Penelitian kuantitatif



 

Sebelum membaca atau melkukan aktipitas tanamkan budaya membaca kalimat

ﺒِﺴْﻡﭐﷲِﭐﻠﺭﱠﺤْﻤﹶٰﻥﭐﻠﺭﱠﺣِﻴﻡِ

 

 

Penelitian kuantitatif

 

Pada hakekatany kehadiran penelitian berjenis kuantitatif adalah untuk menmbedakan penelitian jenis ini dengan penelitian kualitatif. Karna , itu pada umumnya crri-ciri yang dimiliki oleh penelitian kuantitatif tidak dimiliki oleh penelitian kuantitatif. Selain itu ,pendekatan pada penelitan tersebut berangkat dari asumsi-asumsi yang berlainan. Pada kesempatan ini kami mencoba memaparkan cara membandingkannya dengan penelitian kualitatif.

Dari segi tujuan, penelitan kualitatif biasanya dipakai untuk menguji suatu teori, untuk menyajikan suatu fakta atau mendiskripsikan statistic, untuk menunjukan antatvariabel, dan ada pula yang bersifat mengembangkan konsep, mengembangkan pemahaman, atau mendiskripsikan  banyak hal. Penelitian kualitatif cenderung untuk dipakai mengaji objek berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul.

Dari metode,penelitian kuantitatif umumnya menkankan pada eksperimentasi, deskripsi, surve, dan menemukan korelasional. Penelitian kulitatif cendrung menekankan pada observasi, dukumentasi, atau melakukan partisipasi ( meneliti objek menyeluruh dan terus-menerus ).

Penelitian kuantitatif menyajikan proposal yang bersifat lengkap,rinci, prosudur yang spesifik, litatur yang lengkap, dan hipotesis yang dirumuskan dengan jelas. Pada penelitian kualitatif , proposalnya yang lebih singkat dan tidak banyak kajian litatur, pendekatan dijabarkan secara umum, dan biasanya tidak menyajikan rumusan hipotesis.

Pada kenyatanya para peneliti ataupun mahasiswa lebih menyukai penelitian kuantitatif daripda kualiltatif dengan berbagai alasan tentunya.

  1. Sebagiamana disebutkan di atas, setiap masalah yang diteliti diselsaikan dengan metode dan prosedur yang sepesifik tetapi baku. Artinya bagaiman masalah yang diteliti dengan metode sendiri-sendiri ( eksperimen,korelasional, dan lain-lain ). Akan tetapi, meskipun beragam diselsaikan dengan prosudur yang baku, sehingga prosedur yang baku itu, alur penyelsain maslahnyanya mudah dimengerti. Berbeda dengan kuantitatif pendekatan kualitaif dijabarkan secara umum, sehingga masalah yang sama dan sejenis memungkinkan diselsaikan dengan prosudur yang baragam. Hal ini tegantung pada kedalam penelitian itu.

Pada hakekatnya penelitian kualitatif itu dilakukan sesuai kuantitaitf ditempuh. Hal ini mnunjukan bahwa jika kita ingin meneliti suatu masalah , pertama-tama tempuhlah dengan model kuatitatif . setelah itu, apa bila kita tidak puas dan ingin memper dalam pemecahan masalahnya dengan genralisasi yang lebih sepesifik , maka lakukanlah dengan kualitaitf.  Karna kualitaitif sifatnya lebih mendalam, maka diperlukan sebuah pengetahuan dan kemampuan tentang penelitian yang memadai dibandingkan dengan pennelitian kuantitatif, sehingga para peneliti pemula dan mahasiswa setingkat S1 cenderung memilih penelitian jenis kuantitatif.

Berdasarkan cirri-ciri yang dikembangkan di atas, penelitian kuantitatif menyelsaikan suatu maslah, sehingga penelitian kuantitatif terbagi menjadi peneliti eksperimen,deskriptif, evaluasi, kausal, kompratif,dan lain-lain.

 

  1. Penelitian deskriptif.

 

Penelitian deskriptif termasuk salah satu jenis penelitiaan kategori penelitian kuantitatif. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengangkat fakta, keadaan, variable, dan fenomena-fenomena yang terjadi saat sekarang ( ketika penelitaan berlasung ) dan menyajikan apa adanya.

