SKRIPIS PROBLEMATIKA PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MTS [soundcloud url="http://api.soundcloud.com/tracks/69922627" params="" width=" 100%" height="166" iframe="true" /]

PROBLEMATIKAMOTTO

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ. الاية

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Q.S.Ar-Ra’d: 11)

Mataram, 07 Februari 2005

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PENGAJUAN ii

HALAMAN PERSETUJUAN iii

HALAMAN PENGESAHAN iv

HALAMAN PERSEMBAHAN v

HALAMAN MOTTO vi

KATA PENGANTAR vii

DAFTAR ISI ix

ABSTRAK xii

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 7

C. Tujuan Penelitian 7

D. Kegunaan Penelitian 8

E. Metode Penelitian 9

F. Penegasan Istilah 13

G. Sistematika Penulisan 13

BAB II : KAJIAN TEORITIS

1. Konsep Dasar Tentang Pendidikan Agama Islam 16

2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam 17

3. Problematika Dalam Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam 23

4. Upaya Mengatasi Problematika Pelaksanaan Pendidikan

Agama Islam 44

BAB III : HASIL PENELITIAN

1. Latar Belakang Obyek Penelitian

A. Sejarah Berdirinya Obyek Penelitian 50

B. Struktur Organisasi Madrasah Tsanawiyah Unggulan

Ibnu Husain 52

C. Tata Laksana Kerja Madrasah Tsanawiyah Unggulan

Ibnu Husain 53

D. Keadaan Pendidik Dan Pegawai 54

E. Keadaaan Peserta Didik 56

F. Keadaaan Sarana dan Prasarana 57

2. Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Di Madrasah Tsanawaiyah Unggulan Ibnu Husain

E. Problem Peserta Didik Dalam Pendidikan Agama Islam 59

F. Problem Pendidik Dalam Pendidikan Agama Islam 61

G. Problem Kurikulum Dalam Pendidika Agama Islam 62

H. Problem Manajemen Dalam Pendidikan Agama Islam 62

I. Problem Sarana dan Prasarana Pendidikan Agama Islam 63

3. Upaya Mengatasi Problematika Pelaksanaan Pendidikan

Agama Islam di Mts Unggulan Ibnu Husain

a) Upaya mengatasi Problem Peserta Didik Dalam

Pendidikan Agama Islam 65

b) Upaya Mengatasi Problem Pendidik Dalam Pendidikan

Agama Islam 66

c) Upaya Mengatasi Problem Kurikulum Dalam

Pendidikan Islam 67

d) Upaya Mengatasi Problem Manajemen Dalam

Pendidikan Agama Islam. 67

e) Upaya Mengatasi Problem Sarana dan Prasarana

Dalam Pendidikan Agama Islam 68

BAB IV : HASIL PENELITIAN

A. Kesimpulan 69

B. Saran 71

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

ABSTRAK

Muhammad Faruk, 2004. Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain Surabaya, Skripsi, Jurusan Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah. Universitas Islam Negeri Malang.

Dosen Pembimbing : Drs. A. Fatah Yasin, M. Ag.

Kata Kunci : Problematika, Pelaksanaan, Pendidikan Islam.

Dalam proses pelaksanaan Pendidikan Agama Islam, tidak selalu berjalan dengan lancar, terkadang dijumpai berbagai rintangan yang meliputi baik internal maupun external. Pendidikan Islam sebagaimana pendidikan lainnya senantiasa diwarnai dengan berbagai permasalahan yang tiada habisnya. Hal ini selain disebabkan karena adanya perubahan orientasi dan tuntutan kehidupan umat manusia yang harus direspon oleh pendidikan Islam, juga karena adanya perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang menuntut kerja dunia pendidikan yang harus meningkat dari hari ke hari.

Berpijak dari latar belakang itulah penulis melakukan penelitian di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain dengan judul Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Di Madrasah Tsanawiyah Ibnu Husain Surabaya. Adapun fokus penelitian ini adalah 1). Apa saja problematika yang dihadapi dalam proses pelaksanaan pendidikan agama Islam di madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain. 2). Bagaimana upaya yang dilakukan untuk mengatasi problematika pelaksaan pendidikan agamaIslam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain. Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1). Untuk mendeskripsikan apa saja problematika pelaksanaan pendidikan Islam di Madrash Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain. 2). Mendeskripsikan upaya apa saja dalam mengatasi problematika pelaksanaan pendidikan Agama Islam di Madrash Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Adapun dalam pengumpulan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode, diantaranya metode observasi, metode interview dan metode dokumentasi. Dan data yang tekumpul penulis analisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif.

Dari hasil analisa data yang di pakai di lapangan, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut: Problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Ibnu Husain meliputi: a). Pada peserta didik yang meliputi, rendahnya tingkat perekonomian sebagian wali siswa, tingkat kecerdasan serta asal lulusan yang berbeda. b). Pada pendidik yakni rendahnya gaji, pendidik sering mengeluh terhadap akhlaq siswa, ada pendidik yang masih belum sarjana, serta kurangnya kerjasama antara wali siswa dengan pendidik. c). Pada kurikulum meliputi minimnya pendidik memahami kurikulum berbasis kompetensi, adanya pendidik yang tidak membuat satpel. d). Pada manajemen meliputi kurang terjalinnya kerja sama wali siswa dengan pendidik, sedikitnya siswa yang berminat terhadap kegiatan keagamaan. e). Pada sarana dan prasarana meliputi lokasi pendidikan yang berada di daerah padat penduduk, kurangnya lahan madrasah. Sedangkan upaya mengatasi problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Ibnu Husain meliputi: a). Pada peserta didik yakni pihak sekolah terus berupaya mencari beasiswa, setiap pendidik akan berupaya memberikan sanksi-sanksi yang bersifat mendidik, pendidik sudah membentuk kerja kelompok siswa. b). Pada pendidik meliputi biaya lembaga setiap pendidik akan diusahakan untuk diikut sertakan dalam acara seminar dan workshop, setiap pendidik sudah berupaya memahami karakter peserta didik dan menyesuaikan dengan kondisi kelas. c). Pada kurikulum yakni pihak sekolah akan terus mengupayakan untuk mensosialisasikan tentang penerapan kurikulum berbasis kompetensi kepada pendidik, pihak sekolah akan mengupayakan kepada pendidik membuat satpel. d). Pada manajemen yakni pihak sekolah akan terus mengupayakan menerapkan manajemen kompetensi berbasis sekolah yang meliputi manajemen berbasis kompetensi, kompetensi profesionalitas pendidik dan keterlibatan wali siswa dan juga masyarakat. e). Pada sarana dan prasarana meliputi pihak sekolah akan mengupayakan untuk mewujudkan sarana dan prasarana yang belum ada seperti perpustakaan.

Dari beberapa hasil penelitianini maka peneliti harapkan ada penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan permasalahan ini.

BAB I

PENDAHULUAN

H. Latar Belakang

Memasuki milenium ketiga, dunia pendidikan dihadapkan pada berbagai masalah yang sangat kompleks. Apabila hal ini tidak segera diatasi secara cepat dan tepat, maka pendidikan akan ketinggalan zaman. Dalam hal ini pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi setiap manusia dalam menghadapi setiap permasalahan hidup yang cenderung hedonis atau materialis. Apalagi kini masyarakat di Indonesia perhatianya terhadap materi semakin besar sedangkan perhatian mereka terhadap agama semakin kecil. Hal ini tercermin dalam kehidupan mereka yang cenderung materialistik dan hedonistik. Kini semakin banyak orang yang memilih pendidikan non agama yang menjanjikan pekerjaan lebih mudah daripada pendidikan agama (Arief Furhan, 2002: 129).

Berdasarkan pada Human Development Index (HDI), Indonesia berada pada urutan ke 102 dari 164 negara dan Indonesia masih berada di bawah vietnam. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara yang memiliki kualitas pendidikan yang rendah. Di sisi lain, mutu pendidikan di Indonesia masih belum menggembirakan untuk menghadapi tantangan yang sangat berat di masa depan. Untuk itu, dalam masa reformasi saat ini, pendidikan memerlukan perhatian yang sangat serius. Dibutuhkan perbaikan dan peningkatan dalam segala sektor dalam pendidikan yang meliputi Guru sebagai pendidik, Murid sebagai anak didik juga sarana dan prasarana seperti Kurikulum yang memadai (Muhaimin, 2003: 148 ).

Pendidikan memberikan sumbangan yang besar terhadap kemajuan suatu bangsa dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstitusi serta merupakan sarana dalam membangun watak bangsa. Masyarakat yang cerdas akan memberikan nuansa kehidupan cerdas pula, dan juga sebaliknya dan secara progresif akan membentuk kemandirian pada masyarakat itu sendiri (Mulyasa, 2002: 4)

Menurut Mukhtar Bukhori (dalam Muhaimin 2003: 13), praktik pendidikan Islam di Indonesia pada umumya dibagi menjadi empat bagian

1. Pendidikan pondok pesantren, yaitu pendidikan yang diselenggarakan secara tradisional.

2. Pendidikan madrasah ialah pendidikan yang diselenggarakan di lembaga-lembaga pendidikan model barat yang menggunakan metode-metode pengajaran klasik dan berusaha menanamkan nilai-nilai Islami sebagai landasan hidup dalam diri setiap peserta didik.

3. Pendidikan umum yang bernafaskan Islam, yaitu pendidikan Islam yang dilakukan melalui pengembangan sarana pendidikan yang bernafaskan Islam di lembaga-lembaga yang menyelenggarakan program yang sifatnya umum.

4. Pendidikan Islam yang diselengarakan di lembaga pendidikan umum sebagai bagian dari mata pelajaran / mata kuliah.

Dari ulasan diatas menunjukkan bahwa pendidikan merupakan tolak ukur dalam membangun masyarakat yang berperadaban tinggi. Suatu bangsa akan maju, dinamis, harmonis dan berkualitas bilamana pendidikan yang ada juga berkualitas.

Menurut Rachman (dalam Muhaimin, 2003: 70) titik lemah pendidikan di Indonesia, adalah keberhasilan pendidikan hanya diukur dari keunggulan ranah kognitif dan mengabaikan terhadap ranah afektif dan pskimotor. Dalam konteks pendidikan di sekolah, kelemahan tersebut rupanya bersifat menyeluruh, bukan hanya dialami oleh satu mata pelajaran tertentu, tetapi dialami seluruh mata pelajaran. Berkaitan dengan kenyataan ini mengilustrasikan bahwa ada sejumlah peserta didik yang suka hidup mewah dan boros di sekolah, bukankah itu menunjukkan kegagalan dari guru matematika dan ekonomi. Dan juga pada peserta didik yang kurang peduli terhadap lingkungan hidup di sekitarnya, bukankah itu merupakan kegagalan dari guru IPA. Dan juga ada peserta didik yang kurang sopan dalam berbicara dengan orang yang lebih tua, bukankah itu merupakan kegagalan dari guru bahasa. Kegagalan dari semua mata pelajaran secara tidak langsung merupakan kegagalan dari guru mata pelajaran agama Islam juga. Oleh sebab itu, proses pendidikan tidak hanya diorientasikan pada pengembangan kognitif saja (transfer of knowledge) akan tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik, sehingga peserta didik dapat berkembang dengan utuh antara mengetahui, merasakan dan bertindak.

Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu memberikan nuansa baru bagi pengembangan sistem pendidikan yang ada di Indonesia, dan sekaligus dapat memberikan kontribusi dalam menjabarkan makna pengembangan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Tujuan Pendidikan Nasional UU No.2 tahun 1989 (Muhaimin, 2002: 50).

Dalam UUSPN No.2/1989, pasal 28 ayat 1 ditegaskan untuk dapat diangkat sebagai tenaga pengajar, tenaga pendidik yang bersangkutan harus beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan Pancasila dan Undang Undang dasar 1945 serta memiliki kualifikasi sebagai tenaga pengajar.

Amin Abdullah (dalam Muhaimin, 2002: 90) menyoroti kegiatan Pendidikan Agama yang selama ini berlangsung di sekolah, antara lain:

1. Pendidikan agama selama ini lebih banyak terkonsentrasi pada persoalan-persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata.

2. Pendidikan agama kurang perhatian terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan yang kognitif menjadi “makna” dan nilai yang perlu diinternalisasikan dalam diri setiap peserta didik lewat berbagai cara, media dan forum yang ada.

3. Isu kenakalan remaja, perkelahian diantara pelajar, tindak kekerasan, premanisme, white colour crime, konsumsi minuman keras dan sebagainya, walaupun tidak secara langsung ada keterkaitan dengan pola metodologi pendidikan agama yang selama ini berjalan konvensional dan tradisional merupakan bukti kurang tercapainya sasaran pendidikan agama.

