologi Informasi Perusahaan pembangunan, penerapan Teknologi Informasi yang dilakukan
dikategorikan sebagai berikut :
• Aplikasi Teknologi Informasi yang menjadi landasan dari berbagai aplikasi lain yang ada di dalam Perusahaan antara lain sistem operasi, basis data, network management dan lain-lain.
• Aplikasi yang sifatnya mendasar (utility) yaitu aplikasi Teknologi Informasi yang dipergunakan untuk berbagai urusan utilisasi sumber daya Perusahaan anatara lain sistem penggajian, sistem akuntansi & keuangan dan lain-lain.
• Aplikasi Teknologi Informasi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik Perusahaan terutama yang berkaitan dengan proses penciptaan produk/jasa yang ditawarkan Perusahaan antara lain Aplikasi Properti, Aplikasi Forwarding dan Aplikasi Pergudangan.

Pemanfaatan teknologi informasi & komunikasi

• Perusahaan sudah pemanfaatkan Teknologi Informasi dalam menunjang kegiatan operasional dan menunjang bisnis utama yaitu
Properti dan Logistik.
• Perusahaan sudah memiliki aplikasi Teknologi Informasi yang terintegrasi, didukung sistem jaringan komputer transaksi terlaksana secara online dari Kantor Pusat hingga Unit Usaha sehingga dapat mengefisiensikan kegiatan operasional Perusahaan.

Pemanfaatan Teknologi Informasi yang sudah dilakukan dalam menunjang kegiatan operasional Perusahaan meliputi bidang-bidang sebagai berikut :
1. Sistem Informasi Akuntansi dan Keuangan
2. Sistem Informasi Properti
3. Sistem Informasi Forwarding.
4. Sistem Informasi Pergudangan.
5. Sistem Informasi SDM
6. Sistem Informasi Poliklinik
7. Aplikasi Audit Internal (Pengawasan SPI)
8. Sistem Persediaan ATK/Cetakan
9. Sistem Inventarisasi Peralatan Kantor
10. Sistem Electronic Data Interchange (EDI) untuk pengiriman dokumen PEB
11. Website dan intranet.
USULAN PENINGKATAN PERAN TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI

Kegiatan jasa pelayanan logistik mengintegrasikan usaha pelayanan forwarding dan pergudangan baik gudang berikat maupun gudang umum serta depo kontainer ke dalam mata rantai sistem total logistik (Total Logistik System), meliputi :
• Jasa pengurusan dokumen ekspor/impor;
• Jasa angkutan barang;
• Jasa bongkar muat; dan
• Jasa sewa gudang/lapangan dan depo kontainer.

Peran teknologi informasi dibidang jasa logistik.
Teknologi Informasi sebagai tulang punggung manajemen supply chain, konsep manajemen supply chain tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi informasi (TI). Bahkan, kalau dilihat dari sejarahnya, justru kemajuan teknologi inilah yang melahirkan prinsip – prinsip dasar dari manajemen supply chain. Alasannya cukup sederhana, yaitu karena esensi dari pengintegrasian berbagai proses dan entitas bisnis di dalam domain manajemen supply chain adalah melakukan share terhadap informasi yang dimiliki dan dihasilkan oleh berbagai pihak .

A. Perspektif Teknis
Dilihat dari sisi teknis, ada dua fungsi dari teknologi informasi yang harus dipenuhi,yaitu:
1. Fungsi penciptaan
Aspek-aspek yang harus dapat dilakukan oleh teknologi informasi adalah sebagai berikut :
• Teknologi informasi harus mampu menjadi sarana untuk mengubah fakta-fakta atau kejadian-kejadian sehari-hari yang dijumpai dalam bisnis perusahaan ke dalam format data kuantitatif. Ada dua cara umum yang biasa dipergunakan, yaitu secara manual dan otomatis. Yang dimaksud dengan manual adalah dilibatkannya seorang user untuk melakukan data entry terhadap fakta-fakta relevan didalam aktivitas sehari-hari yang dipandang perlu direkam. Misalnya catatan pengeluaran keuangan, keluhan pelanggan, pesanan konsumen, pengeluaran barang dari gudang dan lain-lain. Sedangkan yang dimaksud dengan cara otomatis disini adalah jika berbagai teknologi dipergunakan sebagai alat untuk merekam fakta dan mengubahnya menjadi data tanpa harus melibatkan unsur manusia sebagai data entry. Contohnya adalah penggunaan barcode untuk kode barang, smart card untuk data pelanggan, scanner untuk mencatat kendaraan dipintu gerbang kawasan.
• Teknologi harus mampu mengubah data mentah yang telah dikumpulkan menjadi informasi yang relevan bagi setiap penggunanya yaitu manajemen, staf, konsumen, mitra bisnis,
pemilik perusahaan, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
• Tugas teknologi informasi selanjutnya adalah mengolah informasi yang diperoleh dengan berbagai konteks organisasi yang ada menjadi sebuah knowledge yang dapat diakses oleh semua pihak di dalam perusahaan.
• Akhirnya, kumpulan dari knowledge yang diperoleh dan dipelajari selama perusahaan beroperasi akan menjadi suatu bekal “kebijaksanaan” (wisdom) yang tidak ternilai harganya. Wisdom yang diperoleh merupakan hasil dari pembelajaran sebuah organisasi yang akan menjadi identitas perusahaan dimasa mendatang.
2. Fungsi penyebaran
Terhadap entitas fakta, data, informasi, knowledge, dan wisdom tersebut, teknologi informasi memiliki fungsi-fungsi yang berhubungan dengan aspek penyebaran sebagai berikut :
• Gathering. Teknologi informasi harus memiliki fasilitas-fasilitas yang mampu mengumpulkan entitas-entitas tersebut dan meletakannya di dalam suatu media penyimpanan digital.
• Organising. Untuk memudahkan pencarian terhadap entitasentitas tersebut dikemudian hari, teknologi informasi harus memiliki mekanisme baku dalam mengorganisasikan penyimpanan entitas-entitas tersebut di dalam media penyimpanan.
• Selecting. Disaat berbagai pihak di dalam perusahaan membutuhkan entitas-entitas tersebut, teknologi informasi harus menyediakan fasilitas untuk memudahkan pencarian dan pemilihan. Teknologi portal merupakan salah satu cara yang sedang digemari oleh perusahaan dalam memecahkan permasalahan ini.

