PERANAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN DALAM MENANGGULANGI KESULITAN BELAJAR SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan perlu diberikan kepada anak sejak lahir, karena anak adalah makhluk yang berkembang menuju kedewasaannya atau kesempurnaannya setingkat demi setingkat dalam perkembangannya selain memiliki pembawaan sejak lahir juga sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Menurut Arifin sesuai dengan pendapatnya ia mengatakan sebagai berikut :

“Perkembangan anak adalah perkembangan fungsi-fungsi jiwanya secara integral, yang berhubungan satu sama lain dan masing-masing tingkat tersebut memerlukan bimbingan atau pimpinan yang tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan bagi persiapan hidup anak di masa akan datang”. (Arifin, 1977:75)

Anak yang lahir sudah dilengkapi oleh Allah berupa bentuk atau wadah yang dapat diisi dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dapat berkembang. Pikiran, perasaan dan kemampuan berbuat merupakan komponen dari fitrah itu. Dalam hal ini para pendidik hendaknya siap mengisi atau mempengaruhi dengan memberikan arahan dan nasehat agar anak dapat berkembang menjadi orang yang mandiri berguna bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.

Sesuai dengan firman Allah SWT yang ada di dalam Al Qur’an surat Al Rum ayat 30 yang berbunyi :

Artinya :

……………Fitrah Allah yang menciptakan manusia berdasarkan fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah itu…… (Depag. RI., 1974:645)

Fitrah Allah inilah yang membedakan antara manusia dengan makhluk yang lainnya dan fitrah ini pulalah yang membuat manusia itu istimewa atau lebih mulia, tetapi ia akan tetap mulia apabila mau beriman dan beramal shaleh sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasulnya. Di antara yang menjadi petunjuk Allah yaitu menurut Al Qur’an surat Ali Imron ayat 102 yang berbunyi :

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu mati melainkan kamu menyerahkan diri kepada Allah. (Depag RI, 1974:92)

Allah SWT memang telah menciptakan semua makhluk-Nya ini berdasarkan fitrah-Nya. Tetapi fitrah Allah yang untuk manusia diterjemahkan dengan potensi dapat dididik dan dapat mendidik memiliki kemungkinan berkembang dan meningkat.

Teori konvergensi oleh William Stern ikut membuktikan bahwa :

“Manusia itu adalah makhluk yang dapat dididik dan dapat mendidik. Dengan pendidikan dan pengajaran potensi itu dapat dikembangkan. Manusia meskipun dilahirkan seperti kertas putih, bersih belum berisi apa-apa dan meskipun ia lahir dengan pembawaan yang dapat berkembang sendiri, namun perkembangan itu tidak akan maju kalau tidak melalui proses pendidikan.” (Darajat, 1996:17)

Setiap umat Islam harus beriman dan beramal yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, untuk memperoleh petunjuk itu harus melalui usaha dan kegiatan atau pendidikan. Pendidikan untuk membina pribadi agar beriman dan beramal itu suatu kewajiban. Pendidikan Islam itu berarti pembentukan pribadi muslim. Pribadi muslim itu adalah pengamalan sepenuhnya ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya.

Menurut Muchtar Yahya merumuskan tentang tujuan pendidikan Islam yaitu :

“Memberikan pemahaman-pemahaman ajaran Islam pada anak didik dan membentuk kelahiran budi pekerti sebagaimana misi Rasulullah SAW sebagai pengemban pemerintah menyempurnakan akhlak manusia untuk memenuhi kerja.” (Yahya, 1977:40-43)

Dengan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan Islam tersebut maka anak diharapkan mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.

Dengan memperhatikan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam itu sangat penting bagi anak didik terutama pendidikan agama Islam.

Maka untuk mengupayakan agar anak memperoleh pendidikan yang berkwalitas, maka harus ada peningkatan perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam dan juga turut berperan dalam pendidikan. Tugas guru adalah mengajar dan mendidik, mendidik adalah tugas yang amat utama, karena mendidik dapat dilakukan dengan memberi motivasi, memuji, menghukum, memberi contoh, membiasakan dan sebagainya.