Penelitian deskriptif menentukan dan menafsirkan data yang berkenan dengan situasi yang terjadi dan dialami sekarang, sikap dan pandangan yang menggenjala saat sekarang, hubungan antarvariabel, pertentangan dengan dua kondisi atau lebih, pengaruh terhadap suatu kondisi ,  perbedaan-perbedaan antar fakta, dan lain-lain. Masalah-masalah yang diamati dan diselidiki diatas memungkinkan penelitian diskriptif memiliki metode yang mengarah pada: studi komperatif, yaitu membandingkan persmaan dan perbedaan genjala-genjala tertntu, studi kuantitatif yang mengukur dan menampilkan fakta melalui thknik surve, tes, interviewe, angket dan lain-lain, bisa pula menjadi sebuah studi korealasional suatu unsur dengan unsure lainya.

 

Layaknya suatu penelitian kuantitatif, kegiatan studi deskriptif meliputi pengumpulan data, analisis data, interprestasi data, serta diakhiri dengan kesimpulan yang didasarkan pada penganalisisan data tesebut.

 

Penelitian diskriptif cenderung tidak melakukan tindakan ataupun pengontrolan perlakuan pada subjek penelitian. Seperti dikemukankan diatas, penelitian ini mempunyai misi yaitu mengunkap fakta dan genjala apa adanya saat penelitian dilakukan. Oleh karna itu, bener adanya jika pada sebuah sekeripsi tertera pernyataan . “ penelitian diskriptif adalah penelitian tentang genjala dan keadaan yang dialami sekarang oleh objek yang sedang diteliti .”  Akan tetapi, kurang tepat kiranya jika pernyataan itu dibalikan menjadi ,” karna penelitian ini mengungkapkan hal-hal yang terjadi pada subjek saat sekaraang ini, maka mitode penelitian ini berupa penelitia diskriptif.” Sebab , metode penelitian laian pun bisa bisa meneliti keadaan yang terjadi saat sekarang. Ukuran sekarang atau bukan sekarangnya permasalahan yang diteliti, cirinya dapat diketahi dari keberadaan data yang diolah. Jika data yang diolah tinggal mengambil, memeriksa, mengumpulkan ,atau paling tidak oeneliti member  tugas, tes, wawancara, kemudian  dikumpulkan, maka penelitian yang dilakukan adalah jenis deskriptif. Akan tetapi, bila data yang diperlukan peneliti diperoleh lebih dahulu melakukan kegiataan khusus yang berupa perlakuan ( treatment ), pengondisiaan supaya testi ( respoden ) memberikan data sesuai dengan pelakuan / kondisi yang ditetapkan peneliti,maka ini bukan deskriptif.

 

Berapa contoh sederhana tentang penelitian berkategori diskriptif disampaikan berikut ini.

Seorang guru olah raga di sekolah A merasa tertarik dengan kebiasaan para siswanya  yang kerap kali memamfaatkan lapangan sekolah pada jam-jam pelajaran kosong untuk dipakai bermain volley ball, Guru tersebut melakukan penelitian disusunlah rancangan penelitia dengan mengungkapkan beberapa pertanyaan atau rumusan maslah berikut ini.

  • Berapa persenkah siswa di sekolah A yang menyukai olah raga volley ball?
  • Berapa orangkah siswa ang tertarik meningkatkan kemampuan volley ball-nya ?
  • Ada berapa orang yang berminat menjadi anggota klub atau ekstrakulikuker volley ball.seandainya kepada mereka diberi kesempataan menjadi anggota klub.
  • Apa keinginan-keinginan meraka terhadap sekolah berkenan dengan peningkatan pretasi volley ball di sekolahnya ( misalnya pelatih. Alat kunjungan pertandingan ,sarana  dan lain-lain.)

 

Penelitian yang dilakukan guru tadi dapat digolongkan kedalam penelitian deskriptif yang mengarah kepada studi kuantitatif dengan teknik penelitian survey