B. Perspektif Manajerial
Dilihat dari sisi bisnis dan manajerial, terutama dalam kaitannya dengan manajemen supply chain, ada empat peranan yang diharapkan oleh perusahaan dari implementasi efektif sebuah
teknologi informasi, yaitu :
1. Minimize risk
Setiap bisnis memiliki risiko , terutama berkaitan dengan factor-factor keuangan. Pada umumnya risiko berasal dari ketidakpastian dalam berbagai hal dan aspek-aspek eksternal lain yang berada diluar control perusahaan. Saat ini berbagai jenis aplikasi telah tersedia untuk mengurangi risiko-risiko yang kerap dihadapi oleh bisnis seperti forecasting, financial advisory, planning expert dan lain-lain. Kehadiran teknologi informasi selain harus mampu membantu perusahaan mengurangi risiko bisnis yang ada, perlu pula menjadi sarana untuk membantu manajemen dalam mengelola risiko yang dihadapi.
2. Reduce costs
Peranan teknologi informasi sebagai katalisator dalam berbagai usaha pengurangan biaya-biaya operasional perusahaan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan.
Sehubungan dengan hal tersebut biasanya ada empat cara yang ditawarkan teknologi informasi untuk mengurangi biaya-biaya kegiatan operasional yaitu :
• Eleminasi proses. Implementasi berbagai komponen teknologi informasi akan mampu menghilangkan atau mengeliminasi proses-proses yang dirasa tidak perlu. Contoh call center
untuk menggantikan fungsi layanan pelanggan dalam menghadapi keluhan pelanggan.
• Simplifikasi proses. Berbagai proses yang panjang dan berbelit-belit (birokratis) biasanya dapat disederhanakan dengan mengimplementasikan berbagai komponen teknologi informasi. Contoh order dapat dilakukan melalui situs perusahaan tanpa perlu datang ke bagian pelayanan order.
• Integrasi proses. Teknologi informasi juga mampu melakukan pengintegrasian beberapa proses menjadi satu sehingga terasa lebih cepat dan praktis (secara langsung akan meningkatkan kepuasan pelanggan juga).
• Otomatisasi proses. Mengubah proses manual menjadi otomatis merupakan tawaran klasik dari teknologi informasi.
Contoh scanner untuk menggantikan fungsi mata manusia dalam meletakan dan mencari barang digudang.
3. Add Value
Peranan selanjutnya dari teknologi informasi adalah untuk menciptakan value bagi pelanggan perusahaan. Tujuan akhir dari penciptaan value tidak sekedar untuk memuaskan pelanggan, tetapi lebih jauh lagi untuk menciptakan loyalitas sehingga pelanggan tersebut bersedia selalu menjadi konsumennya untuk jangka panjang.
4. Create new realities
Perkembangan teknologi informasi terakhir yang ditandai dengan pesatnya teknologi internet telah mampu menciptakan suatu arena bersaing baru bagi perusahaan, yaitu di dunia maya. Berbagai konsep e-business semacan e-commerce, eprocurement,
e-customer, e-loyalty, dan lain-lainnya pada dasarnya merupakan cara pandang baru dalam menanggapi mekanisme bisnis di era globalisasi informasi.

C. Konsep sistem informasi terpadu

Konsep menajemen supply chain memperlihatkan adanya proses ketergantungan antara berbagai perusahaan yang terkait di dalam sebuah system bisnis. Semakin banyak perusahaan yang terlibat dalam rantai tersebut, akan semakin kompleks strategi pengelolaan yang perlu dibangun. Jika diperharikan dengan seksama, didalam sebuah perusahaan ada tiga aliran entitas yang harus dikelola dengan baik yaitu :
(1) aliran produk dan jasa (flow of products and services);
(2) aliran uang (flow of money);
(3) aliran dokumen (flow of documents)
Yang dimaksud dengan system informasi terpadu disini adalah sebuah system yang terdiri dari berbagai komponen data, aplikasi, dan teknologi yang saling berkaitan untuk mendukung kebutuhan informasi perusahaan

Internetisasi
Perkembangan teknologi komputer dan telekomunikasi telah berhasil menciptakan infrastruktur informasi baru yang dikenal dengan istilah internet. Infrastruktur ini meliputi serangkaian jaringan elektronik yang bermanfaat dalam memfasilitasi transfer informasi dan komunikasi interaktif, diantaranya jaringan telepon, jaringan kabel (cable networks), jaringan selular, satelit, jaringan intra-komputer korporasi dan bisnis. Dalam konteks bisnis, internet membawa dampak transpormasional yang menciptakan paradigma baru dalam berbisnis, berupa digital marketing atau internet marketing (cyber marketing, electronic marketing). Istilah internetisasi mengacu pada proses sebuah perusahaan terlibat dalam aktivitas-aktivitas bisnis secara elektronik (ecommerce atau e-bisnis), khususnya dengan memanfaatkan internet sebagai media, pasar, maupun infrastruktur penunjang. Definisi ecommerce bisa ditinjau dari 5 perspektif : online purchasing, digital communication, service, business process, dan market-of-one perspectives.

PERSPEKTIF DEFINISI E-COMMERCE
1. Online purchasing perspective
Sistem yang memungkinkan pembelian dan penjualan produk dan informasi melalui internet dan jasa online lainnya
2. Digital Communication perspective
Sistem yang memungkinkan pengiriman informasi digital, produk, dan jasa pembayaran online.

3. Service perspective
Sistem yang memungkinkan upaya menekan biaya, menyempurnakan kualitas produk dan informasi instant terkini; dan meningkatkan kecepatan penyampaian jasa
4. Business process perspective
Sistem yang memungkinkan otomatisasi transaksi bisnis dan aliran kerja.
5. Market of one perspective
Sistem yang memungkinkan proses customization produk dan jasa untuk diadaptasikan pada kebutuhan dan keinginan setiap pelanggan secara efisien

Penerapan e-Commerce
Aplikasi e-Commerce ditopang oleh berbagai infrastruktur sedangkan implementasinya tidak lepas dari 4 wilayah utama yaitu manusia, kebijakan public, standard dan protokoler teknis, serta organisasi lain. Manajemen e-Commerce-lah yang akan mengkoordinasikan aplikasi, infrastruktur dan pilar-pilarnya. Pilar orang terdiri dari pembeli, penjual, perantara, jasa, orang, system informasi dan manajemen. Pilar kebijakan publik meliputi pajak, hokum dan isu privasi. Pilar standar teknis mencakup dokumen, keamanan dan protocol jaringan dan system pembayaran. Sedangkan pilar organisasi adalah partner, pesaing, asosiasi dan pelayanan pemerintah.

Kemitraan bisnis Internasional
Perkembangan teknologi dan tantangan kompetisi yang mengikuti arus globalisasi pasar menyebabkan banyak perusahaan terjun ke dalam kemitraan bisnis internasional. Arus globalisasi yang memberikan tantangan persaingan yang lebih ketat terhadap perusahaan yang berkecimpung dipasar internasional telah membuat perusahaan menjadi semakin perlu untuk saling bermitra agar mendapatkan posisi yang lebih kuat di pasar. Selain itu, perkembangan teknologi dan kemajuan dibidang teknologi informasi & komunikasi, transportasi membuat kemitraan menjadi lebih mudah dilakukan.

KESIMPULAN

Persaingan bisnis yang semakin ketat di era globalisasi menuntut perusahaan untuk menyusun kembali strategi dan taktik bisnisnya. Teknologi Informasi sebagai tulang punggung manajemen supply chain, konsep manajemen supply chain tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi informasi (TI). Konsep menajemen supply chain memperlihatkan adanya proses ketergantungan antara berbagai perusahaan yang terkait di dalam sebuah system bisnis. Semakin banyak perusahaan yang terlibat dalam rantai tersebut, akan semakin kompleks strategi pengelolaan yang perlu dibangun. Dalam konteks bisnis, internet membawa dampak transpormasional yang menciptakan paradigma baru dalam berbisnis, berupa digital marketing atau internet marketing (cyber marketing, electronic marketing). Istilah internetisasi mengacu pada proses sebuah perusahaan terlibat dalam aktivitas-aktivitas bisnis secara elektronik (e-commerce atau e-bisnis), khususnya dengan memanfaatkan internet sebagai media, pasar, maupun infrastruktur penunjang.

DAFTAR PUSTAKA

Richardus Eko Indrajit, Richardus Djokopranoto.2002.

Konsep Manajemen Supply Chain.Grasindo.

Gregorius Chandra, Fandy Tjiptono, Yanto Chandra.2004.

