PROBLEMATIKA PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SLTP

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Agama Islam diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW adalah mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Dalam agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu kepada dua fenomena perkembangan yaitu :

a)      Potensi psikologis dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi sosok pribadi yang berkualitas dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT.

Artinya : ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT, sekiranya ahli kitab beriman : di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Depag. RI. 1987:110)

b)      Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai “Kholifah” di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya baik yang alamiah maupun ijtimaiyah, di mana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya. Firman Allah SWT yang berbunyi :

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat ; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah dimuka bumi”. (Depag. RI., 1987:13)

Untuk mengaktualisasikan dan memfungsikan potensi tersebut di atas diperlukan ikhtiar kependidikan yang sistematis berencana berdasarkan pendekatan dan wawasan interdisiplinerm, karena manusia semakin kompleks. Kompleksitas perkembangan sosial itu sendiri menunjukkan interelasi dan interaksi dari berbagai fungsi aspek kepentingan.

Agama Islam yang membawa nilai-nilai dan norma-norma kewahyuan bagi kepentingan hidup umat manusia di atas bumi baru aktual dan fungsional bila diinternalisasikan ke dalam pribadi melaui proses kependidikan yang konsisten dan terarah kepada tujuan.

Oleh karena itu proses kependidikan Islam memerlukan konsep-konsep yang pada gilirannya dapat dikembangkan menjadi teori-teori yang teruji dalam praktisasi di lapangan operasional. Bangunan teoritis kependidikan Islam itu akan dapat berdiri tegak di atas fondasi pandangan dasar yang telah digariskan oleh Allah dalam kitab yang wahyukan-Nya.

Maka dengan teori pendidikan Islam itulah, para pendidik muslim akan mengembangkan konsep-konsep baru sesuai dengan kebutuhan zaman dan tempatm sehingga pendidikan Islam akan terus berkembang. Mengacu kepada tuntutan masyarakat yang berkembang secara dinamis-konstruktif menuju masa depan yang lebih sejahtera dan maju.

Bila pendidikan Islam telah menjadi ilmu yang ilmiah dan alamiah, maka ia akan dapat berfungsi sebagai sarana pembudayaan manusia yang bernafaskan Islam yang lebih efektif dan efisien. Kita mengetahui bahwa sejak Islam diaktualisasikan melalui dakwahnya dalam masyarakat sampai kini, proses kependidikan Islam telah berlangsugn 14 abad lamanya, yang mana selama berabad-abad tersebut pendidikan Islam telah mengacu dalam masyarakat yang beraneka ragam kultur dan budayanya, selama itu pula hasil-hasilnya telah mampu mewarnai sikap dan kepribadian manusia yang tersentuh oleh dampak-dampak positif dari keberlangsungan pendidikan Islam tersebut.

Dengan demikian perlu adanya pendidikan yang berkualitas, untuk itu memerlukan perhatian yang bersungguh-sungguh, sebab masalah ini secara langsung akan mempengaruhi kebijakan pendidikan selanjutnya. Pemerintah serta para pakar pendidikan dihadapkan pada suatu alternatif yang sulit untuk memilih dan menetapkan kebijakan pendidikan, apa memilih kualitas dengan mengorbankan kuantitas, atau sebaliknya mengutamakan kuantitas dengan mengorbankan kualitas. Masalah kuantitas pendidikan Islam di negara kita ini sudah tidak perlu dikhawatirkan, namun masalah kualitas masih perlu dipertanyakan. Terlepas dari realita tersebut di atas, pemerintah dewasa ini mengupayakan keduanya, sekaligus memprioritaskan untuk meningkatkan mutunya. Mutu tersebut akan dicapai bila mana pendidikan dilaksanakan secara kontinyu, serta dilaksanakan secara terpadu.

Namun di sisi lain, dalam kurun waktu akhir-akhir ini, akibat timbulnya perubahan sosial di berbagai sektor kehidupan umat manusia, beserta timbulnya nilainya ikut mengalami pergeseran yang kurang mapan. Maka pendidikan Islam seperti yang dikehendaki umat Islam harus merubah strategi dan taktik operasional. Strategi dan taktik operasional itu membutuhkan perombakan model sampai dengan institusi-institusinya, sehingga lebih efektif dan efisien.

Rupanya usaha-usaha yang telah dilakukan selama ini ternyata masih kurang mampu untuk mendongkrak tata nilai pendidikan agama yang masih terpuruk. Hal ini terbukti dengan adanya prilaku-perilaku siswa yang masih sering bertentangan dengan tata nilai keislaman.

Dari realitas itulah penulis ingin sekali meneliti tentang “Problematika Pelaksanaan Pendidikan Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana problematika pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.
  2. Faktor apa saja faktor-faktor yang dapat menunjang dan menghambat pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.
  1. C.    Tujuan Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini penulis bertujuan untuk :

  1. Mengetahui pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.
  2. Mengetahui faktor-faktor yang dapat menunjang dan menghambat pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.
  1. D.    Kegunaan Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini penulis mengarapkan hasil penelitiannya akan bermanfaat bagi :

  1. Pihak sekolah

Sebagai bahan informasi, pertimbangan, dan acuan kerangka berpikir bagi pengelolaan sekolah demi tercapainya tujuan pendidikan sebagaimana yang diahrapkan oleh masyarakat, bangsa dan negara.

  1. Pihak Guru Pendidikan Agama Islam

Dalam penulisan skripsi ini, Guru Pendidikan Agama menjadi obyek utama selain siswa itu sendiri. Eksistensi skripsi ini diharapkan dapat menambah wawasan dan sebagai bahan evaluasi tambahan untuk kesempurnaan dan perbaikan sistem dan metode pengajaran yang akan datang.

  1. Bagi Penulis

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guna mengadakan penelitian lebih lanjut. Dan untuk mengetahui sejauhmana tingkat kesulitan dan problematika dalam pengajaran agama Islam serta bagaimana solusi yang seharusnya dilaksanakan.