4. Metodologi pendidikan agama tidak kunjung berubah antara pra dan post era modernitas.

5. Pendidikan agama lebih banyak menitik beratkan pada aspek korespondensi, tekstual yang lebih menekankan hafalan teks-teks keagamaan yang sudah ada.

6. Sistem evaluasi, bentuk soal-soal ujian agama Islam menunjukkan prioritas utama pada kognitif dan jarang pertanyaan tersebut mempunyai bobot muatan “nilai” dan “makna” spiritual keagamaan yang fungsional dalam kehidupan sehari-hari.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa tantangan pendidikan agama Islam pada umumya, bukanlah permasalahan yang berdiri sendiri, melainkan terkait baik secara langsung maupun tidak langsung, denag perkembangan iptek dan aspek kehidupan yang lain, baik ekonomi, politik, sosial.

Tantangan dalam pendidikan agama Islam merupakan bagian dari tantangan dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya, terutama dalam meningkatkan sumber daya manusia yaitu:

1. Era kompetitif yang disebabkan oleh meningkatnya standar dunia kerja.

2. Kualitas pendidikan menurun, maka kualitas sumber daya manusia menurun dan lemah, pula dalam hal keimanan dan ketakwaan serta penguasaan iptek.

3. Kemajuan tekhnologi informasi menyebabkan banjirnya infomasi yang tidak terakses dengan baik oleh para pendidik, dan pada gilirannya berpengaruh pada hasil pendidikan.

4. Di dunia pendidikan tertinggal dalam hal metodologi.

Kesenjangan antara kualitas pendidikan dengan kenyataan empiris perkembangan masyarakat (Muhaimin, 2003: 92).

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa tantangan pendidikan agama Islam pada umumya, bukanlah permasalahan yang berdiri sendiri, melainkan terkait baik secara langsung maupun tidak langsung, denag perkembangan iptek dan aspek kehidupan yang lain, baik ekonomi, politik, sosial.

Pelaksanaan pendidikan Islam di sekolah-sekolah kita masih mengalami banyak problem atau kendala yang meliputi pendidik dimana sebagian besar dari mereka belum memahami cara mendidik yang benar sehingga sasaran dari pendidikan Islam yakni membentuk kesadaran kepada peserta didik dalam mengamalkan syariat Islam dan berakhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari kurang optimal atau belum sepenuhnya tercapai. Problem dalam pelaksanaan pendidikan Islam juga terdapat pada peserta didik dimana lingkungan tempat mereka berada sudah banyak mengalami dekadensi moral yang disebabkan oleh lemahnya perekonomian juga, lemahnya kesadaran diri akan nilai-nilai agama. Problem juga ada pada penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dimana hal ini sangat terkait dengan kemampuan finansial sekolah yang kurang memadai.

Permasalahan di atas nampaknya menurut pengamatan penulis, terjadi di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain yang merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang juga mempuyai tanggung jawab dalam rangka mewujudkan cita-cita pendidikan, sudah tentu menghadapi beberapa problema yang dapat menghambat pelaksanaan pendidikan, khususya pelaksanaan pendidikan agama Islam.

Dari uraian di atas, maka penulis tertarik mengadakan penelitian terhadap masalah pelaksanaan pendidikan agama Islam di madrasah dengan judul: Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain Surabaya.

I. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang penulis ungkapkan meliputi:

1. Apa saja problematika yang dihadapi dalam proses pelaksanaan pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain?

2. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk mengatasi problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain?

J. Tujuan Penelitian

Dengan berpijak pada rumusan masalah sebagaimana tersebut di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mendiskripsikan apa saja problematika yang dihadapi dalam proses pelaksanaan pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain.

2. Untuk mendiskripsikan bagaimana upaya yang dilakukan dalam mengatasi problema pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain.

K. Kegunaan Penelitian

Segala aktifitas yang dilakukan oleh manusia diharapkan memiliki daya guna baik bagi dirinya maupun orang lain, secara langsung atau tidak langsung. Adapun penilitian ini diharapkan:

1. Dapat dijadikan pertimbangan bagi lembaga pendidikan umumnya khusunya di Lembaga Pendidikan Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain, agar lebih berusaha dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam.

2. pendidik, sebagai pemegang peranan penting dalam mencapai keberhasilan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain diharapkan mampu memberikan kontribusi penyelesaian terhadap masalah yang menghambat pelaksanaan pendidikan agama Islam.

3. Bagi penulis, hasil penelitian dapat dijadikan sebagai acuan sejauh mana penulis mampu menerapkan hasil pendidikan yang dicapai selama berada di bangku kuliah.

L. Metode Penelitian

Penelitian merupakan proses yang berjalan secara kontinyu atau berkesinambungan, proses yang tidak pernah berhenti. Dengan kata lain hasil penelitian tidak akan pernah merupakan hasil yang bersifat final (Ach Moly Machdhocro, 1993: 13). Penelitian dapat dipandang sebagai suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan untuk memecahkan suatu masalah dengan menggunakan cara-cara dan metode yang bersifat ilmiah. Ini berarti dalam usahanya untuk memecahkan suatu masalah seorang penyelidik dituntut untuk memiliki sejumlah ilmu pengetahuan dan alat alat dan fasilitas- fasilitas lainya yang cukup yang memungkinkan ia melaksanakan tugasnya dengan lancar sehingga dapat mencapai hasil- hasil yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah (Ach. Moly Machdhocro, 1993: 54).

Jadi metode penelitian dapat diartikan sebagai cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Dalam pelaksanaan penelitian ini penulis menggunakan beberapa metode yang meliputi:

1. Jenis Penelitian

Metode penelitian sangat dipengaruhi oleh desain penelitian yang bersangkutan. Dalam hal ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus (case study), yaitu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci, dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Ditinjau dari wilayahnya, maka penelitian kasus hanya meliputi daerah/ subyek yang sangat sempit, tetapi dari sifat penelitian, penelitian kasus lebih mendalam ( Arikunto, 1993: 131).

2. Objek Penelitian

Dalam skripsi ini penulis menjadikan Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain sebagai objek penelitian, yang terletak di Jl Pragoto Kelurahan Sidotopo Kecamatan Semampir Di Surabaya. Adapun alasan penulis memilih obyek ini karena penulis memandang bahwa Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain masih dalam proses usaha peningkatan mutu pendidikan agama Islam yang dilihat dari sarana dan prasarana yang masih kurang memadai.

3. Informan Penelitian

Informan adalah orang yang dimanfaatkan oleh peneliti sebagai salah satu sumber informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Lexy J Moleyong, 2002: 90). Dengan demikian informan dapat dikatakan sebagai orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti atau bisa disebut juga orang yang memberikan informasi yang sedang dibutuhkan peneliti.

Dalam hal ini yang peneliti jadikan informan pada penelitian ini adalah:

1) Kepala sekolah,

2) Beberapa pendidik yang memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti.

3) Peserta didik

4) Pengurus yayasan.

4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data-data yang akurat dan dapat di pertanggung jawabkan bagi peneliti, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan beberapa teknik sebagai berikut:

1) Metode Observasi

Di dalam pengertian psikologik, observasi yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera (Suharsini Arikunto, 1998: 148). Metode ini penulis tempuh untuk mengungkapkan data yang berkaitan dengan kondisi yang umum di lingkungan sekolah, kegiatan proses belajar mengajar serta keadaan sarana dan prasarana di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain

2) Metode Interview (wawancara)

Interview atau wawancara adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan Tanya jawab sepihak. (Suharsini Arikunto, 1998: 145). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik interview bebas terpimpin, yaitu kombinasi antara interview bebas dengan interview terpimpin. Dalam melaksanakan interview, pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal hal yang akan ditanyakan (Suharsini Arikunto, 1998: 148). Dalam hal ini pewawancara harus menciptakan suasana santai tetapi serius artinya bahwa interview dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, tidak main-main, tetapi tidak kaku. Suasana ini penting dijaga, agar responden mau menjawab apa saja yang dikehendaki oleh pewawancara secara jujur.

Metode ini digunakan untuk menggali data historis Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain dan juga mengumpulkan data dari kepala sekolah tentang problematika pendidikan agama Islam yang dihadapi dan bagaimana pemecahanya.

3) Metode dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis (Suharsini Arikunto, 1998: 149). Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda benda tertulis seperti, dokumen, peraturan-peraturan, catatan harian dan sabagainya. Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data mengenai struktur manajemen dan juga ingin mengetahui keadaan peserta didik dan pendidik.

5. Teknik Analisa Data

Dalam menganalisis dan mengelola data yang diperoleh, penulis menggunakan teknik analisis deskriptif sebagaimana yang sering dilakukan data penelitian kualitatif, karena dalam penelitian ini tidak menggunakan data berupa angka-angka, maka teknik yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif (Lexi J Moleong, 2002: 6).

Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mendiskripsikan apa apa yang berlaku. Di dalamya terdapat upaya mendiskripsikan, mencatat, analisa, dan menginterpretasikan kondisi kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada. (Mardalis, 1993: 26). Setelah semua data yang diperlukan terkumpul, maka selanjutnya data tersebut diolah dan disajikan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif, dengan melalui tahapan tahapan tertentu, yakni identifikasi, klasifikasi, dan selanjutya diinterpretasikan melalui penjelasan yang deskriptif.

M. Penegasan Istilah

Dalam penyusunan skripsi ini peneliti merasa perlu menegaskan tentang istilah yang dianggap penting yaitu:

a. Problematika: berasal dari kata problem yang artinya beberapa masalah yang perlu dipecahkan (Dahlan, 1994: 626)

b. Pelaksanaan: berasal dari kata laksana yang artinya perbuatan. Kemudian mendapat tambahan pe-an sehingga menjadi pelaksanaan yang artinya proses.

c. Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain: sebuah lembaga pendidikan Islam yamg berbentuk madrasah.

Berdasarkan penegasan istilah maka dapat diketahui bahwa penelitian skripsi ini difokuskan pada problematika yang dihadapi oleh lembaga Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain dan upaya meninternalisasikan pendidikan agama Islam

N. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah membagi menjadi empat bab, yaitu:

BAB I: Merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar balakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, penegasan istilah, sistematika penulisan

BAB II: Membicarakan tentang kajian pustaka Pada bagian pertama mengenai gambaran umum tentang Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Selanjutnya membahas tentang upaya mengatasi problematika pelaksanaan prendidikan agama Islam.

BAB III: Laporan hasil penelitian yang meliputi tinjauan umum obyek penelitian yang membahas tentang sejarah berdirinya Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain, keadaan pendidik, keadaan peserta didik, keadaan sarana dan prasarana. Selanjutnya membahas penyajian dan analisa data yang meliputi : problem peserta didik dalam pendidikan Islam, problem pendidik dalam pendidikan Islam, Problem kurikulum dalam pendidikan Islam, problem manajemen dalam pendidikan Islam, problem sarana dan prasarana dalam pendidikan Islam. Selanjutnya membahas tentang Upaya mengatasi problem peserta didik dalam pendidikan Islam, upaya mengatasi problem pendidik dalam pendidika Islam, upaya mengatasi problem kurikulum dalam pendidikan Islam, upaya mengatasi problem manajemen pendidikan Islam, upaya mengatasi problem sarana dan prasarana dalam pendidikan Islam

BAB IV: Merupakan akhir dari pembahasan yang berisikan kesimpulan dan realitas hasil penelitian.

BAB II

KAJIAN TEORITIS

5. Konsep Dasar Tentang Pendidikan agama Islam

Kata “pendidikan Islam” menunjukkan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam. Pengertian pendidikan berasal dari bahasa Yunani yaitu: “paedagogie” yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak didik. Istilah ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan kata “Education”. Kata pendidikan diistilahkan dalam bahasa arab dengan kalimat tarbiyah, taklim dan takdib (Ahmad Tafsir, 1994: 24).

Al-Abrasyi menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia untuk hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, teratur pemikiranya, halus perasaannya, mahir dalam profesinya, serta manis tutur katanya. Marimba juga memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran nilai-nilai Islam (Ramayulis: 2004: 3).

Dalam Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan Nasional, pasal 1 menjelaskan, bahwa “Pendidikan” adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan bagi perananya di masa yang akan datang (Undang-undang RI 2003: 3).

Dalam GBPP PAI di sekolah umum, dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan, bimbingan, pengajaran, atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan Persatuan Nasional (Muhaimin, 2003: 75).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan pendidikan Islam adalah pandangan serta sikap hidup yang bernafaskan nilai-nilai yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits sehingga peserta didik dapat mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik.

6. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

a. Dasar Pendidikan Agama Islam

Dasar dan tujuan pendidikan merupakan faktor yang sangat fundamental dalam melaksanakan pendidikan. Sebab dari dasar pendidikan itu akan menentukan corak dari isi pendidikan. Dan dari tujuan pendidikan itu akan menentukan kearah mana peserta didik itu akan dibawa.