Pemasaran Global:Internasionalisasi dan internetisasi
Diposkan oleh Penerapan teknologi informasi dan komunikasi di 11.49 Link ke posting ini 0 komentar
Pengantar Teknologi Informasi

Pengertian Sistem Teknologi Informasi

Secara etimologi sistem teknologi informasi merupakan gabungan dari kata system, technology dan information, kesemuanya mempunyai arti tersendiri yang berbeda. Merujuk pada Encarta Dictionary Tools 2005, sebuah kamus yang berbentuk program aplikasi (software) dari Microsoft, ketiga kata tersebut mempunyai pengertian sebagai berikut :

System : an assembly of computer hardware, software, and peripherals functioning together

Technology : the study, development, and application of devices, machines, and techniques for manufacturing and productive processes

Information : computer data that has been organized and presented in a systematic fashion to clarify the underlying meaning

Menurut Haag dan Keen (Abdul Kadir dan Terra Ch. Triwahyuni 2003 : 2 ) “Teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas – tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi”

Martin (Abdul Kadir dan Terra Ch. Triwahyuni 2003 : 2 ) menuturkan bahwa :

Teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.

Selanjutnya William dan Sawyer (Abdul Kadir dan Terra Ch. Triwahyuni 2003 : 2 ) menyatakan bahwa “teknologi informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara dan video.”

Dari uraian diatas, penulis menyimpulkan bahwa sistem teknologi informasi adalah seperangkat teknologi yang menggabungkan teknologi komputasi dan komunikasi, baik berupa hardware maupun software yang terintegrasi untuk menampilkan, memproses, dan menyimpan serta menghasilkan informasi berkualitas secara sistematis dan informasi tersebut dapat berupa data, suara atau video.

Sejarah Teknologi Informasi

Pada zaman prasejarah beragam cara yang dilakukan orang untuk menyampaikan informasi atau pesan kepada orang lain. Penulisan informasi atau pesan ini beragam, mulai dari penulisan pada dinding – dinding gua, tulang, kulit binatang sampai yang berbentuk manuskrip – manuskrip kuno yang sekarang masih dapat disaksikan di museum – museum. Dalam bahasa lisan, informasi yang disampaikan, dilakukan dengan cara berkomunikasi secara langsung dengan lawan bicaranya, walaupun bahasa yang disampaikan masih sangat sederhana dan bahkan hanya berupa isyarat atau gerakan tubuh saja. Namun itu semua, jelas menggambarkan bahwa betapa pentingnya suatu informasi untuk disampaikan kepada orang lain, dan betapa sangat perlunya seseorang akan informasi tersebut.

Seiring dengan perkembangan peradaban manusia, perkembangan cara penyampaian informasi pun mulai mengalami perubahan, dan informasi yang akan disampaikan pun kian bertambah secara eksponensial. Pada tahun 1969, tonggak sejarah perkembangan teknologi informasi, baru dimulai dengan dibentuknya jaringan komputer yang menghubungkan empat universitas di Amerika, yakni University of California di Santa Barbara, University of California di Los Angeles, Stanford Research Institute dan University of Utah. Kemudian pada tahun 1972, Ray Tomlinson membuat program email yang pertama. Dan setahun berikutnya, istilah INTERNET diperkenalkan dalam sebuah paper mengenai TCP/IP (Transmision Control Protocol/Internet Protocol) yang kemudian dilakukan pengembangan, sehingga TCP/IP menjadi sebuah protokol jaringan komputer yang digunakan sampai saat ini.

Di Indonesia, jaringan komputer dan internet mulai dikenal sejak tahun 1994 melalui institusi – institusi pendidikan. Kemudian mulai tahun 1995 penggunaannya semakin berkembang pesat sehingga internet bukan sekedar menjadi sarana bertukar informasi melainkan digunakan hampir disegala bidang. Dan keberadaannya telah membawa perubahan yang signifikan terhadap peradaban manusia.

Dengan keberadaan teknologi informasi, sekarang manusia semakin mudah dalam menyajikan, mengirim dan menerima informasi dari siapa pun dan dari penjuru dunia sekalipun. Bentuk informasi yang dikirim atau yang diterima pun tidak lagi menjadi kendala. Data, baik yang berupa teks, gambar, program dan audio serta video dapat dikirim dan diterima dengan cepat dengan bantuan teknologi informasi. Adanya perkembangan teknologi informasi, terutama internet telah memberikan kemudahan bagi manusia dalam berkomunikasi untuk menyampaikan informasi.
Komponen Sistem Teknologi Informasi

Secara garis besar ada tiga komponen utama yang membentuk suatu sistem teknologi informasi. Tiga komponen utama itu adalah perangkat keras atau hardware, perangkat lunak atau software dan pengguna dari perangkat – perangkat tersebut atau yang disebut dengan brainware. Ketiga komponen ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.
Diposkan oleh Penerapan teknologi informasi dan komunikasi di 11.41 Link ke posting ini 0 komentar
PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENGELOLAAN PTS
PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENGELOLAAN PTS

Ada tiga hal yang dibahas dalam artikel ini :
1.Esensi Penerapan Teknologi Informasi dalam pengelolaan PTS.
Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa kini kita sudah memasuki era quantum, “era dimana perubahan pengetahuan, cara hidup, kebudayaan dan peradaban manusia memiliki kecepatan dan akselerasi yang tinggi “.
Perguruan Tinggi Swasta sebagai bagian dari agen pembaharu seyogianya dapat melakukan akselerasi atas cepatnya perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal tersebut diatas adalah dengan menerapkan IT / ICT (Information Technology / Information and Communication Technology) sebagai dukungan bagi pengelolaan pendidikan tinggi yang efektif dan efisien.
Penerapan Teknologi Informasi di lingkungan perguruan tinggi swasta bukan hanya bersifat untuk membantu (supporter) dalam pengelolaan akan tetapi malah menjadi motor peningkatan kemampuan (enabler) dalam proses pengambilan keputusan di berbagai tingkatan manajemen PTS. Peningkatan kemampuan itu akan terwujud apabila penerapan Teknologi Informasi tersebut diikuti dengan pengembangan system informasi manajemen di lingkungan PTS, agar seluruh data dari aktifitas manajerial PTS dapat didokumentasi dalam bentuk data digital, sehingga memudahkan pihak pengelola baik pihak eksekutif PTS dan pihak Badan Penyelenggara PTS maupun stakeholder PTS untuk memperoleh berbagai informasi tentang PTS tersebut.

2.APTISI mengharapkan agar pimpinan atau pengelola PTS mengoptimalkan SIM dalam menjalankan aktifitas manajerial PTS. Walaupun sebagian dari PTS ada yang sudah mengimplementasikan SIM di PTSnya secara mapan.
Pengembangan sistem informasi di suatu perguruan tinggi, khususnya di PTS memberikan produk layanan yang optimal kepada para stakeholder seperti mahasiswa, orang tua mahasiswa, masyarakat pengguna lulusan, termasuk pihak pemerintah dalam hal ini DIKTI dan KOPERTIS sebagai institusi pengawas, pengendali dan Pembina PTS.
Sistem Informasi Manajemen (SIM) PTS bukan hanya bertujuan untuk kepentingan internal organisasi PTS saja, tapi juga bertujuan untuk kemudahan pengaksesaan data dan informasi yang dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu dengan adanya pemberlakuan SK Dirjen DIKTI No.34/DIKTI/Kep/2003 tentang program Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED) dimana PTS diharuskan memberikan laporan semesteran kepada DIKTI/KOPERTIS yang bertujuan untuk mengkondisikan PTS melakukan proses evaluasi secara mandiri, juga dikaitkan dengan proses perpanjangan ijin operasional PTS, secara tidak langsung telah memotivasi PTS untuk mengembangkan SIM di lingkungan PTSnya masing-masing. Demikian pula dengan program SIM-PTS yang diprakarsai oleh bagian perencanaan SetDirjen Dikti, pada prinsipnya menuntut data yang hampir sama, yang peruntukannya digunakan bagi penerbitan direktori PTS seIndonesia.

