BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Sebagaimana kita ketahui dalam realita hidup bahwa peran serta kewajiban orang tua adalah memberi nafkah kepada anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan semenjak mereka lahir. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan bagi orang tua untuk memberikan semaksimal mungkin, karena memberi nafkah dalam arti memenuhi kebutuhan baik bersifat material maupun mental spiritual membutuhkan suatu tindakan-tindakan yaitu dengan jalan bejerja, dengan jalan bekerja orang tua akan memperoleh apa yang dinamakan nafkah lahir yang bersifat jasmaniah, seperti halnya : sandang, pangan, papan dan sebagainya. Di samping kebutuhan jasmaniah anakpun membutuhkan kebutuhan rohani atau mental spiritual seperti halnya : kesejahteraan, agama, pendidikan dan sebagainya.

Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi, secara timbal balik antara orang tua dengan anak. (Darajat, 200:35)

Bagaimanapun kondisi penghasilan orang tua, akan tetapi berkewajiban untuk memberi nafkah kepada anak itu tetap ada. Maka dari itu wajib bagi orang tua untuk berikhtiyar semaksimal mungkin untuk bisa memberikan nafkah dan mampu membiayai pendidikan putra-putrinya. Sebab bagaimanapun anak-anak yang jumlahnya banyak merupakan beban yang tidak ringan bagi orang tua, baik yang menyangkut sandang, pangan, maupun pendidikan. Padahal anak merupakan amanah Allah, kalau amanah tidak mendapatkan pendidikan yang layak bahkan kalau disia-siakan, karena merasa terganggu dan direpotkan, tentunya hal ini jelas hukumnya adalah dosa, maka dari itu untuk menghindari perbuatan dosa tersebut orang tua harus mencari jalan keluar yaitu dengan dengan jalan bekerja untuk mencari hasil dalam rangka memenuhi ekonomi keluarga.

Kenyataan di masyarakat kita menunjukkan bahwa antara satu orang dengan yang lain kesiapan dana atau biaya tidak sama. Hal ini mengingat penghasilan ekonomi yang beragam. Keragaman tingkat ekonomi ini tentunya akan berpengaruh terhadap kesempatan menikmati jenjang pendidikan dan dorongan atau minat seseorang terhadap apa yang dicita-citakan termasuk di dalamnya kelangsungan studi anak.

Begitu pentingnya masalah dana dalam kehidupan ini sehingga Islam memberikan bimbingan kepada kita untuk mencari nafkah tanpa melupakan akhirat.

Dalam surat Al Qashash ayat 77 menerangkan bahwa

Artinya :

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melukapan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Depag RI., 1977:623).

 Dan sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi bahwa :

 Artinya :

Sesungguhnya makanan yang paling baik bagi kamu adalah dari hasil usahamu, dan sesungguhnya anak-anakmu adalah dari (hasil) usahamu”. (Shahih, R. Bukhori dan At-Tarikh, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Aisyah, 1990:55).

Dari ayat dan hadits tersebut di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan tidak bisa lepas dari faktor dana atau biaya. Dan tersedianya biaya untuk menunjang keberhasilan pendidikan anak, tidak bisa dilepaskan dari kekuatan ekonomi atau penghasilan orang tua. Mengingat makin tinggi jenjang pendidikan, maka makin tinggi biaya yang diperlukan, ternyata akan mempengaruhi seseorang untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Apalagi kalau kita lihat di tengah masyarakat, kekuatan ekonomi seseorang beragam, termasuk juga masyarakat di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan tempat lokasi penelitian. Keadaan ekonomi yang beragam dimungkinkan mempunyai pengaru yang baik terhadap kelangsungan studi anak.

Di dalam kegiatan studi anak memerlukan berbagai kebutuhan yang cukup. Dengan demikian keluarga (orang tua) mempersiapkan berbagai sarana, prasarana dan faktor penunjang lainnya. Hal ini diharapkan anak dapat belajar dengan baik dan mempunyai minat belajar pada tingkat yang lebih tinggi.

Keadaan sosial ekonomi keluarga dapat juga berperan terhadap perkembangan anak-anak, misalnya anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan cukup (sosial ekonominya cukup), maka anak-anak tersebut lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk memperkembangkan bermacam-macam kecakapan. Begitu juga sebaliknya bagi orang tua yang berpenghasilan rendah, maka anak-anaknya akan berkurang mendapatkan kesempatan untuk memperkembangkan kecakapannya. (Ahmadi, 1999:256)

Berpijak dari keadaan penghasilan orang tua maka muncul ide untuk diadakan penelitian guna mengetahui sejaumana penghasilan orang tua dan implikasinya terhadap kelangsungan studi anak. Kiranya permasalahan inilah yang melatar belakangi penulisan pembahasan judul skripsi ini.

 B.     Rumusan Masalah

Agar dalam penelitian ini bisa terarah dalam pencapaian tujuan, maka terlebih dahulu dirumuskan masalah yang akan diteliti. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Pokok Masalah

Bagaimana pekerjaan orang tua dan implikasinya dalam kelangsungan pendidikan anak di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.

  1. Sub Pokok Masalah
    1. Bagaimana implikasi pekerjaan tani orang tua dalam kelangsungan pendidikan sekolah dan luar sekolah anak ?
    2. Bagaimana implikasi pekerjaan dagang orang tua dalam kelangsungan pendidikan di sekolah dan luar sekolah anak ?

  1. C.    Tujuan Penelitian

Tujuan adalah merupakan akhir aktivitas yang dicapai. Menurut Sutrisno Hadi (1989:3) tujuan adalah suatu pekerjaan untuk menemukan jawaban terhadap persoalan yang berarti melalui persoalan-persoalan ilmiah.

Sedangkan dengan hal tersebut di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pekerjaan orang tua dan implikasinya dalam kelangsungan pendidikan anak di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.

  1. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pekerjaan tani orang tua dan implikasinya dalam kelangsungan pendidikan sekolah dan luar sekolah anak.

b. Untuk mengetahui pekerjaan dagang orang tua dan implikasinya dalam kelangsungan pendidikan sekolah dan luar sekolah anak.

D.    Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Ikut serta berpartisipasi dalam memberikan kontribusi kepada orang tua melalui karya ilmiah ini tentang pekerjaan orang tua dan implikasinya dalam kelangsungan pendidikan anak di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.
  2. Sebagai salah satu bahan informasi yang kemungkinan dapat dijadikan bahan pertimbangan dan bahan acuan bagi orang tua anak di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.
  3. Sebagai mahasiswa Jurusan Tarbiyah di IAIN Nurul Jadid Paiton Probolinggo, penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi yang nantinya dapat menambah wawasan berfikir mengenai penghasilan orang tua dalam kelangsungan pendidikan anak di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.

  1. E.     Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian ini hanya mencakup beberapa hal, yakni :

  1. Orang tua yang akan dijadikan sumber informasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang telah menyekolahkan anaknya baik di lembaga formal maupun non formal.
  2. Pekerjaan oran tua yang akan dibahas nantinya adalah pekerjaan tani dan dagang
  3. Pendidikan anak yang dimaksud disini adalah semua tingkat pendidikan baik yang formal maupun nonformal dari pendidikan tingkat dasar sampai perguruan  tinggi.

F.     Keterbatasan Penelitian

Dalam penulisan ini ada hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh peneliti karena adanya faktor keterbatasan antara lain :

  1. Tidak dapat mewawancarai seluruh penduduk Desa Bulujaran Lor, dikarenakan terbatasnya tenaga dan waktu yang tidak memungkinkan.
  2. Tidak dapat memantau semua aktivitas penduduk Desa Bulujaran Lor, karena keterbatasan dana yang dimiliki oleh peneliti.
  3. Hasil dari penelitian ini tidak bisa dipakai pada tahun berikutnya di daerah tersebut apalagi di daerah lain.

G.    Definisi Operasional

Untuk menghindari terjadinya salah pengertian dalam memahami masalah yang terdapat dalam judul skripsi ini, maka akan dijelaskan secara rinci istilah-istilah yang ada dalam judul ini. Disamping itu, untuk menghindari salah penafsiran terhadap permasalahan yang ada maka perlu dijelaskan definisi operasional sebagai berikut :

  1. Pekerjaan

WJS. Poerwadarminta mengatakan pekerjaan adalah hal mengerjakan sesuatu. Dalam hal ini pekerjaan dapat diartikan sebagai sesuatu yang dilakukan oleh seseorang untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarganya. (1999:493)

  1. Orang Tua

Orang tua adalah merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. (Darajat, 2000:35)

Jadi yang dimaksud orang tua di sini adalah orang yang harus memikul tanggung jawab kepada anak-anaknya, baik dalam memberikan nafkah maupun bidang pendidikan sampai dewasa.