Untuk mengetahui secara pasti perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam dan faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam, maka penulis bermaksud akan mengadakan penelitian secara langsung di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.

B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah merupakan hal yang sangat penting di dalam kegiatan penelitian, sebab masalah merupakan obyek yang akan diteliti dan dicari jalan keluarnya melalui penelitian. Pernyataan ini relevan dengan yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya Prosedur Penelitian suatu Pendekatan mengatakan bahwa : “Masalah mesti merupakan bagian kebutuhan seseorang untuk dipecahkan, orang ingin mengadakan penelitian karena ia ingin mendapatkan pemecahan dari masalah yang dihadapi.” (Surahmad, 1989:22)

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah sudah menjadi suatu “kebutuhan” dalam sebuah penelitian, karena tanpa rumusan masalah alur dan sistematika penelitian tidak akan menemukan jawaban dari masalah yang sedang diteliti.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan oleh penulis adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana perhatian siswa terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.
  1. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian siswa terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.

C.    Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian di dalam karya ilmiah merupakan target yang hendak dicapai melalui serangkaian aktivitas penelitian, karena segala yang diusahakan pasti mempunyai tujuan tertentu yang sesuai dengan permasalahannya.

Adapun tujuan penelitian yang dapat penulis tentukan adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui perhatian siswa terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.
  1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian siswa terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.
  1. D.    Kegunaan Penelitian

Berdasarkan tujuan penulisan yang telah ditetapkan tersebut, maka diharapkan skripsi ini berguna untuk :

  1. Bagi penulis
  1. Untuk menambah ilmu pengetahuan di dalam bidang penelitian
  2. Untuk mengembangkan ilmu yang telah diperoleh mengikuti perkuliahan pendidikan agama Islam di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
  3. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru-guru SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo, dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam.
  4. Untuk memberikan sumbangan pustaka pada perpustakaan Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo.
  1. Bagi lembaga formal
  1. Bagi guru atau pendidik
  1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada guru-guru agama Islam di SD khususnya di Kecamatan Tegalsiwalan
  2. Untuk memberikan rangsangan kepada para guru agama Islam dalam rangka untuk meningkatkan prestasi belajar pendidikan agama Islam.
  1. E.     Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian tentang perhatian siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo ini mempunyai jangkauan pembahasan yang sangat luas dan umum. Namun karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, dana, dan kemampuan yang dimiliki penulis, maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada masalah sebagai berikut ini :

  1. Karakteristik lokasi penelitian, yakni mengenai gambaran umum tentang lokasi tersebut yang meliputi letak sekolah, struktur organisasi, data guru, data siswa dan data-data lain yang diperlukan dalam penelitian.
  2. Bentuk-bentuk perhatian siswa yang ada di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo
  3. Beberapa upaya guru dalam membina / mendidik siswa dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
  4. Data tentang hasil perolehan skor dari angket yang telah disebarkan untuk mengetahui hasil prosentase jawaban siswa sehingga penulis dapat mengambil suatu kesimpulan dari data tersebut.
  1. F.     Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk menghindari perbedaan interpretasi makna terhadap hal-hal yang bersifat esensial yang dapat menimbulkan kerancuan dalam mengartikan judul, maksud dari penelitian, disamping itu juga sebagai penjelas secara redaksional agar mudah dipahami dan diterima oleh akal sehingga tidak terjadi dikotomi antara judul dengan pembahasan dalam skripsi ini. Definisi operasional ini merupakan suatu bentuk kerangka pembahasan yang lebih mengarah dan relevan dengan permasalahan yang ada hubungannya dengan penelitian.

  1. Perhatian siswa

Perhatian itu merupakan reaksi umum dari organisme dan kesadaran, yang menyebabkan bertambahnya aktifitas dalam konsentrasi dan pembatasan kesadaran terhadap suatu obyek (Kartono, 1984 : 154)

Jadi yang dimaksud perhatian di dalam skripsi ini adalah reaksi siswa terhadap aktivitas dalam konsentrasi terhadap suatu bidang atau obyek.