  1. E.     Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan antara lain :

  1. Dalam penelitian ini yang dijadikan objek penelitian adalah unsur organik (siswa dan guru). Oleh karena itu hanya dipilih mereka yang betul-betul memahami permasalahan penelitian dan sudah dianggap mewakili.
  2. Waktu penelitian dan biaya yang sangat terbatas, akan tetapi hasil-hasil penelitian yang didapatkan oleh penulis sudah dianggap cukup representatif.
  1. F.     Definisi Operasional

Definisi operasional dalam skripsi ini dirasa penting dan perlu agar tidak terdapat kesalahfahaman dalam memahami skripsi ini.

  1. Problematika

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, “Problem adalah masalah, persoalan”. (1990:701). Jadi yang dimaksud problematika dalam penulisan skripsi ini adalah permasalahan-permasalahan yang terdapat pada pelaksanaan pendidikan agama di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo.

  1. Pelaksanaan

Pelaksaan adalah berasal dari kata “laksana” artinya perbuatan atau cara pelaksanaan sesuatu, kemudian mendapatkan afik “pe” dan “an”, sehingga menjadi kata pelaksanaan yang berarti “tentang sesuatu, perbuatan, perbuatan yang dipergunakan untuk mengerjakan sesuatu”. (Poerwadarmninta, 1983:553).

  1. Pendidikan Agama Islam

Menurut Ahmad D. Marimba adalah “bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.” (1981:23). Sedangkan menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan Islam adalah “usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, dan mengenalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. (Depdikbud, 1994:1)


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. A.    Kajian tentang Pendidikan Agama Islam
  1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Sebelum penulis uraikan lebih lanjut mengenai pengertian pendidikan agama, terlebih dahulu akan penulis kemukakan beberapa pendapat tentang pengertian pendidikan, yang mana banyak para ilmuan memberikan definisi yang berbeda, hal ini disebabkan tinjauan mereka yang berbeda-beda pula.

Adapun pengertian mereka tentang pendidikan, antara lain :

MJ. Langeveld :

“Pendidikan adalah usaha yang sadar yang diberikan oleh yang berkewajiban dengan cara tertentu, teratur dan sistematis agar si terdidik itu bisa berdiri sendiri. (1981:17)”

Khursid Ahmad mengatakan :

Pendidikan adalah suatu latihan mental fisik dan moral, serta tujuannya adalah memproduksi pria dan wanita yang berkebudayaan tinggi sebagai makhluk manusia yang baik dan sebagai warga negara yang patut.(1968:80)

Ahmad D. Marimba dalam bukunya “Pengantar filsafat Islam” berkata :

Pendidikan Islam adalah bimbingan atua pimpinan yang diberikan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. (1984:20)

Dari beberapa definisi di atas dapat penulis disimpulkan bahwa pendidikan adalah segala pembinaan kepribadian dan pengembangan kemampuan manusia seumur hidup baik jasmani maupun rohani.

Di dalam usaha peningkatan pendidikan tidak terlepas dari unsur-unsur pendidian yaitu :

  1. Adanya tujuan
  2. Adanya pendidikan
  3. Adanya anak didik
  4. Alat yang digunakan
  5. Lingkungan

Adapun pengertian pendidikan Agama Islam akan penulis kemukakan beberapa pendapat sebagai berikut :

Ahmad D. Marimba berpendapat bahwa :

“Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian yang utama”. (1984:26)

Abd. Rachman Saleh mengemukakan bahwa :

“Pendidikan adalah usaha yang diarahkan kepada terbentuknya kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran agama Islam”. (1989:33)

Dengan pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan agama ialah bimbingan atau pimpinan sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak sehingga sesuai dengan ajaran-ajaran agama untuk ke arah terbentunya kepibadian yang utama menurut Islam.

 

  1. Dasar Pendidikan Agama Islam

Dasar dari pada pendidikan agama merupakan hal yang sangat penting, karena dasar merupakan azas pokok dalam istilah bangunan disebut fondamen suatu bangunan. Kalau fondamenya kuat maka bangunan juga kuat. Yang mendasari dari pada tujuan suatu usaha adalah dasar dari pada sesuatu itu.

Adapun dasar pelaksanaan pendidikan agama Islam di Indonesia adalah sebagai berikut :

  1. Dasar Agama

Yang dimaksud dengan dasar agama ialah suatu dasar atau landasan yang sudah ditetapkan oleh ajaran agama yaitu : Al Qur’an dan Al Hadits yang harus dijadikan pegangan pertama kali dan diyakini, karena keduanya merupakan sumber dari ajaran Islam.

Adapun segala persoalan yang di luar ketentuan di atas, maka manusia diberi hak untuk berfikir dengan ketentuan hasil pemikiran manusia tersebut tidak bertentnagan dengan garis-garis ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Pendidikan agama Islam adalah usaha manusia dalam mewujudkan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu dasar pemikiran pendidikan agama Islam adalah sebagaimana yang ada dalam sumber di atas.

Adapun landasan pelaksanaan pendidikan agama Islam antara lain surat at Tahrim ayat 6 :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka. (Depag. RI., 1978:951)

Dijelaskan dalam surat an Nahl ayat 125 :

Artinya : “Serulah (semua manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Depag. RI., 1978:652)

Kedua ayat tersebut di atas merupakan pernyataan yang tegas dan menjadi tuntunan bagi manusia untuk menjalankan pendidikan yang berisikan seruan kepada perbuatan yang baik dan mencegah dari perbuatan yang terlarang. Peru diingat bahwa suruhan dan larangan itu bukanlah paksaan dan intimidasi, melainkan nasehat yang baik serta yang bijaksana.