  1. Implikasi

Implikasi adalah suatu keadaan terlihat, yang disugestikan. Jadi yang dimaksud dengan implikasi adalah sesuatu yang tampak nyata setelah adanya pengaruh atau yang disugestikan, artinya saran, ajaran pengaruh yang dapat menggerakkan atau mengeluatkan keyakinan. (Poerwadarminta, 1999:377)

  1. Kelangsungan

Kelangsungan berasal dari kata “langsung” yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”. Dalam hal ini langsung berarti terus tidak dengan perantara. (Poerwadarminta, 1999:562)

  1. Pendidikan

Pendidikan menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia berarti pimpin, pelihara atau ajar. Mendapat penambahan konfik “pe-an” yang mengandung makna proses. Jadi pendidikan berarti suatu proses ajar. (1995:91)

  1. Anak

Yang dimaksud dengan anak dalam penelitian ini adalah anak-anak petani dan pedagang / wiraswasta yang berusia sekolah dari tingkat dasar, menengah dan perguruan tinggi.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.    Kajian tentang Pekerjaan Orang Tua

Pekerjaan orang tua adalah suatu jerih payah yang dilakukan orang tua sehingga mendapatkan hasil yang maksimal, sesuai dengan profesi yang ditekuni. Hal ini sesuai dengan pendapat Muhammad Hidayat Rahz : “Tinggi rendahnya kehidupan sosial suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh seberapa besar adanya kesadaran dan kepekaan sosial dari masyarakat tersebut”. (1999:57).

Hal ini sangat relevan dengan firman Allah SWT dalam surat Al An’am ayat 135 :

Artinya :

“Katakanlah : Hai kaum-Ku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu ! Sesungguhnya Aku-pun orang yang berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan”. (Depag RI, 1977:210)

 Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh latar belakang sejarah, tradisi, budaya, tingkat pendidikan dan lingkungan dimana ia tinggal. Allah SWT berfirman dalam surat Al Isra’ ayat 84 berbunyi :

 Artinya :

“Katakanlah : Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaan masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa di antaramu yang benar jalannya” (Depag RI, 1977:437)

Dari pendapat tersebut di atas, terlihat jelas bahwa yang dimaksud dengan pekerjaan orang tua adalah suatu kegiatan yang dilakukan, sehingga dapat menghasilkan dalam waktu tertentu sesuai dengan aktivitas yang dilakukan.

Dari sekian corak dan ragam jenis pekerjaan maka pekerjaan orang tua yang satu dengan yang lain tidak sama, hal ini melihat kebutuhan status sosial ekonomi, bakat serta kemampuan masing-masing individu berbeda-beda, dalam hal ini dibagi menjadi dua,  yaitu :

  1. 1.      Petani

Petani adalah sebagai orang desa yang bercocok tanam dan beternak di daerah pedesaan tidak di kalangan tertutup (greenhouse) di tengah-tengah kota atau dalam kotak-kotak aspidistir yang diletakkan di atas ambang jendela. (Wolf, 1985:2)

Dalam hal ini petani adalah pemilik tanah pertanian sedangkan buruh tani adalah penggarap pertanian milik orang lain, menurut Poerwadarminta, “buruh adalah orang yang bekerja mendapat upah / gaji”. (1999:171)

Pada dasarnya perilaku petani sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, kecakapan dan sikap mental petani itu sendiri. Dalam hal ini pada umumnya karena tingkat kesejahteraan hidupnya dan keadaan dimana mereka itu tinggal dapat dikatakan masih menyedihkan. Sehingga menyebabkan pengetahuan dan kecakapannya tetap berada dalam tingkat rendah dan keadaan seperti ini tentu akan menekan sikap mentalnya. Setiap petani ingin meningkatkan kesejahteraan hidupnya, akan tetapi hal-hal di atas merupakan penghalang, sehingga cara berfikir, cara bekerja dan cara hidup mereka tidak mengalami perubahan. (Kartasapoetra, 1994:21)

Dengan digiatkannya penyuluhan diharapkan akan menjadi perubahan-perubahan terutama pada perilaku serta bentuk-bentuk kegiatannya, seiring terjadinya perubahan, cara berfikir, cara bekerja, cara hidup, pengetahuan dan sikap mentalnya yang lebih terarah dan lebih menguntungkan, baik bagi dirinya beserta keluarga dan lingkungannya.

Selanjutnya setelah penyuluhan-penyuluhan berlangsung, penyuluh akan dapat mengetahui petani mana yang tergolong petani naluri, petani maju, petani teladan dan kontak tani, dalam hal ini akan dijelaskan secara terperinci sebagai berikut :

  1. Petani naluri yaitu petani yang cara atau kegiatan-kegiatan usahanya masih seperti diwariskan oleh nenek moyangnya
  2. Petani maju adalah petani yang menerapkan teknologi baru dalam usaha atau dalam kegiatan-kegiatan bertaninya dan bersikap maju.
  3. Petani teladan adalah petani yang usaha atau kegiata bertaninya dicontoh oleh petani di lingkungannya, akan tetapi mereka itu tidak aktif dalam hal penyebarluasannya.
  4. Kontak tani merupakan petani teladan yang aktif dalam menyebarluaskan teknologi baru kepada para petani di desanya.

(Kartasapoerta, 1984:55)

Kartasapoetra menyatakan bahwa modernisasi pertanian adalah :

  1. Menjadikan para petani mampu melaksanakan usaha taninya secara lebih baik
  2. Menjadikan para petani mapu melakukan pengelolaan usaha taninya berdasarkan teknik pengelolaan yang lebih menguntungkan.
  3. Menjadikan para petani mampu memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyatnya lebih baik dari sekarang
  4. Menjadikan para petani mampu memperluas lapangan kerja, seperti pendirian-pendirian industri-industri rumah yang mengolah produk pertaniannya
  5. Menjadikan para petani mampu meletakkan dasar-dasar pembaharuan bidang usahanya yang terarah pada pelaksanaan industri di lingkungan masyarakatnya dengan mamanfaatkan produk-produk pertanian sebagai bahan pertanian dasarnya. (1994:13).

Tujuan modernisasi pertanian sebenarnya sejalan dengan cita-cita masyarakat di pedesaan yaitu selain meningkatkan produk usaha taninya juga memberikan lapangan kerja baru bagi taruna-taruna tani di lingkungan masyarakatnya dengan memanfaatkan produk-produk usaha tani. Dengan demikian para petani beserta keluarga dan lingkungannya dapat lebih ditingkatkan sejajar atau setingkat tidak jauh berbeda dengan tingkat kehidupan masyarakat kota. Karena pertanian yang maju didampingi industri produk pertanian yang berkembang, akan menjadikan lingkungan masyarakat pedesaan berkembang tanpa merusak keadaan norma-norma lingkungan. Keserasian hidup mereka dapat dipertahankan walaupun keadaannya mengalami perkembangan yang pesat. (1994:13)

  1. 2.      Pedagang

Menurut Badudu Zein, pedagang adalah orang yang hidup dari berdagang sebagai mata pencahariannya. Dengan demikian pedagang dapat dikatakan sebagai orang yang bekerja atau berusaha atas prakarsa dan bertumpu pada kemampuannya sendiri. (1994:299)

Dalam hal ini pedagang sama dengan wiraswasta, yaitu suatu keberanian keutamaan serta keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri. (Soemanto, 1999:42)

Secara eternologis, wiraswasta merupakan suatu istilah yang berasal dari kata “wira” dan “swasta”. Wira berarti berani, utama atau perkasa. Swasta merupakan panduan dari kata “swa” dan “sta”, artinya sendiri. Swasta dapat diartikan sebagai berdiri menurut kekuatan sendiri, dengan kata lain sebagai wiraswasta. Dalam hal ini Wasty Soemanto menyatakan, “wiraswasta adalah keberanian, keutamaan serta keperkasaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan permasalahan hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri”. (1999:42)

Secara umum dapat dikatakan, bahwa manusia wiraswasta adalah orang yang memiliki potensi untuk berprestasi. Ia senantiasa memiliki motivasi yang besar untuk maju berprestasi, dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong dirinya sendiri di dalam mengatasi permasalahan hidupnya. Manusia wiraswasta tidak suka bergantung kepada pihak lain di alam sekitarnya. Dalam setiap usaha memajukan diri serta keluarga, manusia wiraswasta tidak menunggu uluran tangan dari pemerintah ataupun pihak lain di dalam pihak masyarakat. (1999:43)

Tidak semua orang mampu untuk mengenal diri sendiri. Manusia lebih cenderung lebih banyak memperhatikan tingkat laku atau perbuatan orang lain. Oleh karena itu manusia lebih cenderung mengatakan penilaian terhadap tingkah laku dan prestasi orang lain sehingga banyak manusia yang jarang mengadakan penilaian sendiri. Itulah sebabnya mengapa dikatakan bahwa tidak semua orang dapat mengenal dirinya sendiri. (1999:44)

Persoalan maju dan tidaknya kehidupan manusia, tergantung pada manusia itu sendiri. Ia berusaha melengkapi diri dengan jiwa besar atau jiwa kerdilnya. Sebagai orang atau generasi tua kita tentunya tidak akan mengharapkan kehidupan anak dan cucu yang penuh dengan penderitaan, kemiskinan hanya akibat dari kekuasaan jiwa yang kerdil. Demikian pula apabila kita mengaku sebagai kaula muda yang sedang belajar, tentunya kita tidak akan diri pribadi kita terkuasai oleh jiwa yang kerdil pula.

