178903_178133222326689_380893125_n
Gambar

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTOR SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) KELAS VIII SMP

auto_play = (true or false)
show_comments = (true or false)
color = (color hex code) will paint the play button, waveform and selections in this color
theme_color = (color hex code) will set the background color

Here are some examples:

This is how the player looks when only the basic url parameter is given.


Embeds a track player which starts playing automatically and won’t show any comments.


Embeds a set player with a green theme.

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    LATAR BELAKANG

Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan keperibadian dan kemampuan di dalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu agar pendidikan dapat dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan kemampuan setiap individu. Pendidikan adalah tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Dalam undang-undang Republik Indonesia No. 20 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 1 ayat 1 dijelaskan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, (Depdiknas, Tahun 2003:2).

Pembelajaran merupakan perpaduan yang harmonis antara antara kegiatan pengajaran yang dilakukan guru dan kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut, terjadi interaksi antara siswa dengan siswa, interaksi antara guru dan siswa, maupun interaksi antara siswa dengan sumber belajar. Diharapkan dengan adanya interaksi tersebut, siswa dapat membangun pengetahuan secara aktif, pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, serta dapat memotivasi peserta didik sehingga mencapai kompetensi yang diharapkan. Pelaksanaan pembelajaran TeknologiInformasi dan Komunikasi (TIK) merespons jauh lebih cepat berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran TIK dengan keadaan dan kebutuhan sekarang dan masa yang akan datang.

Sungguh tidak dapat dipungkiri bahwa realita di lapangan menunjukkan bahwa betapa teknologi informasi sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia terutama kebutuhan akan informasi, oleh karena itu kompetensi TIK diharapkan mampu menyeimbangkan pertumbuhan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penguasaan kecakapan hidup, penguasaan tehnologi, informasi sehingga tumbuh generasi yang kuat dan berakhlak mulia.

Melihat dari uraian tersebut maka mata pelajaran TIK seharusnya merupakan suatu pelajaran yang ditunggu-tunggu, disenangi, menantang dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan belajar mengajar mengandung arti interaksi dari berbagai komponen, seperti guru, murid, bahan ajar, media dan sarana lain yang digunakan pada saat kegiatan berlangsung.

Dalam upaya menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, maka guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip mengajar diantaranya menggunakan strategi mengajar yang bervariasi. Bahwa dalam prinsip mengajar yaitu sebagai guru, diharapkan mampu memperhatikan perbedaan individual siswa, menggunakan variasi metode dan strtaegi mengajar;; melibatkan siswa secara aktif; menumbuhkan minat belajar siswa, dan menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif.

Strategi pembelajaran kooperatif merupakan salah satu strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi  pembelajaran kooperatif dapat lebih menfokuskan kegiatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar secara kelompok. Konsentrasi diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar karena kegiatan belajar mengajar memerlukan perhatian khusus. Dengan adanya konsentrasi belajar dapat meningkatkan intelektual, emosional dan mental siswa. Siswa merasakan bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan, sehingga siswa benar-benar berkonsentrasi atau memusatkan perhatiannya pada materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Jika siswa berkonsentrasi dalam belajar, maka tujuan belajar mengajar atau prestasi belajar akan mudah tercapai.

Proses pembelajaran dapat dirancang tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil pembelajaran, melainkan mencakup interaksi dengan semua sumber belajar yang mungkin dapat dipakai untuk mencapai hasil yang bermakna.

Dalam kegiatan pembelajaran guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka pemikiran demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap peserta didik secara individual. Peserta didik sebagai individu memliki perbedaan sebagaimana disebutkan di atas. Pemahaman ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan guru dengan peserta didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan mengajar.

Berdasarkan data dari SMP Negeri 1 Kuripan Kabupaten Lombok Barat diperoleh gambaran bahwa penerapan strategi pembelajaran TIK sebagian besar menggunakan strategi pembelajaran praktikum dan tutorial sebaya di lab komputer, tanpa adanya aktivitas yang bervariasi dan melibatkan sisi psikologis yang cukup berarti bagi siswa, melainkan hanya berkonsentrasi pada tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Begitu juga akibat padatnya materi dan penyampaian pembelajaran dengan hanya menggunakan strategi pembelajaran praktikum di depan komputer, membuat siswa menjadi bosan dan jenuh menerima pembelajaran TIK tersebut. Padahal, dalam membahas pelajaran TIK tidak cukup hanya menekankan pada praktikum di depan komputer, tetapi yang lebih penting adalah keterampilan proses dan pengembangan ilmu diri siswa itu sendiri. Sehingga perolehan prestasi belajar pada mata pelajaran TIK di sekolah rata-rata masih berkisar pada angka KKM. Oleh sebab itu, proses pembelajaran TIK yang tepat sasaran sangat diperlukan untuk mempermudah proses tercapainya tujuan apa yang diharapkan dari pembelajaran TIK.

Dari uraian di atas bahwa mata pelajaran TIK mempunyai nilai yang strategis dan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, handal, dan bermoral semenjak dini. Hal yang menjadi hambatan selama ini dalam pembelajaran TIK adalah kurang dikemasnya pembelajaran TIK dengan strategi pembelajaran yang menarik, menantang, dan menyenangkan.

Supaya pembelajaran TIK menjadi pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM), dapat dilakukan melalui berbagai macam cara. Salah satu caranya yaitu melalui penerapan model strategi pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Namun seberapa jauh pengaruh model strategi pembelajaran tersebut dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013”.

B.     RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat kemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah Terdapat Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013?”.

  1. TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013.

D.    KEGUNAAN PENELITIAN

Dalam buku Metodologi Penelitian dijelaskan bahwa “Kegunaan berarti manfaat atau kebermaknaan” (Arikunto, 1994:21), sedangkan ahli lain mengatakan bahwa “kegunaan adalah manfaat atau pentingnya dari suatu penelitian sehingga memiliki dampak positif baik ditinjau dari segi teoritis maupun praktis” (Surachman, 1994:53).

