SEKRIPSI KORELASI ANTARA KEPEMIMPINAN ORANG TUA DENGAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA DI RUMAH

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Manusia merupakan karya Allah yang terbesar dan satu-satunya makhluq yang paling sempurna dibadingkan dnegan makhluq yang lainnya. Disamping itu pula dia sebagai kholifah Allah yang bertugas mengatur bumi dengan segala isinya, dengan demikian nyatalah bahwa manusia memiliki peran utama bila dibandingkan dengan makhluq lain.

Dengan demikian manusia diberi beban untuk memikul tanggung jawab dihadapan Allah, terutama tanggung jawab orang tua dalam memimpin keluarga yang nantinya akan diminta pertanggung jawaban dihadapan Allah.

Firman Allah dalam Q.S. Al Tahrim ayat 6 :

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Depag RI., 1998:951).

Dari ayat tersebut menunjukkaan bahwa tanggung jawab orang tua itu tidak ringan dihadapan Allah SWT. Karena tanggung jawab seperti itu tidak hanya terbatas pada masalah akhirat saja, namun orang tua juga harus mengantarkan seluruh keluarganya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat (dari siksa api neraka).

Sebab keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan paling utama yang menjadi pangkal atau dasar hidup dikemudian hari. Disamping itu juga keluarga merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bersifat informal. Dimana dalam keluarga tersebut sebagai dasar pembentukan sikap atau kebiasaan siswa pada hari berikutnya. Hal ini juga dibenarkan oleh ajaran Islam bahwa hitam putihnya seorang anak banyak ditentukan oleh tangan kedua orang tuanya.

Hal ini disebutkan dalam hadits Bukhari yang berbunyi :

Artinya :

Abu Hurairah r.a. menceritakan, bahwa Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda “Tidak ada seorang anakpun yang dilahirkan, malainkan ia dilahirkan dalam keadaan suci bersih, maka ibu bapaknya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan atau Majusi. Sama halnya sebagai seekor hewan ternak, maka ia dilahirkan ternak pula dengan sempurna, tiada kamu dapati kekurangannya.

(HR. Bukhari)

Berdasarkan hadits tersebut, maka dapat diambil suatu pengertian bahwa keluarga itu merupakan lembaga informal, yang mempunyai peranan sangat penting dan merupakan wahana yang paling dasar dalam rangka pembentukan sikap, watak atau kebiasaan aktivitas belajar siswa di rumah.

Menurut Zakiyah Darajat (1993:90) “Pembinaan terhadap pendidikan di lingkungan keluarga sebagai tempat pendidikan pertama dan pendidikan prasekolah, disamping sebagai wahana sosialisasi awal sebelum pendidikan dasar, dikembangkan agar lebih mampu meletakkan landasan pembentukan watak dan kepribadian, penanaman dan pengenalan agama, dan budi pekerti serta dasar pergaulan, dalam hal ini perlu keteladanan dan pengembangan sikap, pengetahuan, keterampilan juga daya cipta”.

Maka jelaslah bahwa di dalam keluarga harus ada yang memimpin yaitu ayah, walaupun ayah sibuk dengan pekerjaannya tapi harus disediakan waktu yang cukup untuk bertemu dengan anak-anaknya untuk menciptakan suasana ramah tamah, kekeluargaan yang penuh rasa kasih sayang, sehingga akan lebih mudah di dalam berkomunikasi tanpa ada rasa takut. (Suwarno, 1992:91).

Sebab masih banyuak seorang ayah yang masih kurang memperhatikan terhadap anak dalam aktifitas belajarnya di rumah disebabkan kesibukan dengan pekerjaannya sendiri, oleh karena itu ayah di dalam memimpin harus mempunyai cara-cara atau model kepemimpinan yang tepat sebab itu sendiri yang menyebabkan sukses atau gagalnya dalam memimpin.

Walaupun dalam setiap orang mempunyai cara yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, namun sebagai seorang pemimpin harus mempunyai cara-cara tertentu yang dapat mempengaruhi siswa dalam aktifitas belajar sesuai dengan jiwa siswa itu sendiri agar tidak terjadi kesalahan dalam memimpin.

Walaupun tidak ada pemimpin yang sempurna, setiap orang mempunyai kesalahan, demikian pula tidak ada pemimpin yang memiliki kepribadian yang baik saja, namun banyak pemimpin yang berhasil mencapai tujuan dengan sukses. Dan juga sebaliknya ada pula yang memiliki model yang baik tidak menjadi pemimpin, jadi pola kepemimpinan sukar untuk diperinci, namun pola-pola tersebut hanya sekedar pedoman dan sedapat mungkin untuk dimiliki oleh seorang pemimpin. (Bayu Suryaningrat, 1982:62).

Kiranya berpijak dari permasalahan, pengalaman serta kesan itulah yang menyadari sekaligus melatar belakangi untuk mengkaji dan meneliti tentang korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah (studi kasus di MI. Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo).

B.     Perumusan Masalah

Masalah merupakan obyek penelitian yang menuntut seseorang untuk memecahkannya. Menurut pendapat Suharsimi Arikunto, “Masalah mesti merupakan bagian dari “kebutuhan” seseorang untuk dipecahkan. Orang ingin mengadakan penelitian, karena ia ingin mendapatkan pemecahan dari masalah yang dihadapi.” (1993:22)

Sedangkan menurut Sutrisno Hadi dalam buku Statistik II, menyatakan bahwa, “Suatu penelitian khususnya dalam ilmu pengetahuan pada umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan” (1983:51).

Jadi jelaslah bahwa tujuan penelitian adalah untuk menemukan suatu bukti kebenaran ilmu pengetahuan sesuai dengan problematika penelitiannya.

Berpijak dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka permasalahan yang diajukan dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apakah ada korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di MI. Bustanul Abidin Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
  2. Sejauhmana korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di MI. Bustanul Abidin Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.

C.    Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian itu akan sangat menentukan terhadap pencapaian hasil yang optimal dan dapat memberikan arah terhadap kegiatan yang dijalankan. Dalam hal ini tujuan disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan kebenaran teori yang telah dikemukakan dalam hal ini Sutrisno Hadi menerangkan bahwa: “Suatu research khususnya dalam ilmu-ilmu pengetahuan empirik pada umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan.

Maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui :

  1. Ada dan tidaknya korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di MI. Bustanul Abidin Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
  2. Tingkat korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di MI. Bustanul Abidin Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.

D.    Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai sumbangan informasi tentang salah satu problematika ayah sebagai pemimpin dalam keluarga, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi segenap ayah dalam rangka meningkatkan kualitas kepemimpinannya.
  2. Diharapkan dapat memberi manfaat bagi segenap mahasiswa, yang pada gilirannya mereka akan menjadi calon pemimpin dalam keluarga, sehingga akan meningkatkan kepemimpinannya untuk mempengaruhi siswa dalam aktivitas belajar di rumah.
  3. Sebagai acuan bagi pembaca yang ingin memperoleh gambaran bagaimana mengembangkan bentuk kepemimpinan yang baik dalam keluarga.

E.     Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah dugaan sementara yang mungkin benar dan mungkin salah, dia akan ditolak jika salah atau palsu dan akan diterima jika fakta-faktanya membenarkan. Berdasarkan kajian tersebut di atas, maka hipotesis yang akan diajukan adalah sebagai berikut :

  1. Hipotesis Kerja (H1)
    1. Ada korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah pada siswa MI. Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
    2. Korelasi yang tinggi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah pada siswa MI. Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
      1. Hipotesis Nihil (Ho)
      2. Tidak ada korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah pada siswa MI. Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
      3. Korelasi yang rendah antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah pada siswa MI. Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo.
  1. F.     Keterbatasan Penelitian

Berhubungan dengan penelitian ini penulis memberikan keterbatasan sebagai berikut :

  1. Internal

Keterbatasan internal merupakan beberapa kelemahan dan ketidakmampuan penelitian dalam melaksanakan penelitian, antara lain mencakup minimnya dana, waktu dan tenaga.