3.Dalam membina kemitraan, APTISI mengharapkan PTS dapat memanfaatkan software Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED) dan Sistem Informasi Manajemen (SIM),
Untuk merealisasikannya diperlukan program gerbang entry data yang lebih komprehensif yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan yang dibutuhkan DIKTI atau KOPERTIS. Ini berarti bahwa PTS tidak perlu melakukan duplikasi entry untuk data yang sama.
Dari data yang dikumpulkan oleh PTS, diharapkan DIKTI/KOPERTIS dapat membangun Data warehouse PTS, yang dapat digunakan pihak-pihak yang berkepentingan. Di kemudian hari data dari PTS dapat dikirim secara online di internet, bahkan website Kopertis juga menyediakan fasilitas On-Line Analytical Processing (OLAP) untuk data tersebut.
Data PTS yang telah dibuat diharapkan dapat digunakan untuk memetakan sebaran program studi di suatu wilayah, dalam upaya pengendalian perijinan baru bagi suatu program studi, yang dianggap jenuh di wilayah tertentu.
Diupayakan tidak terjadi perubahan platform struktur data base secara drastic, sehingga akan menyulitkan PTS untuk menyesuaikan diri lagi, kecuali disediakan program bantu untuk migrasi data. Bahkan bagi PTS yang sudah mengimplementasikan SIMnya secara mapan, dapat mengisi data tersebut secara langsung, include dalam program aplikasi SIM PTSnya, sesuai dengan struktur data yang sudah ditetapkan.
Apabila program tersebut berbasis windows, diharapkan pihak DIKTI/KOPERTIS memperhatikan undang-undang hak cipta software, terutama yang diberlakukan oleh perusahaan Microsoft.
APTISI Wilayah IV menyambut positif upaya memberlakukan EPSBED ini bagi seluruh PTS di lingkungan wilayah IV, yang justru datanya dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak. Yayasan Penyelenggara PTS dapat memanfaatkan data tersebut untuk menyusun kebijakan dan perencanaan pengelolaan dan pengembangan PTS. APTISI mengharapkan agar copy Data Laporan Semesteran tersebut dikirimkan pula ke Sekretariat APTISI, guna Pengembangan Sistem Informasi Geografis (SIG) PTS APTISI Wilayah IV. Semoga upaya ini dapat memicu PTS khususnya di Kopertis wilayah IV untuk mencapai kualitas yang diharapkan bersama
Dengan diberlakukannya EPSBED, PTS tidak akan mengalami kesulitan dalam menyampaikan laporan semesteran, karena datanya tinggal di-up data sesuai dengan tuntutan EPSBED.
Selamat bekerja.

Bandung, 15 Januari 2003

H. Yusuf Arifin, S.Si, MM *

* Yang bersangkutan adalah Wakil Sekretaris APTISI Wilayah IV
dan Direktur STMIK “AMIK Bandung”.
Diposkan oleh Penerapan teknologi informasi dan komunikasi di 11.40 Link ke posting ini 0 komentar
Jumat, 10 April 2009
MANFAAT DAN KENDALA PENERAPAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI (ICT) SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI UNTUK MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN
I. Pendahuluan

Pembangunan suatu bangsa memerlukan asset pokok yang disebut sumberdaya (resources), baik sumber daya alam (natural resources) maupun sumber daya manusia (human resources). Tetapi apabila dipertanyakan mana yang lebih penting diantara kedua sumberdaya tersebut, maka sumberdaya manusialah yang lebih penting. Sumber daya manusia merupakan penggerak dalam pembangunan suatu bangsa. Dengan kata lain kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Karena pentingnya sumberdaya manusia bagi pembangunan bangsa Indonesia maka hal ini termuat didalam undang-undang dasar 1945, alinea ke empat bagian pembukaan menyatakan bahwa: “….Pemerintah negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan…. Dari pernyataan tersebut berarti bahwa pemerintah mempunyai komitmen dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Melalui pendidikan dapat dibangun suatu masyarakat Negara Indonesia yang berdaulat dan diterima keberadaannya dilingkungan internasional.
Peranan pendidikan semakin strategis dalam menghadapi pasar global. Dampak globalisasi mengakibatkan terjadinya persaingan secara bebas dalam dunia pendidikan dan tenaga kerja sebagai akibat mekanisme pasar. Lembaga pendidikan harus menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu memenuhi tuntutan permintaan pasar tenaga kerja yang cenderung berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi.
Hanya bangsa yang berkualitas yang akan mampu bersaing. Kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusia. Kualitas sumberdaya manusia juga ditentukan oleh kualitas pendidikan bangsa tersebut. Kenyataan menunjukan bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan harus dipenuhi berbagai persyaratan salah satunya adalah memiliki sarana prasa prasarana yang memenuhi standar seperti pemanfaatan ICT dalam pendidikan. Dengan hadirnya ICT dunia pendidikan bisa membawa dampak positif apabila teknologi tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi bisa menjadi masalah baru apabila sekolah tidak siap. Untuk itu, perlu dilakukan suatu kajian tentang dampak positif dan negatif dari pemanfataan Teknologi Komunikasi dan Informasi (ICT) sebagai media komunikasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan
Tujuan dari penulisan ini adalah (1) untuk mengetahui pemanfataan Teknologi Komunikasi dan Informasi (ICT) sebagai media komunikasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, (2) mengetahui manfaat atau dampak positif dan negatif ICT bagi pendidikan.

II. Mutu Pendidikan dan Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) Sebagai Media Komunikasi dalam Pendidikan

Perkembangan teknologi komunikasi begitu cepat sehingga berdampak pada berbagai sendi kehidupan manusia. Dalam memasuki ere globalisasi sekarang ini, lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab membersiapkan dan menghasilkan sumberdaya manusia yang mampu menghadapi semua tantangan perubahan yang ada disekitarnya yang berjalan sangat cepat. Bahkan sebagai dampak globalisasi mengakibatkan terjadinya persaingan secara bebas dalam dunia pendidikan maupun tenaga kerja. Kondisi tersebut menuntut perlu adanya suatu sistem pendidikan yang bermutu yaitu sistem pendidikan yang mampu menyediakan sumberdaya manusia yang dapat bersaing dalam menghadapi persaingan global. Karena itu pendidikan perlu diarahkan agar mampu menyediakan sumberdaya manusia yang mampu menghadapi tantangan zaman secara efektif sejak usia sekolah dengan memanfaatkan kemajuan terknologi.
Pendidikan yang bermutu ditentukan oleh berbagai faktor. Secara teoritis menurut Purwadhi (2000) dan Nickerson (1985), salah satu unsur yang harus diperhatikan dalam mendesain proses pembelajaran yang efektiv, salah satunya adalah media pengajaran. Selain itu, proses pembelajaran juga merupakan bagian dari proses komunikasi. Dengan demikian efektivitas dan mutu pembelajaran atau pendidikan juga ditentukan oleh unsur-unsur komunikasi antaralain sumber, audience, media dan feed back.
Media komunikasi merupakan suatu alat dimana komunikator menggunakan nya untuk mengirim pesan kepada komunikan. Dalam pendidikan, media komunikasi biasanya disebut sebagai media pengajaran. Media komunikasi dalam pendidikan merupakan segala bentuk alat dan sumber belajar yang digunakan untuk membantu memperlancar proses belajar mengajar. Sumber belajar meliputi buku-buku, majalah, manusia, perpustakaan, labolatorium dan ICT seperti internet dan lain-lain. Media pendidikan digunakan untuk menyalurkan pesan atau isi pelajaran, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa (Nana Syaodih, 1996). Tanpa media pendidikan, efektifitas belajar maupun mutu pendidikan tidak akan tercapai, demikian pula dengan jika tersedia media pendidikan tetapi kita tidak memiliki kemampuan pemilihan media mana yang paling efektif dan efisien maka efektifitas pembelajaran pun tidak dapat tercapai.
Sementara itu, Winn (1996) menambahkan ada tiga peranan media dalam pendidikan, 1) media pembelajaran yang dalam hal ini berfungsi sebagai penyampaian pesan khusus, 2) sebagai pembentuk lingkaran perantara dimana media membantu siswa melakukan eksplorasi dan membentuk pemahaman suatu pengetahuan, dan 3) mengembangkan kemampuan kognitif, dinama media dipergunakan sebagai model atau perluasan mental kemampuan
Berbagai hasil penelitian menunjukan bahwa media yang paling efektif digunakan untuk mencapai mutu pendidikan dalam memasuki ere globalisasi sekarang ini adalah dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). ITC adalah istilah umum yang mengacu pada teknologi yang digunakan untuk mengumpulkan, mengedit, mendapatkan informasi dalam berbagai bentuk (SER, 1977dalam Nurdin Ibrahim).
Ada lima perspektif yang bisa dilihat dalam peranan ICT dalam perannya sebagai media pembelajaran (Clark, 1996 dalam Ebersole, 2000), yaitu: 1) media sebagai teknologi, 2) media sebagai alat atau tutor atau guru, 3) media sebagai agen sosialisasi, 4). Media sebagai motivator untuk belajar, dam 5) Media sebagai alat mental untuk berpikir dan memecahkan masalah.