Menurut Wasty Soemanto, ciri-ciri manusia wiraswasta :

  1. Memiliki moral yang kuat
  2. Memiliki sikap mental wiraswasta
  3. Kepekaan terhadap arti lingkungan
  4. Memiliki keterampilan wiraswasta (1999:45)

Dengan kata lain wiraswasta adalah seseorang yang mempunyai nilai-nilai praktis, pelopor, dan pejuang agar dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Dengan demikian kemandirian merupakan kedewasaan dalam hidup, sehingga dengan sikap mandiri manusia mampu mengatasi permasalahan hidupnya dengan mudah, karena secara emosional ia telah dewasa pula.

Manusia wiraswasta memiliki ketekunan dan keuletan dalam bekerja dan berusaha. Kemajuan dan kesuksesan hidup tidak dapat datang dengan sendirinya. Kemajuan dan sukses harus diperoleh melalui usaha dan bekerja keras. Banyak orang yang tidak suka bekerja keras, mereka lebih suka bermalas-malasan dengan penuh harapan akan memperoleh kemajuan dan prestasi hidup. Ada pula sebagian orang yang tidak mau bekerja keras tetapi ingin maju dan berprestasi dengan meminjamkan tenaga dan prestasi orang lain. (1999:35)

Dengan kenyataan di atas, maka terdapat peranan dalam kehidupan yang kompleks di kalangan masyarakat itu. Terlepas dari berbagai persoalan tersebut, maka masyarakat mempunyai peranan dan tanggung jawab yang besar dalam rangka mewujudkan manusia-manusia wiraswasta. Masyarakat menghadapi tantangan untuk mengemabangkan diri untuk memajukan kehidupan yang lebih baik, untuk itu dibutuhkan tenaga-tenaga pioner untuk mengadakan langkah-langkah usaha menggali serta mendayagunakan porensi masyarakat untuk keperluan memajukan kehidupan mereka.

Dalam hal ini pedagang dibagi menjadi dua, yaitu pedagang tetap dan pedagang tidak tetap.

  1. a.      Pedagang Tetap

Menurut WJS Poerwadarminta, pedagang adalah orang yang berdagang yang biasanya tidak secara besar. Pedagang tetap adalah orang yang berdagang dan menetap di tempatnya, misalnya tokok-tokok (1999:220)

Salah satu kunci keberhasilan seseorang dalam berusaha dan berdagang adalah adanya kepercayaan dari orang lain terhadap dirinya. Agar seseorang memperoleh simpati dan kepercayaan orang lain dalam berusaha, ia harus memiliki sifat kejujuran dan tanggung jawab.

Banyak orang mengalami kegagalan dalam relasi dan usaha hanya karena tidak memiliki sifat-sifat kejujuran dan tanggung jawab. Oleh sebab itu dalam berdagang harus mendapat kepercayaan dari orang lain.

Seorang pedagang harus dapat mengenal lingkungannya, dengan mengenal lingkungannya memungkinkan manusia dapat mendayagunakan secara efisien untuk kepentingan hidupnya. Pedagang juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan itu sebabnya mengapa seorang pedagang harus memiliki kepekaan terhadap arti lingkungannya, dan setelah itu berusaha mendayagunakan secara efisien untuk memajukan kehidupannya.

  1. b.      Pedagang Tidak Tetap

Pedagang tidak tetap adalah seorang pedagang yang dalam transaksinya dibatasi oleh waktu atau musim panen, dengan demikian juga berpengaruh terhadap perolehan pendapatan.

Seperti dikatakan oleh Muhammad “hakekat dari pembangunan masyarakat sesungguhnya adalah upaya dari masyarakat tersebut untuk meningkatkan keberadaannya melalui melalui suatu perubahan kehidupan sosialnya. (1999:55). Yang jelas, perubahan sosial pasti akan terjadi karena tumbuhnya kesadaran sosial dari anggota masyarakat tersebut yang diakibatkan oleh meningkatnya tafar sosial ekonomi mereka terutama pendidikan. Perubahan musim panen juga berpengaruh dalam perolehan pendapatan akan terjadi dengan baik dan lebih cepat apabila direncanakan dan terkontrol dnegan baik pula oleh masyarakat tersebut.

 

  1. B.     Kajian tentang Pendidikan Anak

Pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang Pendidikan Bab I Pasal 1 sebagai berikut : Pendidikan adalah usaha yang sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan kegiatan, pengajaran dan / atau pengertian dari peranannya di masa yang akan datang”. (Depag RI., 1999:3)

Pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta ketrampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah. (Zuhairini, 1995:92)

Di samping itu pendidikan sering juga diartikan sebagai suatu usaha manusia untuk membimbing anak yang belum dewasa ketingkat kedewasaan dalam arti sadar dan mampu memikul tanggung jawab atas segala perbuatannya dapat berdiri di atas kaki sendiri.

Pendidikan mempunyai peran yang sangat urgen untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu bangsa. Pendidikan juga menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa, dan menjadi cermin kepribadian masyarakatnya. Dalam hal ini Hasbullah menyatakan bahwa “hubungan masyarakat dengan pendidikan menampakkan hubungan korelasi positif. Artinya, pendidikan yang maju dan modern akan menghasilkan masyarakat yang maju dan modern pula. Sebaliknya pendidikan yang maju dan modern hanya ditemukan dan diselenggarakan oleh masyarakat maju dan modern”. (1996:27).

Pendidikan anak adalah pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anak sejak dalam kandungan sampai dewasa.

Tujuan ideal yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia lewat proses dan Sistem Pendidikan Nasional ialah seperti yang dikutip Hasbullah :

Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (Hasbullah, 1996 : 28)

Untuk mensukseskan tujuan tersebut, maka diantaranya dengan cara menempuh pendidikan yang ada yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan formal dan non formal tersebut dalam pelaksanaannya ada persamaan dan perbedaannya. Mengenai persamaan antara pendidikan formal dengan pendidikan non formal sebagai berikut :

  1. Berebeda dengan pendidikan in formal, medan pendidikan keduanya adalah memang diadakan demi untuk menyelenggarakan pendidikan yang bersangkutan.
  1. Materi pendidikan diprogram secara teratur.
  2. Ada clientele tertentu yang diharapkan datang kemedannya.
  3. Memiliki jam belajar tertentu
  4. Meyelenggarakan evaluasi pelaksanaan pogramnya.
  5. Diselenggarakan oleh pihak pemerintah dan swasta.

Sedangkan perbedaan anatara pendidikan formal dengan pendidikan non formal adalah :

H.    Pendidikan Formal

  1. Selalu dibagi atas jenjang yang memilih hirarkis
  2. Waktu penyampaian diprogram lebih panjang/lama
  3. Usia siswa disuatu jenjang relatif homogen, khususnya pada jenjang permulaan.
  4. Para siswa umumnya berorientasi studi buat jangka waktu relatif yang lama, kurang berorientasi pada materi program yang bersifat praktis, dan kurang berorientasi kearah cepat kerja.
  5. Materi mata pelajaaran pada umumnya, lebih bersifat akademis, dan umum.
  6. Merupakan response dari kebutuhan umum dan relatif jangka panjang.

Pendidikan non formal

  1. Pada umumnya tidak dibagi atas jenjang
  2. Waktu penyampaian di program lebih pendek
  3. Usia siswa di suatu kursus tidak perlu lama
  4. Para siswa umumnya berorientasi studi jangka pendek, praktis agar segera dapat menerapkan hasil pendidikannya dalam praktek kerja (berlaku dalam masyarakat yang sedang berkembang.
  5. Materi mata pelajaran pada umumnya lebih banyak yang bersifat praktis dan khusus
  6. Merupakan response dari pada kebutuhan khusus yang mendesak
  7. Credentials (ijazah, dan sebagainya) umumnya kurang memegang peranan penting terutama bagi penerimaan siswa. (Joesuf, 1999 : 72)

Sanafilah Faisal berpendapat bahwa pendidikan formal memiliki persyaratan-persyaratan organisasi dan pengolahan yang relatif ketat, lebih formalistis, dan lebih terikat kepada legalitas formal administratif. Sedangkan pendidikan non formal relatif lebih lentur dan berjangka pendek penyelenggaraannya dibandingkan dengan pendidikan formal. Contoh konkritnya seperti pendidikan melalui kursus, penataran dan training-training. (1981 : 48)

Sehubungan dengan pendidikan formal dan pendidikan non formal, menjadi pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah maka dalam skripsi ini akan dijelaskan lebih rinci tentang pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah :

 

  1. Pendidikan Sekolah
  1. SD / MI

Pendidikan di SD bertujuan untuk memberikan bekal kemapanan dasar kepada siswa dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi anggota masyarakat, warga negara, dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama. (Depag RI, 1999 : 228)

Pendidikan MI bertujuan untuk memberikan bekal kemapanan dasar kepada siswa dalam mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan mendidik siswa menjadi manusia yang bertaqwa dan berakhlaq mulia sebagai muslim yang menghayati dan mengamalkan agamanya, serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan di Madrasah Tsanawiyah atau Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. (1999 : 228)

  1. SLTP / MTs

SLTP bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar yang merupakan perluasan dan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh di Sekolah Dasar yang bermanfaat bagi siswa untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara sesuai dengan tingkat perkembangannya serta mempersiapkan siswa untuk hidup dalam masyarakat dan untuk mengikuti pendidikan menengah.