Berkaitan dengan hal ini, maka pendidikan agama Islam mempuyai peranan penting dalam mewarnai kehidupan manusia, baik dalam kehidupan keluarga, maupun dalam kehidupan bangsa dan negara (Abu Ahmadi, 98: 66).

Dasar pendidikan Islam identik dengan ajaran Islam itu sendiri, yakni keduanya berasal dari sumber Alqur’an dan Hadist. Al-Qur’an merupkan sumber kebenaran dalam Islam, yang mana kebenarannya tidak dapat diragukan lagi. Ia tetap terpelihara kesucian dan kebenarannya, baik dalam pembinaan aspek kehidupan spiritual maupun aspek sosial budaya dan pendidikan.

Secara harfiah Al-Qur’an adalah bacaan atau yang dibaca. Pengertian ini sejalan dengan maksud diturunkannya Al-Quran yaitu agar dibaca, untuk selanjutnya dipahami serta diamalkan kandunganya. Sedangkan secara terminologi Al-Quran, sebagaimana dikemukakan Abdul Wahab Khalaf dalam Kitabnya Ilmu Ushul al Fiqhi, adalah firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdullah melalui Ruhul Amin yakni (malaikat jibril) dengan lafal bahasa arab dan maknanya yang benar, agar ia menjadi petunjuk bagi Rasul, bahwa ia benar benar Rasulullah, menjadi undang-undang bagi manusia,, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana pendekatan diri dan mendapatkan pahala bagi pembacanya ( Abuddin Nata, 2003: 293).

Dasar pendidikan yang berlandaskan pada Al-qur’an sebagaimana yang diterangkan dalam surat An Nahl Ayat 78 dan surat Al Alaq Ayat 3 serta surat Mujadalah ayat 11 serta sebagaimana berikut:

وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون َ(78)

Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (Q.S. An-Nahl: 78).

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4)

Artinya: Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (Q.S. Al-Alaq: 3-4).

يَرْفَعِ اللّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير ٌ(11)

Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Mujaadilah: 11)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia tanpa melalui belajar, niscaya tidak akan dapat mengetahui sesuatu yang ia butuhkan bagi kelangsungan hidupnya di dunia dan akherat. Pengetahuan manusia akan berkembang jika diperoleh melalui proses belajar mengajar yang diawali dengan baca tulis. Jadi dengan melalui proses membaca dan menulis manusia baru dapat melangkah ke tingkat proses mengetahui hal-hal yang belum ia ketahui. Dengan pengetahuan tersebut manusia dapat meningkatkan keimanan kepada Allah serta dengan ilmu pengetahuan pula derajat manusia dapat terangkat ke tingkatan yang lebih tinggi sebagaimana firman Allah SWT diatas.

Sumber pendidikan agama Islam yang kedua setelah Al-qur’an adalah Al-Hadits. Secara harfiah Hadits berarti baru, berita atau kabar, sedangkan dalam pengertian yang lazim yang digunakan, hadist sama dengan Sunnah yaitu segala sesuatu yang terdapat dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun ketetapan (Abuddin Nata, 2003: 292).

Adapun dasar pendidikan yang tercakup dalam Hadist sebagaimana yang akan diterangkan sebagaimana berikut:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Tiap tiap anak dilahirkan dilahirkan diatas fitroh maka ibu bapaknyalah yang mendidiknya menjadi orang yang beragama yahudi, nasrani dan majusi (HR. Bukhori Muslim).

Hadist ini menyatakan bahwa manusia lahir membawa kemampuan yang disebut fitroh. Fitroh tersebut diartikan sebagai faktor pembawaan manusia sejak lahir yang bisa dipengaruhi oleh lingkungan, bahkan ia tak akan dapat berkembang bila tanpa adanya pengaruh lingkungan. Sedangkan lingkungan itu sendiri dapat diubah bila tidak favourable (tidak menyenangkan karena tidak sesuai dengan cita cita manusia.

Dengan kata lain bahwa dalam proses perkembangan, terjadi interaksi (saling mempengaruhi ) antara fitroh dan lingkungan sekitar, sampai akhir hayat manusia.

Hadist tersebut dapat dijadiakan sumber pandangan bahwa usaha mempengaruhi jiwa manusia melalui pendidikan dapat berperan positif untuk mengarahkan perkembangan seseorang kepada jalan kebenaran yaitu Islam. Tanpa melalui usaha pendidikan, manusia akan terjerumus ke jalan yang salah.

a) Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan Islam merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam pendidikan, karena tujuan merupakan arah yang hendak dicapai atau yang hendak dituju oleh pendidikan. Demikian halnya dengan pendidikan agama Islam, maka tujuan pendidikan agama Islam itu adalah tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan agama Islam dalam kegiatan pelaksanaan pendidikan agama Islam .

Secara umum, pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi insan yang muslim, beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Muhaimin: 2003: 78). Dalam firman Allah surat Ad-Dzurriyyat ayat 56 dan juga hadist yang akan disebutkan.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إلاَّ لِيَعْبُدُونِ (56)

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Ad-Dzurriyat Ayat 56).

اِنَّمَا بُعِثْتُ ِلاُتَمِّمَ مَكَارِمَ الاَخْلاَقِ (رواه البخارى)

Artinya: Bahwasanya saya diutus untuk menyempurnakan budi pekerti (HR.Bukhori).

ayat ini menjelaskan tentang ciptaan Allah baik berupa manusia atau jin tidak lain untuk menyembahnya dan mentaati segala perintanya dan menjauhi segala laranganya. Dan juga hadis tersebut menjelaskan tentang tujuan dari pendidikan dalam Islam adalah membentuk manusia yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan perbuatanya (Ramayulis, 2002: 115).

Dalam pasal 3 Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa tujuan pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa.

Ibnu Miskawaih menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong atau memotivasi secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang bernilai baik.

Sementara Al-Qabisi menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menumbuh kembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar. Demikian Ibnu Sina menyatakan bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangan yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Munir Mursi menjabarkan tujuan pendidikan Islam menjadi sebagai berikut:

1. Bahagia di dunia dan juga di akherat

2. Menghambakan diri kepada Allah SWT.

3. Memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat Islam.

4. Akhlak mulia ( Tafsir, 94: 46 ).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah berupaya membangun manusia dan masyarakat secara utuh dan menyeluruh (insan kamil) dalam semua aspek kehidupan yang berbudaya dan berpendidikan yang tercermin dalam kehidupan manusia bertaqwa dan beriman, berdemokrasi dan merdeka, berpengetahuan, bertrampilan, beretos kerja yang professional, beramal sholeh, berkepribadian, berakhlakul karimah, berkemampuan inovasi dan mengakses perubahan serta berkemampuan kompetitif dan kooperatif dalam era global dalam rangka memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan duniawi dan rohaniah (Muhaimin, 2003: 78).

7. Problematika Dalam Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Dalam pelaksanaan program pelaksanaan pendidikan agama Islam di sekolah ditemui beberapa problem sebagaimana yang akan diuraikan sebagai berikut:

a. Problem Anak Didik Dalam Pendidikan Agama Islam

Problem yang berkaitan dengan anak didik perlu diperhatikan, dipikirkan, dan dipecahkan, karena anak didik merupakan pihak yang dibina untuk dijadikan manusia yang seutuhnya, baik dalam kehidupan keluarga, sekolah maupun dalam masyarakat.

Pengertian anak didik adalah anak yang belum mencapai kedewasaan, baik fisik maupun psikologis yang memerlukan usaha serta bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai hamba Tuhan serta sebagai bagian dari masyarakat dan warga negara.Peserta didik dijadikan sebagai pokok persoalan dalam semua gerak kegiatan dan pengajaran.Pendidik tidak mempuyai arti apa apa tanpa kehadiran peserta didik sebagai subyek pembinaan.Dalam perspketif pedagogis, peserta didik adalah sejenios makhluk yang menhajatkan pendidikan.

Suwardi, menyatakan bahwa sistem pendidikan Islam selama ini hanya mengandalkan kekuasaan pendidikan, tanpa memperhatikan pluralisme subyek didik, yang sudah saatnya harus dirubah agar tercipta masyarakat madani, yakni peserta didik yang aktif, membiasakan berpendapat dengan penuh tanggung jawab serta membangun norma-norma keberadaban.

Pendidikan Islam di Madrasah atau lembaga-lembaga pendidikan Islam lainya, dalam proses belajar mengajar dapat melaksanakan demokratisasi pendidikan di kelas, sehingga mampu membawa peserta didik untuk dapat menghargai kemampuan dan kemajemukan peserta didik lainnya serta menghargai perbedaan yang ada. Demokratisasi pendidikan dalam proses belajar mengajar dapat ditempuh dengan mengajarkan hal-hal yang dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan zaman dewasa ini.

Proses belajar mengajar yang pragmatis akan menciptakan suasana yang kondusif bagi demokratisasi pendidikan, dimana dalam proses belajar mengajar peran “pendidik” tidak bersifat monopoli, yakni keberhasilan dalam proses belajar mengajar juga ditentukan oleh peran aktif peserta didik.

Selama ini memang dirasakan bahwa proses pendidikan Islam terkesan menganut asas subject matter oriented yang membebani peserta didik dengan informasi-informasi yang kognitif dan motorik yang kurang relevan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan psikologi peserta didik (Hujair, 2003: 244).

Adapun problem-problem yang terdapat pada anak didik antara lain:

1. Problem kemampuan ekonomi keluarga.

2. Problem intelegensia.

3. Problem bakat dan minat.

4. Problem perkembangan dan pertumbuhan.

5. Problem kepribadian.

6. Problem sikap.

7. Problem sifat.

8. Problem kerajinan dan ketekunan.

9. Problem pergaulan.

10. Problem kesehatan (Ramayulis, 2004: 106).

Dalam rangka memenuhi keselarasan antara jasmani dan rohani peserta didik, maka terdapat beberapa faktor penyebab timbulnya problem bagi peserta didik yang perlu diperhatikan. Faktor penyebab kesulitan belajar yang dirasakan oleh peserta didik di karenakan adanya pengaruh dari dalam diri peserta didik itu sendiri,yang meliputi:

1) Intelengensi peserta didik

Setiap peserta didik sejak lahirnya memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, antara satu dengan yang lainya. Kemampuan peserta didik dalam kelas tidak sama, hal ini mengakibatkan adanya hambatan bagi pendidik dalam menyampaikan pelajaran (transfer knowledge). Jika pendidik hanya memperhatikan peserta didik yang memiliki intelengensi yang tinggi, maka keadaan kelas tidak akan harmonis yang pada akhirnya akan menimbulkan kecemburuan dihati peserta didik yang berintelegensi rendah karena merasa tidak diperhatikan, sehingga pada akhirnya tujuan intruksional khusus tidak tercapai (Abu Ahmadi, 97: 108).

2) Minat peserta didik.

Minat pada peserta didik dapat diartikan sebagai rasa senang atau tidak senang dalam menghadapi suatu subjek pelajaran. Prinsip dasarnya ialah bahwa minat peserta didik akan meningkat apabila yang bersangkutan memiliki rasa senang yang tinggi dalam melakukan tindakanya. Minat peserta didik erat kaitannya dengan perhatian yang diberikannya dalam mengikuti proses belajar mengajar. Kefektifan suatu proses pembelajaran akan dipengaruhi oleh kualitas perhatian pendidik terhadap rangsangan.

3) Motivasi.

Motivasi dapat diartikan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar. Dalam suatu penelitian ditemukan bahwa hasil belajar pada umumya meningkat jika motivasi belajar bertambah baik motifnya dari intrinsik maupun ekstrinsik (Muhammad Surya, 2003: 93).

Uraian di atas menjelaskan bahwa perhatian merupakan salah satu faktor psikologis yang dapat membantu terjadinya interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam proses belajar-mengajar. Perhatian merupakan faktor terpenting dalam usaha belajar mengajar pada peserta didik.

Peserta didik merupakan asset dan harapan umat dimasa depan. Oleh karena itu lembaga pendidikan Islam yang tidak memberikan pendidikan yang terbaik kepada peserta didiknya berarti telah menyia-nyiakan asset umat (Arief Furhan, 2002: 18).

Dalam hal ini yang perlu diperhatikan oleh seorang pendidik dalam membimbing peserta didik adalah kebutuhan mereka. Al-Qusby membagi pula kebutuhan manusia dalam dua kebutuhan pokok yaitu :

1. Kebutuhan primer, yaitu kebutuhan jasmani seperti makan, minum dan tidur.

2. Keutuhan sekunder yaitu kebutuhan rohaniah kemudian ia membagi kebutuhan rohaniah kepada enam macam yaitu :

a) Kebutuhan kasih sayang

b) Kebutuhan akan rasa aman

c) Kebutuhan akan harga diri

d) Kebutuhan akan rasa bebas

e) Kebutuhan akan rasa sukses (Ramayulis, 2002: 104).