Dalam hadits juga ada pernyataan yang tegas tentang keharusan adanya pendidikan agama, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

Artinya : Rasulullah SAW, telah bersabda : Sampaikanlah apa-apa yang dari padakum walaupun satu ayat. (HR. Buchari) Bahresi, 1977:121)

Juga dalam hadits Imam Tirmidzi disebutkan :

Artinya : “Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berjuang di sabilillah hingga kembali. (Bahresi, 1977:126)

  1. Dasar Hukum

Dasar hukum pendidikan agama di Indonesia terdiri dari tiga landasan yang kokoh, yakni :

1)      Pancasila

Bagi bangsa Indonesia, pelaksanaan dalam kehidupan bermasyarakat dan  bernegara didasari jiwa Pancasila yang merupakan pandangan hidup, kesadaran cita-cita moral meliputi suasana kejiwaan.

Dari uraian di atas, dapat diambil pengertian bahwa jiwa Pancasila adalah merupakan kehidupan bermasyarakat dan bernegara bagi seluruh bangsa Indonesia. Jiwa pancasila tidak saja mendasari kehidupan bangsa, tetapi sekaligus merupakan pandangan hidup yang diyakini dan menjadi cita-cita hukum yang ingin dicapai dan menjadi dasar moral bagi bangsa Indonesia.

Adapun isi Pancasila menurut Undang-Undag Dasar 1945, adalah sebagai berikut :

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kelima dasar inilah yang harus kita amalkan secara keseluruhan dan tidak boleh dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, dan atas dasar inilah pendidikan itu dilaksanakan. Untuk merealisir tujuan pendidikan maka diperlukan adanya pendidikan agama kepada anak-anak, karena tanpa adanya agama akan sulit untuk mewujudkan sila pertama dari Pancasila tersebut.

2)      Undang-Undang Dasar 1945

Di dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945 masalah pendidikan dan pengajaran tercantum dalam Ban XIII pasal 31 ayat 1 dan 2 yang berbunyi :

  1. Tiap warga negara berhak mendapat pengajaran
  2. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang. (UUD 45, 1978:10)
  1. Dasar Sosial Psychologis

Dasar sosial psikologis adalah dasar yang menyatakan bahwa semua manusia dalam hidupnya senantiasa membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut agama. Mereka merasakan bahwa dalam jiwanya terdapat perasaan yang mengakui adanya dzat Yang Maha Agung sebagai tempat berlindung dan memohon pertolongan. Hal ini pasti terjadi pada masyarakat yang maju dan modern. Mereka menjadi tenang dan tentram hatinya manakala mereka bisa mendekatkan diri dan mengabdi kepada Allah SWT.

Uraian tersebut di atas sanga relevandengan firman Allah dalam surat Al Ra’du ayat 28 sebagai berikut :

Artinya : (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. (Depag. RI., 1978:354).

Oleh karena itu manusia selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah., hanya saja cara mereka dalam mengabdi dan beribadah kepada-Nya berbeda-beda sesuai dengan amal yang mereka lakukan.

  1. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan antara suatu negara dengan negara yang lain itu tentu berbeda. Hal ini disebabkan sumber-sumber yang ditetapkan sebagai dasar cita-cita pendidik itu juga berbeda. Di Indonesia pada umumnya kita umumnya mengenal rumusan formal tentang tujuan pendidikan atau pengajaran secara hierarkis. Di mana tujuan yang lebih umum dijabarkan menjadi tujuan yang lebih khsusus, sedangkan tujuan yang lebih khusus adalah merupakan tujuan yang lebih spesifik, yang semuanya diarahkan untuk dapat tercapainya tujuan umum tersebut. Adapun rumusan formal dari tujuan pendidikan secara hierarkis adalah :

Tujuan pendidikan Agama secara umum pendidikan formal di Indonesia adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Zuhairni, dkk. Sebagai berikut :

“Tujuan umum pendidikan agama ialah membimbing anak agar mereka menjadi orang muslim sejati, beriman teguh, beramal sholeh dan berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, agama dan negara.” (Zuhairini, 1989:45)

Kepribadian muslim sebagaimana dipaparkan di atas bila secara filosofis yang mendalam sifatnya masih abstrak dan sulit ditinjau. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditempuh, di mana setiap tujuan tersebut terarah pada pencapaian tujuan agama (Islam) secara umum.

4.      Materi Pendidikan Agama Islam

Yang disebut materi Pendidikan Agama Islam ialah bahan-bahan yang disajikan kepada murid guna mendidik anak. Bahan-bahan pokok pendidikan Agama yang diberikan dalam rangka mendidik anak pada dasarnya adalah sama dengan tingkat jenjang sekolah. Apabila terdapat perbedaan itu hanya ruang lingkup dan luas mendalamnya pembahasan. Pada setiap tigkat bahan pelajaran itu disusun pada rwencana pelajaran yang disebut kurikulum.

Adapun materi pokok dalam Pendidikan Agama Islam adalah :

  1. Masalah keimanan ( aqidah )
  2. Masalah keislaman ( syari’at )
  3. Masalah akhlak ( ikhsan ) (Zuhairini, 1989:59)

Dari tiga masalah tersebut diatas akhirnya timbul beberapa keilmuan dalam agama Islam, yaitu :

  1. Ilmu tauhid
  2. Ilmu fiqh, dan
  3. Ilmu akhlak

1)      Ilmu Tauhid (keimanan).

Ilmu tauhit adalah I’tiqad-I’tiqad batin yang mengajarkan keesaan Allah, Esa sebagai Tuhan yang menciptakan, mengatur dan meniadakan alam ini. (Zuhairini, 1989:32)

Setelah kita maklumi bahwa segala sesuatu yang ada dibumi ini adalah ciptaan Allah, dan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah dialam ini disebut makluk yang dapat dilihat dengan mata kepala, seperti; manusia, binatang, dan lain-lain. Allah juga menciptakan mahluk halus yang tidak dapat dilihat oleh manusia, mahluk itu adalah manusia, malaikat, jin dan syetan.