Berdasarkan kedua pendapat diatas, maka penelitian ini mempunyai kegunaan yang dapat dimanfaatkan baik secara teoritis maupun secara praktis yaitu sebagai berikut :

  1. Kegunaan teoritis
  1. Informasi yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi ilmuan dalam rangka mengembangkan konsep-konsep pendidikan pada umumnya dan khususnya konsep tentang strategi-strategi pembelajaran.
  2. Infomasi yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan rangsangan kepada peneliti lain untuk memperluas ruang lingkup penelitiannya pada pokok permasalahan yang belum dibahas dalam penelitian ini.
  3. Informasi yang dipereh dari penelitian ini, diharapkan dapat berguna sebagai masukan bagi guru pada umumnya dan guru TIK pada khususnya dalam menyusun dan merencanakan program  pembelajaran dan penggunaan strtaegi pembelajaran secara tepat sesuai karakter pembelajaran.
  4. Informasi yang diperoleh melalui penelitian ini, diharapkan dapat dimanfaatkan oleh guru dalam rangka pemilihan metode dan strategi pembelajaran yang tepat untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas.
  5. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada guru dan siswa dalam mengenali kemampuan yang dimilikinya.
  1. Kegunaan Praktis

E.     ASUMSI PENELITIAN

Suatu penelitian tidak mungkin memberikan jawaban secara tuntas mengenai suatu masalah apalagi dalam bidang pendidikan jika ada keterkaitan dengan variabel lain. Setiap saat kita berhadapan dengan sesama manusia yang kondisinya dapat mengalami perubahan. Oleh karena itu agar penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang lebih sempurna maka dipandang perlu mengasumsikan beberapa hal, artinya kebenaran hanya dapat diperoleh setelah menerima hal-hal yang dianggap benar terlebih dahulu. Hal  ini sesuai dengan pendapat  yang menyatakan bahwa; “Asumsi adalah anggapan dasar tentang suatu fakta yang kebenarannya tidak diperlukan pembukatian lagi”, (Yousda, 1998:118). Sedangkan ahli lain menyatakan bahwa; “Asumsi adalah dasar pemikiran yang tidak perlu diuji kebenarannya”, (Arikunto, 1994:55).

Berdasarkan kedua pendapat diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan asumsi adalah: Anggapan dasar yang menjadi landasan berpikir dalam memecahkan masalah penelitian.

1.1  Asumsi Teoritis

  1. Strategi Pembelajaran kooperatif menempatkan peserta didik sebagai obyek belajar, artinya peserta didik beperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menggali pengalamannya sendiri, sedangkan dalam pembelajaran konvensional peserta didik ditempatkan sebagai objek belajar yang  berperan sebagai pemberi informasi pasif.
  2. Dalam Strategi Pembelajaran kooperatif pembelajarannya dikaitkan dengan kehidupan nyata   melalui penggalian  pengalaman setiap siswa, sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran bersifat  teoritis dan abstrak.
  3. DalamStrategiPembelajaran kooperatif dibangun atas kesadaran sendiri, sedangkan dalam pembelajaran konvensional perilaku dibangun atas proses kebiasaan
  4. DalamStrategiPembelajaranPeningkatan kooperatif, kemampuan didasarkan atas penggalian pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan
  5. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui Strategi Pembelajaran kooperatif adalah kemampuan berpikir  melalui proses  menghubungkan antara pengalaman dengan kenyataan, sedangkan dalam pembelajaran konvensional tujuan akhir adalah  penguasaan materi pembelajaran
  6. Dalam Strategi Pembelajaran kooperatif tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia  menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat, sedangkan dalam pembelajaran konvensional tindakan atau perilaku individu dalam pembelajaran konvensional tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman.
  7. DalamStrategiPembelajaran kooperatif, pengetahuan yang dimiliki  setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap peserta didik  bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya dalam pembelajaran konvensional, hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan dikontruksikan oleh orang lain.
  8. Tujuan yang ingin dicapai oleh StrategiPembelajaranKooperatif adalah kemampuan siswa dalam proses berpikir untuk  memperoleh pengetahuan, maka kriteria  keberhasilan ditentukan oleh proses dan hasil belajar, sedangkan pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran hanya diukur dari tes.

1.2  Asumsi Metodik

  1. Metode yang digunakan dalam penentuan sampel adalah metode random sampling.
  2. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang penerapan strategi pembelajaran kooperatif dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran TIK adalah metode tes, wawancara, dan metode dokumentasi sebagai metode pelengkap.
  3. Teknik analisis data yang digunakan untuk membuktikan kebenaran hipotesis adalah analisis statistik dengan menggunakan rumus product moment

F.     Keterbatasan Penelitian

Mengingat keterbatasan waktu, biaya dan tenaga, maka penelitian ini dibatasi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013.

G.    RUANG LINGKUP PENELITIAN

Untuk memperjelas arah penelitian ini, maka perlu dibatasi ruang lingkupnya. Adapun rung lingkup penelitian ini sebagai berikut :

  1. Strategi pembelajaran yang akan dilihat pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa adalah Strategi Pembelajaran kooperatif tipe student team achievement devision (STAD)
  2. Kemampuan siswa yang akan dilihat peningkatannya adalah prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013.

H.    DEFINISI ISTILAH

Untuk menghindari terjadinya kekeliruan dalam menafsirkan istilah yang ada dalam penelitian ini maka perlu dijelaskan beberapa istilah yang dianggap penting yaitu:

  1. Pengaruh merupakan kata kerja yang mengandung makna akibat (result) yang ditimbulkan dari suatu perlakuan (treatment) tertentu terhadap suatu objek.
  2. Strategi Pembelajaran
    1. Strategi  pembelajaran  kooperatif
Strategi pembelajaran adalah komponen-komponen umum dari suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang akan dipergunakan bersama-sama materi tersebut (Saeful Bahri Djamarah, 1995:106). Sedangkan  Gerlach dan Ely mengemukakan bahwa strategi  pembelajaran sebagai pendekatan pengajar terhadap penggunaan informasi (Erman S. Gerlach dalam Sanjaya, 2006:14). Dikemukakan juga oleh Kempt bahwa strategi pembelajaran adalah kegiatan belajar mengajar, yang berarti apa yang harus dikerjakan pengajar dan mahasiswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Kempt dalam Arifin, 2009: 10).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan dan cara pengorganisasian materi pelajaran, siswa, peralatan, bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan

Strategi pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.

  1. Prestasi belajar

Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar yang diperoleh siswa dalam jangka waktu tertentu. Untuk mengungkap prestasi belajar yang diperoleh siswa, guru harus melakukan penilaian

Kemampuan kognitif merupakan salah satu  bagian dari hasil belajar. MenurutSulaeman (1984:36) bahwa hasil belajar siswa yang dicapai dalam suatu periode tertentu setelah dinilai oleh guru yang ditunjukan dalam bentuk angka-angka (nilai-nilai).

Menurut Bloom, dkk dalam Arifin (2009:21) “Hasil belajar dapat dikelompokan dalam tiga domiain, yaitu kognitif,afektif dan psikomotor”. Setiap domain disusun mulai dari yang sederhana sampai dengan hal yang komplek, dari yang mudah samapai yang sulit dan dari yang kongkrit sampai dengan hal yang abstrak.