  1. Pendidikan Agama Islam

Menurut Zakiah Darajat (1996 : 88) “Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung di dalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuan dan pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akherat”.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian tentang Perhatian Siswa terhadap Pendidikan Agama Islam

  1. 1.      Pengertian

Perhatian adalah bagian dari segala psikis yang sangat penting dalam mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu untuk mencapai suatu tujuan perlu adanya rangsangan yang dapat menarik perhatian seseorang. Sardjoe menjelaskan di dalam bukunya Psikologi Umum sebagai berikut :

Perhatian itu merupakan reaksi umum dari organisme dan kesadaran, yang menyebabkan bertambahnya aktifitas dalam konsentrasi dan pembatasan kesadaran terhadap suatu obyek (Kartono, 1984 : 154)

Seorang guru yang mempunyai tugas berat yaitu mendidik atau membimbing, menasehati, mengarahkan, memberi dan menjadi tauladan bagi siswanya selain itu juga memberi motivasi agar siswanya selalu memiliki perhatian atau memperhatikan pendidikan gurunya terutama pendidikan Agama Islam. Dengan perhatian siswa yang sungguh-sungguh terhadap Pendidikan Agama Islam maka pendidikan tersebut akan berhasil dengan baik.

  1. 2.      Macam-macam Perhatian

Ada beberapa macam perhatian yaitu :

  1. Perhatian spontan yang disengaja

–          Perhatian spontan, spontan atau perhatian asli yang disebut juga perhatian langsung adalah perhatian yang timbul dengan sendirinya karena tertarik pada sesuatu, bukan karena dorongan kemauan.

–          Perhatian disengaja adalah perhatian yang timbul karena dorongan kemauan atau karena adanya tujuan tertentu. Misalnya seorang anak mendapat dorongan dari orang tuanya supaya rajin mengaji di Masjid dan oleh keinginannya sendiri, maka setiap saat perhatiannya terhadap pendidikan mengaji selalu kuat, karena besar atau kuat perhatiannya itu akan mengaji dengan tekun, rajin dan penuh tanggung jawab, karena ia telah menyadari bahwa mengaji itu merupakan kebutuhan hidupnya.

  1. Perhatian statis dan dinamis

–          Perhatian statis adalah perhatian yang tetap terhadap sesuatu. Dengan perhatian yang tetap itu, maka dalam waktu yang agak lama, perhatian akan menjadi kuat, misalnya : seorang siswa selalu memperhatikan pelajaran dan pendidikan agama Islam karena tertarik pada pendidikan Agama Islam makin lama perhatian siswa tersebut bertambah kuat, tidak mudah pindah ke obyek lain karena pendidikan tersebut cocok untuknya.

–          Perhatian dinamis ialah perhatian yang mudah berubah-ubah, bergerak atau pindah dari obyek yang satu ke obyek yang lain, agar perhatian kita terhadap sesuatu tetap kuat, maka perlu sering diberi perangsang baru.

  1. Perhatian konsentratif dan distributif

–          Perhatian konsentratif atau perhatian memusat yakni : perhatian yang hanya ditujuakan pada satu obyek atau satu masalah tertentu, misalnya: seseorang sedang berdo’a, saat itu jiwanya dipusatkan hanya untuk berdo’a kepada Allah saja perhatiannya tidak bercabang umumnya agak tetap, kukuh, kuat dan perhatiannya tidak mudah pindah ke obyek yang lain.

–          Perhatian distributif atau perhatian yang terbagi-bagi dengan perhatian ini orang dapat membagi-bagikan perhatiannya kepada beberapa arah dengan sekali jalan dan dalam waktu yang bersamaan, misalnya : guru sedang mengajar perhatiannya terbagi kepada materi pelajaran, sikap siswa, kondisi siswa dan lain-lainnya.

  1. Perhatian sempit dan perhatian luas

–          Perhatian sempit adalah perhatian yang mudah dipusatkan kepada suatu obyek yang terbatas, sekalipun berada pada tempat yang ramai, jiwanya tidak mudah digoda keadaan sekitarnya, tidak mudah mengalihkan perhatiannya ke obyek lainnya.