Madrasah Tsanawiyah bertujuan memberiakn bekal kemampuan dasar sebagai perluasan dan peningkatan pengetahuan, agama dan ketrampilan yang diperoleh di Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar yang bermanfaat bagi siswa untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi muslim, anggota masyarakat, warga negara yang sesuai dengan tingkatan perkembangannya serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan menengah.

MTs adalah satu pendidikan dasar setelah madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar dalam bentuk sekolah lanjutan tingkat pertama yang berciri khas agama Islam. Lama pendidikan di MTs adalah 3 tahun setelah Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar. (depag RI, 1999, 255)

Pendidikan dasar adalah bagian terpadu dari Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan dasar terdiri dari satuan pendidikan SD / MI dan SLTP / MTs MI adalah SD yang berciri agama Islam yang kaderannya diselenggarakan oleh Departemen Agama. (Pasal 4 ayat 3 peraturan pemerintah nomor 28 tahun 1998 tentang pendidikan dasar) (Depag RI, 1999 :281)

  1. SMU / MA

SMU bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembankan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. Disamping itu untuk meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar. SMU merupakan bentuk satuan pendidikan menengah, lama pendidikan 3 tahun setelah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau setelah Madrasah Tsanawiyah. (Depag RI, 1999 : 330)

MA adalah satuan pendidikan dalam jenjang pendidikan menengah dalam bentuk Sekolah Menengah Umum yang berciri khas agama Islam. Lama pendidikan 3 tahun setelah Madrasah Tsanawiyah atau Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau satuan pendidikan yang setara. (1999 : 370)

  1. PT / Perguruan Tinggi

Pendidikan tinggi merupakan sumber daya manusia tinkat tinggi yang akan menjadi penggerak dan pemimpin masyarakatnya. Untuk meningkatkan mutu suatu pendidikan tinggi maka diperlukan tenaga-tenaga dosen yang bermutu.

Sejalan dengan lembaga pendidikan tinggi harus mampu untuk melaksanakan  riset, baik yang diperlukan oleh masyarakat sekitarnya maupun bagi pengembangan ilmu pengetahuan. (Tilaar, 2000 : 111 – 112)

Satuan pendidikan tinggi memerlukan otonomi, bukan hanya otonomi dalam bentuk kebebasan akademik dan mimbar akdemik, tetapi juga otonomi lembaga di dalam masalah-masalah manajemen, penyusunan program. Dengan demikian pendidikan tinggi tersebut sebagai lembaga pendidikan akan bersifat kreatif dan menjadi pelopor perubahan baik di dalam masyarakat sekitarnya maupun di dalam kemajuan ilmu pengetahuan (2000 : 112)

  1. Pendidikan Luar Sekolah
  1. Pesantren

Pesantren merupakan lemabaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral agama sebagai pedoman hidup masyarakat sehari-hari.

Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri. Sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu. Disamping itu kata “pondok” juga berasal dari bahasa arab “funduq” yang berarti hotel atau asrama.

Pondok pesantren yang merupakan “bapak” dari pendidikan Islam di Indonesia, didirikan karena adanya tuntutan dan kebutuhan zaman, hal ini bisa dilihat dari perjalanan historisnya bahwa sesungguhnya pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam, sekaligus membentuk kader-kader ulama’ dan da;I (Hasbullah, 1996 : 39-40)

  1. Diniyah

Menurut Zakiyah Daradjat, Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam. Yang berfungsi terutama untuk memenuhi hasrat orang tua agar anak-anaknya lebih banyak mendapatkan pendidikan agama Islam. Madrahah Diniyah terdiri dari tiga tingkat :

  1. Awaliyah, ialah Madrasah Diniyah tingkat permulaan dengan masa belajar 4 tahun dari kelas satu sampai dengan empat, dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu.
  2. Wustha, ialah Madrasah Diniyah tingkat menengah pertama dengan masa belajar 2 tahun dari kelas satu sampai kelas dua dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu.
  3. Ulya, ialah Madrasah Diniyah tingkat menengah atas dengan masa belajar 2 tahun dari kelas satu sampai kelas 2 dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu. (2000 : 104)

Sedangkan Hasbullah menyatakan kehadiran madrasah dilatar belakangi oleh keinginan memberlakukan secara perimbangan antar ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum dalam kegiatan pendidikan dikalangan umat Islam. (1996 : 66)

Madrasah Diniyah berkembang hampir seluruh kepulauan nusantara, baik merupakan bagian pesantren maupun surau, ataupun berdiri diluarnya. Pada tahun 1918 di Yogyakarta berdiri Madrasah Muhammadiyah (Kweek Scholl Muhammadiyah) yang kemudian menjadi Madrasah Muallimin Muhammadiyah, sebagai realisasi dari cita-cita pembaharuan pendidikan Islam yang di pelopori oleh KH. Achmad Dahlan. (1996 : 69)

Sistem pengajaran dan pendidikan yang diajarkan pada Madrasah merupakan paduan antara sistem pondok pesantren dengan sistem yang berlaku pada sekolah-sekolah modern. Proses perpaduan tersebut secara beransur-ansur mulai dan mengikuti sistem klasikal sistem pengajaran kitab diganti dengan bidang-bidang.

Pelajaran tertentu walaupun masih menggunakan kitab-kitab yang lama.  Kenaikan tingkat ditentukan oleh penguasaan terhadap sejumlah bidang tertentu. (1996 : 71)

  1. Majelis Ta’lim

Dari segi etimologis, perkataan majelis ta’lim berasal dari bahasa arab, yang terdiri dari dua kata, yaitu majelis dan ta’lim. Majelis artinya tempat duduk, tempat sidang, dewan. Dan ta’lim yang diartikan dengan pengajaran. Dengan demikian secara bahasan majelis ta’lim adalah tempat untuk melaksanakan pengajaran atau pengajian agama Islam. (Hasbullah, 1996 : 95)

Secara istilah, pengertian majelis ta’lim sebagaimana dirumuskan pada musyawarah majelis ta’lim se-DKI Jakarta tahun 1980 adalah lembaga pendidikan non formal Islam yang memiliki kurikulum tersendiri, diselenggarakan secara berkala dan teratur, diikuti oleh jemaah yang relatif banyak, bertujuan untuk membina dan mengembangkan hubungan yang santun dan serasi antara manusia dengan Allah SWT, antara manusia dengan sesamanya serta antara manusia dengan lingkungannya, dalam rangka membina masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT. (1996 : 95)

Majelis ta’lim diselenggarakan berbeda dengan pendidikan Islam lainnya seperti pesantren dan madrasah, baik yang menyangkut sistem, materi maupun tujuannya. Pada majelis ta’lim terdapat hal-hal yang cukup membedakan dengan yang lain, diantaranya :

  1. Majelis ta’lim adalah lembaga pendidikan non formal Islam
  2. Waktu belajarnya berkala tapi teratur, tidak setiap hari sebagaimana halnya sekolah atau madrasah.
  3. Pengikut atau pesertanya disebut jamaah (orang banyak)  bukan pelajar atau santri. Hal ini didasarkan pada kehadiran di majelis ta’lim bukan merupakan kewajiban sebagaimana dengan kewajiban murid menghadiri sekolah.
  4. Tujuannya yaitu memasyarakatkan ajaran Islam. (Hasbullah, 1996:95-96)

Bila dilihat dari strategi pembinaan umat, maka dapat dikatakan bahwa majelis ta’lim merupakan wadah atau wahana da’wah Islamiyah yang murni institusional keagamaan. Sebagai institusi keagamaan Islam, sistem majelis adalah melekat pada agama Islam itu sendiri.

Majelis ta’lim mempunyai kedudukan dan ketentuan tersendiri dalam mengatur pelaksanaan pendidikan atau da’wah Islamiyah, disamping lembaga-lembaga lainnya yang mempunyai tujuan yang sama. Memang pendidikan non formal dengan sifatnya yang tidak terlalu mengikat dengan aturan yang ketat dan tetap, merupakan pendidikan yang efektif dan efisien, cepat menghasilkan dan sangat baik mengembangkan tenaga kerja atau potensi umat, karena ia digemari masyarakat luas. Efektifitas dan efisien pendidikan ini sudah banyak dibuktikan melalui media pengajian-pengajian Islam atau majelis ta’lim yang sekarang banyak tumbuh dan berkembang baik di desa maupun di kota.