Dalam penelitian ini hasil belajar dibatasi pada domain kognitif saja. Bloom dalam Arifin (2009:21) menjelaskan domain kognitif (cognitive domain) memiliki enam jenjang kemampuan, yaitu: pengetahuan (knowledge),pemahaman (comprehension), penerapan (Application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan Evaluasi (evaluation)

  1. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah yang mana pada hakikatnya kurikulum TIK menyiapkan siswa agar terlibat pada perubahan yang pesat dalam dunia kerja maupun kegiatan lainnya yang mengalami penambahan perubahan dalam variasi penggunaan teknologi (http://www.puskur.net. Download jam 10.00 tanggal 24 Mei 2012). Bahan kajian TIK untuk jenjang SMP /MTS dalam standar isi mencakup tiga aspek yaitu konsep, pengetahuan, dan operasi dasar, Pengelolaan informasi untuk produktifitas dan pemecahan masalah, eksploitasi dan komunikasi (httt/www.puskur.net. Download jam 10.00 tanggal 23 Mei 2012)

.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.    Strategi Pembelajaran

Istilah strategi pertama kali digunakan dalam dunia militer yang berarti cara bagaimana menggunakan kekuatan untuk memenangkan perang. Dalam pembelajaran istilah strategi pun digunakan Kemp dalam Sanjaya (2009  :124) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan  guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien.

Strategi pembelajaran model pembelajaran Cooperative Learning group didasarkan pada falsafah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia sebagai mahluk sosial yang saling bekerja sama dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama mencapai tujuan tersebut. (Sanjaya, 2009 :224).

Sejalan dengan pandangan tersebut, Dick dan Carey dalam Sanjaya (2009 : 124) juga menyebutkan bahwa strategi  pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersam-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa.

Senada dengan pendapat tersebut di atas Reason dalam Sanjaya (2009:228) mengemukakan bahwa: Falsafah yang mendasari model pembelajaran Cooperative Learning group adalah falsafah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia sebagai mahluk sosial yang saling bekerja sama dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Struktur tujuan kooperatif terjadi jika siswa dapat mencapai tujuan mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka bekerja sama mencapai tujuan tersebut. Tiap-tiap individu ikut andil menyumbang pencapaian itu. Siswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika siswa lainnya juga mencapai tujuan tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa pola pencapai tujuan dalam pembelajaran kooperatif ini dapat digambarkan seperti dua orang yang memikul balok. Balok akan dapat dipikul bersama-sama jika dan hanya jika kedua orang tersebut berhasil memikulnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif tujuan yang akan dicapai oleh suatu kelompok siswa tertentu merupakan merupakan tujuan bersama atau tujuan kelompok. Tujuan kelompok akan tercapai apabila semua anggota kelompok mencapai tujuannya secara bersama-sama.

  1. a.      Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Koopertaif

Sebagaimana strategi-strategi pembelajaran yang lain, maka unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif hendaknya menjadi perhatian guru agar tujuan pembelajaran kooperatif itu sendiri dapat tercapai secara optimal.

Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut: (a) Siswa dalam kelompoknya harus merasakan bahwa mereka “sehidup semati”; (b) Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri; (c) Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama; (d) Siswa harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya; (e) Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok; (f) Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya; (g) Siswa akan diminta mempertangungjawabkan secara individu materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antarsiswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran (Yeni Susilowati, 2006).

Hal yang hampir sama juga dijelaskan Roger dan David Johnson dalam (Yeni Susilowati. 2006), bahwa terdapat lima unsur pembelajaran dalam penerapan strategi pembelajaran kooperatif (pembelajaran gotong royong) yang harus diterapkan, yaitu :

  1. Saling ketergantungan positif

Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya.

  1. Tanggung jawab perseorangan

Setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik.

  1. Tatap muka

Setiap kelompok harus diberi kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi.

  1.  Komunikasi antar anggota

Suatu kelompok tergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka mengutarakan pendapat.

  1. Evaluasi proses kelompok

Setiap kelompok harus melakukan evaluasi hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

  1. b.      Model Strategi Pembelajaran Kooperatif

Ibrahim dkk (2000: 19) menjelaskan bahwa model pembelajaran kooperatif ada 4 macam yaitu :

  1. Strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student teams Achievement Devision)

Dalam strategi pembelajaran tipe STAD siswa ditempatkan dalam tim-tim belajar beranggotakan empat sampai lima siswa yang heterogen. Adanya penghargaan kelompok dari hasil penilaian.

  1. Strategi pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament)

Dalam Strtaegi pembelajaran kooperatif tipe Siswa memainkan permainan dengan tim lain untuk memperoleh skor tambahan bagi timnya.

  1. Strategi pembelajaran kooperatif tipe JIGSAW

Dalam Strtaegi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw siswa dikelompokkan ke dalam tim beranggotakan enam orang yang mempelajari materi yang dibagi menjadi beberapa subbab kemudian anggota dari tim yang berbeda bertemu dalam kelompok ahli.

  1. Strtaegi pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation

Dalam Strtaegi pembelajaran kooperatif tipe group investigation para siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk menangani berbagai macam proyek kelas. Dalam metode ini point tidak diberikan.

  1. c.       Strategi Pembelajaran Kooperatif Type STAD

Strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Devision) dikembangkan oleh Slavin di Universitas John Hopkin Amerika Serikat dan merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana (Ibrahim dkk, 2000:20).

Inti dari model STAD antara lain guru menyampaikan suatu materi, kemudian para siswa bergabung dalam kelompoknya yang terdiri atas empat sampai lima orang untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru. Setelah selesai mereka menyerahkan pekerjaannya secara tunggal untuk setiap kelompok kepada guru.

Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut :

  1. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap kelompok mempunyai anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuannya (prestasinya).
  2. Guru menyampaikan materi pelajaran

Guru memberikan tugas kepada kelompok dengan menggunakan lembar kerja akademik, dan kemudian di dalam kelompok saling membantu untuk menguasai materi pelajaraan yang telah diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok

  1. Guru memberikan pertanyaan atau kuis kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab pertanyaan atau kuis dari guru, siswa tidak boleh saling membantu.

Setiap akhir pembelajaran guru memberikan evaluasi untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.

  1. Tiap siswa dan tiap kelompok diberi skor atas penguasaannya terhadap materi pelajaran, dan kepada siswa secara individual atau kelompok yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan.