–          Perhatian luas adalah perhatian yang mudah tertarik oleh kejadian-kejadian di sekelilingnya, mudah dipengaruhi, mudah terangsang dan mudah mencurahkan jiwanya kepada hal-hal yang lain (Ahmadi, 1983: 99 – 100)

  1. 3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perhatian Siswa

Yang dapat mempengaruhi perhatian siswa ada dua faktor, yaitu :

  1. Faktor intern atau faktor pembawaan juga disebut faktor heriditas, faktor ini timbul dari diri siswa itu sendiri karena menarik pada sesuatu dan tidak didorong oleh kemauan.
  2. Faktor ekstern yang disebut faktor milieu atau faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini ada beberapa macam, misalnya faktor pendidikan jika di sekolah adalah guru dengan pendidikan atau bimbingan, nasehat, arahan, teladan dan motivasi maka akan menumbuhkan perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam. Juga perhatian siswa bisa dipengaruhi dari teman-temannya dengan cara sering diajak belajar bersama, diajak mengaji, diajak bermain bersama kegiatan yang seperti ini akan mempengaruhi perhatian siswa, oleh karen itu siswa hendaknya dapat memilih teman yang dapat memberi pengaruh yang positif, agar dapat menumbuhkan perhatian siswa terhadap pendidikan khususnya pendidikan agama Islam. Jika siswa sedang berada di rumah yang dapat mempengaruhi perhatiannya adalah keluarga terutama orang tua, oleh karena itu orang tua harus mendidik atau mendidik atau membimbing, menasehati, memberi atau menjadi teladan yang baik agar dapat menumbuhkan perhatian siswa terhadap pendidikan khususnya pendidikan Agama Islam.

B.     Kajian tentang Pendidikan Agama Islam

  1. 1.      Pengertian

Pengertian pendidikan agama Islam menurut Direktorat Pembinaan Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum Negeri adalah sebagai berikut :

Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung didalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuan dan pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akherat (Daradjat, 1996 : 88)

Demikianlah pengertian Pendidikan Agama Islam tersebut di atas bahwa yang dimaksud mendidik adalah membimbing dan mengasuh siswa, agar siswa tersebut mampu memahaminya ajaran Islam secara keseluruhan, menghayati dan mengamalkannya sehingga dapat selamat di dunia dan akherat.

Mengingat demikian pentingnya arti pendidikan Agama Islam bagi anak, maka guru harus mendidik siswa dengan sungguh-sungguh bila ingi berhasil tugasnya sebagai pendidik. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, maka guru Agama harus membekali dirinya dengan segala persyaratan sebagai guru dengan memperdalam ilmu Dikdaktik dan ilmu Metodik serta ilmu pengetahuan baik pengetahuan umum maupun pengetahuan agama, memahami betul-betul perkembangan jiwa anak sesuai dengan usia anak, memahami latar belakang anak dan anak usia SD perlu sering contoh dan pembiasaan.

  1. 2.      Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan agama Islam, juga merupakan tujuan pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila, karena peningkatan ketaqwaan terhadap tuhan yang maha esa yang tercantum dalam GBHN 1993 – 1988.

Tujuan pendidikan agam Islam pada sekolah umum adalah :

Untuk meningkatkan ketagwaan terhadap tuhan yang maha esa, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti mmperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa (Daradjat, 1996 : 88)

Mengingat tujuan pendidikan agama Islam yang indah dan bagus, maka pendidikan tersebut harus diberikannya kepada siswa dengan berhasil dengan baik yaitu membentuk pribadi siswa yang berbudi pekerti luhur, cerdas, terampil, bertanggung jawab, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  1. 3.      Fungsi Pendidikan Agama Islam

Dengan pendidikan agama Islam inilah guru agama memberikan bimbingan, asuhan, latihan, membiasakan memberi dan menjadi contoh kepada siswanya agar menjadi pribadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, yang selalu mengamalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya sesuai tuntutan Allah SWT dan Rasul-Nya.