Hasbullah berpendapat bahwa secara strategis Majelis ta’lim adalah menjadi sarana da’wah dan tabligh yang bercorak Islami, yang berperan serta pada pembinaan dan peningkatan kualitas hidup umat Islam sesuai tuntutan ajaran Islam. (1996 : 99)

Fungsi dan peranan Majelis ta’lim tidak terlepas dari kehendaknya sebagai alat dan media pembinaan kesadaran beragama. Usaha pembinaan masyarakat dalam bidang agama harus memperhatikan yang biasanya menjadi tiga bentuk, menurut Hasbullah yaitu :

  1. Lewat propaganda, yang lebih menitik beratkan kepada pembentukan publik opini, agar mereka mau bersikap dan berbuat sesuai dengan maksud propaganda. Sifat propaganda adalah masal caranya melalui rapat umum, siaran radio, TV film, drama, spanduk dan sebagainya.
  2. Melalui indoktrinasi, yaitu meanamkan ajaran dengan konsepsi yang telah disusun secara tegas dan bulat oleh pihak pengajar untuk disampaikan pada masyarakat, melalui kuliah, ceramah, kursus, training centre dan sebagainya.
  3. Melalui jalur pendidikan, dengan menitik beratkan kepada pembangkitan cipta, karsa dan rasa sehingga cara pendidikan ini lebih mendalam dan mantap dari pada propaganda dan indoktrinasi. (1996 : 100)

Sebagai lembaga pendidikan non formal Majelis ta’lim berfungsi sebagai berikut :

  1. Membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT
  2. Sebagai teman rekreasi rohaniah, karena penyelenggaraannya bersifat santai
  3. Sebagai ajang berlangsungnya silaturrahmi masal yang dapat menghidup suburkan dakwah dan ukhuwah Islamiyah.
  4. Sebagai sarana dialog berkesinambungan antara ulama’ dan umara’ dengan umat.
  5. Sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan umat dan bangsa pada umumnya. (1996 : 101)

Pelaksanaan Majelis ta’lim tersendiri tidak begitu mengikat, dan tidak selalu mengambil tempat-tempat ibadah seperti Musholla, Masjid, tetapi juga di rumah keluarga, balai pertemuan umum, aula suatu instansi dan sebagainya. Penyelenggaraannya terdapat banyak variasi, tergantung pada pimpinan jamaah.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.    Rancangan Penelitian

Sebuah penelitian perlu dirancang secara sistematis agar tujuan penelitian dalam penelitian tersebut dapat dicapai. Adapun tujuan penelitian di sini adalah untuk mengetahui pekerjaan orang tua dan implikasinya dalam kelangsungan pendidikan anak. Maka dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel pondok pesantren (variabel X) dan sebagai variabel bebas dan variabel pembinaan akhlaq (variabel Y) sebagai variabel terikat.

Selanjutnya untuk memperoleh gambaran tentang adanya hubungan atau tidak antara ke dua variabel tersebut, maka masing-masing variabel yang telah diperiksa itu perlu dikorekasikan. Dari hasil pengkorelasian itu kemudian ditarik kesimpulan sesuai dengan tujuan penelitian. Atas dasar inilah maka metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif korelasional. Namun sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan diadakan langkah-langkah sebagai berikut.

1)      Persiapan

Dalam suatu kegiatan, persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat penting. Begitu juga dalam kegiatan penelitian, persiapan merupakan unsur yang perlu diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan memperlancar jalannya penelitian.

Sehubungan dengan judul dan rumusan masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka persiapan dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a)      Menyusun rencana

Dalam menyusun rencana ini penulis menetapkan beberapa hal seperti berikut ini.

1)      Judul penelitian

2)      Alasan penelitian

3)      Problema penelitian

4)      Tujuan penelitian

5)      Obyek penelitian

6)      Metode yang dipergunakan

b)      Ijin melaksanakan penelitian

Dengan surat pengantar dari Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam (IAIN) Nurul Jadid Jurusan Pendidikan Agama Islam dengan alamat PO. BOX I Paiton Probolinggo, penulis dimohonkan ijin ke kepada Pimpinan Pondok Pesantren Arriyadlah Desa Alastengah Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. Dengan demikian penulis telah mendapatkan ijin untuk mengadakan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut di atas.

c)      Mempersiapkan alat pengumpul data yang berhubungan dengan motivasi orang tua, yakni menyusun instrumen untuk angket dan wawancara dan dokumentasi.

2)      Pelaksanaan

Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain :

a)      Observasi

b)      Wawancara

c)      Angket

d)     Dokumentasi

3)      Penyelesaian

Setelah kegiatan penelitian selesai, penulis mulai menyusun langkah-langkah berikutnya, yaitu :

  1. Menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh, yang kemudian dikonsultasikan kepada Dosen Pembimbing dengan harapan apabila ada hal-hal yang perlu direvisi, akan segera dilakukan sehingga memperoleh suatu hasil yang optimal.
  2. Laporan yang sudah selesai kemudian akan dipertaruhkan di depan Dewan Penguji, kemudian hasil penelitian ini digandakan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.

B.     Populasi dan Sampel Penelitian

  1. Populasi

Populasi merupakan obyek informasi atau kelompok yang menjadi sasaran penelitian. Dalam hal ini T. Raka Jono menyatakan bahwa “populasi adalah keseluruhan individu yang ada, yang pernah dan mungkin ada yang merupakan sasaran yang sesungguhnya dari pada suatu penyelidikan” (t.th.1).

Mengingat populasi subyeknya 405, maka batasan responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% yang merupakan sebagai wakil dari jumlah populasi, maka secara matematis dapat ditentukan jumlah respondennya yaitu 405 : 10% = 40, berarti sampelnya 40 orang.

  1. Sampel

Pengertian mengenai sampel, Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa, “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (1997:177). Selanjutnya Suharsimi menyatakan bahwa :

“Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100 lebih 100 lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung setidaknya dari :

  1. Kemampuan peneliti melihat dari segi waktu, tenaga dan dana.
  2. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.
  3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti, untuk peneliti yang beresiko besar, hasilnya akan lebih besar” (1992:107)

Berdasarkan pengertian di atas, maka dalam penelitian ini yang menjadi sampel penelitian adalah 40 orang berdasarkan 10% dari jumlah populasi.

C.    Instrumen Penelitian

Guna memperoleh data yang diperlukan maka perlu adanya alat-alat pengumpul data atau instrumen, sebab instrumen sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian. Instrumen yang baik akan menghasilkan data-data yang baik dan sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu data harus cocok dan mampu bagi pemecahan masalah. Dalam hal ini Winarno Surachmad menyatakan bahwa :

“Setiap alat pengukur yang baik akan memiliki sifat-sifat tertentu yang sama untuk setiap jenis tujuan dan situasi penyelidikan. Semua sedikitnya memiliki dua sifat, reliabilitas dan validitas pengukuran. Tidak adanya suatu dari sifat ini menjadikan alat itu tidak dapat memenuhi kriteria sebagai alat yang baik”. (t.th.:145)

Sifat-sifat yang lain yang harus dipenuhi adalah obyektifitas dan adanya petunjuk penggunaan. Adapun instrumen yang dibuat penulis guna menjaring data adalah angket untuk siswa. Jenis angket yang dipilih adalah angket tertutup, dengan jumlah pertanyaan 28 butir dengan tiga alternatif jawaban (a, b, dan c). Skor untuk masing-masing alternatif selanjutnya dimasukkan di dalam rumus prosentase.

D.    Teknik Pengumpulan Data

Dalam suatu penelitian tidak lepas dari data, karena dengan adanya data atau keadaan tertentu dapat membangkitkan niat untuk mengadakan penelitian. Dengan adanya data tersebut orang akan dapat menyesuaikan penelitiannya. Penelitian terhadap suatu obyek itu tidak dapat dilaksanakan dengan baik apabila dari obyek itu tidak dapat dibuat datanya. Data mempunyai pengertian khusus, seperti yang dinyatakan oleh Masud Kasan Kohar bahwa, “data adalah himpunan kenyataan-kenyataan yang mengandung suatu keterangan atau menyusun kesimpulan” (t.th.:61).

Dari definisi di atas maka jelaslah bahwa dalam suatu penelitian diperlukan banyak sekali data agar keputusan yang diambil dapat dipercaya. Oleh karena itu data yang dikumpulkan haruslah menggambarkan tentang variabel-variabel yang ada pada judul, memilih metode yang tepat, karena kesalahan dalam memilih metode akan berakibat data yang terkumpul kurang memenuhi syarat baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Oleh karenanya dalam penelitian ini penulis memilih beberapa metode pengumpulan data yang sekiranya tepat untuk penelitian ini, yaitu metode observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi.

  1. Metode Observasi

Metode observasi adalah suatu teknik untuk memperoleh data dengan menggunkan pengamatan (gejala-gejala) yang diselidiki (Hadi, 1991:36).

Berdasarkan pendapat-pendapat dapat dikemukakan bahwa Observasi adalah merupakan teknik atau metode untuk mengadakan penelitian dengan cara mengamati langsung terhadap kejadian, baik di sekolah maupun di luar sekolah dan hasilnya dicatat secara sempurna.

Dengan metode ini peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian, dalam hal ini yang diamati adalah lokasi atau letak penelitian serta sarana prasarana dan pelaksanaan pembinaan akhlaq di dalam masyarakat sekitar pesantren.