III. Pemanfaatan Teknologi Komunikasi Dan Informasi (ICT) Sebagai Media Komunikasi Untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Secara umum, penggunaan ICT dalam pendidikan dideskripsikan sebaai berikut : 1) ICT sebagai objek pembelajaran yang kebanyakan terorganisir dalam kursus-kursus spesial. Apa yang dipelajari tergantung pada bentuk pendidikan dan level siswa. Pendidikan ini mempersiapkan siswa untuk menggunakan ICT dalam pendidikan, keterampilan masa depan dan dalam kehidupan sosial. 2) ICT sebagai ”alat bantu (tool)”, yaitu digunakan sebagai alat, misalnya ketika membuat tugas-tugas, mengumpulkan data, dan dokumentasi dan melaksanakan penelitian. Umumnya ICT digunakan dalam memecahkan permasalahan secara independen. 3) ICT sebagai medium proses pembelajaran, dimana guru dapat mengajar dan murid dapat belajar.
Hasil penelitian Kurniawati et,al (2005) menunjukan bahwa pada umumnya pendapat guru dan siswa tentang manfaat ICT khususnya edukasi net antara lain : 1) Memudahkan guru dan siswa dalam mencari sumber belajar alternatif, 2 ) Bagi siswa dapat memperjelas materi yang telah disampaikan oleh guru, karena disamping disertai gambar juga ada animasi menarik, 3) Dapat berlatih soal dengan menanfaatkan uji kompetensi, 4) Cara belajar lebih efisien, 5) Wawasan bertambah, 6) Meringankan dalam membuat contoh soal, 7) Mengetahui dan mengikuti perkembangan materi dan info-info lain yang berhubungan dengan bidang studi, 8) Membantu siswa dalam mempelajari materi secara individu selain disekolah, 9) Membantu siswa melek ICT
Adapun manfaat ITC khususnya internet/ edukasi-net bagi pengembangan profesional guru yaitu meningkatkan pengetahuan, membagi sumber diantara rekan sejawat/ sedepartemen, .bekerjasama dengan guru-buru dari luar negeri, kesempatan untuk menerbit/mengumumkan informasi secara langsung, mengatur komunikasi secara teratur, berpartisipasi dalam forum dengan rekan sejawat baik lokal maupun nasional dan internasional
Manfaat sebagai sumber bahan yaitu dapat mengakses rencana pembelajaran dan metodologi baru, sebagai bahan baku dan bahan jadi cocok untuk segala bidang pelajaran, menginformasikan berbagai sumber. Mendorong minat guru/tutor untuk meningkatkan motivasi siswa apabila lebih terfokus untuk belajar.
Manfaat bagi siswa yaitu: 1) mendorong siswa belajar sendiri secara cepat, sehingga meningkatkan pengetahuan, belajar berinteraktivitas dan mengembangkan kemampuan dibidang penelitian. 2) dapat memperkaya diri siswa dalam meningkatkan komunikasi dengan siswa lain dan meningkatkan kepekaan akan permasalahan yang ada diseluruh dunia.
Berdasarkan manfaat ICT terhadap guru, siswa maupun sebagai sumber bahan maka terlihat bahwa dengan memanfaatkan ICT sebagai media pendidikan dapat meningkatkan kulitas pendidikan baik kulitas guru, siswa maupun bahan ajar.

IV. Masalah-Masalah dalam Penerapan Teknologi Komunikasi dan Informasi (ICT).

Dampak positif teknologi terhadap dunia pendidikan sudah tidak diragukan lagi. Berbagai pendapat pakar dari berbagai disiplin ilmu sepakat bahwa kehadiran teknologi baru seperti internet dan lain-lain akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Namun perlu disadari bahwa kehadiran teknologi tersebut di sekolah juga menimbulkan masalah baru apabila sekolah tidak siap antara lain :
1) Sarana disekolah belum memadai
Tidak semua sekolah mempunyai sarana yang menjadi prasarat pemanfaatan teknologi tersebut. Kondisi tersebut, akhirnya sekolah tersebut menjadi enggan untuk menerapkan ICT di sekolahnya
2) Keterbatasan biaya dan tenaga operasional
Untuk bisa memanfaatkan ICT perlu adanya tenaga khusus yang mengelola media tersebut, karena tidak setiap guru mampu mengoprasikan media tersebut. Berbagai sekolah yang mempunyai kemampuan baik tenaga maupun biaya tidak menjadi masalah, tetapi bagi sekolah yang miskin dan tenaga guru pas-pasan, kondisi ini merupakan masalah baru yang sangat sulit mengatasinya. Keterbatasan tenaga operasional untuk melakukan penjadwalan, perawatan dan pengoperasioan ketika guru akan memanfaatkan media menjadi masalah. Akhirnya guru malas untuk memanfaatkan media tersebut.
3) Kepala sekolah dan guru kurang sadar akan pentingnya media pendidikan
Secara umum kondisi sekolah di Indonesia memang kesulitan untuk mencari tambahan biaya untuk kegiatan yang diluar kegiatan rutin. Pemanfaatan media pendidikan bagi sekolah kesannya hanya mahal dan menakutkan sehingga kalau sekolah tersebut pemimpinnya dan guru-gurunya kurang sadar pentingnya media pendidikan, akan semakin jauh dari harapan untuk memanfaatkan media pendidikan
4) Beban orang tua siswa lebih berat
Beberapa sekolah telah mempunyai kesadaran tentang pentingnya media. Namun seringkali untuk memenuhi media tersebut, salah satu sumber dana yang dilakukan sekolah adalah dengan membebankan kepada orang tua siswa. Tentu saja hal ini akan menjadi beban yang tida ringan bagi orang tua siswa.
5) Kondisi keamanan sekolah kurang memadai
Penerapan ICT akan lebih baik jika kondisi keamanan sekolah baik. Namun akan menjadi masalah jika menerapan ICT dilakukan pada sekolah yang kurang aman. Peluang terjadi kasus pencurian akan semakin tinggi disamping itu, pihak sekolah akan terbebani dengan adanya media ICT tersebut karena harus menjaga keamanan. Kalau keamanan saja tidak terjamin bagaimana mau bisa digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan/ pembelajaran.
6) Persepsi yang salah terhadap media pembelajaran
Alasan yang sering didengar, mengapa guru enggan memanfaatkan media pembelajaran karena dengan memanfaatkan media tersebut jam pelajaran siswa menjadi terganggu. Kondisi memang cukup memperihatinkan. Artinya persepsi guru terhadap media pembelajaran salah. Padahal seharusnya justru dengan bantuan media, materi yang disampaikan lebih jelas dan konpreherensif karena pemehaman siswa diharapkan hampir sama.
7) Guru merasa terbebani
Untuk bisa mengajar dengan memanfaatkan media, memang dituntut guru harus lebih kreatif serta persiapan pengajaran lebih matang. Sebelum menggajar menggunakan media, guru dirumah sudah harus mencobanyanya sehingga nantinya disekolah guru sudah terbiasa dan tidak canggung lagi. Untuk itu, guru perlu menyiapkan waktu, tenaga dan biaya agar bisa berjalan dengan baik. Namun kenyataan banyak guru yang beralasan tidak menggunakan media ICT karena tidak ada waktu atau biaya.