C.    Kajian tentang Faktor-faktor yang dapat Mempengaruhi Pendidikan Agama Islam

Pada Umumnya siswa dalam mengikuti pendidikan agama Islam dipengaruhi 2 faktor yaitu : faktor heriditas dan faktor milieu.

  1. Fakor Heriditas atau Faktor Pembawaan

Faktor heriditas adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh siswa sejak masih dalam kandungan, faktor ini adalah : mental, kesadaran, kemauan, daya serap dan minat ada lagi yaitu karakter, karakter dapat dipengaruhi dengan lingkungan atau pendidikan untuk menuju kedewasaan. Menurut pendapat Sardjoe sebagai berikut :

Karakter manusia dapat dididik dan diarahkan serta dikembangkan menjadi watak manusia yang baik (Sardjoe,1994 : 72 – 73)

  1. Faktor Milieu atau Faktor Lingkungan

Faktor Milieu adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor ini berupa pengalaman-pengalaman, pendidikan alam sekitarnya dan sebagainya (Sardjoe,1994 : 74)

Faktor lingkungan siswa terdiri dari : keluarga, sekolah, dan masyarakat, ketiga faktor tersebut diatas selalu mempengaruhi siswa untuk menuju kesempurnaan atau kedewasaannya.

Dengan demikian berarti siswa harus dipengaruhi dengan memberikan pendidikan untuk menuju kedewasaannya.

Berdasarkan dua faktor yang dapat mempengaruhi pendidikan siswa yaitu interndan ekstern yang penulis kemukakan diatas, maka perlu adanya usaha dan kegiatan agar dapat tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan yaitu terbentuknya manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri dan membangun bangsanya, bertanggung jawab, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Pendidikan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut di atas adalah :

  1. a.      Siswa

Karena mengingat siswa memiliki faktor pembawaan yang dapat dipengaruhi atau dididik dan sangat diharapkan perhatiannya, maka siswa selalu memiliki perhatian yang kuat terhadap pendidikan khususnya pendidikan agama Islam.

Anak didik adalah manusia yang senantiasa mengalami perkembangan sejak terciptanya sampai memasuki liang lahat. Perkembangan disini dimaksutkan perubahan yang selalu terjadi dalam diri anak didik secara wajar (Soetopo, 1982 : 134)

Dengan demikian anak adalah perlu dikembangkan daya imajinasinya sesuai dengan kefitrahannya yang dimiliki sehingga ia mampu menjadi sosok manusia yang mandiri dan tidak menggantungkan diri kepada orang lain karena adanya modal disiplin keilmuan.

Untuk meningkatkan kemauan belajar siswa perlu diberi motivasi. Tajab dalam bukunya Ilmu Jiwa Pendidikan menjelaskan bahwa :

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dn memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai satu tujuan (Tajab, 1994 : 102)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :

Motivasi adalah dorongan yang timbul dari seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu (Depdikbud, 1995 : 666)

Berdasarkan dua pendapat tersebut di atas, dapat diambil pengertia bahwa, motivasi belajar adalah daya atau tenaga yang mendorong siswa untuk melaksanakan aktivitas belajar guna mencapai prestasi yang lebh bagus. Dengan demikian motivasi itu erat hubungannya dengan tujuan pendidikan. Maka dari itu apabila motivasi diberikan kepada siswa dalam tarap belajar, tentu akan menumbuhkan perhatian siswa terhadap pelajaran serta rasa tanggung jawab terhadap statesnya sebagai pelajar, sehingga ia akan terdorong untuk belajar yang bersifat ekstrinsik.

  1. Motivasi intrinsik adalah suatu aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa berdasarkan penghayatan suatu kebutuhan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar itu, misalnya anak ungin belajar karena ingin menjadi dokter atau ingin menjadi guru ingin pintar dan sebagainya.
  2. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar diri siswa sendiri yaitu aktivitas belajar yang dilakukan siswa berdasarkan kebutuhan yang tidak mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar itu sendiri, misalnya siswa belajar untuk memperoleh hadiah, menghindari hukuman, dan sebagainya.