  1. Metode Angket

Angket atau kuesioner menurut Suharsimi Arikunto adalah, “sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui” (1997:140). Sedangkang menurut Bakrun dan Nasrudin menyatakan bahwa, “angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan komunikasi dengan sumber daya. (1990:52).

Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka  yang disebut angket adalah seperangkat pertanyaan yang harus dijawab oleh responden untuk memperoleh data yang diperlukan. Data yang dimaksud adalah data kuantitatif. Menurut Suharsimi Arikunto, kuesioner dapat dibedakan atas beberapa jenis tergantung kepada sudut pandangan.

  1. Dipandang dari cara menjawab, maka ada,

1)      Kuesioner terbuka, yang memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab dengan kalimatnya sendiri.

2)      Kuesioner tertutup, yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih.

  1. Dipandang dari jawaban yang diberikan ada,

1)      Kuesioner langsung, yaitu responden menjawab tentang dirinya.

2)      Kuesioner tidak langsung, yaitu jika respoden menjawab tentang orang lain.

  1. Dipandang dari bentuknya, maka ada,

1)      Kuesioner pilihan ganda, sama dengan kuesioner tertutup.

2)      Kuesioner isian, sama dnegan kuesioner terbuka.

3)      Checklist, sebuah daftar, dimana responden tinggal membubuhka tanda ( ü ) pada kolom yang sesuai.

4)      Rating scale (skala bertingkat, yaitu sebuah pertanyaan diikuti oleh kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan-tingkatan misalnya mulai dari sangat setuju sampai ke sangat tidak setuju (1997:141).

Berdasarkan pembedaan tersebut, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan angket tertutup dengan alasan sebagai berikut :

  1. Mudah dalam memberikan jawaban bagi responden dan tidak memerlukan waktu
  2. Mudah dalam menganalisa data
  3. Dalam waktu relatif singkat dapat diperoleh data yang diperlukan.

Sebagai metode pengumpul data, angket memiliki keuntungan dan kelemahan. Beberapa keuntungan angket menurut Bakrum dan Nasrudin antara lain :

  1. Angket dapat dipergunakan untuk mengumpulkan data kepada sejumlah responden dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang singkat
  2. Setiap responden menerima sejumlah pertanyaan yang sama
  3. Dengan angket responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawabannya
  4. Responden mempunyai waktu yang cukup untuk menjawab pertanyaan
  5. Dalam angket pengaruh subyektif dapat dihindarkan (1997:53)

Beberapa kelemahan angket :

  1. Angket belum bisa menjamin tentang ketetapan jawaban-jawaban responden
  2. Angket hanya terbatas pada responden yang dapat membaca dan menulis saja
  3. Kadang-kadang ada responden yang tidak bersedia mengisi angket
  4. Pertanyaan yang diajukan dalam angket lebih terbatas, sehingga ada hal-hal yang tidak terungkap (Bakrum dan Nasrudin, 1990:53).

 1.Wawancara atau Intewiew

Menurut Bakrum dan Nasrudin (1990:47) menyatakan bahwa, wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab) secara lisan, baik secara langsugn maupun secara tidak langsung.

Menurut Bakrum dan Nasrudin wawancara bersifat langsung apabila data yang akan dikumpulkan langsung diperoleh dari individu yang bersangkutan, sedangkan tidak langsung apabila wawancara yang dilakukan dengan seseorang untuk memperoleh keterangan mengenai orang lain (1990:47).

Berdasarkan hal tersebut di atas, dalam penelitian ini penulis menggunakan wawancara yang bersifat tidak langsung, yaitu wawancara yang dilakukan dengan pengasuh Pondok Pesantren Arriyadlah Alastengah Paiton Probolinggo, untuk memperoleh keterangan dan data mengenai pesantren yang diasuhnya.

Beberapa keuntungan wawancara seperti yang dikatakan Bakrum dan Nasrudin antara lain sebagai berikut :

  1. Wawancara merupakan teknik yang tepat untuk mengungkapkan keadaan pribadi
  2. Dapat dilaksanakan kepada setiap individu tanpa pandang umur
  3. Tidak dibatasi oleh kemampuan membaca dan menulis, artinya orang yang buta hurufpun dapat diajak wawancara
  4. Dapat dijalankan serempak sambil mengadakan observasi dan memberikan penyuluhan
  5. Mempunyai kemungkinan masuknya data lebih banyak dan lebih cepat
  6. Dapat menimbulkan hubungan pribadi yang lebih baik
  7. Kerahasiaan pribadi lebih terjamin (1990:47).

Di samping keuntungan, wawancara juga memiliki kelemahan-kelemahan yaitu ;

  1. Wawancara terlalu banyak memakan waktu, tenaga dan biaya
  2. Sangat tergantung pada individu yang akan diwawancarai
  3. Situasi wawancara mudah terpengaruh oleh situasi alam sekitar
  4. Adanya pengaruh-pengaruh subyektif pewawancara (Bakrum dan Nasrudin, 1990:48)

 1.E.     Metode Analisis Data

Setelah mengadakan serangkaian kegiatan (penelitian) dengan menggunakan beberapa metode di atas, maka data-data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan teknik deskriptif. Teknik ini dipergunakan untuk menganalisa data yang bersifat kualitatif atau data yang tidak dapat direalisasikan dengan angka. Adapun data yang bersifat kuantitatif akan dianalisa dengan menggunakan rumus Chi Kuadrat (X2), dimana akan digunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

X2  = Chi kwadrat

Fo  = Frekwensi hasil observasi

Fh  = Frekwensi yang diharapkan

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A.    Deskripsi Data

  1. 1.      Gambaran Umum Daerah Penelitian

Desa Bulujaran Lor yang terletak di Kecamatan Tegal Siwalan adalah sebagai obyek penelitian, desa tersebut terletak di Kabupaten Probolinggo, jarak antara desa Bulujaran Lor dengan kota Kecamatan + 3 Km. sedangkan jarak antara kota Kabupaten Probolinggo + 16 Km. Luas desa Bulujaran Lor 3,45 Ha dengan di huni penduduk sebanyak 2772 jiwa, desa ini terdiri dari 5 dusun, yaitu :

  1. Dusun Saptuan
  2. Dusun Krajan
  3. Dusun Janten
  4. Dusun Dulawang
  5. Dusun Gunung Tempa

Sumber data : Kantor Desa Bulujaran Lor Tahun 2002-2003

Mengenai iklim pada umumnya adalah beriklim tropis terbagi menjadi 2 musim, yakni musim kemarau terjadi pada bulan April-Oktober, dan musim hujan pada bulan Oktober-April setiap tahunnya. Di antara kedua musim tersebut terjadi musim pancaruba di mana pada musim ini terjadi tiupan angin kering yang kencang sekali dan angin tersebut dinamakan angin gending. Mengenai curah hujan cukup tinggi berkisar antara 26 mm Hg untuk curah hujan terkecil dan 439 mm Hg curah hujan terbesar.

Daerah batas-batasnya adalah sebagai berikut :

a. Sebelah Barat                : Desa Paras

b. Sebelah Timur               : Desa Bladu Kulon dan Gunung Geni

c. Sebelah Utara                : Desa Bladu Kulon

d. Sebelah Selatan             : Desa Bulujaran Kidul

(Sumber data : Kantor Desa Bulujaran Lor Tahun 2002-2003)

  1. 2.      Keadaan Penduduk

Keadaan penduduk Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegal Siwalan Kabupaten Probolinggo, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

TABEL 1

JUMLAH PENDUDUK DESA BULUJARAN LOR

PADA TIAP-TIAP DUSUN TAHUN 2002-2003

No.

Dusun

Jenis Kelamin

Jumlah

Laki-laki

Perempuan

1

2

3

4

5

Saptuan

Krajan

Janten

Dulawang

Gunung Tempa

321

141

352

365

350

329

159

372

269

373

650

300

724

534

723

Jumlah

1429

1502

2931

(Sumber data : Kantor Desa Bulujaran Lor Tahun 2002-2003)

TABEL II

KEADAAN PENDUDUK DESA BULUJARAN LOR

MENURUT GOLONGAN UMUR TAHUN 2002-2003

No.

Kelompok Umur

Jumlah

1

2

3

4

5

6

00 – 03 tahun

04 – 06 tahun

07 – 12 tahun

13 – 15 tahun

16 – 18 tahun

19 – tahun ke atas

670

450

305

600

206

100

Jumlah

2331

(Sumber data : Kantor Desa Bulujaran Lor Tahun 2002-2003)

  1. 3.      Keadaan Sarana dan Prasarana Pendidikan

Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam ataupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. pendidikan dapat dinikmati atau dimiliki oleh setiap orang, sesuai dengan kemampuan masing-masing perorangan itu sendiri bahkan itu adalah menjadi tanggung jawab keluarga, masyarakat ataupun pemerintah.


TABEL III

KEADAAN PENDUDUK DESA BULUJARAN LOR

MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN TAHUN 2002-2003

No.