Untuk memudahkan penerapannya, guru perlu membaca tugas-tugas yang harus dikerjakan tim, antara lain:

  1. Meminta anggota tim bekerja sama mengatur meja dan kursi, serta memberikan siswa kesempatan sekitar 10 menit untuk memilih nama tim mereka atau ditentukan menurut kesesuaian.
  2. Membagikan lembar kerja siswa (LKS).
  3. Menganjurkan kepada siswa pada tiap-tiap tim bekerja berpasangan (dua atau tiga pasangan dalam satu kelompok).
  4. Memberikan penekanan kepada siswa bahwa LKS itu untuk belajar, bukan untuk sekedar diisi dan dikumpulkan. Karena itu penting bagi siswa diberi lembar kunci jawaban LKS untuk mengecek pekerjaan mereka pada saat mereka belajar
  5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling menjelaskan jawaban mereka, tidak hanya mencocokkan jawaban mereka dengan lembar kunci jawaban tersebut
  6.     Apabila siswa memiliki pertanyaan, mintalah mereka mengajukan pertanyaan itu kepada teman atau satu timnya sebelum menanyakan kepada guru.
  1. B.     Prestasi Belajar
    1. 1.               Pengertian Prestasi Belajar

Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia karangan Hoetomo (2002: 40), kata prestasi berarti hasil yang telah dicapai seseorang. Pendapat lain dikemukakan Sukamto (2005: 130), bahwa istilah prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. DalamBahasa Indonesia prestatie diterjemahkan sebagai hasil.

Demikian pula dengan prestasi belajar. Beberapa ahli menjelaskan tentang prestasi belajar. Pendapat mereka berbeda berdasarkan cara pandang masing-masing. Pendapat Muktar dan Yamin (2003: 154), menjelaskan bahwa prestasi belajar sama dengan hasil belajar berupa perubahan tingkah laku yang dicapai siswa setelah mempelajari suatu materi tertentu. Dengan demikian prestasi belajar (hasil belajar) ditandai dengan perubahan perilaku. Perubahan perilaku sebagai akibat proses belajar.

Pendapat lain tentang prestasi belajar dijelaskan oleh Dzajuli (1997: 70), bahwa prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar yang diperoleh siswa dalam jangka waktu tertentu. Untuk mengungkap prestasi belajar yang diperoleh siswa, guru harus melakukan penilaian. Selanjutnya, pendapat yang hampir serupa dikemukakan Aqib (2003), bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang diperoleh melalui tes yang sesuai dengan tujuan dan sasaran belajar.

Mukhtar dan Yamin menjelaskan bahwa kemampuan berprestasi merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Kemampuan berprestasi siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya faktor potensi siswa dan faktor di luar siswa. Prestasi belajar adalah sebuah proses penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut pengetahuan, kecakapan atau keterampilan yang dinyatakan sesuai hasil belajar  dan ditandai dengan perubahan perilaku (Mukhtar dan Yamin, 2003: 89-90).

Banyak instrumen yang digunakan untuk menilai prestasi belajar siswa. Di antara instrumen untuk menilai perubahan tingkah laku pada siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yaitu tes hail belajar. Pengungkapan hasil belajar melalui hasil tes siswa inilah yang diolah oleh guru menjadi nilai. Nilai siswa dapat berbentuk angka-angka secara kuantitatif dan skala sikap. Pada dasarnya, pengungkapan hasil belajar yang ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar mengajar.

Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku ketiga ranah psikologis yang meliputi ranah kognitif (ranah cipta), afektif (ranah rasa), dan psikomotor (ranah karsa) pada setiap individu siswa sangat sulit dilakukan. Kesulitan untuk mengungkap perubahan tingkah laku tersebut disebabkab oleh perubahan hasil belajar itu sebagian bersifat tidak nyata.

Oleh karena itu yang dapat dilakukan guru adalah hanya mengambil sebagian perubahan tingkah laku yang dianggap penting dan mewakili (representative) dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik pada ranah cipta, ranah rasa, maupun ranah karsa.

Mencermati uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud prestasi belajar dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses penilaian dalam kurun waktu tertentu.

  1. 2.                  Ranah Prestasi Belajar Siswa

Seperti dijelaskan di atas bahwa mengungkap pretasi belajar siswa pada semua ranah mesti dilakukan guru. Prestasi belajar siswa terkait dengan seluruh kompetensi yang dimiliki siswa. Oleh karena itu guru sedapat mungkin dalam melakukan penilaian prestasi belajar siswa  pada semua domain. Menurut Sutrisno (2005: 19-21), ketiga ranah tersebut adalah:

a.  Ranah Kognitif

     Penilaian pada ranah kognitif meliputi enam tingkatan, yakni

1)      Pengetahuan, yakni kemampuan menghafal dan mengingat.

2)      Pemahaman, yakni mrncakup kemampuan membandingkan, mengidentifikasi, menggeneralisasi dan menyimpulkan.

3)      Penerapan, yakni mencakup kemampuan menerapkan rumus, prinsip terhadap kasus-kasus yang terjadi di lapangan.

4)      Analisis, yakni kemampuan mengklasifikasi, memerinci, dan menguraikan suatu objek.

5)      Sintesis, yakni kemampuan memadukan, menyusun, membentuk, mengarang, dan meluki.

6)      Evaluasi, yakni mencangkup kemampuan menilai suatu objek tertentu.

b.  Ranah Psikomotor

Penilaian hasil belajar siswa pada pencapaian ranah psikomotor, meliputi:

1)      Kemampuan dalam menggerakkan anggota tubuh.

2)      Kemampuan melakukan atau menirukan gerakan melibatkan seluruh anggota badan.

3)      Kemampuan melakukan atau menirukan gerakan melibatkan seluruh anggota badan ecara menyeluruh dan sempurna ampai tingkat otomatis.

c.   Ranah Afektif

      Jenis tingkatan ranah afektif yang perlu dinilai meliputi:

1)      memberikan respon atau reaksi terhadap nilai-nilai yang dihadapkan.

2)      Menerima atau menikmati nilai, norma serta objrk yang mempunyai nilai etika dan estetika.

3)      Menilai baik-buruk, adil-tidak adil terhadap suatu objek.

4)      Menerapkan nilai, norma,  etika, dan estetika dalam kehidupan sehari-hari.