Dengan demikian iman itu adalah kepercayaan akan adanya Allah yang telah menjadikan alam ini yang membenarkan apa-apa yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Iman itu dianggap sempurna betul-betul, bila diyakini dengan hati, diikrarkan dengan lesan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Di dalam agama Islam ada kepercayaan yang dinamakan oleh pemeluknya dengan penuh keyakinan dan kesadaran yang dapat mendorong dirinya untuk berbuat baik dan menjauhi larangan Allah SWT.

Adapun hal-hal yang wajib diimani dalam agama Islam ada 6 perkara yaitu

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah
  4. Iman kepada rasul-rasul Allah
  5. Iman kepada hari kemudian, dan
  6. Iman kepada qadla’ dan qadar

Keenam (6) iman itu berdasarkan Hadist Nabi Muhammad SAW. Yang berbunyi :

Artinya  : Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, para rasul-Nya, hari qiamat dan kepada qadar ketentuan baik dan buruk.“ (Mu’in, t.th.:129)

2)      Ibadah (syari’ah)

Syari’at menurut Zuhairini adalah :

“Berhubungan dengan amal lahir dalam rangka mentaati semua peraturan dan hukum Tuhan, guna mengatur antara manusia dengan Tuhan dan mengatur pergaulan hidup dan kehidupan manusia.” (Zuhairini, 1989:35)

 

Adapun ibadah itu terdiri atas :

  1. Syahadat
  2. Shalat
  3. Zakat
  4. Puasa
  5. Haji

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

Artinya  :  Dan dari Ibnu Umar ra, bahwa sesungguhnya Rasullullah saw, bersabda : Didirikan agama Islam itu atas lima perkara, yaitu mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad pesuruh Allah, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, puasa pada bulan Ramadlan.” (Nawawi, t.th.:501)

3)      Akhlaq (budi pekerti).

Akhlaq yaitu suatu amalan yang bersifat pelengkap, penyempurna bagi kedua amal tersebut di atas dan yang mengajarkan tentang cara pergaulan hidup manusia.

Akhlaq atau budi pekerti itu memang penting bagi kehidupan manusia di dunia ini, karena akhlaq bisa digunakan sebagai berometer,alat pengukur tinggi atau rendahnya pribadi seseorang bahkan dapat pula untuk mengetahui sempurna atau tidaknya iman seseorang. Maka semakin sempurna akhlaq maka semakin sempurna iman. Makin merosotnya akhlaq semakin merosot pula iman seseorang. Dan Nabi Muhammad SAW. Adalah sebaik-baik akhlaq manusia, sehingga pantas dijadikan suri tauladan bagi ummatnya.

Sabda Nabi Muhammad SAW :

Artinya : “Aku diutus ialah untuk menyempurnakan akhlaq moral yang mulia”. (Depag. RI., 1982:59)

Dengan adanya Hadits tersebut Rasulullah SAW. diutus oleh Allah SWT. untuk menyempurnakan budi pekerti, mengatur hubungan manusia dengan Khaliq, manusia dengan alam, hubungan manusia dengan sekitarnya dan dengan dirinya sendiri.

Semua ini karena Islam sebagai agama samawi yang terakhir mempunyai moral Islam, karena manusia tanpa moral Islam akan merusak diri sendiri dan manusia lainnya serta alam sekitarnya. Betapapun tingi pengetahuan dan tehnologi mereka seperti yang sedang dialami manusia dewasa ini.

Allah juga memperingatkan manusia yang tidak mengacuhkan moral Islam dengan firman-Nya dalam surat Al-Imran, ayat 112 :

Artinya: “Kehinaan mereka dimana saja, kecuali (jika) memegang tali Allah (agama Allah) dan memegang tali sesamanya (memelihara pergaulan yang baik sesama manusia) dan mereka kembali mendapat kemarahan Allah ditimpahkan kepadanya kemiskinan. Demikian itu lantaran kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh Nabi-nabi tanpa alasan yang benar (nereka lakukan), demikian karena mereka durhaka dan melampaui batas”.(Depag. RI., 1982:89)

B.     Kajian tentang Problematika Pendidikan Agama

  1. 1.      Pengertian Problematika

Problematika adalah suatu istilah dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu : “Problem”, yang berarti “soal atau masalah” (demikian menurut Munisu HW, Dkk 1987:268).

Sedangkan menurut Tim Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dalam buku yang berjudul “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, bahwa : “Problem adalah masalah, persoalan”. (1990:701).

Jadi problema yang dimaksud penulis dalam judul skripsi adalah permasalahan-permasalahan yang terdapat pada pelaksanaan pendidikan agama di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo tahun pelajaran 2002/2003.

  1. 2.      Problema Pelaksanaan Metode Pendidikan Agama

Adapun problema dalam pelaksanaan pendidikan agama, adalah sebagai berikut :

  1. Problem metode ceramah

Pada umumnya dalam menggunakan metode ceramah memenuhi beberapa kesulitan, di antaranya bagaimana seorang guru membangkitkan siswa agar tidak pasif dan bagaimana pula agar pelajaran tidak bersifat pemompaan. Oleh karena itu, untuk mengatasi kesulitan tersebut, maka perlu menggunakan metode variasi seperti metode tanya jawab, diskusi dan lain sebagaiya.

  1. Problem metode tanya jawab

Dalam melaksanakan metode tanya jawab dapat menimbulkan penyimpangan dari pokok pelajaran, karena dari proses tanya jawab sangat besar kemungkinan siswa-siswi menimbulkan masalah baru dan penyimpangan dari pokok pelajaran yang sedang dibahas atau dipelajari. Oleh karena itu, untuk mengatasi metode tersebut, maka dalam penggunaannya perlu dipersiapkan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.

  1. Problem metode diskusi

Dalam melaksanakan metode diskusi kadangkala timbul penyimpangan dari tujuan, karena masalah yang dipecahkan bersifat kompleks.

Dalam hal guru sebagai pembimbing, pengatur tata tertib sekaligus mengatasi permasalahan agar diskusi itu berjalan pada garis yang sebenarnya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu tujuan pelajaran.