Kelompok Pendidikan

Jumlah

1

2

3

4

5

6

7

Belum Sekolah

Tidak Taman SD / Sederajat

Tamat SD / Sederajat

Tamat SLTP / Sederajat

Tamat SMU / Sederajat

Tamat PT / Sederajat

Buta Aksara

700

600

400

700

76

5

50

Jumlah

2331

(Sumber data : Kantor Desa Bulujaran Lor Tahun 2002-2003)

TABEL IV

KEADAAN SARANA PENDIDIKAN DESA BULUJARAN LOR

TAHUN 2002-2003

No.

Dusun

SD

SLTP

SMU

PT

Jumlah

1

2

3

4

5

Saptuan

Krajan

Janten

Dulawang

Gunung Tempa

2

1

1

2

2

Jumlah

3

1

4

(Sumber data : Kantor Desa Bulujaran Lor Tahun 2002-2003)

  1. 4.      Keadaan Sarana Ibadah

Keadaan sarana ibadah di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo Tahun 2002-2003 dapat dilihat pada tabel berikut ini :

TABEL V

KEADAAN SARANA IBADAH DI DESA BULUJARAN LOR

TAHUN 2002-2003

No.

Kelompok Umur

Jumlah

1

2

3

4

5

Masjid

Musholla

Wihara

Gereja

Pura

4

26

Jumlah

30 buah

(Sumber data : Kantor Desa Bulujaran Lor Tahun 2002-2003)

 1. 5.      Keadaan Mata Pencaharian

Keadaan penduduk Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo tahun 2002-2003, dapat dilihat pada tabel berikut ini :

TABEL VI

KEADAAN MATA PENCAHARIAN PENDUDUK

DESA BULUJARAN LOR TAHUN 2002-2003

No.

Kelompok Umur

Jumlah

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Petani

Buruh Tani

Pegawai Negeri

Pedagang

Pensiunan

Buruh Penggalian

Usaha Industri Kerajinan

Buruh Industri

Jasa Angkutan

Jasa Bangunan

1001

218

17

79

8

6

26

75

88

17

Jumlah

1455

(Sumber data : Kantor Desa Bulujaran Lor Tahun 2002-2003)

Desa Bulujaran Lor terdiri dari dua bagian wilayah yakni sebelah utara merupakan wilayah persawahan yang sebagian besar adalah pertanian padi, jagung, bawang merah, cabai. Sedangkan di sebelah selatan adalah daerah tegalan atau sawah tadah hujan, yang bisanya di tanami palawija hanya musim penghujan saja, yaitu tanaman jagung, ubi kayu, atua sejenis tanaman kacang-kacangan. Biasanya dijual oleh mereka sebagai sayur atau pelengkap masakan sayur seperti karo, komak, otok, kedelai dan kacang ijo.

Usaha perdagangan adalah perdagangan eceran dan sejenisnya hanya merupakan usaha perdagangan untuk memenuhi keperluan masyarakat sekitar seperti toko dan warung.

Industri yang ada di Desa Bulujaran Lor adalah industri kerajinan rumah tangga misalnya, industri kerajinan mebel dan pembuatan batu bata merah. Industri rumah tangga lainnya adalah industri tempe, kue dan tape.

  1. 6.      Struktur Organisasi

Struktur organisasi Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo Tahun 2002-2003 dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:


STRUKTUR ORGANISASI DESA ….

KECAMATAN ….

TAHUN 2002-2003

(Sumber data : Kantor Desa  Tahun 2002-2003)

B.     Penyajian dan Analisa Data

Sebagaimana dijelaskan bahawa dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, interview, dokumenter dan catatan lapangan sebagai alat ukur untuk meraih data sebanyak mungkin terhadap berbagai hal yang berkaitan dan yang mendukung penelitian ini. segala upaya yang telah dilakukan untuk mengeksplorasi dan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, memberikan porsi intensifikasi pada metode observasi dan interview. Untuk mendapatkan data yang kualitatif dan auntenfikasi yang berimbang maka dilakukan juga dengan menggunakan metode dokumenter.

Setelah mengalami proses peralihan data dengan berbagai metode yang dipakai mulai dari data yang umum hingga sampai pada data yang khusus, pada akhirnya sampai pada pembuktian data, karena data yang diperoleh suah dianggap representatif dan telah sampai pada kejenuhan data.

Secara berurutan akan disajikan data-data yang ada dan mengacu pada perumusan masalah.

  1. 1.      Pekerjaan Orang Tua

Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan sangat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak dilahirkan ibunya yang selalu ada disampingnya. Hal ini menunjukkan tanggung jawab setiap orang tua atas kehidupan anak-anak mereka untuk masa kini dan mendatang. Bahkan para orang tua umumnya merasa tanggung jawab atas segalanya dari kelangsungan hidup anak-anak mereka. Karenanyalah tidak diragukan bahwa tanggung jawab pendidikan secara mendasar terpaku kepada orang tua. Apakah tanggung jawab pendidikan itu diakuinya secara sadar atau tidak, hal ini adalah merupakan “fitrah” yang telah dikodratkan Allah SWT kepada setiap orang tua. Maka tidak bisa mengelakkan tanggung jawab itu karena telah merupakan amanah Allah SWT yang dibebankan kepada mereka.

Status sosial orang tua mempunyai pengaruh terhadap tingkah laku dan pengalaman anak-anaknya. Yang dimaksud dengan status sosial dalam hal ini adalah kedudukan orang tua dalam memperoleh penghasilan untuk memenuhi suatu kebutuhan. Secara sederhana di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo, penghasilan orang tua dibagi menjadi dua di antaranya adalah petani dan pegagang. Oleh sebab itu penghasilan orang tua sangat berpengaruh terhadap kelangsungan pendidikan anak untuk selanjutnya.

Namun demikian status sosial ekonomi tidaklah dapat dikatakan sebagai faktor yang mutlak, sebab hal itu tergantung pula kepada sikap orang tua dan corak interaksi dalam keluarga. Walaupun penghasilan ekonomi orang tua memuaskan tetapi mereka tidak memperhatikan pendidikan anaknya, maka hal itu tidak menguntungkan bagi perkembangan sosial anak-anak. Mungkin juga pengasilan ekonomi orang tua mencukupi dan juga interaksinya baik, namun anak itu berkembang dengan tidak wajar, dengan begitu perkembangan ditentukan oleh saling pengaruh dari faktor-faktor di luar dirinya dan dalam dirinya sebagaimana hasil interview dinyatakan bahwa : “Penghasilan orang tua yang ada di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo, sangat mendukung, akan tetapi minat untuk menyekolahkan anaknya kurang, sebab faktor kesadaran orang tua kurang mendukung”. (Hasil interview dengan Bapak Kepala Desa yaitu Bapak Ahmad Mulyadi, 5 Mei 2003)

Pendapat tersebut dipertegas oleh Bapak Muhammad Ihsan, yang menyatakan bahwa : “Bahwasanya pendidikan orang tua sendiri sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak selanjutnya, sebab untuk sekolah pada jenjang yang lebih tinggi tidak mendapat suatu dukungan dari orang tua”. (Hasil interview, 7 Mei 2003)

Bertolak dari uraian di atas, jelaslah meskipun penghasilan orang tua sangat mendukung akan tetapi faktor dari kesadaran orang tua itu sendiri kurang mendukung, yang akhirnya tidak ada minat untuk menyekolahkan anaknya pada jenjang yang lebih tinggi. Adapun penghasilan orang tua yang ada di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo adalah :

  1. Petani

Petani adalah mereka yang hidup dari pekerjaan sawah di desa yang suasana kehidupan dalam masyarakat ditandai oleh sifat kekeluargaan.

Pada masa pembangunan di abad XX ini, pandangan, perhatian dan pemeliharaan terhadap para petani di pedesaan ternyata demikian besar, memang demikianlah seharunya. Sejak nenek moyang kita, petani adalah tulang punggung ekonomi negara, dan desa adalah pangkal kehidupan perkotaan, tetapi kenyataannya kehidupan para petani di pedesaan tingkat kesejahteraannya masih rendah. Mereka buta akan pendidikan, buta akan teknologi yang baik bagi peningkatan usaha taninya, sehingga produksi yang mereka lakukan dari generasi ke generasi hanyalah berdasarkan usaha dan pengalaman-pengalaman sendiri. Dalam waktu yang demikian lama perilaku kehidupan para petani tidak mengalami perubahan, padahal mereka ingin perubahan. Mereka tidak bisa melakukannya karena terbentur pada keadaannya sendiri, antara lain karena pendidikan yang dialaminya terlalu rendah, bahkan kebanyakan di antara mereka ada yang tidak mengalaminya, sehingga penguasaan pengetahuan untuk maju, mengubah perilaku dan perikehidupannya tidak dapat mereka lakukan.

Dalam wawancara pata tanggal 11 Mei 2003 dengan Bapak Suyono, menuturkan kepada peneliti : “Biasanya saya berangkat ke sawah setelah shalat subuh, karena sawah saya agak jauh dan harus ditempuh dengan mengendarai sepeda engkol. Lagi pula penghasilan tiap hari petani seperti saya ini tergantung dari penghasilan sawah yang saya garap menurut musim tanam yang selalu berganti-ganti, yaa alhamdulillah lebih dari cukup kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga”.