  1. Ekternal

Merupakan keterbatasan penelitian yang dikarenakan adanya beberapa hal yang ada pada obyek penelitian, yakni letak obyek yang agak jauh dari tempat peneliti dan heterogenitas obyek.

G.    Definisi Operasional Variabel

Untuk menghindari adanya penafasiran yang berbeda-beda di antara pembaca, maka perlu diberikan batasan-batasan pengertian pada beberapa istilah yang digunakan dalam judul penelitian ini. Adapun beberapa istilah yang perlu dijelaskan pengertiannya, antara lain : 1) korelasi, 2) kepemimpinan, 3) aktifitas belajar

1)      Hubungan

Menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa : “Hubungan adalah 1) keadaan berhubungan; 2) kontak; 3) paut; 4) ikatan, penelitian (keluarga, persahabatan, dsb) jaringan yang terwujud karena interaksi antara satuan-satuan yang aktif (1989:313).

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan merupakan suatu rangkaian antara satu dengan yang lain yang saling pengaruh mempengaruhi dan saling isi mengisi sebagai satu kesatuan yangtidak dapat dipisahkan atau satu sama lain. Adapun hubungan dalam penelitian ini adalah hubungan atau ikatan antara dua variabel, yaitu variabel kepemimpinan orang tua dan variabel prestasi belajar siswa.

2)      Kepemimpinan

Menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, menyatakan bahwa “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain, melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak pemimpin itu.” (1989:433).

3)      Aktivitas belajar

Menurut W.J.S. Poerwadarminta bahwa yang dimaksud aktivitas adalah “kegiatan ; kesibukan”. (1984:26). Sedangkan  menurut kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan aktivitas adalah : 1. Keaktivan ; kegiatan ; 2. Kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap bagian didalam perusahaan. (Dep. Dik.Bud., 1990:20)

Berdasarkan kedua pendapat tersebut diatas maka yang disebut dengan aktivitas secara etimologi (lughot) adalah suatu kegiatan atau kesibukan.

Adapun pengertian belajar menurut Slameto adalah : suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya:. (1991:2)

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara rutin oleh siswa yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku akibat dari pengalaman dan latihan yang sungguh-sungguh dan mengacu pada tujuan belajar.

H.    Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan merupakan rangkuman sementara dari isi skripsi, yakni suatu gambaran tentang isi skripsi secara keseluruhan dan dari sistematika itulah dapat dijadikan satu arahan bagi pembaca untuk menelaahnya. Secara berurutan dalam sistematika ini adalah sebagai berikut :

BAB I       PENDAHULUAN

Dalam bab pendahuluan ini dikemukakan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis penelitian, ruang lingkup dan keterbatasan penelitian, definisi operasional dan sistematika pembahasan.

BAB II      KAJIAN PUSTAKA

Dalam bab kajian pustaka ini dikemukakan kajian kepemimpinan orang tua, serta kajian tentang aktivitas belajar siswa.

BAB III    METODE PENELITIAN

Dalam bab ini akan dikemukakan tentang rancangan penelitian, populasi dan sampel penelitian, instrumen penelitian, dan teknik pengumpulan data.

BAB IV    HASIL PENELITIAN

Dalam bab hasil penelitian akan dipaparkan tentang penyajian data yang berkaitan dengan hasil yang didapat di lapangan penelitian, serta analisa data.

BAB V      KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab terakhir ini akan disajikan tentang kesimpulan sebagai hasil dari penelitian dan dilanjutkan dengan saran-saran yang sekiranya dapat dijadikan bahan pemikiran bagi yang berkepentingan.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian tentang Kepemimpinan Orang Tua

Kepemimpinan itu sendiri adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain, melalui komunikasi baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud untuk menggerakkan orang-orang tersebut agar dengan penuh pengertian, kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti kehendak-kehendak pimpinan itu.

Memahami tentang kepemimpinan orang tua ini adalah : bahwa setiap manusia itu mempunyai potensi untuk menjadi kholifah atau menjadi pimpinan dalam keluarga lebih-lebih sebagai pimpinan bagi putra-putrinya di rumah. Sebab keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan yang paling utama bagi anak-anak. Dan keluarga ini mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan anak.

Peran-peran dalam keluarga dalam keluarga jika diperhatikan di sana ada yang disebut bapak, ibu dan anak, sehingga dalam kehidupan sehari-hari dapat diistilahkan sebagai kehidupan yang familier, dalam kehidupan keluarga akan nampak sebagai kesatuan hidup dan oleh karena itu dalam keluarga terjadi struktuarlisasi serta deferensiasi kerja.

Pembagian tugas dan peran dalam keluarga membawa konsekwensi dan tanggung jawab pada masing-masing peran itu dalam keluarga tersebut pengertian bapak dan ibu sebagai pimpinan.

Pengertian ibu dan bapak dalam keluarga akan nampak, peran ibu dan bapak sebagai orang yang memiliki ketrampilan untuk mendidik, mengajar dan melatih anak, ketrampilan bapak dan ibu dalam menyampaikan nilai-nilai kepada anak berpusat pada dua kutub yang dipengaruhi oleh gaya orang tua itu sendiri.

Sebagi pemimpin keluarga orang tua wajib mempunyai pedoman hidup yang mantap agar jalannya rumah tangga dapat berjalan dengan lancar menuju tujuan yang dicita-citakan. Demikian juga orang tua harus mempunyai dasar-dasar atau pola dalam mengasuh keluarga, terutama mengasuh anak-anaknya, sehingga orang tua harus memahami macam-macam pola asuh dalam keluarga.

  1. 1.      Pola Asuh Otoriter

Pola asuh yang otoriter akan terjadi komunikasi satu demensi atau satu arah. Orang tua menentukan aturan-aturan dan mengadakan pembatasan-pembatasan terhadap perilaku anak yang boleh dan tidak boleh dilaksanakannya. (Suryaningrat, 1982:23)

Anak harus tunduk dan patuh terhadap orang tuanya, anak tidak mempunyai pilihan lain. Orang tua memerintah dan memaksa tanpa kompromi. Anak melakukan perintah orang tua karena takut, bukan karena suatu kesadaran bahwa apa yang dikerjakan itu akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak.

Orang tua memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan anak, keinginan anak, keadaan khusus yang melekat paad individu anak yang berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain. Perintah yang diberikan berorientasi pada sikap keras orang tua. Sebab tanpa sikap keras ini anak tidak akan melaksanakan tugas dan kewajibannya.

  1. 2.      Pola Asuh Bebas

Pola asuh bebas berorientasi bahwa anak itu makhluk hidup yang berpribadi bebas, anak adalah subyek yang dapat bertindak dan berbuat menurut hati nuraninya. Pada pola ini anak dipandang sebagai subyek yang diperbolehkan berbuat menurut pilihannya sendiri. Segala tugas diserahkan sepenuhnya pada anak.

Pola asuh bebas memang memandang anak sebagi subyek, anak bebas menentukan pilihannya sendiri. Akan tetapi anak justru menjadi berbuat semau-maunya, ia berbuat dengan menggunakan ukuran diri sendiri. Padahal anak berada dalam dunia anak dan ia harus masuk pada dunia lain dari dunia anak. Oleh karena itu anak akan kebingungan ibarat anak ayam yang ditinggalkan induknya. Akhirnya anak akan lari kesana kemari tanpa arah. (Suryaningrat, 1982:25)

  1. 3.      Pola Asuh Demokratis

Pola asuh demokratis berpijak pada dua kenyataan bahwa anak adalah subyek yang bebas dan anak sebagai makhluk yang masih lemah dan butuh bantuan untuk mengembangkan diri. Manusia sebagai subyek harus dipandang sebagai pribadi.