Kebutuhan peserta didik perlu diperhatikan oleh setiap pendidik sehingga anak didik tumbuh dan berkembang mencapai kematangan psikis dan fisik. Pendidikan agama juga memperhatikan kebutuhan biologis dan psikologis ataupun kebutuhan primer dan sekunder seperti yang dijelaskan di atas, maka penekanannya adalah diyakini dan diamalkan oleh anak didik akan dapat mewarnai seluruh aspek kehidupannya yang islami.

b. Problem Pendidik Dalam Pendidikan Agama Islam

Dalam proses pendidikan khususnya pendidikan di sekolah, Pendidik memegang peranan yang paling utama. Dalam konteks pendidikan Islam pendidik disebut dengan kata muaddib, muallim dan murabbi. Kata murabbi berasal dari kata rabba yurabbi, kata muallim berupa isim fail dari allama, yuallimu sebagaimana ditemukan dalam Alqur’an surat Al-Baqarah ayat 151 sebagaimana berikut:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِنْكُمْ يَتْلُوْ عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ(151)

Artinya: Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui (QS. Al-Baqarah Ayat 151).

Ayat ini menerangkan bahwa seorang pendidik adalah pewaris nabi yang mempuyai peranan penting dalam merubah dinamika kehidupan yang primtif menuju dinamika kehidupan yang madani.

Sedangkan kata muaddib, berasal dari addaba, yuaddibu, seperti sabda rasul :

اَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَاَحْسَنَ تَأدِيْبِيْ

Artinya: Allah mendidikku maka ia memberikan kepadaku sebaik baik pendidikan ( Ramayulis, 2002: 84).

Kata muallim, murabbi, muaddib masing masing mempunyai makna yang berbeda. Istilah kata Murabbi orientasinya lebih mengarah pada pemeliharaan, baik bersifat jasmani atau rohani. Sedangkan istilah kata Muallim digunakan dalam membicarakan aktivitas yang lebih terfokus pada pemindahan ilmu pengetahuan dari seorang yang tahu kepada seorang yang tidak tahu. Adapun istilah Muaddib menurut Al-Attas lebih tepat dalam menggunakan konsep pendidikan Islam (Ramayulis, 2002: 85).

Gambaran tentang hakikat pendidik dalam Islam adalah orang orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan seluruh potensi peserta didik, baik affektif, kognitif dan psikomotorik.

Muhammad Fadhil Al-Djamali menyatakan bahwa pendidik adalah orang yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik sehingga terangkat derajat kemampuanya sesuai dengan kemampuan dasar yang dimiliki oleh manusia.

Marimba mengartikan pendidik sebagai orang yang memikul tanggung jawab sebagai pendidik yaitu manusia dewasa yang mempuyai hak dan kewajiban dalam mendidik peserta didik. Oleh karena itu, seorang pendidik memikul tanggung jawab yang bersifat personal dalam arti bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, kemudian bersifat sosial dalam arti bahwa setiap orang yang bertanggung jawab atas pendidikan orang lain. Hal ini tercermin dalam firman Allah :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلاَئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُونَ اللّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ(6)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. At-Tahriim Ayat 6)

Pendidik dalam lingkungan keluarga adalah orang tua, hal ini disebabkan karena secara alami anak didik pada masa awal kehidupannya berada ditengah tengah ayah dan ibunya.

Sedangkan pendidikan di lembaga pendidikan sekolah disebut dengan pendidik yang meliputi madrasah dari taman kanak kanak sekolah menengah sampai pendidik dosen di perguruan tinggi dan lain sebagainya.

Muhaimin (2003: 61) menyatakan bahwa, pendidik dalam pendidikan agama Islam di madrasah pada dasarnya adalah merupakan pewaris nabi, serta pewaris ulama pendahulunya untuk mempertahankan atau mengembangkan nilai Islam yang terdapat dalam konteks pendidikan formal di madrasah, sehingga menciptakan masyarakat religius yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi cita-cita pembangunan bangsa dan negara Indonesia, tetap eksis berkembang meluas ke dalam berbagai sektor kehidupan.

Pendidik dalam pendidikan Agama Islam yang mempuyai komitmen terhadap profesionalisme yang tercermin dalam aktivitasnya sebagai murabbi, mua’lim, dan muaddib yang berusaha menumbuh kembangkan, mengatur dan memelihara potensi, minat dan bakat kemampuan peserta didik secara optimal, melalui kegiatan penelitian, eksperimen di laboratium, problem solving dan sebagainya, sehingga menghasilkan nilai-nilai yang positif yang berupa sikap rasional-empirik obyektif-empirik dan obyektif matematis. Sebagai Muallim, ia akan melakukan transfer ilmu/pengetahuan/nilai ke dalam diri sendiri dan peserta didiknya, serta berusaha membangkitkan semangat dan motivasi mereka untuk mengamalkanya. Sebagai Muaddib seorang pendidik sadar bahwa eksistensi GPAI memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban yang berkualitas di masa depan melalui kegiatan pendidikan.

Problem sumber daya kependidikan secara umum merupakan masalah pokok yang dihadapi pendidikan Islam adalah rendahnya kualitas tenaga pendidik.

Fazlur Rahman menyatakan Indonesia seperti halnya negeri-negeri muslim besar lainnya juga menghadapi masalah pokok dalam modernisasi pendidikan Islam yaitu masalah kelangkaan tenaga yang memadai untuk mengajar dan melakukan riset, dikarenakan pada gaji yang tidak cukup, kemudian ia mencari pekerjaan tambahan di luar lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupanya tiap bulan. Akibatnya, etos kerjanya sebagai pendidik agama di sekolah sangat menurun.

Pendidik dalam pendidikan agama Islam dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya. Seseorang dikatakan professional, bilamana pada dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous improvement, yakni selalu berusaha memperbaiki dan memperbaharui model model yang sesuai dengan tuntutan zamanya, yang dilandasi oleh kesadaran tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada masa zamanya (Muhaimin, 2002: 4).

Houle (dalam suyanto, 2001) mengemukakan ciri-ciri suatu pekerjaan yamg professional sebagai berikut:

1. Harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat.

2. Berdasarkan atas kompetensi individual, bukan atas dasar KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

3. Memiliki sistem seleksi dan sertifikasi.

4. Ada kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat.

5. Adanya kesadaran profesional yang tinggi.

6. Memiliki prinsip prinsip kode etik.

7. Memiliki sistem sanksi profesi.

8. Adanya militansi individual.

9. Memiliki organisasi profesi

Gary A Davis & Margaret A. Thomas (dalam Suryanto, 2001), mengemukakan tentang ciri pendidik yang efektif meliputi empat kelompok: Pertama, memiliki pengetahuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas, yang terdiri di atas:

a. Memiliki ketrampilan interpersonal, khususya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada peserta didik.

b. Memiliki hubungan baik dengan peserta didik.

c. Mampu menerima, mengakui, dan memperhatikan peserta didik secara tulus.

d. Menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar.

e. Mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerjasama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok peserta didik.

f. Mampu melibatkan peserta didik dalam mengorganisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran.

g. Mampu mendengarkan peserta didik dan menghargainya haknya untuk berbicara dalam setiap diskusi.

h. Mampu meminimalkan friksi di kelas.

Kedua, kemampuan yang terkait dengan strategi menajemen pembalajaran, yang terdiri:

a. Memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menanggapi peserta didik yang tidak mempuyai perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran.

b. mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda untuk peserta didik.

Ketiga, memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feed back) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri:

a. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon peserta didik.

b. Mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap peserta didik yang lamban belajar.

c. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban peserta didik yang kurang memuaskan

d. Mampu memberikan bantuan professional kepada peserta didik jika diperlukan.

Keempat, memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan dengan peningkatan diri, yang terdiri:

a. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif.

b. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metode metode pembelajaran.

c. Mampu memanfaatkan perencanaan pendidik secara kelompok untuk menciptakan dan mengembangkan metode pembelajaran yang relevan (Muhaimim, 2002: 66).

Bertolak dari uraian di atas, maka pendidik dalam proses belajar mengajar harus menguasai serta menerapkan prinsip didaktik dan metodik agar usahanya dapat berhasil dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Sebab didaktik dan metodik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pengajaran dalam kelas. Pengertian didaktik adalah ilmu mengajar yang memberikan prinsip prinsip tentang cara cara menyampaikan bahan pelajaran sehingga dikuasai dan dimiliki peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang yang memilih profesi sebagai pendidik, berarti ia harus sanggup memikul tanggung jawab yang besar. Pendidik merupakan harapan masyarakat yang terdidik, membimbing, dan mengajar anak didiknya menjadi manusia berguna bagi agama dan nusa dan bangsa

c. Problem Kurikulum Dalam Pendidikan Agama Islam

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. Dalam Bahasa Arab kurikulum diistilahkan manhaj yang berarti jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai kehidupan. Sedangkan arti manhaj/kurikulum dalam pendidikam Islam sebagaimana yang terdapat dalam kamus At-Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.

Definisi tentang kurikulum juga telah dirumuskan oleh para pakar pendidikan, diantaranya definisi yang dikemukakan oleh M.Arifin yang memandang kurikulum sebagai seluruh mata pelajaran yang disajikan dalam proses pendidikan dalam suatu institusional pendidikan. Nampaknya definisi ini masih terlalu sederhana dan lebih terpaku pada materi pelajaran semata. Sementara, Zakiah Daradjad menganggap kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tertentu. Definisi kurikulum ini nampaknya lebih luas dari definisi yang pertama, karena kurikulum tidak hanya mencakup pada materi pelajaran semata namun juga mencakup seluruh program di dalam kegiatan pelajaran (Ramayulis, 2002: 129).

Dalam pandangan dunia pendidikan, keberhasilan program pendidikan sangat tergantung pada perencanaan program kurikulum pendidikan tersebut, karena “kurikulum, pada dasarnya berfungsi untuk menyediakan program pendidikan (bluefrint) yang relevan bagi pencapaian sasaran akhir program pendidikan. Dengan kata lain, Fungsi kurikulum adalah menyiapkan dan membentuk peserta didik agar dapat menjadi manusia yang memiliki kompetensi tertentu sesuai dengan orientasi kurikulum dan sasaran akhir program pendidikan. Program kurikulum diorientasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang, apabila kurikulum tidak sesuai dengan kebutuhan masa kini dan masa akan datang tentu akan memiliki kontribusi yang signifikan terhadap calon-calon penganggur pada masa yang akan datang (Hujair, 2003: 163).

Menurut istilah Paulo Freire, model pengajaran sebagai implementasi kurikulum adalah analog dengan banking concept. pendidik selalu melakukan deposito berbagai macam informasi ke bank peserta didik tanpa harus tahu untuk apa informasi itu bagi kehidupan mereka. Akibat dari model pengajaran seperti ini, peserta didik memiliki pengetahuan, tetapi peserta didik kering dan tidak memiliki sikap, minat dan motivasi dan kreatifitas untuk mengembangkan diri atas dasar pengetahuan yang dimiliki, serta peserta didik sendiri tidak memahami dan tidak tahu untuk apa pengetahuan tersebut (Hujair, 2003: 164). Dalam hal ini kurikulum pendidikan agama Islam lebih menitik beratkan pada aspek korespondensi-tekstual, yang lebih menekankan hafalan-hafalan teks keagamaan yang sudah ada.

Hujair (2003: 165) menyatakan bahwa, proses pendidikan agama Islam, seringkali dapat disaksikan praktek pendidikan yang kurang menarik dari sisi materi dan metode penyampaian yang diaplikasikan. Desain kurikulum pendidikan agama Islam sangat didominasi oleh masalah yang sangat normative, apalagi materi pendidikan Islam yang kemudian disampaikan dengan semangat ortodoksi keagamaan atau menekankan ortodoksi dalam pelajaran mata agama yang diidentikkan dengan keimanan, dan bukan ortopraksis yaitu bagaimana mewujudkan iman dalam tindakan nyata operasional.

Amin Abdullah misalnya, salah seorang pakar keislaman non tarbiyah, juga telah menyoroti kurikulum dan kegiatan pendidikan Islam yang selama ini berlangsung di sekolah, antara lain sebagai berikut:

1. Pendidikan Islam lebih banyak terkosentrasi pada persoalan-persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata-mata.

2. Pendidikan Islam kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan nilai yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik lewat berbagai cara dan media.