Dari sini dapat diketahui bahwa petani adalah seorang yang penghasilannya tergantung pada hasil pertanian yang mereka garap menurut musim tanam yang selalu berganti-ganti. Di musim hujan mereka para petani banyak yang bercocok tanam padi, jagung, rempah-rempah dan buah-buahan yang sangat cocok pada musim itu, sedangkan di musim kemarau mereka banyak menanam bawang merah bahkan sampai berkali-kali dalam menanam karena semata-mata mengejar harga bawang merah pada waktu itu cukup melambung tinggi.

  1. Buruh Tani

Buruh tani adalah seseorang tenaga kasar yang penghasilan sehari-harinya banyak menggantungkan nasibnya kepada hasil kerja sebagai buruh dimana mereka bekerja mulai pukul 06.30 sampai jam 11.00 dengan gaji Rp. 7.000,- untuk kalangan pria dan Rp. 5000,- untuk kalangan wanita.

Pada dasarnya prilaku petani sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, kecakapan dan sikap mental petani itu sendiri. Dalam hal ini pada umumnya karena tingkat kesejahteraan hidupnya dan keadaan lingkungan di mana mereka itu tinggal dapat dikatakan masih menyedihkan. Sehingga menyebabkan pengetahuan dan kecakapannya tetap berada dalam tingkatan rendah dan keadaan seperti ini tentu akan menekan sikap mentalnya. Setiap petani ingin meningkatkan kesejahteraan hidupnya, akan tetapi hal di atas merupakan penghalang, sehingga cara berpikir, cara bekerja dan cara hidup mereka lama tidak mengalami perubahan-perubahan. Sebagaimana yang dituturkan oleh Bapak Miswan, dalam wawancara dengan peneliti pada tanggal 11 Mei 2001, menyatakan : “Saya sebagai buruh tani kalau kata orang di sini sebagai tenaga kerja kasar biasanya berangkat kerja jam 6.20 sampai selesai, ya terkadang sawah yang saya kerjakan belum sampai pada waktunya pulang terkadang sudah selesai, karena saya tidak sendirian, kadang kala 10 orang yang yang mengerjakan, terkadang kurang dari 10 orang, yaa tergantung luas ladang yang akan dikerjakan. Dan memang dari hasil kerja sebagai buruh itulah saya menggantungkan nasib untuk mencukupi keluarga saya, dan pengalaman yang paling pahit apabila setelah bekerja belum dibayar, bahkan sampai esok harinya baru dibayar. Kalau menurut aturan agama itu-kan sudah tidak sesuai lagi, karena dalam aturan Islam begitu selesai bekerja maka harus segera membayarnya, kecuali ada perjanjian tetapi saya sebagai buruh tani seperti yang saya katakan tadi tidak sama dengan mereka bekerja di pabrik ada yang tiap minggu sekali dibayar, sedangkan saya kan tidak seperti itu”.

  1. Pedagang

Pedagang adalah orang yang berdagang yang biasanya tidak secara besar. Pedagang adalah mereka yang hidupnya dari keuntungan yang diperoleh dari pekerjaan jual beli, hasilnya pun tidak menentu tergantung pada untung atau rugi dari hasil jual beli perdagangannya.

Pada umumnya bahwa manusia pedagang adalah orang yang memiliki potensi untuk berprestasi, baik dalam kondisi ataupun situasi yang bagaimanapun, manusia wiraswasta mampu menolong dirinya sendiri di dalam mengatasi permasalahan hidupnya. Manusia wiraswasta tidak suka tergantung kepada orang lain di alam sekitarnya. Dalam setiap usaha menunjukkan kehidupan diri dan keluarga, manusia wiraswasta tidak suka hanya menunggu uluran tangan dari pemerintah ataupun pihak lainnya di dalam masyarakat.

Masyarakat pedesaan merupakan potensi yang amat penting bagi pertumbuhan ekonomi bangsa pada umumnya. Di negeri kita sebagian besar penduduknya tinggal di desa-desa. Faktor-faktor ekonomi yang penting terdapat di pedesaan. Faktor-faktor itu antara lain meliputi tanah, tenaga kerja, flora dan fauna. Dari keempat faktor yang disebutkan itu yang merupakan sumber perekonomian masyarakat yang utama adalah tanah dan tenaga kerja, kedua sumber terpakai untuk usaha pertanian atau peternakan. Inilah sumber kehidupan dari sebagian besar masyarakat Indonesia.

1)      Pedagang Tetap

Pedagang tetap adalah pedagang yang menetap dan mempunyai suatu relasi yang nantinya dijadikan suatu pemasukan guna memperoleh pendapatan. Oleh sebab itu pedagang dapat dikatakan sebagai orang yang berjualan guna memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh konsumen.

Perubahan-perubahan hidup, ekonomi, kependudukan dan pekerjaan manusia, pekerjaan yang tadinya terlaksana di rumah-rumah, kemudian berpindah ke kantor-kantor, perusahaan, toko-toko dan pelayanan niaga.

Dalam hal ini pedagang tetap adalah mereka yang mempunyai relasi tetap, sebagai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh konsumen. Sebagaimana hasil wawancara salah satu penduduk yang pekerjaannya sebagai pedagang yaitu Bapak Naryo, pada tanggal 11 Mei 2003, yang menyatakan sebagai berikut : “Pedagang dalam pandangannya hanya berusaha mencukupi keluarganya, untuk kebutuhan lain-lain masih belum tumbuh”. (Wawancara, 11 Mei 2003)

2)      Pedagang Tidak Tetap

Pedagang tidak tetap adalah mereka dalam traksaksinya dibatasi waktu atau musim panen, yang tentunya kebanyakan mereka adalah pedagang palawija, buah-buahan dan bawang merah. Menurut Bapak Kadir dalam wawancara pada tanggal 11 Mei 2003, menyatakan : “Saya merasa cukup atau lebih dari hasil kerjanya untuk kebutuhan keluarganya, namun saya hanya bisa berdagang pada waktu musim panen saja yang tentunya juga berpengaruh terhadap pendapatannya”. (Wawancara, 11 Mei 2003)

  1. 2.      Pendidikan Anak

Pendidikan merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, baik masyarakat tradisional maupun masyarakat modern.

Dalam masyarakat yang telah mengalami proses modernisasi, lembaga pendidikan yang bersifat umum saja tidak lagi memadahi, lebih khusus lagi pendidikan pendidikan pesantren haruslah memberikan peluang dan bahkan mengharuskan pembentukan lembaga-lembaga pendidikan khusu yang diarahkan untuk mengantisipasi diferensiasi sosial, ekonomi, yang terus menerus terjadi dalam pembangunan.

Namun yang sebaiknya, bahkan sistem pendidikan Islam saja belum mempunyai arah yang pasti tentang diferensiasi struktural yang harus dilakukan; apakah tetap dalam diferensiasi keagamaannya yang dilihat dan kerangka modernisasi mungkin tidak memadahi lagi. Tentunya dalam arah pendidikan anak-anaknya, ada warisan orang tua sebagaimana kata Pak Tirto : “Pendidikan anak-anaknya di lembaga umum terletak pada garis negatif untuk masa depan mereka. Karena tidak ada waktu lagi orang tua dalam memperhatikan anaknya, karena waktu yang ada hanya untuk memperoleh penghasilan maksimal”. (Wawancara dengan Pak Tirto, 11 Mei 2003)

Komentar di atas, bertolak belakang dengan pendapat Pak Kholik, beliau lebih suka mengantarkan anaknya di lembaga luar sekolah, opini beliau lebih menjamin terbentuknya moral di masa sekarang untuk masa akan datang. Karena Pak Kholik merasa yakin bahwa lembaga luar sekolah benar-benar tercipta kedinamisan agama (moral, etika)”. (Wawancara, 11 Mei 2003).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan dianalisa tentang pekerjaan orang tua dan implikasinya dalam kelangsungan pendidikan anak (Studi kasus di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo Tahun 2003) bisa diambil kesimpulan sebagai berikut :

  1. Kesimpulan Umum

Bahwa pekerjaan orang tua yang ada di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo cukup baik, akan tetapi kesadaran orang tua terhadap pendidikan anak kurang.

  1. Kesimpulan Khusus
    1. Telah diketahui implikasi pekerjaan tani orang tua dalam kelangsungan pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Dalam hal ii petani pesimis anak-anaknya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dan optimis memasukkan anak-anaknya pada pendidikan luar sekolah.
    2. Telah diketahui implikasi pekerjaan pedagang orang tua dalam kelangsungan pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Dalam hal ini bagi pedagang pesimis anak-anaknya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan sebaliknya optimis memasukkan anak-anaknya pada pendidikan luar sekolah.

B.     Saran-saran

  1. Hendaknya para orang tua lebih mementingkan pada pendidikan anak-anaknya, yaitu dengan cara mengarahkan dan memberikan kebebasan dalam menentukan pendidikan anak-anaknya.
    1. Hendaknya bagi anak berusaha menempuh pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi, walau bagaimanapun keadaan penghasilan orang tua.
    2. Bagi masyarakat hendaknya memberikan dukungan dengan cara memberi iformasi mengenai pentingnya pendidikan anak.

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s