Anak sebagai pribadi yang masih perlu mempribadikan dirinya, dan terbuka untuk dipribadikan. Proses pembribadian anak akan berjalan dengan lancar jika cinta kasih selalu tersirat dan tersurat dalam proses itu. Dalam suasana yang diliputi oleh rasa cinta kasih ini akan menimbulkan pertemuan sahabat karib, dan pertemuan dua saudara. (Suryaningrat, 1982:27)

Dalam pertemuan ini dua pribadi bersatu padu. Dalam pertemuan yang bersatu padu akan timbul suasana keterbukaan. Dalam suasana yang demikian ini maka akan terjadi pertumbuhan dan perkembangan bakat-bakat anak yang dimiliki oleh anak dengan subur.

B.     Kajian tentang Aktivitas Belajar Siswa

  1. Pengertian Aktivitas Belajar

Menurut W.J.S. Poerwadarminta bahwa yang dimaksud aktivitas adalah “kegiatan ; kesibukan”. (1984:26). Sedangkan  menurut kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan aktivitas adalah : 1. Keaktivan ; kegiatan ; 2. Kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap bagian didalam perusahaan. (Dep. Dik.Bud., 1990:20)

Berdasarkan kedua pendapat tersebut diatas maka yang disebut dengan aktivitas secara etimologi (lughot) adalah suatu kegiatan atau kesibukan.

Adapun pengertian belajar menurut Slameto adalah : suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya:. (1991:2)

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara rutin oleh siswa yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku akibat dari pengalaman dan latihan yang sungguh-sungguh dan mengacu pada tujuan belajar.

  1. Macam-macam Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah (di rumah). Adapun macam-macam aktivitas belajar menurut Sardiman dalam buku Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar menjelaskan Paul B. Diendrich membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan murid di sekolah antara lain :

  1. Visual activities (13), seperti membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya.
  2. Oral activities (43), seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, diskusi, mengadakan interview, instruksi dan lain sebagainya.
  3. Listening activities (11), seperti mendengarkan uraian, percakapan, diskusi , musik, pidato dan sebagainya.
  4. Writing activities (22), seperti menulis cerita, karangan, laporan, tes angket, menyalin dan sebagainya.
  5. Dawing activities (8), seperti melakukan percobaan, membuat grafik, peta diagram, pola dan sebagainya.
  6. Motor activities (4), seperti menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan dan sebagainya.
  7. Emotional activities (23), seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, tenang, gugup dan sebagainya.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa macam-macam aktivitas tersebut merupakan aktivitas global atau menyeluruh maksudnya baik mengenai aktivitas disekolah maupun di rumah.

Adapun bentuk-bentuk aktivitas dirumah antara lain :

  1. Membaca buku pelajaran

Dengan membaca buku pelajaran merupakan jembatan dalam mencapai dan memperoleh ilmu yang diharapkan dari apa yang dibacanya dan menambah pengetahuan dan wawasan ilmu yang dimiliki. Karena bagimana mungkin akan memperoleh ilmu yang ada dalam buku pelajaran bila tanpa dibacanya.

Secara sederhana membaca buku bukanlah yang sulit dilakukan oleh seseorang bila ia telah menguasai huruf demi huruf yang ada, namun membaca dengan hasil yang baik dan efisien tentunya tidaklah mudah dilakukan, tetapi harus melalui prosedur dan tata cara yang baik pula. Ciri-ciri khusus membaca yang efisien antara lain adalah :

1)      Mempunyai kebiasaan yang baik dalam membaca

2)      Mengerti betul isi buku yang dibacanya

3)      Sehabis membaca dapat mengingat sebagian besar atau pokok-pokok dari apa yang dibacanya.

4)      Dapat membaca dengan cepat. (The Liang Gie, 1985 : 93)

Dengan demikian, dengan kebiasaan-kebiasaan membaca yang tidak baik inilah, siswa akan menganggap membaca itu merupakan kesenangan atau hobby, karena yang demikian itu akan menjamin keberhasilannya didalam studi-studi yang selanjutnya.

  1. Menghafal Pelajaran

Kadang-kadang dalam proses belajar mengajar, ada hal yang tertentu yang tidak bisa dimengerti begitu saja kecuali harus dihafal sampai bisa, sehingga dengan begitu pengetahuan yang diperoleh dapat diungkap kembali dengan lancar saat menghadapi pertanyaan atau menjawab soal-soal ujian.

Selanjutnya, akan dikemukakan terlebih dahulu tentang definisi mengenai menghafal sebagai berikut :

Menurut Oemar Hamalik dalam bukunya mengungkapkan bahwa menghafal adalah pada garis besarnya proses menghafal itu dimulai dengan penerimaan atas sejumlah perangsang dari luar oleh alat-alat indera kita. Kemudian disimpan dalam ingatan dalam bentuk tanggapan-tanggapan (1990:66)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menghafal adalah sebuah kegiatan yang sengaja dilakukan oleh siswa untuk menyimpan pelajaran diotak dengan memahami secara sempurna, sehingga sewaktu-waktu bisa dikeluarkan atau diungkapkan kembali dengan baik. Sebab dengan menghafal juga kita dapat mengingat banyak hal.

Dengan demikian, maka menghafal tersebut juga diperlukan adanya syarat-syarat dan metode-metode menghafal. Sebagaimana yang diungkapkan oleh The Liang Gie adalah sebagai berikut :

  1. Syarat-syarat menghafal

Sebelum siswa mulai menghafal, ia harus mempunyai tujuan tertentu yang jelas. Ia harus mengerti betul-betul pelajaran itu sebelum ia mulai menghafalkannya. Bertanya itu tidak menunjukkan bahwa mahasiswa atau siswa itu bodoh, melainkan menandakan bahwa menaruh perhatian pada pelajarannya dan mempunyai hasrat untuk maju. Usaha menghafal sebaiknya jangan dipadatkan setelah dekat dengan ujian, melainkan jauh di muka, siswa sudah membagi-bagi dan mengatur waktunya untuk keperluan menghafal bahan pelajaran secara teratur. Kemudian diantara bahan-bahan itu sedapat-dapatnya dipertalikan satu sama lain menurut kerangka yang sistematis atau urutan yang logis (The Liang Gie, 1985: 131-135)

  1. Metode Menghafal

Untuk lebih memudahkan siswa dalam menghafal pelajaran, tentunya diperlukan metode-metode menghafal yang baik dan sesuai dengan selera dan juga kemauannya sendiri. Pada prinsipnya dibedakan menjadi tiga kelompok menghafal yaitu :

  1. Menghafal dengan melalui pandangan mata saja. Bahan pelajaran itu dipandang atau dibaca dalam batin dengan penuh perhatian sambil otak bekerja dengan mengingat-ingat.
  2. Menghafal dengan terutama melalui pendengaran telinga. Dalam hal ini bahwa pelajaran itu dibaca dengan suara yang cukup keras untuk dimasukkan kedalam kepala melalui telinga.
  3. Menghafal dengan melalui gerak-gerik tangan, yaitu dengan jalan menulis-nulis diatas kertas dengan pensil atau menggerak-gerakkan ujung jari atas meja sambil pikiran berusaha menanamkan bahan pelajaran itu. (The Liang Gie, 1985 : 15-136)

Jika metode menghafal seperti ini diterapkan sesuai dengan bahan pelajaran, yang sesuai dengan kemampuan dan selera yang dianggap sesuai dengan siswa. Sehingga apabila siswa dapat menggunakan metode tersebut dengan tepat atau dengan mengkombinasikan bila perlu, maka ia akan dapat menghafal bahan pelajaran dengan baik.