3. Pendidikan agama Islam lebih menitik beratkan pada aspek korespondensi tekstual, yang lebih menitikberatkan pada hafalan teks keagamaan yang sudah ada

4. Sistem evaluasi, bentuk-bentuk soal ujian agama Islam menunjukkan prioritas utama pada aspek kognitif, dan jarang pertanyaan tersebut mempunyai bobot muatan “nilai” dan “makna“ spiritual keagamaan yang fungsional dalam kehidupann sehari hari (Muhaimin, 2002: 264)

d. Problem Manajemen Dalam Pendidikan Agama Islam

Manajemen merupakan terjemahan dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata-laksanaan. Management berakar dari kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, atau mengelola.

Manajemen pendidikan dapat diartikan sebagai suatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang (Mulyasa, 2002: 25)

Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Alasanya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat direalisasikan secara optimal, efektif dan efesien.

Manajemen pendidikan Islam mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik, sistemik, dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan. Dari kerangka inilah tumbuh kesadaran untuk melakukan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas menajemen pendidikan, baik yang dilakukan pemerintah maupun lembaga pendidikan.

Manajemen pendidikan agama Islam merupakan tanggung jawab Departemen Agama, sehingga hal ini mempuyai dampak pada pendanaan pendidikan. Artinya anggaran belanja negara bidang pendidikan hanya dialokasikan kepada lembaga lembaga pendidikan umum yang berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, sedangkan pendidikan Islam tidak diambil dari anggaran negara bidang pendidikan, tetapi dari anggaran bidang agama, sehingga anggaran pembiayaan pemerintah untuk pendidikan Islam jauh lebih kecil dibandingkan untuk pendidikan umum.

Upaya lain adalah diundangkan UUSPN 1989 sebagai usaha untuk menngabungkan (integrasi) sistem pendidikan yang lebih dikenal dengan istilah pendidikan satu atap. Akan tetapi upaya ini semua sampai saat ini belum pernah selesai dan terimplementasi dengan baik. Dengan kata lain dalam menajemen pendidikan di Indonesia, pendidikan Islam belum mengalami transformasi posisi yang berarti dan diberlakukan sacara sejajar oleh pemerintah dengan pendidikan umum di bawah Departemen Pendidikan Nasional. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam pengelolaan sistem pendidikan di Indonesia, “posisi pendidikan Islam masih dalam posisi marginal.

Inilah realitas yang dihadapi, sehingga menjadikan pendidikan Islam secara umum kurang diminati dan kurang mendapat perhatian. Hal ini didukung dengan materi kurikulum dan manajemen pendidikan yang kurang memadai, kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Lulusannya kurang memiliki ketrampilan untuk bersaing dalam dunia kerja. Melihat kenyatatan ini, maka reformasi manajemen pendidikan Islam menjadi suatu keharusan. Sebab dengan langkah-langkah berusaha pembenahan dan peningkatan profesionalisme penyelenggaran pendidikan akan mampu menjawab berbagai tantangan dan dapat memberdayakan pendidikan Islam di masa depan. Dalam hal ini pendidikan agama Islam menerapkan manajemen berbasis sekolah artinya pengelolaan pendidikan pendidikan mengarah kepada pengelolaan kepada pengelolaan manajemen berbasis sekolah.

Penerapan manajemen berbasis sekolah juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, pendidik, serta kebutuhan masyarakat setempat.

Bank dunia telah mengkaji beberapa faktor yaqng perlu diperhatiakan dalam penerapan manajemen berbasis sekolah. Faktor tersebut berkaitan dengan kewajiban sekolah yang menawarkan keluasan pengelolaan masyarakat, kebijakan dan prioritas pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan berhak merumuskan kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan dengan program peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan, peranan orang tua dan masyarakat perlu dihimpun dalam satu badan sekolah yang dapat berpartisipasi dalam pembuatan keputusan sekolah, peranan profesionalisme kepala sekolah, pendidik, administrasi dalam mengoperasikan sekolah (Hujair, 2003: 220)

e. Problem Sarana dan Prasarana Dalam Pendidikan Agama Islam

Sarana pendidikan agama Islam adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dalam menunjang proses pendidikan khususya proses belajar mengajar seperti gedung, ruang kelas, meja, kursi serta peralatan dan media pengajaran yang lain. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalanya proses pendidikan atau pengajaran seperti kebun, halaman, taman sekolah, jalan menuju sekolah (Muhammad Surya, 2003: 118). Zakiah Deradjat menyamakan sarana pendidikan dengan media pendidikan. Dalam hal ini, Gegne mendefinisikan sarana pendidikan sebagai alat fisik yang dapat menyajikan pesan yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar.

Sarana pendidikan Agama Islam diharapkan dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalanya proses pendidikan. Dengan demikian apabila pendidikan Islam memanfaatkan dan menggunakan sarana pendidikan, maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus tentang materi yang diperoleh, dan juga diharapkan akan memiliki moral yang baik.

Sarana dan prasarana pendidikan agama Islam yang baik, diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi dan indah sehingga menciptakan sekolah yang menyenangkan bagi pendidik maupun peserta didik yang berada di sekolah ( Ramayulis, 2002: 181).

Yusuf Hadi Miarso ( dalam Ramayulis, 2002: 190) menyatakan sarana pendidikan mempuyai nilai-nilai praktis yang berupa kemampuan atau kelebihan anatara lain:

1. Membuat konkrit konsep yang abstrak.

2. Membawa obyek yang sukar diperoleh ke dalam lingkungan belajar peserta didik.

3. Menampilkan obyek yang terlalu besar.

4. Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang.

5. Mengamati gerakan yang terlalu cepat.

6. Memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman belajar peserta didik.

7. membangkitkan motivasi belajar peserta didik.

8. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.

f. Problem lingkungan Dalam Pendidikan Agama Islam

Lingkungan adalah segala sesuatu yang tampak yang terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang. Kondisi lingkungan mempengaruhi proses belajar dan hasil belajar. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik/ alam dan lingkungan sosial.

Lingkungan sosial mempuyai peran penting terhadap berhasilnya tidaknya pendidikan agama karena perkembangan jiwa peserta didik sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkunganya. Lingkungan akan dapat menimbulkan pengaruh positif dan negatif terhadap pertumbuhan jiwanya, dalam sikap maupun perasaan keagamaan.

Problem lingkungan ini mencakup

a. Suasana keluarga yang tidak harmonis akan mengkibatkan pengaruh yang kurang baik terhadap perkembangan peserta didik.

b. Lingkungan masyarakat yang tidak/kurang agamis akan menggangu perjalanan proses belajar mengajar disekolah.

c. Kurangnya pemahaman orang tua akan arti nilai-nilai agama Islam akan mempengaruhi terhadap pendidikan anak (Sumardi Suryabrata,2004: 184).

8. Upaya Mengatasi Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam.

Untuk mengatasi problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam disekolah dapat diupayakan beberapa solusi yang diharapkan mampu meyelesaikan permasalahan yang dihadapi sebagaimana yang akan diuraikan sebagai berikut:

a. Upaya Mengatasi Problematika Peserta Didik Dalam Agama Islam Pendidikan Agama Islam.

Untuk mengatasi berbagaI problem pendidikan agama Islam, maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Solusi terhadap problem yang terdapat pada peserta didik sangat dipengaruhi oleh kesiapan individu sebagai subjek yang melakukan kegiatan belajar baik siap dalam kondisi fisik atau psikis (jasmani atau mental) individu yang memungkinkan dapat melakukan belajar.

2. Adanya motivasi terhadap peserta didik baik timbulnya dari intrinsik yaitu motivasi yang datang dari peserta didik atau motivasi ekstrintik yaitu motivasi yang datang dari lingkungan di luar diri peserta didik. Dalam hubungan ini motivasi dapat dilakukan dengan jalan menimbulkan atau mengembangkan minat peserta didik dalam melakukan kegiatan belajarnya. Para pendidik diharapkan mampu menumbuhkan dan mengembangkan minat peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar-mengajar. Dengan demikian peserta didik akan memperoleh kepuasan dan unjuk kerja yang baik (Surya, 97: 2003). Untuk dapat menjamin belajar dengan baik peserta didik harus memiliki perhatian terhadap mata pelajaran yang dipelajarinya. Sebaliknya jika bahan pelajaran tidak menarik, maka akan membosankan. Hal itu akan mengakibatkan prestasi belajar peserta didik di sekolah akan jadi turun. Karena itu pendidik harus mengusahakan agar bahan pelajaran yang diberikan dapat menarik perhatian siswanya. Jika perlu diberi selingan dengan humor, agar peserta didik tidak merasa jenuh menerima mata pelajaran

3. Mengingat adanya hambatan terhadap peserta didik tersebut maka sebaiknya pendidik mengadakan test untuk mengetahui kemampuan peserta didik. Apabila mayoritas peserta didik memiliki kemampuan intelegensi tinggi, maka bagi peserta didik yang intelegensi rendah perlu diusahakan memberikan pelajaran tambahan atau peserta didik yang intelegensi rendah perlu diusahakan dengan cara jalan lain yaitu dengan menempatkan peserta didik pada kelas yang memiliki kemampuan rata rata yang sama.

b. Upaya Mengatasi Problem Pendidik Dalam Pendidikan Agama Islam.

Dalam peningkatan etos kerja dan meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam di sekolah, maka yang perlu diperhatikan diantaranya adalah :

1. Penghasilan pendidik dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.karena rendahnya gaji pendidik akan mengakibatkan terhambatnya dalam meningkatkan profesionalitas kualitas pendidik.

2. Seorang pendidik memahami tabiat, kemampuan dan kesiapan peserta didik.

3. Seorang pendidik harus mampu menggunakan variasi metode mengajar dengan baik, sesuai dengan karakter materi pelajaran dan situasi belajar mengajar (Abu Ahmadi, 1997: 87).

c. Upaya Mengatasi Problem Kurikulum Dalam Pendidikan Agama Islam

Upaya mengatasi terhadap problem kurikulum maka pembuatan kurikulum haruslah memperhatikan kesesuaian kurikulum dengan perkembangan zaman pada masa kini serta masa-masa yang akan datang, sehingga peserta didik memiliki bekal dalam menghadapi kompetisi dalam kehidupan nyata yang cenderung hedonis dan materialis. Pembuatan kurukulum juga harus menyeimbangkan antara teoritis dan praktis dalam keagamaan. Peserta didik harus dilatih bagaimana ia mempraktikan teori yang ada dalam kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik mengerti bagaimana ia nantinya harus mempraktekkannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Hasil studi bank dunia, menyimpulkan bahwa salah satu komponen pendidikan yang ikut menentukan baik-buruknya sistem pendidikan adalah kurikulum yang diberlakukan. Badan moneter dunia ini juga mensyaratkan sistem pendidikan sebuah negara dapat baik bilamana memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:

Pertama, kurikulum memenuhi sejumlah kompetensi untuk menjawab tuntutan dan tantangan arus globalisasi.

Kedua, kurikulum yang dibuat bersifat lentur dan adaptif dalam menghadapi perubahan yang kompetitif.

Ketiga, kurikulum berkorelasi dengan pembangunan sosial dan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan hasil studi bank tersebut akhir-akhir ini pemerintah sangat antusias menggodok bahkan telah melakukan uji coba kurikulum yang berbasis kompetensi dasar untuk menggantikan kurikulum yang selama ini lebih menitik beratkan pada materi. Totok Ariyanto menyatakan paling tidak ada lima hal yang perlu dijadikan pertimbangan untuk mewujudkan kurikulum yang berkualitas yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perbaikan sistem pendidikan termasuk sistem pendidikan Islam di Indonesia: Pertama, perlu mengeliminasi segala persoalan yang muncul jika kurikulum berbasis kompetensi diberlakukan. Kedua, kurikulum mengantarkan pendidik sebagai pengajar yang mandiri dan tidak bergantung pada kurikulum. Ketiga, upaya merekonstruksi kurikulum harus berangkat dari hasil pembelajaran di kelas. Keempat, dalam kurikulum jangan hanya terjebak pada nafsu bongkar pasang kebijakan, atau sekedar menambah, menyisipi, mengurangi dan menghapus mata pelajaran (Muhaimin, 2003: 179).

d. Upaya Mengatasi Problem Manajemen Dalam Pendidikan Agama Islam

Dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah, seharusya ada terjalin hubungan antara sekolah dengan orang tua peserta didik dimaksudkan agar orang tua mengetahui berbagai kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan di sekolah untuk kepentingan peserta didik dan juga orang tua peserta didik mau memberi perhatian yang besar dalam menunjang program program sekolah.