  1. 3.             Prinsip-Prinsip Penilaian Prestasi Belajar

Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan dalam kegiatan penilaian prestasi belajar siswa. Menurut Sutrisno (2005: 27), di antara prinsip-prinsip tersebut adalah:

  1. Menyeluruh, artinya peribahan perilaku yang diwujudkan dengan prestasi belajar menyeluruh, menyangkut ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
  2. Berkesinambungan, penilaian prestasi belajar siswa dilakukan secara terencana, bertahap, dan terus-menerus.
  3. Berorientasi pada tujuan maksudnya prestasi belajar yang dicapai siswa dapat menentukan sejauhmana telah mencapai tujuan sesuai kompetensi yang diharapkan.
  4. Objektif, penilaian prestasi belajar harus mencerminkan tingkat keberhasilan siswa yang sesungguhnya.
  5. Terbuka, artinya hasil prestasi belajar diketahui dan diterima oleh semua pihak yang berkepentingan.
  6. Kebermaknaan, hasil penialian harus bermakna bagi siswa dan guru.
  7. Kesesuaian, penilaian prestasi belajar harus sesuai dengan materi yang semestinya dikuasai siswa.
  8. Mendidik, prestasi yang diperoleh siswa harus dapat digunakan untuk mendorong dan memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
  1. 4.         Bentuk-Bentuk Alat Penilaian Prestasi Belajar Siswa

Bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa pada semua domain penguasaan baik kognitif, psikomotor, dan afektif antara lain (Sutrisno, 2005: 30):

  1. Pertanyaan lisan di kelas

Pertanyaan lisan di kelas sering kali dilakukan guru. Tujuan dari pertanyaan lisan adalah untuk mengungkap penguasaan siswa terhadap materi atau konsep-konsep tertentu.

  1. Ulangan Harian

Ulangan harian dilakukan untuk mengungkap penguasaan siswa pada beberapa kompetensi dasar tertentu. Ulangan lisan dilakukan secara periodik dengan berbagai macam teknik pelaksanaannya. Di amping itu ulangan harian dimaksudkan untuk memotivasi siswa belajar secara teratur dan kontinyu.

  1. Tugas individu

Dilakukan ecara periodik untuk dilakukan oleh setiap siswa dan dapat berupa tugas rumah atau PR. Tugas tersebut sekaligues untuk mengungkap penguasaan aplikasi dan penguasaan menggunakan alat dan prasedur melakukan pekerjaan tertentu.

  1. Tugas kelompok

Digunakan untuk menilai prestasi belajar dalam memecahkan masalah tertentu. Tugas kelompok juga memberi manfaat agar siswa terampil berkomunikasi dengan teman sebayanya. Selain tiu dapat mengembangkan kerja ama dan kompetisi secara sehat.

  1. Ulangan semester

Ulangan semeter berfungsi sebagai alat untuk menilai ketuntasan prestasi belajar siswa selama satu semester. Ulangan semester berfungsi untuk menentukan tingkat daya serap dan pencapaian target kurikulum yang telah dilakukan guru. Pelaksanaan ulangan semester juga dimaksudkan untuk menentukan nilai raport siswa. Nilai raport inilah yang akan menjadi media laporan pendidikan lembaga ekolah kepada masyarakat (orang tua).

  1. Ulangan kenaikan Kelas

Sama halnya dengan ulangan semester, ulangan kenaikan kelas dilaksanakan pada akhir tahun pelajaran. Ulangan ini dilaksanakan sebagai evaluasi akhir prestasi yang telah dicapai siswa selama satu tahun. Sebagai evaluasi terakhir maka maka hasilnya digunakan ebagai penentu kenaikan kelas bagi siswa.

  1. Laporan kerja praktek

Hanya dapat dilakukan pada mata pelajaran tertentu saja. Adapun mata pelajaran yang lazim dilakukan dengan praktek adalah IPA dan Sains, bahasa, Pendidikan jasmani dan kwsehatan, Tata Boga, dan teknologi Informasi dan komunikasi (TIK).

  1. Responsi/Uji Prektek

Biasanya digunakan untuk mengetahui penguasaan akhir dari aspek kognitif dan psikomotorik.

  1. 5.    Beberapa Faktor yang Berpengaruh pada Prestasi Belajar

Prestasi belajar bukanlah variabel yang berdiri-sendiri. Mukhtar dan Yamin (2003: 67), menyatakan bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari motivasi positif dan percaya diri dalam belajar, tersedianya materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas siswa, keterampilan intelektual, dan strategi yang tepat untuk mengaktifkan siswa dalam belajar. Sedangkan faktor eksternal lebih banyak ditangani oleh guru, faktor tersebut terdiri dari cara guru memberi reward, penghargaan, perhatian orang tua, dan keadaan keluarga.

Pendapat lain yang hampir sama dikemukakan Aqib (2003: 94) dan Hamalik (1999: 55), bahwa ada dua faktor yang berpengaruh pada pencapaian prestasi belajar siswa, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor intern terdiri dari motivasi positif dan percaya diri dalam belajar, tersedianya materi pelajaran yang lengkap untuk memancing aktivitas siswa, keterampilan intelektual, dan strategi yang tepat untuk mengaktifkan siswa dalam belajar. Sedangkan faktor ekstern lebih banyak ditangani oleh guru, faktor tersebut terdiri dari cara guru memberi reward, penghargaan, perhatian orang tua, dan keadaan keluarga.

  1. Faktor intern, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa, berupa faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh), dan faktor psikologi (kecerdasan/intelligensi, minat dan perhatian, bakat, motivasi diri, dan kematangan).

1) Faktor jasmaniah

 (a) Kesehatan merupakan faktor yang berperan dalam menentukan tingkat pencapaian prestasi siswa. Siswa yang kondisi fisiknya lebih sehat tentu saja tidak akan terganggu dalam belajar. Sebaliknya siswa yang sering akit akan mengalami hambatan dalam belajar. Di samping itu siswa yang sering sakit tidak akan dapat mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya.

(b) Cacat tubuh sering kali menjadi penghambat bagi siswa untuk belajar. Ada bermacam-macam cacat tubuh yang mungkin diderita siswa. Kurang penglihatan menyebabkan siswa sulit untuk membaca dari jarak yang agak jauh atau terlalu dekat. Kurang pendengaran menyebabkan siswa sulit menangkap penjelasan guru ecara lisan. Demikian pula dengan keterbatasan yang lain yang kesemuanya dapat menghambat aktifitas belajar pada siswa yang mengalaminya.

                    2) Faktor psikologi

                         (a) Inteligensi/kecerdasan pada setiap siswa berbeda-beda. Siswa yang memiliki potensi kecerdasan lebih tinggi tentu akan lebih baik pretasinya daripada siswa yang berpotensi kecerdasan rendah. Siswa yang cerdas adalah siswa yang memiliki dapat menyesuaikan diri dengan secara tepat dan cermat dengan kondisi tertentu.

                       (b) Minat dan perhatian siswa untuk belajar akan mempengaruhi prestasi belajarnya. Siswa yang bersungguh-sungguh dalam belajar akan dapat menyerap materi pelajaran secara lebih sempurna. Kesungguhan siswa ditentukan oleh minat dan perhatian masing-masing siswa dalam belajar.