  1. Problem metode demonstrasi

Problem dalam penggunaan metode demonstrasi yaitu banyaknya memakan waktu dan perhatian yang harus dibutuhkan. Oleh karena itu, untuk mengatasi metode tersebut, maka seorang pendidik harus mengambil langkah utuk memberikan landasan teori terhadap materi yang akan didemonstrasikan. Atau dapat menggunakan metode ini hanya pada masalah yang praktis saja seperti masalah ibadah dan akhlak.

  1. Problem metode sosiodrama

Problem dalam pelaksanaan metode sosiodrama adalah terlalu banyaknya memakan waktu, dan  siswa sering tidak mau untuk maju memegang peranan.

Problem dalam pelaksanaan metode sosiodrama adalah terlalu banyaknya memakan waktu, yaitu siswa sering tidak mau memerankan adegan karena malu bila pelaksanaan metode ini gagal, maka tidak akan memperoleh kesimpulan. Oleh karena itu, guru dalam melaksanakan metode ini terlebih dahulu harus menceritakan yang sejelas-jelasnya terhadap masalah yang akan didemonstrasikan.

  1. Problem metode pemberian tugas

Yang menjadi problema dalam pelaksanaan metode pemberian tugas adalah seringkali siswa melakukan penipuan tugas di mana siswa hanya meniru atau menyalin pekerjaan orang lain bahkan adakalanya tugas itu dikerjakan oleh orang lain.

Dalam upaya mengatasi problem di atas, maka ada dua hal yang harus ditempuh oleh seorang guru agama :

  1. Memberikan penjelasan kepada siswa tentang tugas yang harus dikerjakan, sehingga siswa mengerti betul terhadap tugas yang dikerjakan.
  2. Mengadakan pengawasan secara intensif, sehingga mendorong siswa untuk berlajar aktif.
  1. 3.      Problema Pelaksanaan Pendidikan Agama

Problema pelaksanaan pendidikan agama dapat penulis bagi pada beberapa problem, antara lain sebagai berikut :

  1. Problem yang berhubungan dengan pendidik

Dalam hal ini, apabila pendidik kurang memperhatikan keberadaan dirinya dalam setiap melaksanakan tugasnya seperti membuat satpel atau persiapan mengajar, absen siswa, jurnal mengajar, buku nilai dan lain sebagainya yang harus dipersiapkan, maka akan menimbulkan hal-hal yang bersifat negatif pada diri anak didik, misalnya timbul sifat antipati kepada guru, kurang percaya, sering terlambat, tidak disiplin dalam mengikuti pelajaran dan lain sebagaiya.

Jika sudah demikian keberadaannya, maka pelaksanaan peroses belajar mengajar akan terbengkalai, yang sudah barang tentu cita-cita pendidikan tidak akan tercapai. Problem semacam ini yang kadangkala menimbulkan kenakalan anak pada usia sekolah.

Selain tersebut di atas, problem atau kesulitan yang dihadapi guru, antara lain sebagaimana yang diungkapkan oleh Zuhairini, berikut ini :

1)          Kesulitan dalam menghadapi adanya perbedaan individual murid, yang disebabkan oleh karena perbedaan I.Q.nya, watak, back ground kehidupannya.

2)          Kesulitan dalam menentukan materi yang cocok dengan anak yang dihadapinya.

3)          Kesulitan dalam memilih metode yang tepat

4)          Kesulitan dalam mengadakan evaluasi dan dalam karena kadang-kadang kelebihan waktu atau kekurangan waktu. (1987:39)

Kelima kesulitan atau problema tersebut di atas, dapat diatasi dengan baik apabila seorang guru sudah profesional dan lama mengajar (berpengalaman).

  1. Problema yang berhubungan dengan anak didik

Dalam ajaran Islam anak mempunyai kewajiban untuk taat dan patuh serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Dan orang tua berkewajiban mendidik putra-putrinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Allah SWT., berbudi pekerti yang luhur dan perbuatan baik lainnya. Dengan sebab kewajiban orang tua dalam mendidik putra-putrinya tidak punya cukup waktu yang memadai, maka orang tua menempuh jalan yang mudah dengan cara menitipkan putra-putrinya di lembaga-lembaga pendidikan, seperti pondok pesantren, sekolah umum maupun agama.

Dalam memilih sekolah kadangkala terjadi perbedaan antara anak dengan orang tuanya. Si anak bermaksud sekolah di lembaga pendidikan yang sesuai dengan keinginannya, sedangkan orang tua menginginkan si anak sekolah pada lembaga pendidikan yang sesuai dengan keinginannya pula. Anak yang ingin menyenangkan hati orang tuanya dan takut tergolong ke dalam anak yang durhaka, maka tidak ada jalan lain kecuali menuruti kehendak orang tua walaupun sebenarnya tempat pendidikan yang menjadi pilihan orang tuanya tidak sesuai dengan kehendaknya.

Sebaliknya anak yang keras kemauannya dan mempertahankan kehendaknya tetapi memilih sekolah yang sesuai dengan keinginan sendiri walaupun harus bertolak belakang dengan keinginan orang tua, maka hal yang demikian ini akan berbuntut negatif terhadap kelangsungan pendidikan anak, misal orang tua kurang memberikan semangat atau motivasi serta bimbingan terhadap sang anak. Kejadian semacam ini merupakan problem pendidikan yang dapat menentukan jati dirnya. Oleh karena itu, seorang anak mempunyai sifat, watak dan kehendak serta tujuan yang berbeda dengan pandangan orang dewasa. Dalam menghadapi hal ini, peranan orang tua sangat dibutuhkan dalam bertindak sebagai pembimbing, pengaruh, pendorong bagi anak dalam meraih cita-cita yang diharapkan.