Dengan motivasi inilah perhatian dan kemauan siswa akan mendapat pengaruh yang kuat sehingga siswa akan belajar lebih rajin lagi untuk meningkatkan prestasi yang lebih tinggi.

  1. b.      Pendidik atau Guru

Mendidik adalah tugas yang mulia dan luhur, maka mendidik harus dilakukan dengan rasa tanggung jawab dan ikhlas. Mendidik haruslah diserahkan kepada orang yang memiliki kemampuan dan kesenangan bekerja untuk orang lain.

Pendidik yang penulis maksutkan adalah setiap orang dewasa yang dengan sengaja memberikan pengaruh terhadap seseorang untuk mencapai suatu kedwasaannya (Barnadib, 1999 : 61)

Di antara tugas-tugas pendidik atau guru adalah :

  1. Membimbing, mengarahkan dan mengembangkan kemanusiaan siswa dengan memberikan pendidikan Ilmu Agama dan Ilmu Pengetahuan umum agar dapat hidup mandiri dan bertanggung jawab serta mau melaksanakan kewajibannya dengan baik.
  2. Membina kepribadian siswa, agar menjadi manusia yang berbudi pekeri luhur, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta patuh terhadap orang tua dan gurunya.
  3. Membina siswa agar dapat menjadi manusia yang terampil, sehat kuat, berilmu dan bercita-cita tinggi.

Mengingat tugas guru demikian berat yaitu mengajar dan mendidik dengan mengupayakan seluruh potensinya siswa yang terdiri dari :

Konitif, efektif dan psikomotoriknya. Dengan beban dan tanggung jawabnya guru yaitu begitu besar, maka untuk menjadi guru sudah barang tentu diperlukan syarat-syarat yang memadai pula.

Adapula syarat menjadi guru, menurut beberapa pakar pendidikan adalah sebagai berikut :

  1. Menurut Undang-undang Republik Indonesia No 2 Tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi sebagai berikut:

Untuk diangkat sebagai pendidik/pengajar, yang bersangkutan harus beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta memiliki kualifikasi sebagai tenaga Pengajar (UUD RI 1989 : 63)

  1. Menurut Munir Mursi, tatkala membicarakan syarat-syarat guru kuttab (semacam Sekolah Dasar di Indonesia) menyatakan bahwa syarat terpenting bagi guru dalam Islam adalah sebagai berikut :
    1. Dewasa, sebaba salah satu tugas guru adalah mendewasakan potensi anak didik, maka terlebih dahulu guru harus dewasa, orang dewasa tentunya memiliki bekal pengalaman yag lebih matang dibandingkan dengan anak yang diajarnya.
    2. Sehat jasmani dan rohani, seorang guru harus mempunyai kesehatan yang sempurna. Sebab adanya kekurang sehatan atau cacat jasmani dan rohani, akan dapat mengganggu kelancaran dalam proses pendidikan dan pengajaran, bahkan dapat membahayakan guru dan siswa.
    3. Mempunyai keahlian, seorang guru harus mempunyai keahlian dalam mendidik, oleh karena itu ia dituntut untuk menguasai ilmu yang akan diajarkan dan kemampuan mengajar dan mendidik.
    4. Berbudi pekerti luhur, guru harus mempunyai budi pekerti luhur dan sifat-sifat yang terpuji, yang dapat mendukung tercapainya keberhasilan dalam mendidik dan mengajar.

Dengan terpenuhinya beberapa syarat tersebut di atas, maka keberadaan guru khususnya guru-guru di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo akan dapat menjalankan tugasnya yang lebih baik, Guru Agama Islam disamping memberikan pengetahuan dan kecakapan kepada siswa juga harus sanggup mempengaruhi dan menggerakkan jiwa siswa menjadi manusia yang dapat mengamalkan ajaran Islam dengan baik.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Rancangan Penelitian

Dalam penilitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang perhatian siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo. Sesuai dengan judul penelitian, yakni Studi Perhatian Siswa terhadap Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo

Selanjutnya penulis mengambil beberapa langkah untuk menyelesaikan skripsi ini, yakni sebagai berikut :

1)      Persiapan

Dalam suatu kegiatan, persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat penting. Begitu juga dalam kegiatan penelitian, persiapan merupakan unsur yang perlu diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan memperlancar jalannya penelitian.