  1. Membuat ringkasan

Yaitu “suatu proses resitasi dan refleksi secara tertulis” (Hasbullah Tabrany, 1994:92). Maka yang dimaksud membuat ringkasan adalah merupakan cara untuk membedakan atau memadatkan suatu pelajaran melalui catatan yang telah disediakan dengan maksud bahwa ia telah mengerti dan memahami persoalan atau masalah yang dibaca serta akan lebih meresapi apa yang telah dipelajari.

Dalam membuat suatu ringkasan itu seorang siswa berusaha untuk mengambil intisari suatu uraian atau pokok pikiran, kemudian intisari itu dituliskan dengan singkat dalam kata-katanya sendiri, yang telah dihubung-hubungkan dengan poko-pokok pikiran yang lainnya yang telah  diringkas juga. (The Liang Gie, 1985:114)

Maka dengan demikian dengan membuat suatu ringkasan banyak manfaatnya, antara lain :

  1. Dengan ringkasan pelajaran yang diberikan hari ini selama dua jam, anda dapat mengulangnya dalam waktu kurang dari 10 menit, hemat waktu.
  2. Anda tidak akan bisa membuat ringkasan jika anda belum mengerti materinya, oleh karena anda dapat berusaha mengerti suatu konsep.
  3. Dengan membuat ringkasan, anda akan dipaksa belajar secara efektif, ingin menghindari rasa bosan dan mengantuk.
  4. Pada saat-saat ujian akhir dimana materi yang akan diuji begitu banyak, anda tidak akan sanggup mengulang (Review) dengan membaca semua pelajaran. (Hasbullah Tabrany, 1994 : 92)

Adapun bentuk daripada ringkasan itu juga bermacam-macam, yang penting bentuk ringkasan itu sesingkat mungkin. Ringkasan semua garis besar dari pokok-pokok pikiran dan perincian-perincian yang saling bertalian.

The Liang Gie menyatakan sebagai berikut :

Sebaiknya ringkasan itu dicatat pula pada lembaran kertas yang terlepas untuk tiap-tiap pokok persoalan baru dipergunakan halaman yang baru pula. Demikian pula catatan itu dapat ditulis dengan kata-kata singkat atau tanda-tanda lainnya misalnya : untuk ganti perkataan “karena itu”, tanda = untuk adalah, ialah atau sama dengan, dan lain-lainnya. (the Liang Gie,1985 : 115

Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa bentuk ringkasan itu dapat dibentuk lembaran-lembaran dan bisa berbentuk sebuah buku, bila bentuk lembaran-lembaran maka setiap satu lembar hanya memuat satu persoalan saja.

  1. Mengerjakan tugas

Setiap apa yang diperintah guru itu merupakan suatu masalah yang harus dikerjakan atau diselesaikan oleh setiap siswa. Perintah atau tugas tersebut dapat berupa pekerjaan rumah (PR), mengerjakan dipapan tulis, ulangan, hafalan dan sebagainya. Tugas tersebut bisa berupa individu maupun kelompok.

Menurut pendapat Ahmadi dalam bukunya Didaktik Metodik sebagai berikut : “Tugas guru disamping mendidik dan mengajar adalah membuat penilaian terhadap murid diatas bahkan yang telah diterimakan. Pelaksanaannya dengan jalan memberikan ulangan terhadap murid”. (1978:39)

Dari pendapat tersebut di atas, dipahami bahwa beberapa fase dalam aktivitas belajar, yaitu mengerjakan tugas, fase pertama siswa menerima tugas, dan tugas tersebut bisa dari guru ataupun siswa itu sendiri sebagai hasil kerjasama antar siswa. Fase kedua siswa mengerjakan tugas, fase ketiga yaitu mempertanggung jawabkan dari hasil tugas yang dilaksanakan tersebut untuk dinilai guru.

Dengan demikian pada akhir aktivitas siswa mengerjakan tugas, guru memberikan penilaian dari tugas yang telah dikerjakan siswa. Dipergunakan sebagai motivasi bagi murid dan juga sebagai salah satu pertimbangan nilai akhir mata pelajaran dari guru yang mengajar mata pelajaran tersebut.

  1. Belajar kelompok

Belajar kelompok itu merupakan suatu kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa secara bersama yang anggotanya sekurang-kurangnya tiga sampai lima orang. Menurut pendapat Hasbullah Tabrany yaitu : “Sebagian para ahli juga berpendapat bahwa belajar kelompok (Group Study) banyak membantu proses belajar. Memang ada orang yang tidak bisa belajar kelompok tetapi hasilnya juga bagus. (1994:96)

Maka belajar kelompok itu merupakan suatu hal yang sangat penting, sebab dapat membantu siswa untuk bertanya jawab dengan temannya untuk saling bertukar pendapat atau dengan belajar kelompok itu sendiri akan mempunyai semangat tinggi untuk belajar.

Adapun dengan belajar kelompok ada beberapa hal yang dapat dicapai yaitu :

  1. Membiasakan anak untuk bergaul dengan teman-temannya, bagaimana mengemukakan pendapatnya dengan menerima pendapat dari teman yang lain.
  2. Dengan belajar secara kelompok turut pula merealisasikan tujuan pendidikan dan pengajaran.
  3. Untuk belajar mengatasi kesulitan terutama dalam hal pelajaran secara bersama-sama.
  4. Belajar hidup bersama agar nantinya tidak canggung didalam masyarakat yang lebih leluasa.
  5. Memupuk rasa kegotong royongan. (Bimo Walgito, 1993 : 104)

Namun setiap sesuatu hal itu tidak luput dari kekurangan dan kelebihan, demikian juga dengan belajar kelompok ini juga ada kelebihan dan kekurangannya yaitu : menurut pendapat Hasbullah Thabrany adapun kelebihan atau keuntungan dari belajar kelompok adalah sebagai berikut :

  1. Dapat mengurangi rasa kantuk dibanding sendiri. Jika belajar sendiri, seringkali rasa bosan timbul  dan rasa kantuk pun resitasi. Kita menjelaskan suatu teori dengan bahasa sendiri. Dapat membantu datang. Apalagi jika kita mempelajari pelajaran yang kurang menarik perhatian kita atau pelajaran yang sulit buat kita.
  2. Dapat merangsang motivasi belajar, kalau ada lawan jenis dikelompok itu, sering bisa menambah semangat, tetapi jangan buat kelompok belajar berdua dengan pacar anda, hasilnya akan lain. Dengan belajar bersama akan tumbuh perasaan anda saingan.
  3. Ada tempat bertanya dan ada orang lain yang dapat mengoreksi kesalahan kita …… dalam belajar kelompok, seringkali kita dapat memecahkan soal yang sebelumnya tidak bisa kita pecahkan sendiri.
  4. Kesempatan melakukan resitasi oral. Dalam belajar bersama, sering kita harus berdiskusi dengan menjalankan suatu teori kepada teman belajar kita. Inilah saat resitasi, kita menjelaskan suatu teori dengan bahasa sendiri.
  5. Dapat membantu timbulnya asosiasi dengan peristiwa lain yang mudah diingat.
  6. Yang terakhir tentu saja ada kenangan tersendiri dan punya teman akrab, jika kita dapat membuat kelompok belajar yang tetap. (1994:94-96)
    1. Membagi waktu belajar

Waktu adalah merupakan hal yang penting dan sangat berharga bagi manusia, sudah sepatutnya manusia memperhatikan waktu dan mempergunakannya dalam hal-hal yang dianjurkan oleh syari’at Islam.