V. Penutup

Pencapaian tujuan pembangunan nasional juga sangat ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusia. Sumberdaya manusia yang kualitas menunjukan kualitas pendidikan dari suatu bangsa. Peran pendidikan yang menentukan tercapinya sumberdaya manusia. Pendidikan yang bermutu berarti dapat menghasilkan sumberdaya manusia yang mampu bersaing di ere global ini. Salah satu unsur yang sangat mempengaruhi pendidikan bermutu pada era global ini adalah penerapan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pembelajaran dalam proses pendidikan. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pembelajaran dalam proses pendidikan sangat bermanfaat bagi bagi unsur-unsur yang terlibat dalam efektivitas proses pendidikan seperti bagi pengembangan profesionalisme guru, siswa maupun sebagai sumber informasi dari berbagai ilmu di seluruh dunia. Apabila seluruh proses pendidikan di Indonesia menggunakan ITC dalam pendidikan maka mungkin saja proses pembelajaran yang dihasilkan akan lebih efektif dan efisien. Dengan kata lain mencari ilmu tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak untuk berkeliling dunia tetapi hanya dengan beberapa rupiah kita sudah dapat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia, pengetahuan dan wawasan kita bertambah yang tentunya dapat mampu bersaing di era globalisasi ini, kita dapat mempu membangun bangsa ke arah yang lebih baik karena dipimpin oleh sumberdaya manusia yang berkualitas. Dengan demikian maka ICT sangat berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan yang secara tidak langsung berpengaruh pada pembangunan suatu bangsa
Namun perlu disadari bahwa penerapan ICT bisa menjadi masalah baru apabila sekolah tidak siap. Untuk itu perlu diberikan kesadaran kepada seluruh stakeholder pendidikan agar memberikan dukungan bagi kemajuan pendidikan, pemerintah perlu mensosialisaikan kepada guru tentang pentingnya pemenfaatan media dalam pembelajaran sehingga kesadaran guru lebih baik lagi, pemerintah perlu melengkapi sarana yang diperlukan untuk pemanfaatan media dan penerapan mata pelajaran teknologi komunikasi dan informasi kepada seluruh sekolah.

By balian86

Perihal             : Laporan Dugaan Tindak Pidana

No                   : 01

Lampiran         : -

Kpd Yth.

Bapak kapolsek

Di Gerung

Dengan hormat

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama                           :BALLIAN

Umur                           : 23

Pekerjaan                     : Mahasiswa

Agama                         : Islam

Tempat Tinggal           : Dasan Tapen

Selanjutnya disebut pelapor.

Dengan ini mengajukan pengaduan atas dugaan tindak pidana sebagaimana di maksud pasal 303 KUHP tentang praktek perjudian yang sangat meresahkan masyarakat dan kertiban umum.

Bahwa adapun keronologisnya dapat kami uraikan Sbb :

  1. Bahwa beberapa bulan terakhir ini di dusun dasan tapen telah berkumpul sekelompok orang yang tidak hanya berasal dari satu kampung akan tetapi juga dari kampung / desa lain, yang melakakukan perbuatan yang sangat bertentangan dengan kaedah agama maupun kaedah hukum, terlebih lagi perilaku para terlapor sangat menganggu ketertiban masyarakat disekitarnya yaitu para terlapor tanpa melihat kaedah-kaedah tersebut diatas melakukan perjudian.
  2. Bahwa perjudian yang dilakukan oleh para terlapor / pelaku mendapat reaksi atau tanggapan dari masyarakat sekitarnya yang merasa terganggu dengan perbuatan itu kami mencoba mengingatkan kepada para pelaku untuk tidak melakukan praktek-praktek perjudian di wilayah / di tempat kami.
  3. Bahwa upaya mengingatkan, menegur, melarang, untuk berhenti melakukan peraktek perjudian tersebut namun kepada para pelaku tidak digublis / tidak di tanggapi sama sekali, bahkan tanpa rasa malu dan terang terangan melakukan perjudian di tempat kami / pelapor.
  4. Bahwa upaya untuk menghentikan kegiatan mereaka, maka kami mohon kepada bapak kapolsek untuk menindak tegas para pelaku / terlapor atas tindakan yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hokum yang berlaku, sehingga penyakit masyarakat seperti demikian tidak menjalar atau menjangkit para generasi muda, dan masyarakat lainya  diwilayah kami terlebih dalam waktu dekat ini masyarakat yang beragama islam akan menjalankan ibadah puasa.

Demikan laporan atau pengaduan ini kami sampaikan agar kiranya bapak kapolsek menindak tegas para pelaku dan mengusut tuntas dugaan tindak pidana tersebut diatas. Dan sebagaimana ketentuan hukum yang berlaku.

Atas perhatian bapak kami sampaikan terimakasih.

Dasan Tapen

20-7-2010

Hormat kami

Ballian

 

 

By balian86

contoh penelitian dalam proses pembelajaran

Catatan Kuliahku..Belajar & Terus Belajar!

Maret 8, 2010

KONSEPTUALISASI MASALAH PENELITIAN

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — Dinul Islam Jamilah @ 6:49 am