Sehubungan dengan judul dan rumusan masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka persiapan dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a)      Menyusun rencana

Dalam menyusun rencana ini penulis menetapkan beberapa hal seperti berikut ini.

1)      Judul penelitian

2)      Alasan penelitian

3)      Problema penelitian

4)      Tujuan penelitian

5)      Obyek penelitian

6)      Metode yang dipergunakan

b)      Ijin melaksanakan penelitian

Dengan surat pengantar dari Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam (IAIN) Nurul Jadid Jurusan Pendidikan Agama Islam dengan alamat PO. BOX I Paiton Probolinggo, penulis dimohonkan ijin  kepada Kepala SD Negeri Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo. Dengan demikian penulis telah mendapatkan ijin untuk mengadakan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut di atas.

c)      Mempersiapkan alat pengumpul data yang berhubungan dengan perhatian siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo, yakni menyusun instrumen untuk angket dan wawancara dan dokumentasi.

2)      Pelaksanaan

Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain :

a)      Observasi

b)      Interview

c)      Dokumenter

3)      Penyelesaian

Setelah kegiatan penelitian selesai, penulis mulai menyusun langkah-langkah berikutnya, yaitu :

  1. Menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh, yang kemudian dikonsultasikan kepada Dosen Pembimbing dengan harapan apabila ada hal-hal yang perlu direvisi, akan segera dilakukan sehingga memperoleh suatu hasil yang optimal.
  2. Laporan yang sudah selesai kemudian akan dipertaruhkan di depan Dewan Penguji, kemudian hasil penelitian ini digandakan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.

B.     Populasi dan Sampel Penelitian

  1. Populasi

Populasi merupakan obyek informasi atau kelompok yang menjadi sasaran penelitian. Dalam hal ini T. Raka Jono menyatakan bahwa “populasi adalah keseluruhan individu yang ada, yang pernah dan mungkin ada yang merupakan sasaran yang sesungguhnya dari pada suatu penyelidikan” (t.th.1).

Bertolak dari pengertian di atas, maka dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah keseluruhan guru termasuk Kepala SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo dan keseluruhan siswanya.

  1. Sampel

Pengertian mengenai sampel, Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa, “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (1997:177). Selanjutnya Suharsimi menyatakan bahwa :

“Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100 lebih 100 lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih tergantung setidaknya dari :

  1. Kemampuan peneliti melihat dari segi waktu, tenaga dan dana.
  2. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.
  3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti, untuk peneliti yang beresiko besar, hasilnya akan lebih besar” (1992:107)

Berdasarkan pengertian di atas, mengingat kemampuan yang terbatas pada diri penulis maka dalam penelitian ini, penulis mengambil sampel yang terdiri dari semua guru termasuk Kepala Sekolah berjumlah 9 orang dan 50 orang siswa, dengan perincian sebagai berikut : Siswa kelas I s/d V masing-masing diambil 10 orang anak sehingga jumlah semuanya 50 orang anak.

C.    Instrumen Penelitian

Guna memperoleh data yang diperlukan maka perlu adanya alat-alat pengumpul data atau instrumen, sebab instrumen sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian. Instrumen yang baik akan menghasilkan data-data yang baik dan sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu data harus cocok dan mampu bagi pemecahan masalah. Dalam hal ini Winarno Surachmad menyatakan bahwa :

“Setiap alat pengukur yang baik akan memiliki sifat-sifat tertentu yang sama untuk setiap jenis tujuan dan situasi penyelidikan. Semua sedikitnya memiliki dua sifat, reliabilitas dan validitas pengukuran. Tidak adanya suatu dari sifat ini menjadikan alat itu tidak dapat memenuhi kriteria sebagai alat yang baik”. (t.th.:145)

Sifat-sifat yang lain yang harus dipenuhi adalah obyektifitas dan adanya petunjuk penggunaan. Adapun instrumen yang dibuat penulis guna menjaring data adalah pedoman interview terhadap Kepala Sekoalah dan angket untuk siswa.