Di dalam belajar siswa harus dapat menentukan sendiri waktu yang sangat efektif untuk belajar dan juga sebaiknya siswa membagi waktunya untuk bermacam-macam keperluan dan harus mempunyai rencana belajar dengan waktu yang tepat. Oleh sebab itu perlu adanya pedoman untuk mengatur waktu yang baik bagi siswa adalah sebagai berikut :

  1. Kelompokkan waktu sehari-hari untuk keperluan tidur, belajar, makan, mandi, olah raga dan urusan pribadi lainnya.
  2. Selidiki dan tentukanlah waktu yang tersedia untuk belajar setiap hari
  3. Setelah mengetahui waktu yang tersedia tiap siswa hendaknya merencanakan penggunaan waktu itu dengan jalan menetapkan macam-macam mata pelajaran berikut urutannya yang harus dipelajari setiap hari.
  4. Setiap siswa perlu pula menyelidiki bilamana dirinya dapat belajar dengan hasil yang terbaik.
  5. Bila waktu agak terbatas berilah waktu tertentu bagi setiap mata pelajaran. Dan kemudian belajarlah dengan penuh konsentrasi dalam batas waktu yang telah ditentukan itu.
  6. Berhematlah dengan waktu. Setiap siswa hendaknya jangan ragu-ragu untuk memulai apa yang perlu dilakukannya. Dalam belajar mulailah dengan seketika dan selesaikanlah secepat mungkin.
  7. Bagi mereka yang bekerja biasanya waktu antara jam 05.00-07.00 pagi merupakan waktu yang tebaik untuk belajar secara intensif. (The Liang Gie, 1985 : 69-70)

Dengan menggunakan mengatur waktu di atas, maka seorang siswa akan lebih mudah untuk mengatur waktu belajarnya dengan baik. Karena setiap waktu dan saat sudah mengetahui apa yang harus dilakukan dan dikerjakan, maka tidak akan bingung apa yang harus dikerjakan, maka tidak akan bingung apa yang harus dikerjakan dan diperbuat dalam saat tertentu, pelajaran apa yang harus dibaca, dihafal dan diulangi. Dengan demikian tidak ada waktu yang terbuang dengan sia-sia.

  1. 3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Agar supaya pendidikan atau proses belajar itu berhasil sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai maka, perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar tersebut.

Sedangkan faktor yang mempengaruhi belajar itu banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, menurut pendapat Slameto yaitu adalah “Faktor Intern dan Faktor Ekstern”. (1991:56)

  1. a.      Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam diri individu, faktor ini dibagi menjadi tiga, yaitu : faktor jasmani, faktor psikologi, dan faktor kelelahan.

  1. Faktor Jasmani

a)      Faktor Kesehatan

Setiap seseorang melakukan kegiatan belajar itu harus mempunyai kesehatan jasmani yang cukup untuk mendapatkan hasil belajar yang baik. “sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagian atau bebas dari penyakit”. (Slameto, 1991:56)

Sedangkan kronis yang dapat mengganggu belajar adalah penyakit pilek, sakit gigi, batuk dan yang sejenisnya yang biasanya diabaikan karena dipandangnya bukan penyakit yang serius, akan tetapi penyakit-penyakit seperti ini sangat mengganggu aktivitas belajar. (Sumadi Suryabrata, 1971:56)

Proses belajar itu akan terganggu jika terkena penyakit tersebut, selain itu juga menyebabkan akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk dan lain sebagainya yang termasuk gangguan fungsi alat inderanya (Slameto, 1991:56)

Dengan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang atau siswa harus selalu menjaga kesehatannya dengan baik agar dapat melakukan aktivitas belajar dengan baik.

b)      Cacat Tubuh

“Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan”. (Slameto, 1991:57)

Dengan demikian cacat tubuh itu bisa mempengaruhi proses belajar, dan jika hal itu terjadi maka hendaknya siswa bisa belajar pada lembaga yang khusus yang bisa membantu atau mengusahakan dengan alat bantu untuk mengurangi kecacatan itu demi kelancaran belajarnya.

  1. Faktor Psikologi

Faktor psikologi ini biasanya besar pengaruhnya dalam aktivitas belajar siswa terutama adalah cita-cita. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Sumadi Suryabrata sebagai berikut :

Cita-cita merupakan pusat dari bermacam-macam kebutuhan,  artinya kebutuhan biasanya disentralisasikan disekitar cita-cita itu, sehingga dorongan tersebut mampu memobilisasikan energi psikis untuk belajar. (1971 : 257)

Sedangkan yang tergolong faktor psikologis menurut pendapat Slameto adalah “Intelegensi, perhatian, minat, motif, kematangan dan kelelahan” (1991 : 57)

a)      Intelegensi

Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan di dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif mengetahui realisasi dan memperlajarinya dengan cepat. (Slameto, 1991 : 57)

Dari pendapat tersebut dapat diambil suatu pengertian bahwa yang dimaksud dari hal tersebut adalah kecerdasan atau bisa disebut dengan kepandaian yang dimiliki seseorang, sehingga dengan kecerdasannya itu akan lebih mudah untuk belajar.

Siswa yang mempunyai intelegensi yang tinggi akan lebih mudah dalam belajar, dan akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai intelegensi yang rendah. Sebagai contoh misalnya, siswa yang dapat mengerjakan soal-soal fisika ataupun matematika, kalau siswa mempunyai intelegensi yang tinggi dan kepandaian serta kreativitas yang tinggi maka akan mudah untuk mengerjakannya.

Dari uraian di atas sudah jelas kalau intelegensi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan belajar siswa.

b)      Perhatian

Menurut pendapat ghozali yang dikutip oleh Slameto adalah : “Keaktifan jiwa yang tinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekelompok obyek ”. (1991 : 58).

Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perhatian itu adalah suatu keaktifan yang semata-mata tertuju pada suatu kegiatan belajar.

Dengan demikian setiap siswa untuk menghasilkan belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang sedang dipelajarinya, jika bahan pelajaran itu tidak diperhatikan, maka timbulah kebosanan, sehingga ia tak suka dan akan malas untuk belajar. (Slameto, 1991 : 58).

Karena itu siswa harus dapat menyesuaikan atau mengusahakan bahan itu menarik perhatian dengan cara mengusahakan bahan pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya, dengan begitu siswa akan dapat belajar dengan baik.

c)      Minat

Menurut pendapat Slameto antara perhatian dan minat itu berbeda, kalau perhatian bersifat sementara (tidak dalam waktu yang lama), sedangkan minat selalu diikuti dengan perasaan senang. (1991 : 29).

Adapun pengertian minat menurut Slameto sebagai berikut: “Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. (1991:59).

d)     Bakat

Bakat menurut pendapat Slameto, adalah kemampuan untuk belajar (1991:59). Seseorang yang mempunyai kemampuan untuk belajar dengan kemampuan itulah maka akan terealisasi dengan kecakapan sesudah ia belajar dan berlatih. Misalnya kalau siswa bakat main bola, maka siswa bermain bola dengan baik. Demikian juga degnan belajar, kalau siswa mempunyai bakat terhadap pelajaran itu, maka hasilnya akan lebih baik daripada yang tidak mempunyai bakat.

Dari uraian di atas, maka bakat itu juga mempengaruhi terhadap belajar siswa, oleh sebab itu memilih jurusan atau sekolah sesuai dengan bakatnya.

e)      Motif

Motifasi adalah merupakan hal yang sangat penting bagi proses belajar, karena motifasi itu menggerakkan organisme, mengarahkan tindakan untik melakukan aktifitas belajar. Sejalan dengan itu Slameto mengungkapkan bahwa : “dalam proses belajar mengajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai motif untuk berfikir dan memusatkan erhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan/menunjang belajar”. (1991:60).