Terjalinya sekolah dengan masyarakat bertujuan memelihara kelangsungan hidup sekolah dan memproleh bantuan dan dukungan dari masyarakat dalam rangka mengembangkan pelaksanan program program sekolah (Sudarwan Danim, 2003: 197).

e. Upaya Mengatasi Problem Sarana dan Prasarana Dalam Pendidikan Agama Islam

Sarana pendidikan sangat menunjang dalam proses belajar mengajar, hal ini akan menunjang tercapainya tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di madrasah.diantaranya adalah :

a. Gedung sekolah yang memadai sehingga membuat peserta didik senang dan bergairah belajar di dalam sekolah.

b. Sekolah harus memiliki perpustakaan dan dimanfaatkan secara optimal baik oleh pendidik atau peserta didik.

c. Adanya alat alat peraga yang lengkap akan sangat membantu pencapaian tujuan pendidikan.

d. Adanya alat sarana untuk ibadah.

f. Upaya Mengatasi Problem Lingkungan dalam Pendidikan Agama Islam

a. Suasana keluarga yang aman dan bahagia, itulah yang diharapkan akan menjadi wadah yang baik dan subur bagi pertumbuhan jiwa anak didik yang dibesarkan dalam keluarga.

b. Lingkungan masyarakat agamis akan dapat menunjang keberhasilan pendidikan dan sebaliknya lingkungan yang tidak sehat akan dapat menghambat menyebabkan terhambatnya dalam proses belajar mengajar.

c. Orang tua yang belum memahami arti nilai nilai agama Islam akan mempengaruhi terhadap pendidikan anak (Soesilowindradini, 1998: 185).

BAB III

HASIL PENELITIAN

2. Latar Belakang Obyek Penelitian

A. Sejarah Berdirinya Obyek Penelitian

Madrasah Tsanawiyah Putri AL-Ishlahuddiny Kediri, secara formal dibuka Tahun Pelajaran 1980-1981, yang ditandai dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor : 04/04/MTs/NTB/81 tentang Piagam Terdaftar Kepada Madrasah Tsanawiyah Putri Al-Ishlahuddiny Kediri di lingkungan Departemen Agama. Dengan demikian MTs. Putri Al-Ishlahuddiny Kediri, kini telah memasuki usianya yang ke 25 tahun.

Pendidikan yang tinggi dan bermutu tentunya akan memiliki pengaruh yang besar dalam peningkatan pembangunan. Pada saat ini Madrasah Tsanawiyah Putri Al-Ishlahuddiny Kediri yang berdiri sejak tanggal Januari 1958 dan telah melulusakan siswi sejak tahun ajaran 1946 sampai tahun 2006 dan selama itu madrasah Madrasah Tsanawiyah Putri Al-Ishlahuddiny Kediri telah memberikan andil dan membantu pembangunan masyarakat yang berpengetahuan dan agama yang tangguh.

Madrasah Tsanawiyah Putri Al-Ishlahuddiny Kediri .merupakan sekolah agama yang berpungsi ganda yaitu sebagai pusat pendidikan formal dan informal yang memiliki konstruksi dalam bentuk penyediaan sarana pembelajaran dan sarana peribadatan secara mandiri untuk menunjang tercapainya pendidikan bermutu yang beriman dan bertakwa. Adapun unsur dalam usaha peningkatan mutu tersebut adalah perlu adanya peningkatan kemampuan manajerial Kepala Sekolah, kinerja guru dalam melaksanakan tugas dan penamabahan referensi dan bahan ajar.

Melihat kenyataan yang terjadi di Madrasah Tsanawiyah Putri Al-Ishlahuddiny Kediri adalah masih memerlukan dukungan moral maupun material terutama dana oprasional dalam upaya mendukung penelenggaraan dan merealisasikan terwujudnya peningkatan mutu pendidikan, kami mengharap bantuan dari berbagi pihak agar menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang tinggi, yang beriman dan yang bertkwa sesuai dengan yang diharapkan

Meningkatkan penyelenggaran pendidikan dan untuk merealisasikan terwujudnya peningkatan mutu pendidikan agar menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertakwa sekaligus melengkapi sarana pendidikan merupakan tujuan utama kami dalam pengajuan permohonan dana bantuan ini.

Demikian usulan ini kami ajukan semoga dapat diwujudkan sesuai dengan yang diharapkan. atas bantuan dan partisipasi Bapak/Ibu para darmawan kami ucapkan terima kasih

PROFIL MADRASAH

1. Nama Madarasah : Tsanawiyah Putri Al-Ishlahuddiny

Desa : Kediri

Kecamatan : Kediri

Kabupaten : Lombok Barat

Propinsi : NTB

No. Telpon : ( 0370 ) 672114

Tahun Berdiri : 1981

No. Statistik Sekolah : 212520104020

Status Akreditasi : B

Tahun : 2005

Komite Madrasah : Sudah Terbentuk

2. Kepala Madrasah

a. Nama Lengkap : Farahn Muchlis, SH

b. Pendidikan Terakhir : S1

c. Jurusan : Hukum

d. Pelatihan Yang Diikuti :

Tahun Nama Pelatihan Lama Pelatihan

2004 Pelatihan Manajemen di Jakarta 3 hari

2005 Pelatihan KBK di Mataram 3 Hari

2005 Pelatihan Kurikulum di Jakarta 1 Hari

3. Kondisi Madrasah

Tahun Pelajaran Jumlah Total

Siswi Rasio Pendaftaran/ diterma Jumlah Total

setiap Kelas

Pendaftar Diterima I II III

2004/2005 209 95 94 95 52 62

2005/2006 202 65 65 67 94 49

2006/2007 210 70 62 60 68 86

4. Kondisi Guru dan Karyawan

a. Tingkatan Pendidikan

Ijazah Terakhir Jumlah Jumlah

Total

GT GTT NIP. 3 NIP.15 PNS Guru

Kontrak Krywn

TU

S. 2

S. 1 7 16 2 21

D. 3 2 7 2 11

D. 1

SMU/SMK/MA 1 1

Jumlah 9 23 2 3 37

b. Masa Kerja

Ijazah Terakhir Jumlah Jumlah

Total

GT GTT NIP. 3 NIP.15 PNS Guru

Kontrak Krywn

TU

< 1 5 5

1 – 5 9 2 3 14

6 – 10 9 9

> 10 9 9

Jumlah 9 23 2 3 37

5. Sarana dan Prasarana

Ruang Jumlah Luas (m2) Buku Jumlah

Teori/kls 6 79 x 62 Judul Buku

Laboratorium 2 79 x 2 m2 Jumlah Buku

Perpustakaan 1 79 m2 Buku Paket dan Bacaan

Keterampilan

Kepala 1 32 m2 Krikulum dan Silabus

TU 1 32 m2

Guru 1 32 m2 Buku Mata Pelajaran

Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain Surabaya yang berlokasi di Jl. Pragoto Kecamatan Semampir Surabaya didirikan sebagai lanjutan dari Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah yang telah didirikan sebelumnya oleh KH. Jailani pada tahun 1990. KH. Jailani adalah seorang yang peduli akan pendidikan bagi masyarkat ekonomi lemah dan menginginkan pendidikan murah bagi mereka. Sebelum KH. Jailani wafat, beliau menyerahkan Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah, yang telah diasuhnya selama 7 tahun kepada Yayasan Ibnu Husain Unggulan yang bernama KH Syamsuddin bin Husain (Wawancara dengan Ustad Nur Kholis,sebagai anggota dari yayasan, Selasa, 21 September 2004 di rumah Nya).

Pada Tahun 1999 Ketua Yayasan Ibnu Husain, KH. Syamsuddin Husain berinisiatif mendirikan Madrasah Tsanawiyah Unggulan sebagai lanjutan dari Madrasah Ibtidaiyah Al-Hidayah yang sudah ada. Madrasah ini diberi nama Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain. Pemberian kata unggulan merupakan cerminan dari keinginan untuk memberikan pendidikan yang berkualitas namun terjangkau bagi masyarakat Pragoto dan sekitarnya, dimana kebanyakan dari mereka dalam berprilaku sehari-hari kurang mengabaikan nilai-nilai Agama Islam yang disebabkan rendahnya pendidikan yang mereka miliki. Dalam hal ini kehadiran Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain ingin merubah masyarakat yang kurang nilai nilai Islami menjadi masyarakat yang mengerti tentang arti nilai nilai Islami.

Keinginan Yayasan Ibnu Husain untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah Unggulan mendapat respon dan dukungan yang luas dari masyarakat Pragoto dan sekitarnya, sehingga pada tahun 2000 Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain mulai dibuka dan mempunyai dua kelas yakni kelas I dan II dengan jumlah masing-masing 34 peserta didik (Hasil wawancara dengan Ustad Jailani sebagai Kepala sekolah Ibnu husain, Senin, Tanggal 6 September 2004 jam 9.00 di Madrasah Tanawiyah Unggulan Ibnu Husain).

Pada tahun 2001 Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain terakreditasi dengan hasil status “terdaftar dengan Nomor: D/ wm/ MTs/ 04/ 2001 dan diberikan Nomor 212357815027 (Dokumen Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain).

Adapun visi dari Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain Surabaya adalah Menghasilkan tamatan (output) berprestasi, kreatif dan mandiri berdaya saing tinggi serta berakhlaq karimah yang dilandasi Iman Dan Taqwa kepada Allah SWT. Sedangkan misi dari Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain Surabaya adalah sebagai berikut:

1) Melaksanakan pembelajaran yang efektif sehingga setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal.

2) Melaksanakan kegiatan ekstra yang menggugah kreatifitas peserta didik.

3) Menimbulkan semangat bersaing secara sehat dan dinamis.

4) Menerapkan manajemen partisipatif (Dokument Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain).

B. Struktur Organisasi Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain

Struktur organisasi sekolah merupakan salah satu faktor yang harus dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan. Hal ini dimaksudkan untuk memperlancar program–program kerja lembaga pendidikan tersebut. Sebagaimana halnya lembaga lainya, Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain memiliki pola struktur organisasi sekolah.

Adapun struktur organisasi Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain dapat dilihat dalam lampiran yang ada di b

(Dokumen sekolah Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain.)

C. Tata Laksana Kerja Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain

1. Jam kerja dinas

Sesuai dengan peraturan yang berlaku di lingkungan Depag maka jam kerja ditetapkan 6 hari kerja, akan tetapi hari libur di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain ditetapkan pada hari Jumat dikarenakan untuk menghormati hari Jum’at yang merupakan hari yang paling dimuliakan oleh umat Islam dan juga dikarenakan ruang belajar Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain berada di dalam lingkungan Masjid.

2. Jam Pelajaran

Untuk kegiatan belajar mengajar dalam satu minggu disusun jadwal mata pelajaran sebagai berikut:

Pelajaran Pukul Keterangan

Jam 1

Jam 2

Jam 3

Jam 4

Jam 5

Jam 6

Jam 7

Jam 8

Jam 9 07.00 s/d 07.40

07.40 s/d 08-20

08.20 s/d 09.00

09.00 s/d 09.40

09.40 s/d 10.00

10.00 s/d 10-40

10.40 s/d 11.20

11.20 s/d 12.00

12.00 s/d 12.30 -

Istirahat

Sholat Dhuhur secara berjama’ah

(Dokumen sekolah Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain.)

D. Keadaan Pendidik Dan Pegawai

pendidik memegang peranan yang paling utama dalam proses pendidikan karena akan menentukan tercapainya tujuan pendidikan tersebut. Dan pendidik dapat memberikan pengaruh bagi pembinaan perilaku dan kepribadian anak didik.

Adapun jumlah pendidik di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain berdasarkan data kepegawaian pada tahun ajaran 2003-2004 adalah sebanyak 17 orang, yang terdiri dari 13 pendidik laki laki dan 4 pendidik wanita sebagaimana yang terlihat dalam tabel berikut ini:

No.

N a m a Pendidikan Status Jabatan Mulai

01.

02.

03.

04.

05.

06.

07.

08.

09.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17. Drs. M. Jailani

Ustad. H. Saidi

Hasan Bisri. Sag

Drs. A. Rasyidi

Dra. Misbiyah

Drs. Suwarti

Siti Fatimah Spd

Drs. Nurul Huda

Drs. Mukallam

Djoko Soebagio.SE

Ust.H.Noer Kholis

Moch.Machfud

Rahmayatun.Sag

Heddy Purwo.A, SPd

Slamet Dwiyanto

Ust. Moch. Djuli H.

Ust. Romli Sarjana S1

D1

Sarjana S1

Sarjana S1

Sarjana S1

Sarjana S1

Sarjana S1

Sarjana S1

Sarjana S1

Sarjana S1

D1

D1

Sarjana S1

Sarjana S1

D2

D1

D1 Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta

Swasta Swasta Swasta Kep.Sek.