Selanjutnya, juga penting diperhatikan oleh anak usia sekolah ialah belajar dan mau mengulangi lagi pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah setelah berada di rumah secara rutin dan merupakan suatu kebiasaan yang baik, sert besar sekali manfaatnya dalam meraih kesuksesan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini bahwa dengan pesatnya ilmu pengeahuan dan teknologi kita dituntut untuk membentuk sumber daya manusia seutuhnya dengan mengutamakan kualitas pendidikan harus ditingkatkan. Oleh karenanya, kalau anak didik hanya menggantungkan diri dari hasil pelajaran yang diberikan guru di sekolah, sudah barnag tentu hasilnya kurang memuaskan. Apalagi jika sepulang sekolah anak tidak lagi mau belajar, maka hal ini tidak akan mendukung terhadap keberhasilan pendidikan yang ditempuhnya. Sebab kebiasaan malas merupakan problem yang perlu diatasi oleh orang tua terhadap kegiatan belajar anak didik di rumah serta kegiatan-kegiatan lain yang dapat mendukung keberhasilan dalam meraih prestasi belajarnya.

Di samping itu, yang tidak kalah petingnya adalah teman sepergaulan dapat mempengaruhi anak, di mana temah sepergaulan itu tidak mempunyai latas belakang pendidikan yang baik, maka besar kemungkinan dapat memberi pengaruh yang negatif terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak didik.

Dari uraian di atas, bahwa pembentukan pribadi anak didik tergantung kepada kedua orang tua dan guru di sekolah.

  1. Problema yang berhubungan dengan alat pendidikan.

Dalam hal ini, Zuhairini, Dkk., mengemukakan bahwa : “Alat pendidikan ialah segala sesuatu yang dipergunakan dalam usaha untuk mencapai tujuan pendidikan”. (1987 ; 42).

Berdasarkan pengertian diatas, bahwa alat pendidikan sangat luas sekali, termasuk di dalamnya adalah kurikulum, metode mengajar, administrasi pendidikan dan lain sebagainya yang dapat membantu terhadap kelangsungan kegiatan proses belajar.

Terbatasnya alat pendidikan / fasilitas pedidikan merupakan probem yang harus diatasi oleh pihak yang berwenang, yaitu pemerintah. Sebab alat pendidikan yang disediakan oleh pemerintah tergantung pada keadaan dan kemajuan dari pada negara tersebut. Semakin maju satu negara maka semakin lengkap alat atau fasilitas pendidikan yang dimilikinya, dan pendidikan dapat berjalan dengan baik.

Alat atau fasilitas pendidikan yang menyangkut sarana dan prasarana di negara kita tercinta kenyataan menunjukkan bahwa masalah pengadaan gedung sekolah baik negeri maupun swasta telah memenuhi syarat dan telah medadai daya tampungnya. Disamping itu, pengadaan buku paket, alat-alat pendidikan, dan lain sebagainya dapat kita rasakan bersama pada masa sekarang ini.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas, Rasulullah SAW. bersabda :

Artinya :

“Semua anak dilahirkan atas kesucian atau kebersihan, maka kedua orang tuanyalah  yang menyebabkan anak menjadi yahudi, nasrani atau majusi”. (HR. Muslim), (tt;458).

Dengan demikian, khususnya orang tua mempunyai tanggung jawab yang penuh untuk mendidik putra putrinya agar menjadi anak yang sholeh, anak yang selamat di dunia dan di akherat.

  1. Probema yang berhubungan dengan faktor lingkungan.

Ada tiga hal probel pelaksanaan pendidikan agama yang berhubungan dengan faktor lingkungan, di antaranya sebagai berikut :

1)      Lingkungan keluarga.

Sebagian besar waktu anak adalah berada dalam lingkungan keluarga. Oleh karena itu keluarga berpengaruh besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan jiwa anak itu.

Ada   beberapa   hal   yang   berpengaruh   dari   lingkungan   keluarga, antara lain :

a)      Kesediaan orang tua menerima anak sebagai anggota keluarga.

b)      Pertengkaran dan selisih paham antara kedua orang tua.

c)      Sikap demokratis atau otoriter anggota keluarga.

d)     Keharmonisan antara kedua orang tua.

e)      Keadaan ekonomi keluarga.

f)       Hubungan keluarga dengan masyarakat sekitarnya. (Dep.Dik.Bud, 1980:2).

Anak yang lebih banyak mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya, maka sudah barang tentu akan lebih merasa senang dan aman serta tentram dalam kehidupannya. Sebaliknnya apabila dibandingkan dengan anak yang hidup dalam keluarga yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang, maka akan mengakibatkan anak tersebut tidak betah di rumah.

Suasana negatif dalam lingkungan keluarga akan membawa dampak yang negatif pula, sehingga anak tidak tenang, aman dan temtram ketika berada dirumah. Akibatnya anak sering keluyuran, kestabilan belajar tidak lagi terkontrol dengan baik.

Dengan demikian, pertengkaran, selisih paham, sikap demokratis dan otoriter, keharmonisan, keadaan ekonomi keluarga akan membawa terhadap kelangsungan pendidikan anak.

2)      Lingkungan sekolah.

Pengaruh lingkungan sekolah dalam pembentukan pribadi anak, anatara lain dilatar belakangi oleh :

  1. Kurikulum.
  2. Hubungan guru dengan siswa
  3. Tata tertib dan,
  4. BP.3 (Dep.Dik.Bud, 1980:3).

Hubungan guru dengan siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar, tata tertib, dan peranan BP3, merupakan kegiatan yang mempengaruhi pola sikap siswa. misalnya sekolah yang berorientasi kejuruan, namun demikian faktor guru merupakan suatu hal yang perlu mandapat perhatian. Ini disebabkan karena guru adalah sebagai pengganti orang tua disekolah, sehingga guru menjadi tokoh identifikasi yang mewarnai pribadi anak didik.