HASIL RINGKASAN MATERI PERTEMUAN KE-3
BAB III KONSEPTUALISASI MASALAH PENELITIAN

Disusun oleh Dinul Islam Jamilah Semester VI-A
NIM 2007. 1096

A. Perumusan Masalah
Babie (1998:64) menjelaskan bahwa penelitian deduktif adalah penelitian yang dimulai dengan teori-teori umum, lalu berlanjut dengan observasi untuk menguji validitas keberlakuan teori tersebut. Menurut Babbie (1998:54) dalam tahapan proses penelitian deduktif terdapat tahap konseptualisasi yaitu tahap menspesifikasi semua konsep yang direncanakan untuk diteliti. Konseptualisasi adalah proses pembentukan konsep dengan bertitik tolak pada gejala-gejala pengamatan yang prosesnya berjalan secara induktif, dengan mengamati sejumlah gejala secara individual, kemudian merumuskannya dalam bentuk konsep. Konsep bersifat abstrak, sedangkan gejala bersifat konkret. Konsep berada dalam bidang logika (teoritis), sedangkan gejala berada dalam dunia empiris (faktual). Memberikan konsep pada gejala itulah yang disebut dengan konseptualisasi. Konseptualisasi penelitian tidak hanya merumuskan masalah, tetapi juga mengungkapkan cara-cara tentang bagaimana masalah tersebut akan diteliti. Dengan demikian terdapat dua masalah pokok yang akan dijelaskan dalam konseptualisasi penelitian itu, yaitu penjelasan tentang khusus dalam perencanaan penelitian (research design).
Suatu masalah dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek empiris dan aspek logis atau rasional. Masalah penelitian adalah suatu keadaan yang bersumber pada interaksi antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan sesuatu yang membingungkan dan oleh sebab itu memerlukan solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Masalah muncul karena adanya kesenjangan antara apa yang ada dan apa yang seharusnya, antara kenyataan yang ada dan apa yang diharapkan, dan antara teori dengan kenyataan. Masalah akan muncul apabila kita mampu menangkap kontradiktif pada interaksi satu atau dua antara komponen, yaitu konsep, pengalaman, dan data empiris. Pembagian masalah dilihat dari apa yang diharapkan terbagi dalam 3 kategori, yaitu:
1. Masalah filosofis, yaitu apabila gejala empirisnya tidak sesuai dengan pandangan hidup yang ada dalam masyarakat.
2. Masalah kebijakan, yaitu masalah yang tergolong dalam masalah kebijakan adalah perilaku-perilaku atau kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh si pembuat kebijakan.
3. Masalah ilmiah, yaitu kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan teori ilmu pengetahuan.
Kemampuan menemukan masalah ditentukan oleh sensivitas dan kesediaan mengambil jarak dengan realitas sehari-hari. Masalah sosial menampakkan diri pada conflict issue yang dapat ditangkap dari peristiwa-peristiwa yang ada dalam masyarakat. Isu-isu seperti itu dapat ditangkap melalui pengamatan langsung, atau dari surat kabar, atau media massa lainnya, atau dari pokok-pokok pembicaraan yang berkembang dalam masyarakat. Pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan membantu kita mengetahui pokok permasalahan dari isu tersebut. Bagan di bawah ini menjelaskan bagaimana merumuskan masalah dari isu yang ada dengan mempertemukan gejala-gejala faktual dengan teori.
Terdapat 2 pertanyaan pokok yang membantu memperjelas masalah dalam merumuskan masalah, yaitu yang pertama Yang pertama adalah pertanyaan tentang mengapa masalah itu penting. Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diungkapkan latar belakang permasalahannya. Sumber-sumber bacaan yang relevan bisa membantu kita menjelaskan latar belakangnya. Perlu dijajaki pula berbagai penelitian yang pernah dilakukan menyangkut masalah tersebut. Dari penjajakan ini kita mengungkapkan signifikansi atau pentingnya penelitian yang akan dilakukan. Pertanyaan yang kedua adalah apa masalahnya. Untuk menjawab pertanyaan kedua ini perlu dilakukan penjajakan di sekitar lokasi penelitian, dan dari penjajakan ini kita mengungkapkan gejala-gejala khusus dari setiap individu yang bermasalah. Dengan metode induksi akhirnya kita merumuskan konsep yang merupakan fokus penelitian kita. Selanjutnya, dengan konsep tersebut kita merumuskan masalah penelitian secara eksplisit. Biasanya masalah itu dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, tetapi ada juga yang merumuskannya dalam kalimat deklaratif.
Kriteria masalah penelitian yaitu merupakan bidang masalah dan topik yang menarik, mempunyai signifikansi teoritis dan praktis, dapat diuji melalui pengumpulan data analisis, dan sesuai dengan waktu dan biaya yang tersedia. Langkah-langkah analisis masalah penelitian terbagi ke dalam 4 bagian, yaitu analisis substansi masalah itu sendiri termasuk alam kajian ilmu, analisis teori, analisis institusional, analisis metodologis, dan analisis keaktualan. Dalam penemuan masalah terdapat metode-metode yang dilakukan, yaitu:
1. Metode analog merupakan metode yang menggunakan pengetahuan yang kita peroleh dari hasil penelitian pada bidang tertentu untuk menemukan masalah penelitian pada bidang lain yang terkait.
2. Metode renovasi merupakan metode yang menentukan masalah penelitian dengan cara memperbaiki atau mengganti komponen teori atau metode yang kurang relevan dengan teori atau metode lain yang lebih relevan.
3. Metode morfologi merupakan metode yang digunakan untuk menemukan masalah penelitian dengan menganalisis kemungkinan kombinasi bidang masalah penelitian yang saling berhubungan dalam bentuk matrik.
4. Metode fenomenologi merupakan metode menemukan masalah penelitian berdasarkan hasil pengamatan terhadap fakta atau kejadian.
Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.
Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian, sampai-sampai memunculkan suatu anggapan yang menyatakan bahwa kegiatan melakukan perumusan masalah, merupakan kegiatan separuh dari penelitian itu sendiri.
Perumusan masalah penelitian dapat dibedakan dalam dua sifat, meliputi perumusan masalah deskriptif, apabila tidak menghubungkan antar fenomena dan perumusan masalah eksplanatoris, apabila rumusannya menunjukkan adanya hubungan atau pengaruh antara dua atau lebih fenomena.
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu fungsi pertama adalah sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan. Fungsi kedua, adalah sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan. Fungsi ketiga dari perumusan masalah, adalah sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya. Sedangkan fungsi keempat dari suatu perumusan masalah adalah dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.
Ada setidak-tidaknya tiga kriteria yang diharapkan dapat dipenuhi dalam perumusan masalah penelitian yaitu kriteria pertama dari suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala di dalam kehidupan manusaia.
Kriteria Kedua dari suatu masalah penelitian adalah bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori, dalam arti pemecahannya secara jelas, diharapkan akan dapat memberikan sumbangan teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teori-teori baru maupun sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada. Kriteria ketiga, adalah bahwa suatu perumusan masalah yang baik, juga hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual, sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan pula, dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi kehidupan manusia.
Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian, didapati beberapa variasi, antara lain (1) Ada yang menempatkannya di bagian paling awal dari suatu sistematika peneliti, (2) Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian dan (3) Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian. Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan, sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya. Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