                        (c) Bakat adalah potensi bawaan menurut sebagian besar ahli. Pendapat ini didasarkan pada kegemaran seseorang yang relatif berbeda satu dengan yang lainnya. Bakat inilah yang akan mendukung seorang siswa untuk mengoptimalkan pretasi belajarnya. Siswa yang berbakat pada pelajaran tertentu akan terlihat dari pretasinya yang menonjol pada pelajaran tersebut.

  1. Faktor ekstern, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa, berupa faktor keluarga (ekonomi keluarga, suasana rumah tangga, cara mendidik orang tua) dan faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, manajemen sekolah,dan suasana/iklim sekolah).

                  1) Faktor keluarga, terdiri dari keadaan sosial ekonomi orang tua,

                        suasana rumah, cara orang tua mendidik, dan sebagainya. Secara umum siswa yang berasal dari keluarga yang berekonomi tinggi akan lebih mudah berprestasi. Hal ini disebabkan karena siswa tersebut akan dapat memenuhi kebutuhan belajarnya. Demikian sebaliknya siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu cenderung memiliki fasilitas belajar yang sangat terbatas.

                   2) Faktor sekolah yang berpengaruh secara langsung dengan prestasi belajar siswa adalah kompetensi guru, sarana belajar, iklim sekolah, manajemen sekolah, dan kurikulum. Guru yang memiliki kompetensi memadai akan dapat melaksanakan tugasnya secara baik. Hal yang sama sekolah yang memiliki fasilitas atau sarana belajar yang lengkap akan mendorong siswa untuk belajar. Demikian pula dengan manajemen sekolah, iklim sekolah, dan kurikulum yang digunakan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang berupa kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut pengetahuan, kecakapan atau keterampilan yang dinyatakan sesuai hasil belajar.

  1. Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan salah satu mata pelajaran  yang diajarkan disekolah yang mana pada hakikatnya kurikulum TIK menyiapkan siswa agar terlibat pada perubahan yang pesat dalam dunia kerja maupun kegiatan lainnya yang mengalami penambahan perubahan dalam variasi penggunaan teknologi (http://www.puskur.net download jam 10.00 tanggal 24 Mei 2012).

Bahan kajian TIK untuk jenjang SMP /MTS dalam standar isi mencakup tiga aspek yaitu konsep, pengetahuan, dan operasi dasar,Pengelolaan informasi untuk produktifitas dan pemecahan masalah, eksploitasi dan komunikasi (httt/www.puskur.net)

Setiap mata pelajaran memiliki ciri khas atau karakteristik  nya masing-masing .begitu juga dengan mata pelajaran TIK. Adapun karakteristik mata pelajaran TIK adalah sebagai berikut;

  1. TeknologiInformasi dan komunikasi merupakan keterampilan menggunakan komputer  meliputi  perangkat keras dan perangkat lunak. Namun demikian Teknologi Informasi dan Komunikasi tidak sekedar terampil, tetapi lebih memerlukan kemampuan intelektual.
  2. MateriTeknologiInformasi dan komunikasi berupa tema-tema esensial,  aktual  serta global yang berkembang  dalam kemujuan teknologi pada masa kini, sehingga mata pelajaran  yang dapat mewarnai perkembangan perkembangan perilaku dalam kehidupan.
  3. Tema-tema esensial dalam Teknologi  Informasi dan Komunikasi  merupakan perpaduan dari cabang-cabang Ilmu Komputer,Matematik, Teknik Elektro, Teknik Elektronika, Telekomunikasi, Sibernetika  dan Informatika  itu  sendiri.Tema-tema esensial tersebut berkaitan dengan  kebutuhan pokok akan informasi sebagai ciri abad 21  seperti  pengolah kata, spreadsheet, presentasi, basis data, internet dan e-mail. Tema-tema esensial tersebut terkait dengan aspek kehidupan sehari-hari.
  4. MateriTeknologi Informasi dan komunikasi dikembangkan dengan pendekatan interdisipliner dan multidimensional. Dikatakan interdisipliner karena melibatkan berbagai  disiplin ilmu, dan dikatakan multidimensional karena mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat. (http://www.lpmpjabar.go.id. download jam 10.00 tanggal 23 Mei 2012).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran Teknologi Informasi dan komunikasi merupakan keterampilan menggunakan komputer  meliputi  perangkat keras dan perangkat lunak. Tema-tema esensial dalam pembelajaran ini adalah merupakan tema-tema  aktual  serta global yang berkembang  dalam kemujuan teknologi pada masa kini, sehingga mata pelajaran  yang dapat mewarnai perkembangan perkembangan perilaku dalam kehidupan.

Tema-tema esensial dalam Teknologi  Informasi dan Komunikasi  tersebut merupakan perpaduan dari cabang-cabang Ilmu Komputer, Matematik, Teknik Elektro, Teknik Elektronika, Telekomunikasi, Sibernetika  dan Informatika  itu  sendiri. Tema-tema esensial tersebut berkaitan dengan  kebutuhan pokok akan informasi sebagai ciri abad 21  seperti  pengolah kata, spreadsheet, presentasi, basis data, internet dan e-mail. Tema-tema esensial tersebut terkait dengan aspek kehidupan sehari-hari sehingga materi Teknologi Informasi dan komunikasi dikembangkan dengan pendekatan interdisiplier dan multidimensional.dikatakan interdisipliner karena melibatkan berbagai disiplin ilmu, dan dikatakan multidimensional karena mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat

  1. C.    Hasil Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian yang relevan terhadap penerapan strategi pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran TIK antara lain;

  1.  M. Darwento, 2011, Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran TIK kelas XI semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011 MAN 1 Bandung. Hasil penelitian ini antar lain menyebutkan bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar pada mata pelajaran TIK kelas XI semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011 MAN 1 Bandung setelah model pembelajaran kooperatif tipe STAD diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas tersebut.
  2.  Hasan Basri, 2010, Penerapan pembelajaran kooperatif  model Jigsaw dalam meningkatkan prestasi belajar TIKOM pada siswa Kelas VIII SMP Muhammadyah Malang Tahun Pelajaran 2009/2010. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar TIKOM siswa
  3. D.    Kerangka Berfikir

Kemp dalam Sanjaya (2009  :124) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan  guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien. Strategi pembelajaran model pembelajaran Cooperative Learning group didasarkan pada falsafah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia sebagai mahluk sosial yang saling bekerja sama dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lain.

Selanjutnya, prestasi belajar adalah sebuah proses penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut pengetahuan, kecakapan atau keterampilan yang dinyatakan sesuai hasil belajar  dan ditandai dengan perubahan perilaku (Mukhtar dan Yamin, 2003: 89-90).