Dalam pelaksanaan kurikulum, tugs guru sebagai tenaga edukatif hendaknya dilaksanakan denga sebaik-baiknya, disiplin, tepat waktu, membuat persiapan mengajar dan lain sebagainya. Siswa yang tidak mengindahkan disiplin dalam melaksanakan tugas,m sering terlambat, tidak memenuhi kriteria yang semestinya melaksanakan tugas akan menghambat keberhasilan pendidikan dan pengajaran disekolah. Demikina pula hubungan yang kurang baik akan merupakan probema pendidikan yang akan menghambat tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan.

Di samping itu situasi dan kondisi sekolah memberikan arti baik kepada anak didik. Situasi dan kondisi sekolah yang tenang dan jauh dari keramaian akan lebih baik dari pada sekolah yang dekat dengan keramaian, hiruk pikuk dan lain sebagainya.

3)      Lingkungan masyarakat.

Selain lingkungan keluarga, sekolah, anak sebenarnya tidak bisa lepas dari lingkungan masyarakat pada umumnya. Dalam masyarakat anak bergaul dekat dengan teman sebaya, tetangga serta ikut aktif dalam kegiatan keagamaan, olah raga dan lain sebagainya.

Kegiatan-kegiatan tersebut apabila dilaksanakan dengan pengaturan waktu yang baik sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar anak didik dirumah, maka jelas akan manfaatnya bagi anak didik. Sebaliknya jika lingkungan masyarakat terdiri dari hal-hal yang kurang menguntungkan, maka besar kemungkinan akan memberikan dampak pengaruh negatif kepada anak didik yang dapat menghambat keberhasilan pendidikannya.

  1. 4.      Faktor Penunjang dan Penghambat Pelaksanaan Pendidikan Agama
  2. Faktor Penunjang

Ada beberapa hal yang dapat menunjang pelaksanaan pendidikan agama di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo adalah sebagai berikut :

1)      Dukungan Kepala Madrasah yang selalu memberikan bimbingan, pengarahan serta motifasi kepada guru agama dalam mengembangkan pendidikan agama.

2)      Partisipasi aktif para guru dalam pendidikan agama, terutama pada peringatan hari-hari besar Islam.

3)      Adanya beberapa tempat kegiatan keagamaan, baik di Madrasah itu sendiri maupun disekitarnya yang memberikan pelajaran agama (nilai-nilai Islam).

  1. Faktor Penghambat

Hidup manusia di dunia ini selalu kepada berbagai masalah atau kesulitan. Begitu juga seorang pendidik yang sedang dalam tugas mengajarnya atau pengajar yang masih dalam proses pendidikannya baik yang berhubungan dengan kegiatan sekolah maupun menyesuaikan hidup dengan kehidupan dalam kelurga, dengan tugasnya masing-masing serta tanggung jawab masing-masing.

Untuk mengatasi kesulitan atau hambatan yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pendidikan agama, maka Zuhairini, mengemukakan sebagai berilkut :

1)      Guru agama harus Zuhud, yakni Ikhlas dan bukan semata-mata bersifat materialistis.

2)      Bersih jasmani dan rohani, dalam berpakaian bersih dan rapi, dan ahlaknya juga baik.

3)      Bersifat pemaaf, sabar dan pandai menahan diri.

4)      Seorang guru harus terlebih dahulu merupakan seorang bapak sebelum ia menjadi seorang guru (cinta kepada murid-muridnya seperti anaknya sendiri).

5)      Mengetahui tabiat dan tingkah berfikir anak.

6)      Menguasai bahan pelajaran yang diberikan. (1987;34 – 35).

Pendeknya, guru itu harus dapat memikat anak didik dengan sifat-sifat pendidik yang baik dalam memberikan contoh/tauladan yang baik kepada anak didiknya, sehingga dapat tertarik perhatiannya kepada guru dan apa-apa yang disampaikannya akan dilaksanakan dan diterima dengan senang hati.

Dengan demikian, maka dengan beberapa syarat tersebut di atas, maka hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan dapat diatasi dengan mudah.

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.    Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menyusun rancangan penelitian sesistematis dan seefisien mungkin, agar dalam penulisannya nanti tidak memakan waktu yang lama dan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan.

Untuk memperoleh data tentang Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo, peneliti menggunakan metode wawancara dan observasi dengan mendatangi dan menanyakan langsung kepada sumber data yang bersangkutan, dalam hal ini guru Agama Islam dan siswa kelas I, II, dan III.

Selanjutnya hasil dari data yang telah diperoleh ditabulasikan dengan menggunakan rumus prosentase. Hal ini dilakukan untuk dapat mengklasifikasikan dan mendapatkan jawaban dari tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Secara lebih jelasnya rancangan penelitian yang penulis laksanakan adalah sebagaimana di bawah ini.

1)      Persiapan

Dalam suatu kegiatan, persiapan merupakan unsur-unsur yang sangat penting. Begitu juga dalam kegiatan penelitian, persiapan merupakan unsur yang perlu diperhitungkan dengan baik sebab yang baik akan memperlancar jalannya penelitian.

Sehubungan dengan judul dan rumusan masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka persiapan dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a)      Menyusun rencana

Dalam menyusun rencana ini penulis menetapkan beberapa hal seperti berikut ini.

1)      Judul penelitian

2)      Alasan penelitian

3)      Problema penelitian

4)      Tujuan penelitian

5)      Obyek penelitian

6)      Metode yang dipergunakan

b)      Ijin melaksanakan penelitian

Dengan surat pengantar dari Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo, penulis dimohonkan ijin ke Kepala SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo. Dengan demikian penulis telah mendapatkan ijin untuk mengadakan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut.

c)      Mempersiapkan alat pengumpul data yang berhubungan dengan pelaksanaan pendidikan agama Islam di SLTP, yakni menyusun instrumen dan wawancara serta dokumentasi.