Maka dengan demikian bahwa motifasi itu mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi kelancaran atau kemajuan bagi aktifitas belajar siswa, sebab dengan motifasi tersebut siswa akan merasa senang untuk melakukan aktifitas belajarnya.

f)       Kematangan

“Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertimbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru”. (Slameto, 1991:60).

Dari pendapat di atas dapat diambil suatu penjelasan bahwa siswa yang mempunyai kematangan atau kesiapan untuk melaksanakan aktifitas belajar, maka belajarnya akan lebih berhasil daripada siswa yang tidak mempunyai kesiapan untuk belajar.

  1. Faktor Kelelahan

Kelelahan pada seseorang walaupun sulit dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : kelelahan jasmani dan rohani.

“Kelelahan jasmani timbul atau terlihat dari lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dari adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan suatu hilang”. (Slamet, 1991:61)

Dengan demikian, siswa mejalankan study harus menghindar jangan sampai terjadi kelelahan itu dapat mengganggu semangat untuk belajar. Untuk menghindari kelelahan itu dapat di lakukan sebagai berikut :

  1. Tidur
  2. Istirahat
  3. Mengusahakan variasi dalam belajar
  4. Menggunakan obat-obatan yang bersifat melancarkan peredaran darah.
  5. Reaksi yang teratur
  6. Olah raga secara teratur
  7. Mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
  8. Jika kelelahannya sangat serius cepat-cepat hubungi Dokter. (Slameto, 1991 : 62)
  1. b.      Faktor Ekstern

Faktor ekstern ini adalah faktor ada di luar individu. Yang termasuk faktor ekstern ini adalah :

1)      Faktor Keluarga

a)      Cara orang tua mendidik

Cara orang tua  mendidik anaknya sangat besar sekali pengaruhnya terhadap belajar siswa, hal ini jelas bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan yang paling utama, oleh sebab itu maka pendidikan juga ditentukan oleh orang tua tergantung bagaimana cara mendidik siswa tersebut.

Orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan siswa, misalnya orang tua acuh tak acuh terhadap aktivitas belajar siswadi rumah, dan tidak memperhatikan sama sekali terhadap kepentingan dan kebutuhan siswanya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajar, tidak melengkapi alat perlengkapan untuk belajar, dan tidak memperhatikan apakah siswa belajar atau tidak, dan tidak mau tahu akan kemajuan belajar siswanya dan kesulitan apa yang sedang dialami, maka dapat menyebabkan siswa kurang berhasil dalam belajarnya karenam merasa dirinya kurang atau tidak diperhatikan. (Slameto, 1991 : 63).

Demikian juga orang tua juga tidak boleh terlalu memanjakan anak, dan juga jangan terlalu keras, sebab akibatnya akan fatal.

Maka dengan demikian, dari uraian diatas bahwa peranan orang tua disini adalah pemimpin atau membimbing kalau siswa mengalami kesulitan-kesulitan dalam hal yang berkaitan dengan belajar siswa.

b)      Relasi antara anggota keluarga

Relasi antara anggota keluarga ini adalah yang terpenting yaitu relasi antara orang tua dengan siswa. Demikian juga relasi antara saudaranya dengan yang lain juga mempengaruhi belajar siswa.

Oleh sebab itu maka sebaiknya di dalam keluarga tersebut diusahakan suatu hubungan yang baik yang penuh dengan rasa kasih sayang dan disertai dengan bimbingan, dan bila perlu diberi hukuman bila melakukan kesalahan, semua itu hanya demi keberhasilan dan kesuksesan siswa itu sendiri dalam belajar. (Slameto, 1991 : 64).

c)      Suasana rumah

Suasana rumah harus dibuat sedemikian rupa dan senyaman mungkin untuk menciptakan keluarga yang rukun, sehingga menyebabkan siswa betah dirumahdan merasa nyaman dalam belajarnya.

Tetapi sebaliknya kalau suasana rumah yang gaduh dan ramai, tegang dan sering ribut, cekcok antara anggota keluarga, maka menyebabkan siswa bosan dirumah akibatnya belajarnya akan kacau. (Slameto, 1991 : 65).

d)     Keadaan ekonomi keluarga

Siswa dalam belajar itu memerlukan sarana-sarana atau alat-alat untuk belajar, yang kadang-kadang mahal harganya. Bila keadaan ekonomi keluarga tidak memungkinkan, maka dapat menghambat siswa untuk melakukan belajar, tetapi sebaliknya jika ekonomi keluarga terpenuhi, maka sarana-sarana yang dibutuhkan untuk belajar juga dapat dipenuhi, sehingga siswadapat belajar dengan senang dan semangat yang tinggi.

Sehingga kalau demikian siswayang hidup dalam keluarga yang miskin, maka kebutuhannya kurang terpenuhi, maka belajarnya akan terganggu. Dan sebaliknya juga siswa yang hidup dilingkungan yang kaya orang tua mempunyai kecenderungan untuk memanjakan ana.k (siswa) sehingga mereka akan berfoya-foya, sehingga akibatnya siswa tidak akan memperhatikan belajarnya.

e)      Latar belakang kebudayaan

Orang tua harus bisa menanamkan kebiasaan yang baik yang bisa mendorong siswa untuk belajar. Misalnya, sepulang sekolah siswa disuruh tidur dan setelah tidur disuruh belajar dan sebagainya.

Dengan demikian siswa akan terbiasa dengan belajar secara teratur. Dan belajar tidak menyia-nyiakan waktu secara percuma, sehingga digunakan untuk belajar.

2)      Faktor Sekolah

Sekolah sendiri adalah merupakan lanjutan dari pendidikan yang telah diberikan oleh orang tua didalam lingkungan keluarga. Oleh sebab itu sekolah juga mempunyai pengaruh terhadap aktivitas belajar siswa. Sebab sekolah sendiri tempat menambah ilmu yang sudah diperoleh dirumah.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagai berikut :

(a)    Metode mengajar

Menurut Slameto belajar adalah suatu cara untuk jalan yang harus dilalui dalam mengajar. (1991 : 67). Dengan demikian, dalam sekolah guru didalam mengajar harus dapat meanggunakan metode yang sesuai dengan bahan yang akan diajarkan, sebab kalau tidak cocok dengan metodenya, maka siswa akan malas untuk mengikuti atau untuk belajar dan siswa tidak dapat menguasai bahan yang diajarkan.

(b)   Kurikulum

Pengertian kurukulum menurut Slameto “Kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa”. (1989 : 67). Karena itu guru harus dapat memahami siswa agar dapat melayani siswa dengan baik dan mempunyai perencanaan dengan baik agar siswa dapat belajar dengan baik pula.

(c)    Relasi guru dengan siswa

Guru dan siswa harus dapat menciptakan suasana yang baik, dan guru harus dapat berinteraksi dengan siswa, agar siswa merasa dekat dengan gurunya dan tidak merasa canggung dalam mengungkapkan suatu pendapat sehingga terjadi interaksi belajar mengajar yang lancar.

Adanya persaingan antara grup-grup antar siswa dengan yang lainnya, maka ia akan mempunyai rasa rendah diri atau akan mengalami tekanan-tekanan batin dan disaingkan dari kelompok.

Maka akibatnya akan mengganggu terhadap aktivitas belajar. Lebih-lebih maka siswa malas untuk sekolah, karena ia di sekolah menerima perlakuan yang tidak baik dari teman-temannya.

Maka dengan demikian menciptakan relasi yang baik antara siswa adalah perlu, agar dapat memberi pengaruh yang positif terhadap belajar siswa.

(d)   Disiplin sekolah

Banyak sekolah yang dalam pelaksanaan disiplin kurang, sehingga mempengaruhi siswa dalam belajar. Kalau disiplin di sekolah baik, secara otomatis siswa akan disiplin dengan sendirinya, sebab kalau tidak disiplin takut akan diberi sangsi atau hukuman.