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat dijelaskan bahwa ada hubungan antara penerapan strategi pembelajaran kooperatif secara tepat sebagai variabel bebas (Vasriabel X) dalam penyampaian materi pembelajaran TIK pada siswa kelas VIII SMPN 1 Kuripan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa SMPN 1 Kuripan pada mata pelajaran TIK sebagai variabel terikat (Variabel Y). Artinya bahwa semakin baik penerapan strategi pembelajaran kooperatif maka akan semakin terlihat peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran TIK

E.     Hipotesis

Dalam buku Metodelogi Penelitian dijeskan bahwa: “Hypotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian” (Soegiyono, 1999:39).

Senada dengan hal tersebut di atas (Sutrisno Hadi, 1988:257) menjelaskan bahwa suatu hypotesis akan diterima apabila bahan-bahan penyelidikan membenarkannya dan ditolak bilamana kenyataan menanyakannnya.

Berdasarkan pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa hypotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah yang telah diajukan dalam penelititan ini dan besar kemungkinannya akan menjadi jawaban yang benar.

Adapun hypotesis yang diajukan penulis dalam penelitian adalah sebagai berikut.

  1. Alternative hypothesis (Ha): Ada Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013”
  2. Null Hypothesis (Ho): Tidak Ada Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Dalam bab ini akan diruraikan secara berturut-turut tentang: A). Metode Penelitian, B). Rancangan Penelitian, C). Populasi dan Sampling Penelitian, D). Instrumen Penelitian, E). Metode Pengumpulan Data, F). Metode Analisis Data.

A.    METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah merupakan cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Cara ilmiah bararti kegiatan itu dilandasi oleh metode keilmuan. Menurut Jujun S. Suriasumantri (1978) metode keilmuan ini merupakan gabungan antara pendekatan rasional dan empiris. Pendekatan rasional memberikan kerangka berpikir yang logis. Sedangkan pendekatan empiris memberikan kerangka pengujian dalam memastikan seuatu kebenaran”, (Sugiyono, 1999:1).

Kegiatan penelitian dilakukan dengan tujuan tertentu, dan pada umumnya tujuan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga hal utama yaitu untuk menemukan, membuktikan, dan mengembangkan pengetahuan tertentu.

Sehubungan dengan penelitian ini maka teknik yang digunakan adalah penelitian korelasi atau regresi, untuk menemukan ada tidaknya pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Kelas VIII SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013.

B.     RANCANGAN PENELITIAN

Rancangan penelitian ini adalah suatu pendekatan yang digunakan dalam suatu penelitian. Dalam buku Metodologi Penelitian dijelaskan bahwa “Rancangan pada dasarnya merupakan suatu keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang tentang hal-hal yang dilakukan serta dapat pula dijadikan dasar penelitian sendirimaupun orang lain terhadap peneltiian dan bertujuan memberikan pertanggung jawaban terhadap semua langkah yang diambil”, (Margono, 1997:100).

Sehubungan denagn penelitian ini, maka secara konseptual rancangan penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :

Keterangan :

  1. Variabel bebas (X)        = Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif
  2. Variabel terikat (Y) =Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Berdasarkan gambaran tersebut diatas, maka ada variabel X dan variabel Y. Variabel X adalah obyek penelitian yang bebas atau independent variabel yaitu berupa Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif dan variabel Y adalah variabel terikat atau dependent variabel yaitu Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK).

C.    Populasi dan Sampling Penelitian

  1. Populasi Penelitian

Dalam buku Metode Penelitian Administrasi dijelaskan bahwa : “Populasi adalah wilayah gneralisasi yang terdiri atas: Obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya, (Sugiyono, 1999:57).

Hal yang senada juga dijelaskan (Sutrisno Hadi, 1998:10), bahwa “Populasi adalah seluruh individu yang menjadi subyek dan obyek penelitian yang hendaknya digenaralisasikan”

Dari  kedua pendapat tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan individu yang akan mejadi subyek dan obyek penelitian sehingga diperoleh sampel yang akan digeneralisasikan.

Dengan demikian yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kediri Tahun Pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 125 orang siswa.

  1. Sampel  Penelitian

Dalam buku Prosedur Penelitian dijelaskan bahwa yang  dimaksud dengan sampel adalah “sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti” (Suharsimi Arikunto, 1986:104). Ahli lain berpendapat bahwa “sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut” (Sugiyono, 1999:57).

Teknik sampling pada penelitian ini menentukan, karena teknik sampling yang tepat akan memeudahkan dalam pengolahan daa dan teknik sampling yang salah akan memperoleh data yang salah pula.

Dalam buku Metodologi Penelitian dijelaskan bahwa “Metode sampling adalah cara-cara yang digunakan untuk mengambil sampel (Sutrisno Hadi, 1980:75). Sedangkan dalam buku Metodologi Penelitian administrasi dijelaskan bahwa “Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian terdapat teknik sampling yang dapat digunakan”, (Sugiyono, 1999:61).

Adapun cara yang digunakan dalam Random Sampling adalah cara pengambilan sampel tanpa pilih memilih (sembarang), (IB. Netra,1977:17).

Adapun cara yang digunakan dalam random sampling adalah cara undian, cara ordinal, dan ara randomasi dari tabel bilangan random. Dalam penelitian ini untukmenentukan individu yang akan menjadi anggota sampel yang digunakan cara undian, untuk memberikan kesempatan yang sama pada anggota populasi yang akan dijadikan sampel. Apabila populasi cukup homogen terhadap populasi di bawah 100 dapat digunakan 50% dibawah 1000 dapat dipergunakan 20%-25% dan di atas 1000 dapat dipergunakan antara 10%-15%, (Winarno Surachmad, 1985:64).

Berdasarkan pendapat tersebut, maka dalam penelitian ini besarnya sampel direncanakan 25% karena jumlah populasi siswa SMP Negeri 1 Kuripan Tahun Pelajaran 2012/2013 sebanyak 125 orang maka jumlah sampel yang akan diambil adalah sebanyak 31 orang siswa.

D.    METODE PENGUMPULAN DATA

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang akan diguanakan oleh peneliti adalah metode Quetioner/angket, wawancara/interview, dan metode dokumentasi sebagai pelengkap.

  1. Angket /quetionaire

Angket/ questionaire adalah suatu cara untuk memperoleh data dengan menggunakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto, 1986:124).

Angket adalah alat untuk mengumpulkan data yang berupa daftar pertanyaan/pernyataan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis (Sugiyono, 2009: 123).

Beradasrkan uraian di sata, dalam penelitian ini peneliti Angket yang digunakan adalah angket yang berupa daftar pertanyaan/pernyataan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis.