Guru

Guru

Guru

Wali Kls.II

Guru

Guru

Guru

Wali Kls III

Guru

Guru

Guru

Wali Kls I

Guru

Guru

Guru Th. 2000

Th. 2003

Th. 2000

Th. 2000

Th. 2000

Th. 2000

Th. 2000

Th. 2001

Th. 2000

Th. 2003

Th. 2000

Th. 2000

Th. 2003

Th. 2003

Th. 2000

Th. 2002

Th. 2003

(Dokumen sekolah Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain.)

Keadaan staf pegawai administrasi secara sepintas keberadanya tidak terlalu berpengaruh pada proses pendidikan, akan tetapi apabila dilihat lebih jauh lagi sebenarnya mereka juga mempuyai peranan yang tidak sedikit bahkan bisa dikatakan sangat penting, diantaranya menyiapkan peralatan proses belajar mengajar, memelihara peralatan sekolah dan lain lain.

Adapun jumlah tenaga pegawai di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain berjumlah 2 orang terdiri satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Diantara keduanya ada yang merangkap sebagai pendidik sebagaimana terlihat dalam tabel beriku

No.

N a m a Pendidikan Status Jabatan Mulai

01.

02 Slamet Dwiyanto

Wasilah D2

SMA Swasta

Swasta Tata Usaha

Tata Usaha Th. 2000

Th. 2003

(Dokumen sekolah Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain.)

E. Keadaaan Peserta Didik

Peserta didik merupakan salah satu faktor yang sangat urgen dalam dunia pendidikan, karena tanpa adanya peserta didik maka proses belajar mengajar tidak akan terlaksana. Dalam hal ini peserta didik sangat berperan dalam pembelajaran baik dari segi minat, bakat dan motivasi yang menjadi ukuran keberhasilan peserta didik.

Di sekolah anak didik akan berusaha aktif mengembangkan potensi minat dan bakat yang dimilikinya dengan didukung peranan aktif para pendidik di kelas dan peserta didik dapat juga mengembangkan potensinya melalui kegiatan ekstra kurikuler yang diselenggarakan di sekolah.

Berikut ini adalah tabel data keadaan peserta didik di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain

No

Tahun Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah

L P Jml L P Jml L P Jml L P Jml

01.

02.

03. 2001-2002

2002-2003

2003-2004 23

22

18 6

12

21 29

34

39 19

22

20 8

6

12 27

28

32 -

19

22 -

8

6 -

27

28 42

63

60 19

26

39 56

89

99

(Dokumen sekolah Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain).

F. Keadaaan Sarana dan Prasarana

Sarana pendidikan merupakan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dalam proses pendidikan, Khususya dalam proses belajar mengajar dalam pendidikan agama Islam di lingkungan Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain.

Untuk tercapainya tujuan pendidikan tersebut, maka diperlukan kebutuhan sarana dan prasarana yang memadai dengan baik, kurang terpenuhinya sarana dan prasaran yang memadai akan dapat menghambat kelancaran proses belajar dan mengajar sebuah lembaga pendidikan, hal ini juga berlaku di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain.

Guna terpenuhinya tujuan pendidikan maka pihak sekolah melengkapi sarana dan prasarana di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain sebagaimana terlihat dalam tabel berikut:

Jumlah ruang di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain

No Sarana dan Prasarana Jumlah Keterangan

01.

02.

03.

04.

05.

06.

07.

08.

09.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19. Ruang Kepala Sekolah

Ruang Guru

Ruang Kelas

Ruang Perpustakaan

Masjid

K.mandi

Dapur

Gudang

Meja Dan Kursi Murid

Meja Dan Kursi Guru

Telepon

Kemputer

Papan data

Papan tulis

Alat peraga ipa

Alat peraga ips

Alat peraga mat

Buku perpustakaan

Printer 01

01

06

0

01

04

01

01

80

05

01

09

01

03

03

03

03

100

01 Baik

Baik

Baik

Tidak Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

Baik

(Wawancara dengan Ust. Slamet Dwiyanto tanggal 6 Oktober 2004).

2. Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Di Madrasah Tsanawaiyah Unggulan Ibnu Husain

Dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar di lingkungan Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain, penulis menemukan beberapa problem yang secara langsung atau tidak langsung dapat menghambat proses pelaksanaan pendidikan agama Islam. Problem itu tidak hanya ada pada pendidik maupun peserta didik sebagai pelaku dalam proses pendidikan akan tetapi juga terdapat pada faktor lingkungan internal dan eksternal, juga pada manajemen, sarana dan prasarana. Problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam yang ada di dalam Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain dapat diuraikan sebagai berikut:

a) Problem Peserta Didik Dalam Pendidikan Agama Islam

Dalam pelaksanakan pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain, ditemukan beberapa problem berkaitan dengan peserta didik sebagaimana berikut:

- Rendahnya tingkat perekonomian sebagian besar wali murid. Sebagian besar orang tua peserta didik adalah golongan masyarakat kelas menengah bawah dengan penghasilan yang kurang mencukupi untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari mereka, sehingga mereka kurang memberikan perhatian terhadap perkembangan pendidikan anak-anak mereka. Sehingga ada salah satu dari Mereka tidak dapat melanjutkan sekolah aliyah dikarenakan keterbatasan biaya kebutuhan hidup yang ada (Wawancara dengan Ustad Jailani selaku kepala sekolah, 19 Oktober 2004).

- Tingkat kecerdasan yang berbeda antar siwa didik. Perbedaaan tingkat kecerdasan antara satu peserta didik dengan yang lain yang akan menimbulkan kecemburuan bagi peserta didik yang mampu dengan yang tidak mampu sehingga akan sulit bagi pendidik menerapkan tujuan intruksional khusus (Wawancara dengan Ustad Drs. Rasyidi, Rabu 15 September 2004).

- Asal lulusan yang berbeda. Sebagian peserta didik adalah lulusan MI dan sebagaian adalah lulusan SD. Perbedaan asal sekolah tersebut mempengaruhi modal awal peserta didik dalam menempuh pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain, dimana peserta didik yang berasal dari MI lebih mengerti daripada mereka yang berasal dari lulusan SD. Hal ini disebabkan karena lebih besarnya porsi pendidikan agama Islam di MI dibandingkan dengan SD (Wawancara dengan siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah Ibnu Husain, 14 Oktober 2004 di Sekolah).

- Perbedaan latar belakang keluarga dan lingkungan akan menimbulkan berbeda pula terhadap karakter anak didik sehingga ada peserta didik yang taat pada aturan sekolah karena berlatar belakang pada lingkungan keluarga yang agamis dan ada peserta didik yang berlatar belakang pada keluarga yang tidak taat dikarenakan pada lingkungan yang tidak agamis (Wawancara dengan Ustad Jailani, 19 oktober 2004).

b) Problem Pendidik Dalam Pendidikan Agama Islam

Dalam pelaksanakan pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain, ditemukan beberapa problem berkaitan dengan para pendidik sebagaimana berikut:

- Rendahnya gaji membawa dampak kurangnya tanggung jawab dan motivasi pendidik untuk mempresentasikan materi pelajaran (Wawancara dengan Ustad Saidi, 14 oktober 2004).

- pendidik sering mengeluh terhadap akhlaq peserta didik yang dianggap kurang etis sehingga kadang –kadang preventif /solusinya memberikan sanksi yang kurang mendidik (Wawancara dengan Ustad Saidi, 14 oktober 2004).

- Masih ada pendidik yang belum menempuh sarjana akan tetapi dengan adanya pengalaman mengajar mereka yang sudah cukup lama, maka mereka semakin banyak pengalamanya dalam menemukan dan menyelesaikan setiap masalah yang di hadapi. (Wawancara dengan Ustad Saidi, 14 oktober 2004).

- Kesulitan dalam menghadapi perbedaan peserta didik baik dari IQ yang tinggi maupn yang rendah dan juga perbedaan karakter, maupun back ground kehidupan mereka (Wawancara dengan Ustad Saidi, 14 oktober 2004).

- Kurang terjalin kerja sama orang tua (wali murid) dengan pendidik untuk sama dapat membimbing mereka. Hal ini dikarenakan keadaan kehidupan mereka. Perhatian orangtua murid hanya tertuju pada soal ekonomi, sehingga mereka tidak memeperhatikan apa yang dibutuhkan oleh peserta didik (Wawancara dengan Ustad Jailani,19 Oktober 2004).

c) Problem Kurikulum Dalam Pendidika Agama Islam

Dalam pelaksanakan pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain, ditemukan beberapa problem berkaitan dengan penerapan kurikulum sebagaimana berikut:

- Minimya pendidik di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain memahami tentang kurikulum berbasis kompetensi serta penerapannya. Kurangnya pemahaman mereka disebabkan karena kurikulum berbasis kompetensi merupakan kurikulum yang pelaksanaannya baru diterapkan pada tahun ajaran saat ini, serta kurangnya pemerintah dalam mensosialisasikan kurikulum berbasis kompetensi di sekolah-sekolah khususnya di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain (Wawancara dengan Ustad Jailani selaku kepala sekolah, 20 Desember 2004).

- Para pendidik juga ada yang tidak membuat satuan pelajaran (Satpel) yang menyebabkan tujuan intruksional pendidikan tidak tercapai secara optimal, sehingga pendidik tidak memiliki pedoman dalam mengajar yang pada akhirnya para peserta didik tidak mampu menangkap nilai-nilai serta makna yang diajarkan oleh pendidik (Hasil wawancara dengan Ustad Saidi, 18 Desember 2004).

d) Problem Manajemen Dalam Pendidikan Agama Islam

Dalam pelaksanakan pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain, ditemukan beberapa problem berkaitan dengan

manajemen dalam pendidikan Agama Islam sebagaimana berikut:

- Kurang terjalinnya kerjasama orang tua dengan pendidik sehingga segala aktifitas peserta didik yang seharusnya dikerjakan di rumah itu dikerjakan di sekolah.

- Dan sedikitnya peserta didik yang berminat terhadap kegiatan keagamaan sehingga menyebabkan sulitnya wakil kurikulum menentukan bentuk kegiatan yang diminati peserta didik seperti pondok pesantren kilat (Wawancara dengan Ustad Saidi, 18 Desember 2004).

e) Problem Sarana dan Prasarana Pendidikan Agama Islam

Kelengkapan sarana maupun prasarana sangat menunjang bagi proses belajar mengajar. Jika dalam belajar, peserta didik menggunakan peralatan yang memadai maka kemungkinan besar belajarnya akan berhasil dengan baik. Dan sebaliknya jika peserta didik belajar dengan peralatan yang serba kurang maka kemungkinan besar akan menghasilkan berhasilnya sangat minim.

Dalam pelaksanakan pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggulan Ibnu Husain, ditemukan beberapa problem berkaitan dengan sarana dan prasarana pendidikan Agama Islam sebagaimana berikut:

- Masih minimya sarana maupun prasarana di lingkungan sekolah baik secara langsung maupun tidak langsung. Sarana langsung contohnya masih terbatasnya perpustakaan,ohp. Sarana tidak langsung contohnya adanya halaman, tanam tanaman (Wawancara dengan Ustadz Saidi, 22 Oktober 2004).

- Lokasi pendidikan yang berada di daerah pemukiman padat penduduk menyebabkan kurang kondusif dalam proses belajar mengajar sehingga ada sebagian dari pendidik yang mengajar terganggu oleh kebisingan keramaian oleh penduduk sekitarnya (Wawancara dengan Ustadz Saidi, 22 Oktober 2004).

- Kurang luasnya lahan sekolah akan menyebabkan peserta didik tidak dapat bermain secara leluasa dalam kegiatan olah raga dikarenakan tidak ada halaman (Wawancara dengan Ustadz Saidi, 22 Oktober 2004).

- Tidak memiliki ruang perpustakaan menyebabkan minimya pengetahuan peserta didik tentang wawasan baik bersifat agama maupun bersifat umum.

- Kurangnya perangkat/ alat-alat laboratorium pengajar sehingga menyebabkan sulitnya pengajar untuk menerapkan implementasi materi dalam mendukung kurikulum berbasis kompetensi (Wawancara dengan Ustadz Saidi, 22 Oktober 2004).

3. Upaya Mengatasi Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Mts. Unggulan Ibnu Husain

Untuk mengatasi berbagai problem pendidikan agama Islam sebagaimana diuraikan di atas, maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

f) Upaya mengatasi Problem Peserta Didik Dalam Pendidikan Agama Islam

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi problem peserta didik dalam pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:

- Pihak sekolah terus berupaya mencari beasiswa dengan cara menjalin kerjasama dengan instansi yang terkait seperti JPS (Jaring Pengaman Sosial), YDSF (yayasan Dana Sosial Al-Falah), beasiswa silang ( bagi peserta didik yang kaya membayar dengan biaya mahal), donatur lainya sehingga peserta didik yang tidak mampu dapat termotivasi untuk belajar dengan lebih sungguh-sungguh (Wawancara dengan Ustad Jailani, 20 Desember 2004).