(e)    Alat pelajaran

Alat pelajaran merupakan suatu yang sangat diperlukan untuk memperlancar aktivitas belajar. Sebab kalau alat pelajaran itu lengkap maka guru akan mudah untuk mengajar kepada murid dan murid juga mudah untuk menerima pelajaran. Dengan demikian akan lebih mudah untuk mencapai tujuan belajar.

(f)    Waktu sekolah

Waktu sekolah ini juga sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar siswa “waktu sekolah adalah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah”. (1991:70)

Biasanya waktu sekolah yang dipergunakan yang baik adalah pagi hari, karena pada pagi hari pikiran masih segar dan jasmani dalam kondisi yang baik. Kalau siang hari, maka siswa sebagian besar tidak memperhatikan pelajaran, karena kondisi pada siang hari badan sudah lelah dan waktunya istirahat. Karena terpaksa harus sekolah maka siswa mendengarkan pelajaran sambil ngantuk akhirnya tidak berkonsentrasi menerima pelajaran.

(g)   Keadaan gedung

Dengan jumlah siswa yang luar biasa banyaknya, keadaan gedung dewasa ini terpaksa kurang, mereka duduk berjejal-jejal didalam setiap kelas. Bagaimana mungkin mereka dapat belajar dengan enak, kalau kelas itu terpaksa diisi 50 orang sisw. (Slameto, 1991 : 71).

(h)   Metode belajar

Siswa harus dapat membagi waktu belajarnya dengan baik, dengan cara belajar yang efektif dan efisien. Sebab metode belajar itu juga mempengaruhi terhadap hasil atau prestasi belajar siswa.

(i)     Tugas rumah

Tugas rumah merupakan tugas yang harus dikerjakan di rumah untuk melatih agar anak kebiasaan dengan mengerjakan pekerjaan dengan disiplin. Tapi tugas tersebut jangan terlalu banyak sehingga siswa tidak mempunyai waktu untuk yang lain. Sebab tugas yang banyak juga akan mempengaruhi terhadap aktivitas belajar siswa.

3)      Faktor Masyarakat

Masyarakat sendiri merupakan faktor ekstern yang berpengaruh. Pengaruh ini terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Faktor-faktor masyarakat yang dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa antara lain adalah :

(a)    Kegiatan siswa dalam masyarakat

Kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan siswa untuk mengembangkan perkembangan pribadinya. Tapi siswa jangan terlalu banyak mengikuti kegiatan dalam masyarakat, sebab nanti akan terganggu belajarnya lebih-lebih bagi siswa yang tidak bisa membagi waktu untuk belajar.

Karena itu siswa harus dapat membatasi kegiatannya di masyarakat agar tidak mengganggu aktivitas belajarnya, dan jika mungkin dapat memilih kegiatan yang mendukung terhadap belajar. Misalnya kursus bahasa inggris, melakukan diskusi kelompok dan lain sebagaiya.

(b)   Mass media

Yang termasuk mass media menurut Slameto adalah bioskop, radio, TV, surat kabar, majalah, buku-buku, komik dan lain-lain.(1991 : 72)

Mass media ini  sangat berpengaruh sekali terhadap belajar siswa, jadi kalau mass media itu jelek, maka pengaruhnya juga jelek, begitu juga sebaliknya kalau mass media itu baik, maka akan baik juga pengaruhnya.

Dengan demikian ayah sebagai pemimpin dalam keluarga harus pandai-pandai menyeleksi bacaan-bacaan yang dibaca oleh siswa. Kadang-kadang karena asyiknya membaca buku yang bukan pelajaran, sehingga buku pelajaran itu tidak dibaca.

(c)    Teman bergaul

Menurut pendapat Slameto “teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap dirinya, begitu juga sebaliknya teman bergaul yang jelek pasti akan mempengaruhi sifat yang buruk juga”. (1992 : 73)

Karena itu sebaliknya memilih teman bergaul yang baik, kalau bisa juga teman yang pandai, karena teman tersebut akan bersedia membantu menyelesaikan pekerjaan belajar. Karena itu sebagai ayah harus pandai-pandai memberikan pembinaan dan pengawasan kepada siswa agar tidak bergaul dengan teman yang tidak baik.

(d) Bentuk kehidupan masyarakat

Lingkungan masyarakat yang ada disekitar rumah itu juga mempengaruhi aktivitas belajar siswa, jika siswa belajar dilingkungan yang terpelajar dan rajin, secara tidak langsung akan rajin belajar walaupun tanpa disuruh.tetapi sebaliknya kalau siswa berada disekitar lingkungan yang tidak terpelajar bahkan dilingkungan pencuri dan mempunyai kebiasaan yang tidak baik, maka siswa akan terpengaruh ingin melakukan hal-hal yang sama, maka akibatnya belajarnya terganggu bahkan siswa kehilangan semangat untuk belajar.

Karena itu sangat penting untuk mengusahakan lingkungan yang baik agar mempunyai pengaruh yang positif terhadap siswa dan dapat belajar yang sebaik-baiknya.

C.    Korelasi antara Kepemimpinan Orang Tua dengan Aktivitas Belajar Siswa

Untuk mengetahui bagaimana korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa. Disini keluarga sendiri merupakan lingkungan yang dapat mempengaruhi siswa dalam segala tingkah laku dan perbuatannya, dalam hal ini aktivitas belajar di rumah.

Lingkungan keluarga adalah merupakan lembaga pendidikan pertama dalam kehidupan siswa dan tempat belajar yang menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Dalam hal ini dijelaskan oleh Kartini Kartono bahwa “dalam keluarga umumnya ada hubungan interaksi yang intim dan segala sesuatu yang diperbuat anak mempengaruhi keluarganya dan sebaliknya keluarga memberikan dasar tingkah laku, watak moral dan pendidikan anak”. (1986 : 19)

Dari pendapat tersebut diatas maka dapat disimpulkan kalau lingkungan keluarga itu tidak seperti pengaruh yang diberikan pendidik disekolah, sebab pengaruh lingkungan sekolah hanya berusaha dengan sadar, dan tanggung jawab dalam mengantarkan siswa untuk mencapai kedewasaan secara jasmani maupun rohani. Karena itu keluarga adalah lingkungan yang sangat berperan paling utama dalam aktivitas belajar siswa yang baik.

Karena itu didalam keluarga harus ada pemimpinnya yaitu ayah, setiap pemimpin mempunyai cara-cara tersendiri dalam kepemimpinannya. Karena keberhasilan ini juga sangat tergantung dengan cara yang diterapkan oleh ayah.

Oleh sebab itu walaupun ayah sibuk dengan pekerjaannya, setidak-tidaknya pada saat berkumpul dengan keluarganya bisa dimanfaatkan dengan baik untuk memberikan bimbingan, nasehat, juga teladan kepada anak (siswa). Sebab ayah disamping mempunyai tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya.

Marwah Daud memberikan kisi-kisi sifat yang harus dikembangkan dalam kaitannya dalam pendidikan siswa dikutip dalam mimbar pembangunan agama September adalah sebagai berikut :

  1. Orang tua harus mampu memberikan sebagai indikator dan ore model, orang tua menjadi Pendidik inti dari anak-anaknya.
  2. Orang tua harus mampu sebagai motifator, dalam hal ini misalnya orang tua memotivasi pada anak didiknya untuk mempelajari alam sekitarnya, maka ibu dan bapak harus dapat memotivasi bahwa belajar bukan hanya sebatas untuk pengetahuan saja namun lebih jauh dari itu juga untuk beribadah pada-Nya, dalam demensi-Nya dalam demensi ibbadah yang luas.
  3. Orang tua sebagai fasilisator, saat ini orang tua tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, jadi orang juga harus menyediakan beberapa bacaan lainnya.
  4. Orang tua sebagai selektor, dalam hal ini orang tua harus mampu menyeleksi semua informasi yang diterima oleh anak. (1995 : 69).

Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagai pemimpin dalam keluarga (ayah) maka harus mampu atau dapat berperan sebagai indikator, motivator, fasilisator, dan sebagai selektor terhadap anak (siswa). Dengan demikian jika hal itu dilakukan maka akan lebih mudah untuk memimpin siswa untuk mencapai tujuan yang baik.

Dalam hal ini juga tidak terlepas hubungannya dengan cara orang tua dalam menerapkan kepemimpinannya. Karena bagaimanapun lingkungan keluarga memberikan dorongan atau motivasi dalam memberikan pengarahan belajar anak (siswa) dalam keseluruhan proses aktivitas belajar, hal ini merupakan dasar yang menduduki peranan yang sangat penting bagi terdidik, faktor yang sangat terpenting dalam mendukung terhadap jasmaniah atau rohaniah, adalah belajar yang terarah yang sesuai tujuan yang hendak dicapainya. Dan untuk mencapai hal tersebut banyak dipengaruhi berbagai faktor seperti faktor lingkungan keluarga, yaitu bagaimana lingkungan seorang ayah memimpin anak atau siswa dalam memberikan bimbingan atau motivasi terohadap diri sendiri maupun kepada anak (siswa).

Dengan demikian pada dasarnya ayah itu mempunyai cara-cara atau model sendiri-sendiri dalam memimpin keluarga, seperti otoriter, demokrasi, kaisez faire ketiga kepemimpinan tersebut yang dapat mempengaruhi sangat besar terhadap aktivitas belajar siswa dan juga yang menyebabkan berhasil atau gagalnya dalam memimpin.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. D.    Rancangan Penelitian

Dalam sebuah penelitian penulis diharuskan merangcang dan menyusun rencana pelaksanaan kegiatan penelitian agar dalam realisasinya dapat berjalan denga lancar dan sukses.

Untuk mendapatkan data mengenai kememimpinan orang tua dan aktivitas belajar siswa di rumah penulis mendatangi langsung obyek penelitian dan mengambil data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, antara lain observasi, angket, dan wawancara.

Lebih detail rancangan penelitian yang penulis laksanakan adalah sebagaimana di bawah ini.

1)      Preparing (persiapan)

Sehubungan dengan judul dan rumusan masalah yang telah disebutkan pada bab terdahulu, maka perencanaan dalam melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a)      Menyusun rencana, antara lain dengan menetapkan beberapa hal sebagai berikut :

1)      Judul penelitian

2)      Alasan penelitian

3)      Problema penelitian

4)      Tujuan penelitian

5)      Obyek penelitian

6)      Metode yang dipergunakan

b)      Ijin melaksanakan penelitian

Dengan surat pengantar dari Bapak Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo, penulis dimohonkan ijin ke Kepala MI Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. Dengan demikian penulis telah mendapatkan ijin untuk mengadakan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut.

2)      Actuating (pelaksanaan)

Setelah perencaan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain :

a)      Observasi

b)      Angket

c)      Wawancara / interview

3)      Finishing (penyelesaian)

Setelah kegiatan penelitian selesai, penulis mulai menyusun langkah-langkah berikutnya, yaitu :

  1. Menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan mentabulasikan dan menganalisis data yang telah diperoleh, yang kemudian dikonsultasikan kepada Dosen Pembimbing dengan harapan apabila ada hal-hal yang perlu direvisi, akan segera dilakukan sehingga memperoleh suatu hasil yang optimal.
  2. Laporan yang sudah selesai kemudian akan dipertaruhkan di depan Dewan Penguji, kemudian hasil penelitian ini digandakan dan disampaikan kepada pihak-pihak yang terkait.

E.     Populasi dan Angket Penelitian

Populasi menurut Sutrisno Hadi adalah semua individu untuk siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari sampel yang hendak digeneralisasikan. Sedangkan pengertian sampel adalah sebagian individu yang diselidiki” (1994:70).

Dari sini yang akan dijadikan populasi yaitu semua siswa dan orang tua siswa MI Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo kelas IV sampai kelas VI tahun pelajaran 2003/2004. Dan sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diteliti secara mendalam sebagai wakil dari populasi.

Metode ini digunakan dalam pengambilan sampel, dalam penelitian ini ditetapkan 40 responden sebagai sampel dari populasi siswa dan atau orang tua siswa MI Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo dari kelas IV sampai dengan kelas VI, yakni :

  1. Siswa dan orang tua siswa kelas IV sebanyak 20
  2. Siswa dan orang tua siswa kelas V sebanyak 10
  3. Siswa dan orang tua siswa kelas VI sebanyak 10

Kemudian dari penelitian yang diambil sebagai sampel adalah kelas IV sampai dengan kelas VI, maka dalam pengambilan sampel digunakan teknik sampling yaitu random sampling atau tanpa pandang bulu.

Dalam random sampling, semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Dengan demikian anggota populasi dari setiap strata atau tingkatan mempunyai kemungkinan dan kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel.

F.     Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan apa yang diharapkan, sehingga data yang diperoleh itu benar-benar valid, maka dalam setiap penelitian terlebih dahulu harus menentukan metode apa yang akan dipakai untuk mendapatkan serta mengumpulkannya. Sebab metode merupakan kunci keberhasilan dalam suatu penelitian.

Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Metode Observasi

Metode observasi adalah suatu teknik untuk memperoleh data dengan menggunkan pengamatan (gejala-gejala) yang diselidiki (Hadi, 1991:36).

Berdasarkan pendapat-pendapat dapat dikemukakan bahwa Observasi adalah merupakan tekhnik atau metode untuk mengadakan penelitian dengan cara mengamati langsung terhadap kejadian, baik di sekolah maupun di luar sekolah dan hasilnya dicatat secara sempurna.

Dengan metode ini peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian, dalam hal ini yang diamati adalah lokasi atau letak penelitian, yakni MI Bustanul Abidin Desa Jabungsisir Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo sebagai pusat pembelajaran dan pendidikan bagi para siswanya. Dari sana dapat diketahui beberapa data yang dibutuhkan dalam kegiatan penelitian ini.

  1. Metode Wawancara/interview

Menurut Bakrun dan Nasruddin (1990:47), menyatakan bahwa, “Wawancara merupakan teknik pengumpul data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab) secara lisan, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

Berdasarkan hal tersebut di atas, dalam penelitian ini penulis menggunakan wawancara yang bersifat tidak langsung, yaitu wawancara dengan Kepala Madrasah MI Bustanul Abidin, yakni untuk mendapatkan data mengenai madrasah  yang menjadi obyek penelitian.

  1. Angket

Metode angket dapat dilakukan dengan adanya sejumlah pertanyaan yang tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. (Arikunto, 1993:188)

Dalam hal ini sumber data yang diberi angket adalah 40 orang tua siswa untuk memperoleh data mengenai kepemimpinan orang tua dan kepada 40 orang siswa mengenai aktivitas belajar siswa di rumah.

G.    Metode Analisis Data

Sesuai dengan jenis data yang diperoleh, maka dalam penelitian ini digunakan teknik analisis data deskriptif kuantitatif, karena ingin mengetahui ada tidaknya korelasi antara kepemimpinan orang tua dengan aktivitas belajar siswa di rumah.

Sesuai dengan kebutuhan tersebut, maka digunakan rumus analisis karelasi Product Moment dengan rumus sebagai berikut :

                   Sxy

rxy

              (SX 2) (SY 2 )

Keterangan :

rxy        : koefisien korelasi antara X dan Y

xy        : product dari x kali y

x2         : product dari x dikuadratkan

y2         : product dari y dikuadratkan

(Sutriso Hadi, 1997:293)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s