  1. Metode interview/wawancara

Interview/wawancara adalah suatu cara untuk mendapatkan data subyek yang diteliti dengan jalan mengajukan pertanyaan secara lisan melalui kegiatan tanya jawab. Dalam buku Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktik (edisi revisi) dijelaskan bahwa “wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (Suharsimi Arikunto, 1986:126). Ahli lain dalam buku Metodologi Reseach menjelaskan bahwa: “Interview dapat dipandang sebagai metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematika dan berlandaskan kepada tujuan pendidikan. Pada umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses tanya jawab dan masing-masing pihak dapat mengemukakan saluran-saluran komunikasi secara wajar dan lancar, (Sutrisno Hadi, 1998:193).

  1. Metode dokumen.

Dokumen (recording document) adalah cara untuk memperoleh data yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan data segala dokumen serta melakukan pencatatan secara sistematis. Yang termasuk  dokumen antara lain : tulisan-tulisan,  lembaran-lembaran, karangan-karangan, bulletin-bulletin, undang-undang, benda-benda, (Oemar Hamalik, 1992:88). Dalam buku Bimbingan dan Penyuluhan dijelaskan bahwa banyak data tentang murid yang sudah dicatat dalam beberapa dokumen seperti dalam buku Induk, Raport, Buku pribadi, surat-surat keterangan, dan sebagainya termasuk dokumen yang bisa menjadi pelengkap data dalam suatu penelitian , (Prayitno, 1992:34).

Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian metode dokumen yang akan digunakan adalah catatan data siswa dalam bentuk buku Induk, Raport, Buku pribadi, surat-surat keterangan, dan sebagainya termasuk dokumen yang bisa menjadi pelengkap data dalam suatu penelitian

E.     METODE ANALISIS DATA

Metode analisis data adalah cara-cara yang harus diikuti atau digunakan oleh peneliti dalam rangka menganalisa data yang sudah dikumpulkan untuk memperoleh suatu kesimpulan dari hasil penelitian. Analisis data adalah kegiatan yang bertujuan untuk menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan, dalam proses ini digunakan statistik untuk menyederhanakan data yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial.

  1. Analisis Statistik deskriptif

Analisis statistik deskriptif bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan data yang diperoleh dan menemukan nilai-nilai yang diperlukan dalam analisis statistik inferensial.

  1. Analisis statistik inferensial

Adapun statistik yang digunakan adalah statistik inferensial yang bertujuan untuk melihat pengaruh penerapan strtaegi pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran TIK yang akan dianalisis secara regresi linier dengan menggunakan rumus Product Moment Pearson sebagai berikut;

rxy=  Riduwan, 2005:128

Keterangan:

n = Jumlah sampel

X = strategi pembelajaran kooperatif

Y= prestasi belajar siswa

Selanjutnya untuk menyatakan besar kecilnya sumbangan variabel X terhadap Y dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut;

Kd = r 2x 100 %, dimana, KP = Nilai koefisien determinan dan r = nilai koefisien. Selanjutnya untyuk melihat signifikansi pengaruh di gunakan rumus sebagai berikut;

t =

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. Jika signifikansi F ≤ 0,05 maka hipotesis nihil (Ho) ditolak, sebaliknya jika nilai F > 0,05 maka hipotesis nihil (Ho) diterima. Sedangkan untuk menguji koefisien korelasi ganda signifikan atau tidak digunakan rumus uji F (Winarsunu, 2002).

Seluruh proses pengolahan data penelitian menggunakan program perangkat SPSS versi 19.

DAFTAR  PUSTAKA

Aqib. 2003. Belajar dan Pembelajaran. PT.Bumi Aksara. Jakarta

Arifin. 2009. Startaegi Pembelajaran. Rineka Cipta: Jakarta

Arikunto, S. 1986, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, PT. Bina Aksara, Jakarta.

Arikunto S, 1992, Prosedur Penelitian Edisi Revisi, PT. Rineka Cipta, Jakarta

Arikunto S, 1994, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi, PT. Rineka Cipta, Jakarta

Djamarah, S. Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: PT.Rineka Cipta

Dzajuli, 1997, Teknik Evaluasi hasil Belajar. PT. Bina Aksara, Jakarta.

Hadi, S, 1980. Metodologi Penelitian. Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM,

              Yogyakarta

Hadi S, 1998, Statistik Jilid II, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.

Hamalik, O, 1991, Metode Penelitian, Usaha Nasional, Surabaya

Hamalik, O. 2003. Proses Belajar Mengajar.Jakarta: PT.BumiAksara

Hoetomo. 2002. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, BalaiPustaka. Jakarta.

http://www.puskur.net).  Pentingnya Penerapan Mata Pelajaran TIK di Sekolah. di download tanggal 2 Juni 2012.

Ibrahim dkk, 2000. Model-Model Strategi Pembelajaran Kelompok. AbdiMahasatya, Jakarta.

JujunS.Suriasumantri. 1978. Metodologi Penelitian Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya

Margono, 1997, Metodologi Penelitian, Yayasan Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.

Muktar dan Yamin. 2003. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Aplikasi.CV.Anugerah. Semarang.

Netra IB, 1997, Statistik Infrensial, Usaha Nasional, Surabaya.

Prayitno, 1992, Bimbingan dan Penyuluhan, Yayasan Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.

Riduwan, 2005. Metode Penelitian Bagi  Pemula, RosdaKarya. Jakarta.

SaefulBahriDjamarah, 1995. Strategi Belajar Mengajar, AbdiMahasatya, Jakarta.

Sutrisno, 2005. Statistik penelitian, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta

Sanjaya, W 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.

Sanjaya, W. 2009. Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Media Grup

Sugiyono, 1999, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung.

Sukamto. 2005. Belajar dan Prestasi Belajar, CV.Anugerah. Semarang.

Sukmadinata, N.Syaodih. 2006. Kurikulum dan Pembelajaran.Bandung:Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI.

Sulaeman. 1984. Peserta didik dan Prestasi Belajar. RosdaKarya. Bandung.

Surachmad W. 1985, Pengantar Penelitian Ilmiah, Tarsito, Bandung

Surachman. 1994, Penelitian Sosial Bagi Pemula, Rosda Karya, Bandung

­­­­­Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Penerbit BP. Panca Usaha.

Winarsunu, 2002, Metodologi Penelitian, Alfabeta, Bandung.

YeniSusilowati, 2006. Strategi Pembelajaran Kooperatif, RinekaCipta. Jakarta.

Yousda, 1998, Metode Penelitian Teori dan Praktek. Alfabeta, Bandung.

(http://www.lpmpjabar.go.id). Interdisipliner dan Multidimensional Melalui Pembelajaran TIK. di download tanggal 23 Mei 2012

(http://www.puskur.net, Artikel Pendidikandi download tanggal 23 Mei 2012

.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s