2)      Pelaksanaan

Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain :

a)      Observasi

b)      Wawancara / interview

c)      Angket

3)      Penyelesaian

Setelah kegiatan penelitian selesai, penulis mulai menyusun langkah-langkah berikutnya, yaitu :

  1. Menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh, yang kemudian dikonsultasikan kepada Dosen Pembimbing dengan harapan apabila ada hal-hal yang perlu direvisi, akan segera dilakukan sehingga memperoleh suatu hasil yang optimal.
  2. Laporan yang sudah selesai kemudian akan dipertaruhkan di depan Dewan Penguji, kemudian hasil penelitian ini digandakan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.
  1. B.     Populasi, Sampel dan Responden

Langkah awal dari suatu kegiatan penelitian ialah menentukan populasi dan sampel penelitian. Hal ini dipergunakan untuk menetapkan besar kecilnya populasi, sehingga nantinya dapat diambil sampel yang representatif guna memperoleh generalisasi yang akurat dan realistis.

Berdasarkan pada rumusan masalah yang telah ditetapkan di atas, maka dapat dijadikan populasi penelitian adalah seluruh siswa SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo beserta seluruh guru pendidikan agama Islam.

Suharsimi Arikunto mendefinisikan populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. (Arikunto, 1993:103) Nazir menyatakan populasi adalah kumpulan individu dengan kualitas dan ciri-ciri yang telah ditetapkan, dinamakan variabel.

Adapun jenis sampel yang digunakan dalam penelitian ini, menggunakan proporsional sampel, menurut Sutrisno Hadi, berpendapat bahwa:

Proporsional sampel, jika populasi terdiri dari beberapa sub populasi yang tidak homogen dan tiap-tiap sub populasi akan diwakili dalam penyelidikan, maka pada prinsipnya ada dua jalan yang ditempuh :

  1. Mengambil sampel dari tiap-tiap sub populasi tidak memperhitungkan besar kecilnya sub populasi, atau
  2. Mengambil sampel dari tiap-tiap sub populasi dengan memperhitungkan besar kecilnya sub-sub populasi itu.” (Arikunto, 1993:91)

Untuk mengumpulkan data peneliti harus menentukan responden yang akan diteliti. Responden merupakan penjawab dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Data-data tersebut bisa menjadi data primer ataupun data skunder menurut kualitas data yang diberikan oleh responde tersebut.

Dari berbagai pendapat di atas, maka dalam penentuan responden peneliti menggunakan teknik proporsional random sampling yaitu dengan cara mengambil populasi yang ada SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo, dari populasi tersebut diambil menjadi sub populasi. Sehingga dari sub-sub populasi yang ada tersebut dijadikan responden dalam penelitian ini.

  1. C.    Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan yang diharapkan, sehingga data yang diperoleh itu benar-benar valid, maka dalam setiap penelitian terlebih dahulu harus menentukan metode apa yang akan dipakai untuk mendapatkan serta mengumpulkannya. Sebab metode merupakan kunci keberhasilan dalam suatu penelitian.

Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Metode Observasi

Metode observasi diartikan sebagai metode penyelidikan dan pencatatan untuk memperoleh data melalui pengamatan langsung terhadap obyek penelitian. Metode observasi merupakan salah satu cara untuk mengumpulkan data dengan jalan mengamati dan mencatat secara teratur, sistematis terhadap objek diselidiki baik secara langsung maupun secara tidak langsung sesuai dengan jangka waktu tertentu.

Dalam hal ini terdapat jenis-jenis observasi sebagai berikut:

  1. Observasi partisipan – observasi nonpartisipan
  2. Observasi sistematik – observasi nonsistematik
  3. Observasi eksperimental – observasi noneksperimental. (Arikunto, 1993:141).

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dalam penelitian ini menggunakan observasi nonpartisipan artinya : peneliti tidak ikut terjun langsung pada kejadian yang diselidiki tetapi sebagai pengamat saja.

Adapun metode ini digunakan untuk meraih data tentang :

  1. Lokasi dan obyek daerah penelitian
  2. Keadaan siswa dan guru di SLTP Zainul Hasan 2 Condong Gading Probolinggo
  3. Keadaan sarana dan prasarana sekolah
  4. Aktifitas belajar mengajar
  1. Metode Interview

Interview dapat dipandang sebagai metode pengumpul data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan pada tujuan penyelidikan atau penelitian. Pada umumnya dua orang atau lebih hadir secara fisik dalam proses tanya jawab itu dan masing-masing pihak dapat menggunakan saluran-saluran komunikasi secara wajar dan lancar.

  1. Metode Angket

Metode angket dapat dilakukan dengan adanya sejumlah pertanyaan yang tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. (Arikunto, 1993:188).

Dalam hal ini sumber data yang diberi angket adalah 20 siswa untuk memperoleh data tentang Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo. Angket yang digunakan adalah angket langsung tertutup yaitu angket yang langung diberikan kepada responden serta jawaban yang diberikan yang sudah disediakan oleh peneliti, sehingga responden tinggal memilih.

  1. D.    Analisis Data

Dalam penelitian ini digunakan metode statistik sebagai analisa data. Adapun langkah-langkah di dalam menganalisa data hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengumpulkan data yang telah ada
  2. Mengklasifikasikan data
  3. Memasukkan data di atas, kemudian diklasifikasikan ke dalam tabel kerja yang selanjutnya dianalisa dengan teknik sebagaimana yang telah dipersiapkan.
  4. Dari tabel persiapan itu, kemudian dimasukkan ke dalam tabel kerja yang selanjutnya dengan teknik sebagaimana yang telah dipersiapkan.

Mengingat banyaknya metode statistik untuk menganalisa data, maka dalam hal ini peneliti menggunakan prosentase yang bertujuan untuk menemukan data tentang tingkat pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di SLTP Negeri 2 Kraksaan Probolinggo. Adapun lebih jelasnya adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

         F

P = —– x 100%

         N

Keterangan :

P          = Prosentase yang dicari

F          = Distribusi F tiap-tiap alternatif yang diberikan oleh responden

N         = Jumlah secara total dan responden yang menjadi sampel penelitian.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s