Akhir-akhir ini disekolah X terdapat fenomena siswa yang prestasi bahasa indonisa yang bagus umumnya memiliki prestasi matematika yang bagus. Timbul keinginan seorang guru meneliti apakah antara duavariabel ada hubungan atau tidak. Bila ada hubungan, berapa kekuatan hubungan itu . sehingga guru tersebut dapat memuat semacam perkiraan ( dugaan ) berdasarkan kuat lemahnya hubungan itu. Sebagai tindak lanjut, guru tersebut merancang lalt pengumpul datanya berupa tes bahasa indonisia dan matematika. Akan tetapi, hasil berupa kuat atau lemahnya hubungan yang diperoleh dari penelitian ini bukan lah berupa hubungan yang berupa sebab-akibat. Artinya, baik prestasi matematika siswa itu bukan disebabkan oleh baiknya prestasi bahasa indonisia atau sebaliknya. Malinkan ada factor yang menyababkan kuatnya hubungan itu. Misalnya saja, factor kepandaian ( anak pandai umunya mempunyai nilai pekajaran, termasuk matematika dan bahasa indonisia yang bagus-bagus), atau karna disekolah itu jam pejaran matematika dan bahasa indonisia diletakan pada jam-jam awal anak belajar stiap harinya ( biasanya pagi-pagi), sehingga lebih senantiasa dalam belajar dan prestasi, dan lain-lain.

 

Jika penelitian diatas dilakukan, maka penelitian tersebut tergolong penelitian deskriptif yang mengarah pada studi kolerasional dengan tehnik tes. Sebab variable yang dihubungkan bukanlah variable sebab akibat hasil eksperimen. Artinya, pada penelitian tadi guru tersebut tidak memberikan perlakuan pada variabel bahasa indonisia sedemikian sehingga berpengaharuh hasilnya pada variabel matematika. Akan tetapi, guru tersebut hanya melihat bahwa di sekolahnya siswa yang nilai bahasa indonisianya biak, nilai matematikanya juga baik, cukup begitu saja, dan penelitian sejenis ini ada yang menyebut studi koreasional sejajar.

 

Penelitian diatas berbeda dengan penlitian jenis deskriptif korelasinal berikut ini.

 

Seorang mahasiswa S-1 tingkat akhir akan meneliti hubungan minat baca dengan kecepatan Efektif Membaca sebagai ( KEM ) para siswa SMU kelas III di sekolah X sifat hubungan pada peneliti deskriptif memperlihatkannya adanya sebab-akibat. Minat baca sebagai variabel pertama diperkirakan menjadi penyebab tingginya rendahnya kecepatan Efeltif Membaca sebagai variabel kedua.

Dengan kata lain variabel pertama berpengaruh pada variabel kedua.oleh karna itu, peneitian mahasiswa tersebut bisa berjudul. Pengaruh Minat Baca Terhadap Kecepatan Efiktif Membaca Para SMU Klas III Di Sekolah X

Untuk jenis penelitian ini sering disebut penelitian korelasional sebab-akibat.

 

 

Pembhasan yang telah kami paparkan mohon apabila ada yang mengganjal di ajurkan untuk berkosultasi sama dosen yang bersangkutan

 

 

 

 

 

 

Nama                       : BALLIAN

Jurusan                   :Teknologi Pendidikan IKIP Matram

Tempat tinggal       : Dasan Tapen Gerung LOBAR

Wajib di baca bagi orang yang merasa kurang percaya diri

Gimana caranya supaya saya bisa cerdas dan pinter

Hmm, supaya pinter ya belajar mas hehehe. Kalau dosen jawab seperti itu  pasti disebut basbang alias basi banget Diskusi masalah kecerdasan manusia, tentu tidak bisa tanpa menyinggung masalah otak manusia, karena disini awal segala kisruhnya. Kapasitas otak manusia sangat besar, bahkan ada yang menyebut tidak terbatas. Hanya sayangnya orang biasanya hanya menggunakan 1% dari otaknya, sedangkan orang jenius berhasil menggunakan 4-5% otaknya.  Lha kok bisa? Dan bagaimana supaya kita juga bisa jadi cerdas? Ikuti terus tulisan ini.

Otak manusia tersusun dari neuron-neuron yang jumlah totalnya mencapai 1 trilyun. Walaupun kecil, konon kabarnya satu neuron itu memiliki kecepatan pemrosesan yang setara dengan satu unit komputer. Adam Kho lewat bukunya “I am Gifted, So Are You” mengatakan bahwa otak itu apabila dituliskan dalam bentuk digital akan menjadi  tulisan sepanjang 10.5 juta kilometer.  Ketika jarak terjauh bumi dan bulan itu sekitar 406.720 km, maka kapasitas otak kita setara dengan 25 kali perjalanan dari bumi ke bulan. Tambahan informasi lagi, dari buku Super Great Memori dikatakan bahwa, jika setiap detik dimasukkan 10 informasi kedalam otak kita sampai 100 tahun, maka otak manusia masih belum terisi separuhnya. Ada beberapa peneliti yang mencoba mengkuantifikasi kapasitas otak, ada yang menyebut 3 terabyte, dan ada juga yang menyebut mencapai 1000 terabyte.