B. Variabel
Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai (Moh. Nazir). Dengan demikian, variabel adalah merupakan objek yang berbentuk apa saja yang ditentukan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh informasi agar bisa ditarik suatu kesimpulan. Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain. Pengertian lain bahwa variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep tertentu. Pengukuran variabel adalah proses menentukan jumlah atau intensitas informasi mengenai orang, peristiwa, gagasan, dan atau obyek tertentu serta hubungannya dengan masalah atau peluang bisnis. Dengan kata lain, menggunakan proses pengukuran yaitu dengan menetapkan angka atau tabel terhadap karakteristik atau atribut dari suatu obyek, atau setiap jenis fenomena atau peristiwa yang mengunakan aturan-aturan tertentu yang menunjukkan jumlah dan atau kualitas dari faktor-faktor yang diteliti. Secara teori, definisi variabel penelitian adalah merupakan suatu objek, atau sifat, atau atribut atau nilai dari orang, atau kegiatan yang mempunyai bermacam-macam variasi antara satu dengan lainnya yang ditetapkan oleh peneliti dengan tujuan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Setelah kita membicarakan beberapa pengertian dasar tentang variabel, berikut ini kita akan membicarakan beberapa macam variabel ditinjau dari aspek hubungan antar variabel yang digunakan untuk penelitian. Partama adalah variabel dependen (terikat). Variabel ini merupakan variabel terikat yang besarannya tergantung dari besaran variabel independen (bebas). Besarnya perubahan yang disebabkan oleh variabel independen ini, akan memberi peluang terhadap perubahan variabel dependen (terikat) sebesar koefisien (besaran) perubahan dalam variabel independen. Artinya, setiap terjadi perubahan sekian kali satuan variabel independen, diharapkan akan menyebakan variabel dependen berubah sekian satuan juga. Sebaliknya jika terjadi perubahan (penurunan) variabel independen (bebas) sekian satuan, diharapkan akan menyebabkan perubahan (penurunan) variabel dependen sebesar sekian satuan juga. Hubungan antar variabel, yakni variabel independen dan dependen, biasanya ditulis dapal bentuk persamaan, Y = a + bX. Misalnya bentuk persamaan linear Y = 3 + 2X. Y adalah penggunaan pupuk dalam satua kwintal, dan Y adalah hasil produksi padi dalam satuan ton. Bila terjadi perubahan X senbesar 1 (satu) satuan kwintal, diharapkan akan terjadi perubahan Y sebesar 2 (dua) satuan Ton. Terdapat dua jenis variabel, yaitu:
1. Variabel kontrol
Variabel kontrol adalah variabel yang dapat dikendalikan oleh peneliti. Misalnya Produktivitas lahan sawah yang diukur denga satuan penggunaan bibit padi dari dua merk yang berbeda, diukur dengan variabel kontrol prnggunaan jenis pupuk yang sama. Produkstivitas lahan sawah diukur dengan satuan ton, sedangkan penggunaan bibit padi diukur dengan satuan jenis dan kg. Penggunaan pupuk merupakan variabel kontrol. Penggunaan jenis dan jumlah pupuk ini harus sama karena variabel ini, merupakan variabel kontrol yang digunakan untuk mengukur produktivitas lahan sawah. Dan tanpa penggunaan pupuk dalam jumlah yang sama sebagai variabel kontrol, penelitian ini akan menghasilkan sesuatu yang sukar disimpulkan.
2. Variabel Moderator
Analisis hubungan yang menggunakan minimal dua variabel, yakni satu variabel dependen dan satu atau beberapa variabel independen, adakalanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model statistik yang kita gunakan. Dalam analisis statistik ada yang dikenal dengan variabel moderator. Variabel moderator ini adalah variabel yang selain bisa memperkuat hubungan antar variabel, dilain pihak juga bisa memperlemah hubungan antara satu atau beberapa variabel independen dan variabel dependen. Misalnya pelatihan yang diikuti karyawan sebuah perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan menyelesaikan tugas-tugas administrasi. Seluruh karyawan yang mengikuti pelatihan tersebut memiliki jenjang pendidikan yang sama. Tetapi setelah selesai mengikuti pelatihan dan dilakukan uji ketrampilan, ternyata kemampuan karyawan yang berasal dari sekolah kejuruan, memiliki ketrampilan yang lebih baik dibandingkan dengan karyawan yang berasal dari Sekolah Umum. Perbedaan keterampilan karyawan yang berasal dari sekolah Kejuruan, dibendingkan dengan keterampilan kerja disebabkan oleh adanya perbedaan kemampuan menyerap materi yang disampaikan ketika melaksanakan pelatihan. Kondisi ini bisa saja terjadi karena ada variabel moderator yang bisa menyebabkan karyawan yang berasal dari Sekolah Umum memiliki motivasi yang lebih rendah untuk mengikuti pelatihan jika dibandingkan dengan karyawan yang berasal dari sekolah Kejuruan. Dalam contoh di atas pelatihan adalah variabel independen, prestasi kerja adalah variabel dependen, dan motivasi untuk mengikuti pelatihan adalah variabel moderator. Atau dengan kata lain, variabel moderator memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kemampuan variabel independen (variabel bebas) dalam mempengaruhi variabel dependen (variabel tak bebas).
Menurut Kerlinger variables is a property that takes on different values. A variable is a symbol which numerals or values are assigned. Setiap objek berbeda, masing-masing mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membedakannya dengan objek lain. Perbedaan-perbedaan itulah yang membuat objek-objek itu bervariasi, karena itu disebut variabel. Suatu konsep disebut variabel jika ia menampakkan variasi pada objek-objek yang ditunjuknya. Jadi, konsep bukan variabel jika tidak tampak variasi pada objek-objek itu. Variabel penelitian juga dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu variabel bebas (independent variable) dan variabel terikat (dependent variable).
Penggolongan tersebut dilakukan berdasarkan sifat hubungan antar variabel. Dalam hal ini sifat hubungannya adalah hubungan kausalitas. Variabel bebas juga sering disebut variabel antecedent, dan variabel terikat disebut qonsequent. Variabel bebas ialah variabel yang oleh peneliti diperkirakan menjadi penyebab munculnya atau berubahnya variabel terikat. Sedang variabel terikat ialah variabel yang terjadi atau muncul atau berubah karena mendapat pengaruh atau disebabkan oleh variabel bebas. Di antara hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat tersebut terdapat variabel-variabel perantara (moderator), variabel pengganggu (intervening variable), dan variabel pengendali variabel lain (control variable). Variabel moderator digambarkan secara teoritis jika harga murah, maka akan banyak pembelinya tetapi sering terjadi penjualan dengan harga murah, tetapi tidak banyak pembelinya. Hal ini tentu ada variabel moderator yang mempengaruhi. Variabel Intervening adalah variabel yang memperlemah dan memperkut hubungan antara variabel independen dan dependen, tetapi bersifat toeritis, sehingga tidak teramati dan tidak dapat diukur (kalau variabel moderatornya dapat diukur). Variabel Control ditetapkan oleh peneliti, jika peneliti ingin mengontrol supaya variabel diluar yang diteliti tidak mempengaruhi hubungan antara variabel independen dan dependen, atau ingin melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.

C. Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam penelitian akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya timbangan emas sebagi instrumen untuk mengukur berat emas, disebut dengan skala miligram (mg) dan kan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur; meteran dibuat untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm, dan akam menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm. Dengan skala pengukuran ini, maka variabel yang akan diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif. Misalnya berat emas 20 gram, berat besi 200 kg, suhu badan orang yang sehat 370, EQ seorang 210.
Ada beberapa macam teknik skala yang bisa digunakan dalam penelitian. Antara lain adalah: Skala Linkert, Skala Guttmann, Skala Bogardus, Skala Thurstone, Skala Semantic, Skala Stipel, Skala Paired-Comparison, dan Skala rank-Order. Kedelapan maca teknik skala tersebut bila digunakan dalam pengukuran, akan mendapatkan data interval, atau rasio. Hal ini tergantung pada bidang yang akan diukur. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan, baik bersifat favorable (positif) bersifat bersifat unfavorable (negatif).
Terdapat empat skala pengukuran dalam penelitian, yaitu:
1. Nominal
Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasikan obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistik non-parametrik digunakan untuk menganalisa datanya. Hasil analisa dipresentasikan dalam bentuk persentase. Sebagai contoh kita mengklaisifikasi variabel jenis kelamin menjadi sebagai berikut: laki-laki kita beri simbol angka 1 dan wanita angka 2. Kita tidak dapat melakukan operasi arimatika dengan angka-angka tersebut, karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidakadanya karaktersitik tertentu.
Contoh:
Jawaban pertanyaan berupa dua pilihan “ya” dan “tidak” yang bersifat kategorikal dapat diberi simbol angka-angka sebagai berikut: jawaban “ya” diberi angka 1 dan tidak diberi angka 2.
2. Ordinal
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
Contoh:
Jawaban pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju dan sangat setuju dapat diberi symbol angka 1, 2, 3, 4 dan 5. Angka-angka ini hanya merupakan simbol peringkat, tidak mengekspresikan jumlah.
3. Interval
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karaktersitik antara satu individu atau obyek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka. Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat dilakukan operasi aritmatika, misalnya dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisa, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametrik.
Contoh:
Jawaban pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan, misalnya: Berapa kali Anda melakukan kunjungan ke Jakarta dalam satu bulan? Jawaban: 1 kali, 3 kali, dan 5 kali. Maka angka-angka 1, 3, dan 5 merupakan angka sebenarnya dengan menggunakan interval 2.
4. Ratio
Skala pengukuran ratio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absolut nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur. Pengukuran ratio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya.
Contoh:
Berat Sari 35 Kg sedang berat Maya 70 Kg. Maka berat Sari dibanding dengan berat Maya sama dengan 1 dibanding 2.

 

By balian86