- Hasil wawancara dengan Ustad Saidi mengatakan bahwa para pendidik telah memberikan sanksi–sanksi yang bersifat mendidik bagi tiap peserta didik yang menyalahi aturan sekolah.

- Para pendidik sudah membentuk kerja kelompok peserta didik yang diharapkan peserta didik yang mampu dapat membantu peserta didik yang tidak mampu, sehingga peserta didik yang tidak mampu dapat memahami dan mengikuti kegiatan proses belajar secara terus menerus (Wawancara dengan Ustad Jailani, 20 Desember 2004).

- Para Pendidik akan membentuk diskusi antar peserta didik di dalam kelas, sehingga peserta didik dapat mudah mengerti dan termotivasi untuk belajar dengan lebih baik lagi.

- Hasil wawancara dengan Ustad Jailani selaku kepala sekolah, bahwa pihak sekolah sudah mengadakan jam tambahan bagi peserta didik yang dinilai kurang mampu dalam menerima pelajaran di kelas, sehingga mereka dapat mengejar ketertinggalan mereka di kelas.

g) Upaya Mengatasi Problem Pendidik Dalam Pendidikan Agama Islam

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi problem pendidik dalam pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:

- Dengan biaya lembaga, pihak Sekolah akan mengusahakan pada setiap pendidik untuk diikut sertakan dalam acara seminar, workshop ataupun MGMP yang dapat meningkatkan wawasan dan kemampuan mereka dalam mendidik khusunya dalam pendidikan agama Islam (Hasil wawancara dengan Ustad Jailani, 20 Desember 2004).

- Setiap pendidik akan berusaha menggunakan berbagai metode agar mampu menciptakan suasana belajar-mengajar yang menyenangkan, sehingga peserta didik dapat merasa senang dalam mengikuti materi pelajaran serta mudah dalam menerima dan memahami materi pelajaran yang diberikan oleh pendidik (Hasil wawancara dengan Ust.Rosidi,18 Desember 2004).

- Setiap pendidik akan terus memahami karakter dan minat peserta didik dan sudah menyesuaikan dengan kondisi kelas yang ada. Hal ini untuk menghindari rasa jenuh dalam diri tiap peserta didik didik, sehingga proses transfer ilmu dapat berhasil sebagaimana yang diharapkan.

h) Upaya Mengatasi Problem Kurikulum Dalam Pendidikan Islam

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi problem kurikulum dalam pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:

- Pihak sekolah akan terus mengupayakan untuk mensosialisasikan tentang penerapan kurikulum berbasis kompetensi kepada para pendidik dengan bekerja sama dengan pemerintah, sehingga mereka dapat lebih memahami tentang kurikulum berbasis kompetensi serta mampu menerapkannya di kelas secara lebih optimal (Hasil wawancara dengan Ustad Jailani, 20 Desember 2004).

- Para pendidik akan berupaya untuk membuat satuan pelajaran (Satpel) agar tujuan intruksional khusus dapat tercapai. Hal ini juga membantu para pendidik untuk menyiapkan materi pelajaran yang akan disampaikan kepada para peserta didik (Hasil wawancara dengan Ustad Saidi, 19 Desember 2004).

i) Upaya Mengatasi Problem Manajemen Dalam Pendidikan Agama Islam.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi problem manajemen dalam pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:

- Pihak sekolah terus berupaya menerapkan manajemen kompetesi berbasis sekolah di sekolah yang meliputi kompetensi kurikulum, kompetensi profesionalitas pendidik dan juga keterlibatan antara wali siswa dan juga masyarakat (wawancara dengan Ustad. Jailani, 20 Desember 2004).

- Pihak sekolah akan berupaya mengadakan pertemuan dengan wali murid paling tidak satu kali dalam satu bulan. Dalam pertemuan itu diadakan evaluasi program pendidikan sekolah yang telah dilaksanakan dan program-program yang akan dilaksanakan. Dengan demikian diharapkan wali murid dapat terlibat dalam proses pendidikan di sekolah ( Hasil wawancara dengan Ustad jailani, 20 Desember 2004).

j) Upaya Mengatasi Problem Sarana dan Prasarana Dalam Pendidikan Agama Islam

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi problem sarana dan prasarana dalam pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:

- Pihak sekolah akan mengupayakan untuk mewujudkan sarana dan prasarana yang belum ada seperti Perpustakaan. Hal ini dapat diupayakan dengan menarik pada murid yang sudah lulus atau dengan mengajukan proposal permohonan bantuan kepada pihak pemerintah yang terkait dengan pendidikan. (Wawancara dengan Ustad Jailani, 20 Desember 2004)

- Sarana dan prasarana yang ada sudah dimanfaatkan dengan optimal untuk membantu kelancaran proses belajar mengajar sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. (Wawancara dengan Ustad Saidi, 18 Desember 2004)

BAB 1V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam di Mts.Unggulan Ibnu Husain terdapat beberapa problem yaitu: a). pada peserta didik yakni rendahnya tingkat perekonomian wali murid, pebedaaan tingkat kecerdasan dan latar belakang keluarga dan lingkungan. b). pada pendidik yakni rendahnya gaji, seringnya pendidik mengeluh terhadap akhlah peserta didik, kurangnya kerjasama dengan wali murid serta kesulitan dalam menghadapi peserta didik dari IQ yang tinggi dan juga yang rendah. c). pada kurikulum yakni minimnya pendidik memahami tentang kurikulum berbasis kompetensi dan adanya sebagian pendidik yang tidak membuat satpel. d). pada manajemen yakni kurang terjalimya kerjasama orang tua dengan pendidik dan sedikitya peserta didik yang berminat terhadap kegiatan keagamaan e). Sarana dan prasarana meliputi lokasi pendidikan yang berada di daerah pemukiman padat, kurang luasnya halaman sekolah, tidak adanya perpustakaan, serta kurang tersedianya perangkat/alat laboratium.

Upaya mengatasi problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Unggualn Ibnu Husain dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagaimana tersebut berikut: a). pada peserta didik meliputi pihak sekolah terus berupaya mencari beasiswa dengan cara menjalin kerja sama dengan instansi yang terkait seperti JPS (Jaring Pengaman Sosial), YDSF (Yayasan Dana Sosial Al-Falah), beasiswa silang atau donatur lainya, setiap pendidik telah memberikan sanksi sanksi yang bersifat mendidik bagi tiap peserta didik, setiap pendidik sudah membentuk kerja kelompok peserta didik, para pendidik sudah membentuk diskusi antar peserta didik di dalam kelas, pihak sekolah sudah mengupayakan mengadakan jam tambahan bagi peserta didik yang dinilai kurang mampu. b). pada pendidik meliputi biaya lembaga setiap pendidik akan diusahakan untuk diikut sertakan dalam acara seminar, workshop, setiap pendidik sudah mengupayakan berbagai metode, setiap pendidik sudah berupaya memahami karakter peserta didik dan menyesuaikan dengan kondisi kelas yang ada. c). pada kurikulum meliputi pihak sekolah akan terus mengupayakan untuk mensosialisasikan tentang penerapan kurikulum berbasis kompetensi kepada para pendidik, pihak sekolah akan mengupayakan kepada para pendidik membuat satuan pelajaran (satpel) d). pada Manajemen meliputi pihak sekolah akan terus mengupayakan menerapkan manajemen kompetensi berbasis sekolah yang meliputi menerapkan berbasis kompetensi kurikulum, kompetensi profesionalitas pendidik dan juga keterlibatan antara wali siswa dan juga masyarakat, pihak sekolah akan mengupayakan mengadakan pertemuan dengan murid. e). pada sarana Dan prasarana:. Pihak sekolah akan mengupayakan untuk mewujudkan sarana dan prasarana yang belum ada seperti perpustakaan

B. Saran-Saran

Berpijak dari hasil penelitian sebagaimana dikemukakan di atas, maka dari itu penulis ingin memberikan saran-saran tentang gambaran problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam Madrasah Tsanawiyah Unggulan bnu Husain yakni:

1. Kepada para pendidik agar lebih memahami segi kelemahan dan kelebihan dari kecerdasan peserta didik dan seorang pendidik seharusnya juga memahami tentang karakter, bakat dan minat peserta didik.

2. Kepada kepala sekolah: Pihak sekolah seharusnya mensosialisasikan penerapan tentang kurikulum berbasis kompetensi kepada para pendidik yang masih belum mengerti dan juga menekankan para pendidik membuat satpel agar tercapai tujuan intruksional khusus tersebut tercapai secara optimal.

3. Hasil penelitian mengenai problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam bukan merupakan final dari hasil penelitian, akan tetapi perlu diadakan penelitian lebih luas dan spesifik guna mendapatkan hasil yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta; Gramedia.

Abu Ahmadi. 2003. Abu Ilmu Pendidikan. Jakarta; Rineka Cipta.

Abu Ahmadi. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Bandung; Pustaka Setia.

Ahmad Tafsir. 1994. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung; Remaja Rosdakarya

Arief Furchan. 2004. Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia (Anatomi Keberadaan Madrasah dan PTAI). Yogyakarta; Gama Media.

Dimyati Mahmud. 1990. Psikologi Pendidikan (Suatu Pendekatan Terapan). Yogyakarta; BPFE.

Djumbransah Indar. 1979. Perencanaan Pendidikan (Strategi & Implementasinya). Jakarta; Karya Abditama.

E. Mulyasa. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung; Remaja Rosdakarya.

Hujair. 2003. Paradigma Pendidikan Islam (Membangun Masyarakat Madani Indonesia). Yogyakarta; Safiria Insania Press.

Juliet Corbin. 2003. Dasar Dasar Penelitian Kualitatif (Tata Langkah dan Teknik Teknik Teoritisasi Data). Yogyakarta; Pustaka Pelajar.

Mochtar Buchori. 1994. Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia. Yogya; Tiara Wacana.

Mochtar Buchori. 1994. Ilmu Pendidikan & Praktek Pendidikan (Dalam Renungan). Yogya; Tiara Wacana.

Muhaimin. 2002. Reorientasi Pengembangan Guru. Malang.

Muhaimin. 2002. Paradigma Pendidikan Islam (Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah). Bandung; Remaja Rosdakarya.

Muhaimin. 2003. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam (Pemberdayaan, Pengembangan, Kurikulum hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan). Bandung; Nuansa Cendekia.

Mohyi Machdorro. 1993. Metodologi Penelitian (Untuk Ilmu Ilmu Ekonomi dan Sosial). Yogyakarta; Aditya Media.

Prof.H.M.Arifin, M.Ed. 2003. Ilmu Pendidikan Islam (Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner). Jakarta; Bumi Aksara.

Ramayulis. 2004. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta; Kalam Mulia

Sudarwan Danim. 2003. Komunitas Pembelajar (kepemimpnan Tansformasi dalam Komunitas Organissasi pembelajaran). Jakarta; Bumi Aksara.

Sudarwan Danim. 2003. Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.

Suharsini Arikunto. 2002. Prosedur penelitian (Suatu Pendekatan Praktek). Jakarta; Rieneka Cipta.

Sumadi Suryabrata. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta; Raja Grafindo Persada.

Sumadi Suryabrata. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta; Raja Grafindo Persada.

Surya. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Jakarta; Mahaputra Adidaya.

Tim Dosen IAIN Sunan Ampel Malang. 1996. Dasar Dasar Kependidikan Islam. Surabaya; Karya Abditama.

Undang Undang RI (Sistem Pendidikan Nasional). 2003. Citra Umbara.

Undang Undang RI (Sistem Pendidikan Nasional). 2003. Fokus Media.

4 thoughts on “SKRIPIS PROBLEMATIKA PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MTS [soundcloud url="http://api.soundcloud.com/tracks/69922627" params="" width=" 100%" height="166" iframe="true" /]

  1. mantap n bgus pa skripsinya tpi tlong donk pa buatin saya makalah tentang agama dan problematika ekonomi berkata:

    Mantap n bgus skripsinya bikinin makalah donk pa tentang agama dan problematika ekonomi

    • masalh t tecipta dr respon siswa saat membrikan proses belajar mengajar dengan mengunakan metode yg tradisional atau yg tidak bisa di jankau sam pemikiran anak2 . batasaan masalah t daya serap dan evaluasi dari segi penilayaan , gunakan metode mengajar yg berbeda nanti kelihatan metode yg mana yg bermasalah dlm respon anak apakah metode 1 atau dua kl metode yg 1 maka gunkan metode yg k 2 jadi batasan masalah atau penyelsain maslah dr metode pertama ykni membuat masalah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s