Sedemikian dahsyatnya kapasitas otak kita, tapi sayangnya kita hanya menggunakan kurang dari 1%nya. Dan orang jenius seperti Albert Einstein, konon kabarnya juga hanya menggunakan 5% dari seluruh kapasitas otaknya.

Artinya apa? Manusia memiliki kapasitas otak yang sama, yang implikasinya adalah sebenarnya kita semua memiliki daya tangkap terhadap suatu materi pembelajaran sama. Dan tidak ada manusia bodoh di muka bumi ini!

Lha kok, tapi di kelas ada yang cerdas dan ada yang tidak? Itu karena sistem retrieval (pencarian kembali) manusia berbeda-beda. Orang yang cerdas itu adalah orang yang memiliki sistem retrieval yang baik. Seperti sebelumnya saya sebutkan diatas, kapasitas otak manusia mungkin mencapai 1000 terabyte, bayangkan seandainya laptop kita berkapasitas 1000 terabyte, pasti lambat melakukan pencarian file, apalagi kalau letak fisik filenya tidak tertata dengan baik alias terpecah-pecah di berbagai tempat dalam harddisk kita.

Trus gimana caranya supaya sistem retrievalnya bagus? Ada banyak cara komputasi yang bisa dilakukan, paling tidak untuk mengatasi informasi yang tidak tertata dengan baik, kita menggunakan tool defragmenter. Defragmentasi? ya, lakukan defragmentasi pada otakmu!

Sebagai catatan, kata wikipedia, defragmentasi adalah sebuah proses untuk menangani berkas-berkas yang mengalami fragmentasi internal. Sebuah berkas dikatakan terfragmentasi mana kala berkas tersebut tidak menempati ruangan yang saling berdekatan dalam penyimpanan fisik. Fragmentasi dapat menyebabkan subsistem media penyimpanan melakukan operasi pencarian data yang lebih banyak, sehingga dengan kata lain berkas terfragmentasi dapat memperlambat kerja sistem, khususnya pada saat melakukan operasi yang berkaitan dengan media penyimpanan.

Jadi ketika kita menerima materi pelajaran, sebenarnya kita semua berhasil menangkap semua yang diajarkan oleh guru atau dosen kita. Namun ada yang kita simpan di bumi dan ada yang terlempar di bulan, inilah yang disebut dengan fragmentasi itu.

Trus gimana caranya supaya kita bisa mendefragmentasi otak kita? Caranya adalah dengan mengulang-ulangi pelajaran. Mengulang-ulang pelajaran, itu sama saja dengan menarik materi yang terlempar di bulan tadi supaya mendekat ke bumi, sehingga lebih cepat ketika kita mencari kembali. Dan ini sesuai dengan yang dikatakan Adam Kho, bahwa orang yang cerdas adalah orang yang neuron-neuronnya saling tersambung (neuron-connection). Semakin banyak hubungan antarneuron, maka semakin cerdas kita dalam suatu bidang. Kecerdasan itu bisa kita latih!

Sayapun tidak terlahir secara default sebagai orang cerdas, masa TK-SD saya pernah mengalami kendala sulit membedakan huruf b dan d. Sampai ada satu  ungkapan guru saya yang masih saya ingat sampai sekarang, “Rom, b itu yang bokong(pantat)nya dibelakang, dan d itu yang bokongnya di depan“. Ada juga guru yang menyebut saya terkena disleksia kompleks, plus ditambahi dengan anak yang suram masa depannya hehehe sempurna deh

Jadi? Kalau saya yang  disleksia kompleks saja bisa, kenapa anda tidak?

Wahai pedjoeangku, ulang-ulangi pelajaran, banyak mencoba, banyak membaca, banyak berlatih, telani satu persatu hal yang belum kamu pahami, hubungkan neuron-neuronmu, maka kecerdasan akan mengikutimu …

Tetap dalam perdjoeangan!

 

3 thoughts on “Penelitian kuantitatif

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s