D.    Teknik Pengumpulan Data

Dalam suatu penelitian tidak lepas dari data, karena dengan adanya data atau keadana tertentu dapat membangkitkan niat untuk mengadakan penelitian. Dengan adanya data tersebut orang akan dapat menyesuaikan penelitiannya. Penelitian terhadap suatu obyek itu tidak dapat dilaksanakan dengan baik apabila dari obyek itu tidak dapat dibuat datanya. Data mempunyai pengertian khusus, seperti yang dinyatakan oleh Masud Kasan Kohar bahwa, “data adalah himpunan kenyataan-kenyataan yang mengandung suatu keterangan atau menyusun kesimpulan” (t.th.:61).

Dari definisi di atas maka jelaslah bahwa dalam suatu penelitian diperlukan banyak sekali data agar keputusan yang diambil dapat dipercaya. Oleh karena itu data yang dikumpulkan haruslah menggambarkan tentang variabel-variabel yang ada pada judul, memilih metode yang tepat, karena kesalahan dalam memilih metode akan berakibat data yang terkumpul kurang memenuhi syarat baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Oleh karenanya dalam penelitian ini penulis memilih beberapa metode pengumpulan data yang sekiranya tepat untuk penelitian ini, yaitu metode angket, wawancara, dan dokumentasi.

  1. Observasi

Metode observasi adalah suatu teknik untuk memperoleh data dengan menggunkan pengamatan (gejala-gejala) yang diselidiki (Hadi, 1991:36).

Berdasarkan pendapat-pendapat dapat dikemukakan bahwa Observasi adalah merupakan tekhnik atau metode untuk mengadakan penelitian dengan cara mengamati langsung terhadap kejadian, baik di sekolah maupun di luar sekolah dan hasilnya dicatat secara sempurna.

Dengan metode ini peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian, dalam hal ini yang diamati adalah lokasi atau letak penelitian kegiatan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam di SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo.

  1. Interview

Menurut Bakrun dan Nasruddin (1990:47), menyatakan bahwa, “Wawancara merupakan teknik pengumpul data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab) secara lisan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Berdasarkan hal tersebut di atas, dalam penelitian ini penulis menggunakan wawancara yang bersifat tidak langsung, yaitu wawancara dengan Kepala SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo, untuk memperoleh data mengenai pelaksanaan pendidikan agama Islam dan perhatian siswa terhadap pendidikan agama Islam yang dilaksakana di lembaga tersebut.

  1. Dokumenter

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan transkrip, agenda dan sebagainya. (Arikunto, 1993:198)

Dokumentasi adalah suatu penyelidikan yang ditujukan kepada penguraian dan penjelasan apa yang telah lalu melalui sumber-sumber dokumenter. Dan peneliti menggunakan metode ini adalah untuk memperoleh data SDN Bulujaran Lor III Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo terutama data mengenai siswa, tenaga pendidik serta sarana prasarana yang ada di lembaga tersebut.

  1. E.     Metode Analisis Data

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa data adalah fakta-fakta, bahan-bahan dan keterangan yang sengaja dikumpulkan untuk mengambil kesimpulan mengenai sesuatu hal.

Setelah mengadakan serangkaian proses pengumpulan data dengan cara menggunakan metode analisa deskriptif kwantitatif. Deskriptif adalah menggarbarkan secara tepat sifat-sifat individu atau kelompok tertentu. Dalam hal ini penulis menggunakan teknik analisa data prosentase dengan rumus sebagai berikut :

                  F

      P   =  —–  100%

N

Keterangan :

P = Prosentase

F = Frekwensi jawaban yang diperoleh

N = Jumlah Responden

(Sudiono, 1995:40)

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s